Tuesday, 29 April 2014

Senja di Paisley


Sepotong Senja. Paisley -Gla 27.04.2014

Ranum senja mungkin pertanda, cinta tak lagi muda
Ia bertumbuh, tanpa kehilangan suluh
Ia berkembang, tanpa maksud mengekang
Ia berpadu, meminta restuMU

Glasgow. Senja di Paisley. 27.04.2014

Sunday, 27 April 2014

Ada Saatnya..



Di Sebuah Bangku-Kelvingrove Park-Gla. 26.04.2014

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.” (Bung Karno, 1933)


Thursday, 24 April 2014

En-JOY Your Life..


Komentar sahabat saya di salah satu posting tweet saya :)

Kapan sih kamu melakukan hal-hal baru terakhir kali? Eheheh. Saya tiba-tiba terpikir hal ini ketika melihat video di salah website yang menceritakan bagaimana luapan kegembiraan dua orang nenek yang untuk pertama kali terbang dalam hidupnya. Pesan yang ingin disampaikan si pembuat video tersebut kira-kira : We never too old to try something new for the first time. Kalau ada yang mau lihat videonya di sini deh.
Takjub juga melihat reaksi si dua nenek ini pas pesawat itu mulai terbang mengudara. Ya ampun, kadang-kadang kita terlalu sering merasa take it for granted beberapa hal, padahal bagi orang lain mungkin luar biasa. Misalnya saja naik pesawat terbang, mungkin bagi saya sudah biasa. Dulu saat pertama kali naik pesawat, rasanya pengen nengok jendela terus, takjub melihat awan-awan sekeliling atau hamparan pemandangan di bawah. Sekarang, biasanya melihat sejenak, kemudian nonton film, makan, kebanyakan sih tidur. Dulu, pas mendarat untuk transit di Dubai untuk menantikan jadwal penerbangan selanjutnya, rasanya semuanya pengen dijelajahi, foto-foto di semua sudutnya. Sekarang,  biasanya lebih milih duduk, nulis di laptop atau cari koneksi wifi untuk internetan. Mungkin manusia selalu rakus untuk merasai pengalaman baru-baru. Memang ada kerinduan-kerinduan seperti itu, merasai sesuatu yang baru, pengalaman-pengalaman baru.
Saya membuka-buka folder foto saya, dan tersenyum sumringah melihat untuk pertama kalinya saya naik komedi putar. Heheh, iya sumpah ini baru kali pertama saya naik komedi putar. Padahal sebenarnya dari dulu pengin, namun kadang malu aja kalau di Indonesia naik komedi putar, trus nggak ada temennya lagi hihi. Dan akhirnya winter break lalu saya naik komedi putar untuk pertama kalinya dalam hidup saya ahah. Bulan Desember lalu, di depan George Square ada Glasgow On Ice yang menyediakan wahana komidi putar, nah jadinya saya berhasil mencobainya. Awalnya pura-pura minta foto di depan komedi putarnya ke Mas Basid hihih.

Hidiww keliatan banget muka bahagianya, padahal baru foto di depannya doang.

Dalam hati sih pengin naik, tapinya nggak ada temen. Trus rada malu juga, what naik komidi putar jaman segini? umur sudah berapa? ahahaha. Eh eh, tapi akhirnya dong, saya naik juga. Kapan lagi dududu...

Dengan gegap gempita dong saya beli tiketnya, 2.5 GBP sekali naik ;p
Tadaaa..akhirnya saya naik komidi putar untuk pertama kalinya dalam hidup hihih

eaaaaaa sumringaaah
Hihih pas turunnya masih tetep aja sumringan. Huaaah naik komidi putar akhirnyaaa..#norak

Terus dong, saya ketagihan ahaha. Saat jalan-jalan untuk nyobain ice skating bersama sahabat-sahabat saya plus si Rayyan (Anaknya Kak Ani-Sahabat kami), saya dengan dalih nemenin Rayyan, naik lagiiii...berapa kali? dua kali sepertinya. tiga? eh ehh...



See? We never too old to start trying something new.Nggak tau rasanya seru aja, kind of so simple joy. A joy, kegembiraan yang membuncah begitu saja. Padahal ya hanya melakukan hal-hal yang baru, yang bagi banyak orang sangat biasa-biasa saja. Nah yang tahu hal-hal yang baru dan seru bagi dirimu tentu saja dirimu sendiri.
Dan bagi saya, salah satu hal seru lainnya, yakni nyobain ice skating pertama kali. Kalau lihat orang-orang yang baru berseluncur di Glasgow on Ice sih kayaknya mudah dan asik banget. Tapi pengalaman belajar main Ski mengajarkan saya bahwa semua tidak semudah kelihatannya. Huuh, pas pertama berdiri pake sepatu ski aja rasanya udah mau rubuh. Nah kali ini "cuma" ice skating" yang kemungkinan yang sesusah main ski. Well, kita tidak tahu rasanya kalau kita tidak mencobanya. 
Untungnya lagi pas hari ini kita dapat diskon tiket 50% pula (entah gara-gara apa saya lupa), ingetnya cuma harganya jadi murah aja ehehe. Setelah mencoba berdiri, hummm bisalah berdiri tegak seimbang. Tapi begitu masuk ke arena ice skatingnya...eaaaaa....licin banget nget. Dan yang terjadi awal-awal saat mencoba meluncur adalaaaah...gubrakkksss.

