Tuesday, 7 January 2014

Penebar Inspirasi?



 
Before I die...I want to feel ENOUGH--Globe Trott Inn Hostel-London

Berapa banyak orang-orang yang tidak saya kenal menghubungi saya kemudian menanyakan bagaimana caranya meraih beasiswa? Bagaimana caranya belajar TOEFL, IELTS, bagaimana mengontak supervisor? Atau hanya mengatakan bahwa ia terinspirasi dengan saya. Saya tidak ingin menjadi sombong dengan mengatakan banyak jumlahnya. Iya banyak, bahkan beberapa kemudian akhirnya menjadi teman dekat. Juga beberapa orang yang kontak karena membacai tulisan-tulisan saya.
Kepulangan saya ke tanah air yang hanya seminggu pun bulan Oktober lalu pun ditandai dengan pertemuan dengan seorang adik yang dengan antusiasnya hendak menemui saya. Dengan muka berbinarnya menemui saya di warung tenda sate kambing perempatan kentungan, Yogyakarta karena posisi saya saat itu sedang makan malam dengan sahabat baik saya. Dia menyerahkan sebuah buku sebagai buah tangan, katanya ia terinspirasi dari tulisan-tulisan saya di blog. Sesederhana itu, tapi kejadian-kejadian itu sungguhnya menjadi lentera semangat yang mengabadi di saat-saat saya malas menulis. Bukan untuk menyombongkan diri, namun lebih pada apresiasi pada diri saya sendiri, bahwa apa yang saya lakukan berguna untuk orang lain.
Namun ada kalanya saya berpikir? Apa saya terlalu berbunga-bunga dalam berkata selama ini. Dalam artian saya seperti jualan mimpi. Ada saat-saat saya merasa kadang saya terlalu berlebihan., siapa sih saya? Tanya diri saya sendiri.
Terlebih bila ada orang-orang yang bertanya, kemudian menjadi depending. Misalnya : “ mba siwi, tolong dong kalau ada informasi tentang bla bla...atau jurusan yang baik ini atau itu, atau hal-hal lainnya yang membuat saya berpikir.
Hei..bukankah itu inginmu sendiri? Mimpimu sendiri? Tanyakan pada hatimu sendiri.
Atau melihat orang-orang yang kurang struggle mengejar impiannya namun pengennya cepat-cepat. Kadang-kadang saya diamkan, tidak saya jawab. Saya hanya memfasilitasi, bukan menyuapi terus menerus. Di jalan meraih apa yang kalian inginkan akan ada banyak tantangan, kesulitan, masalah yang butuh kerja keras, risiko, kekuatan dan ketegaran. Kalau hanya search detail detail yang seharusnya bisa dilakukan sendiri tidak mau, yang harus dipertanyakan adalah kesungguhan orang tersebut.
Banyak kejadian-kejadian yang membuat saya naik turun di jalan ini. Sampai pada akhirnya saya menanyakan pada diri saya sendiri? Untuk apa melakukan itu semua? Supaya disebut sebagai manusia penuh inspirasi? yang kata-katanya penuh motivasikah?
BUKAN, jawab diri saya dengan mantap.
Sama sekali bukan.
Mungkin iya pada awalnya, dalam artian saya ingin apa yang saya lakukan bisa membuat orang “terkompori” untuk berbuat, untuk mengejar mimpi-mimpinya, untuk tidak mengalah pada keadaan, untuk tidak menyesal karena mundur atas perjuangan-perjuangan hidup, untuk berkata mari lewati pada jalan-jalan sulit. Itu mengapa saya memberanikan diri menerbitkan Koloni Milanisti –Sebuah Hidup di Atas Mimpi- dan juga banyak posting-posting tulisan saya yang “berbau” serupa.
Banyak yang sudah terkompori dan berjalan di atas mimpi mereka masing-masing, banyak pula yang terkompori sesaat namun kemudian melupakannya.
Namun di titik sekarang ini saya menyadari, saya cukup menjadi diri saya sendiri. Tanpa perlu repot berpikir apa yang saya lakukan berguna atau tidak, menginspirasi atau tidak, keren atau tidak. Berbuat, berkarya, seperti jauh lebih penting daripada itu semua. Bukankah sebenarnya tak ada seorangpun yang mengklaim bisa menginspirasi? Bahkan Anies Baswedan, Jokowi, Ridwan Kamil dll. Mereka hanya berbuat, berbuat. Berkarya, dan berkarya. Dan orang lainlah yang merasa terinspirasi dari karya-karya mereka.
Terimakasih yang selama ini menginspirasi, merasa terinspirasi, yang selama ini mengkritik, dan tentu saja terimakasih pada yang mendampingi saya menjadi partner solid dalam perjalanan ini.
Kita semua bisa berganti peran, berganti profesi, tapi pertumbuhan dan kesolidan di dalam diri akan mampu memerankan apapun peran yang sedang dijatahkan Tuhan.

Salam,
Glasgow, 7 Januari 2014.

1 comments:

Alfaridzy Al Jawi said...

Seperti ada semacam 'clash of the mind',,he
Hidup tanpa mainstream, awalnya menyakitkan (nampak sangat konyol/gila), tapi jika kehidupan meminta, terlebih jika kita (kita?hihi) 'tertakdir' sebagai 'pelayan', mau apa lagi selain menikmatinya?
*sok bijak,wkwk :p

As ur say : Go inside, there the heaven. :D

Post a Comment