Jatuh dengan indah ahaha

Hihi akhirnya gubraks gabruks beberapa kali, dan ditolongin sama petugasnya untuk berdiri lagi. Dan setelah beberapa lama udah mulai biasa (biasa jalan doang tertatih tatih) hihi. Enggak ada malu-maluan, soalnya yang lain-lain juga macem-macem, ada yang sudah ahli ada yang pemula kayak saya. Masih mending saya berani meluncur, walaupun ujung-ujungnya jatuh hihi. Ada pula yang cuma berdiri jalan sambil pegang pinggirannya aja biar enggak jatuh. 

Tadaaaa...horaaaay

Happy Faces :))

Mungkin terkadang kita perlu kembali merasai keseruan-keseruan baru seperti halnya anak kecil. Mungkin hidup manusia dewasa terlalu runyam dengan problema, pengap oleh rencana. Terkadang menyenangkan untuk kembali menjadi seorang anak kecil yang riang dengan pengalaman-pengalaman yang semua nampaknya baru baginya. Sepertinya halnya Rayyan, yang saat menanti giliran masuk ke wahana ice skating, entah berapa kali menanyakan, 
        "How many minutes again?" terus, dan terus.
Sementara setelah selesai mainan ice skating, dengan polosnya dia bilang,
       " I wanna play again, please" hihihi, kami membujuk bujuk untuk udahan, dengan bilang kalau udah mau tutup. Eh, ternyata memang udah mau tutup beneran. Lalu Rayyan, bilang
       " I want to eat mie," kata si Rayyan. Wah sepertinya dia kelaparan setelah mainan macem-macem. Jadi kutanya di deket city center ada nggak tempat makan mie yang halal, siapa tahu Kak Ani pernah ngajak makan mie daerah sini.
          " No, I want mie in uncle's flat" ahahaha ternyata si Rayyan maunya indomie yang dilihatnya di rak dapur Mas Basid di Otago. Akhirnya kami pulang, dan kubuatkan indomie goreng itu. Si Rayyan terlihat nggak sabar, trus bilang,
           " Can I eat that at home?" humm mungkin mau dibaginya dengan kakaknya, si Hayyan. Lalu Mas Basid yang mengantar Rayyan pulang ke flatnya yang di seberang sungai Kelvinbrigde.
Dan ternyata kenapa si Rayyan pulang? ternyata dia sudah tidak sabar untuk bercerita pengalamananya ber-ice skating pertama kali, Sejak ketuk pintu rumahnya sudah tak sabar, setelah dibukakan pintu, Rayyan sudah nerocos tanpa henti. Ahahaha itulah keriangan anak kecil yang seringkali sudah tidak dimiliki lagi orang-orang dewasa.
          " I only fell once, but uncle fell many many times," kata Rayyan dengan sumringahnya. Begitu cerita Kak Ani saat bercerita apa-apa yang diceritakan Rayyan ketika sampai di rumah. Ehehe iyalah, soalnya Rayyan pegangan pinggir dindingnya atau kalau enggak pegangan Mas Basid.iSampai Rayyan berdoa keras " Thanks God, You take me to play ice skating today," hihihi anak-anak memang selalu lucu.
Semoga kita tetap mempunyai keriangan seperti mereka. Again, We never too old to start trying something new!
En-JOY your life..


Salam
Glasgow, 24 April 2014.

Windermere-Lake District Cumbria : Almost Paradise



Paradisoooo!!

Saat dunia dimudahkan dengan tehnologi, travelling juga terpengaruh oleh imbasnya. Salah satunya, promosi wisata menjadi sangat mudah dilakukan dengan upload foto-foto ataupun tulisan travel. Nah, ini terjadi  saat saya menentukan tujuan jalan-jalan untuk long weekend libur paskah kemarin. Karena melihat postingan foto-foto sahabat saya yang jalan-jalan ke Lake District, Cumbria dan langsung jatuh cinta dengan tempatnya, saya dengan spontan memutuskan untuk jalan-jalan ke sana. Apalagi setelah dicari rute-nya ternyata tidak terlalu jauh dari Glasgow dan budjetnya masih terjangkau.
Hanya menggunakan kereta selama 2 jam dengan harga tiket PP sebesar 17.2 GBP, saya dan beberapa rekan seperjalanan sampai ke Lake District-Cumbria. Daerah ini sudah termasuk wilayah barat laut England, berbatasan dengan Scotland. Memasuki daerah ini sudah terasa aura pedesaan dengan hijaunya pemandangan. Bukit-bukit hijau menghampar dan domba-domba yang lucu-lucu. Saya dari dulu ingin sekali melihat padang menghijau dan domba-domba itu dari dekat, namun selama ini hanya bisa melihat dari balik jendela.

Domba-Domba lucu di hamparan padang rumput (dari balik jendela bis)

Jalanan menuju Windermere

Setibanya di station Oxenholme, kami mencari jalan menuju Lake District. Kadang-kadang kalau persiapan jalan-jalan serba spontan dan tidak sempat mencari info detail mengenai tempat wisata, tanya-tanya orang menjadi rumus jitunya. Jadi berbekal tanya kanan kiri kami menuju Windermere, Lake District.
Kawasan Lake District merupakan semacam gugusan perbukitan yang mengelilingi danau besar. Nah kita punya banyak pilihan tempat untuk bisa dikunjungi, ada Ambleside, Bowness-on Windermere, Coniston, Keswick, Grasmere and Windermere. Nah kami memutuskan untuk ke daerah Windermere? Kenapa kesana? Ahaha spontan saja. Karena namanya cantik! Halah..inilah cerita jalan-jalan penuh spontanitas. Untungnya teman seperjalanan santai-santai semua, yang penting jalan-jalan.
Cuaca hari ini super oke, matahari menunaikan tugasnya dengan sempurna. Kami sungguh sering kali merindu sinar matahari yang hangat. Ehehe iya soalnya kadang-kadang matahari kayak tempelan aja, ada tapi tiada. Terlihat namun tetap saja dingiiiiin. Nah karena sudah memasuki musim semi, matahari sudah sering bersinar-sinar dengan cerahnya. Bunga-bunga sudah mulai bersemi, pohon-pohon mulai menghijau kembali. Entahlah, kalau matahari bersinar dengan cerah sepertinya mood semua orang jadi bahagia. Dan mungkin juga yang terjadi di Cumbria, saat berpapasan dengan orang-orang kala kami berjalan menuju lokasi, mereka semua terlihat super bahagia dan ramah-ramah. Mereka melempar senyum paling sumringah dan menyapa dengan ramah. Ah, mungkin aura matahari yang cerah, daerah pedesaan yang adem ayem, perbukitan yang hijau bersatu padu membuat semua orang bahagia. Saya memang penggemar jalan-jalan ke tempat yang seperti ini, hijau, adem ayem, udaranya segar dan bersih. Rasanya betah lama-lama di tempat seperti ini.


Gelaran di pinggir danau, siap-siap sarapan

Pantai pribadi? ehehe ini pinggiran danau

Apalagi di tempat ini menawarkan dua sensasi yang menyenangkan, pinggir danau dan bukit menghijau. Duduk-duduk di pinggir danau sambil piknik dengan gelaran bersama sahabat. Matahari bersinar hangat, makanan lezat, pemandangan yang memikat serta sahabat-sahabat akrab. Yang lebih asik, tempat ini seperti milik kita pribadi soalnya sepi. Salah satu hal yang bikin males buat saya di tempat wisata adalah kalau terlalu ramai, jadi kurang menikmati. Tapi di tempat ini, kita bisa duduk-duduk di pinggiran danau dengan mataharinya yang cerah, langit membiru, udara dengan bersih. Aih almost paradise? Indeed.

Dermaga cinta? blah blaaah blaaah ahaha ;p

Suka aja foto ini..kenapa? ya suka aja ;p

Maafkan, kebanyakan narsis sayaaa :D

Mari kita kayuh berdua #halaaaah

Selesai menikmati pinggiran danau, ditambah dengan foto foto narsis, kami memutuskan untuk berpindah tempat.
Nah, tujuan berikutnya yakni menuju bukit dimana kita bisa melihat danau dari atas. Setelah menempuh jalan mendaki selama kurang lebih 15 menit, akhirnya kami bisa menyaksi pemandangan yang bikin tahan nafas. Aaaaaa paradiseeeee!!! 

Surgaaaaaaaaaaa!!

Dudududu betah banget di siniii

Terhampar perbukitan menghijau mengelilingi danau yang terlihat di bawah kami. Rasanya pengin loncat-loncat saking bahagianya #halah. Kami betah-betah berjemur bermandi matahari, tiduran di atas rumput menghijau. Seperti orang tropis yang menuntaskan rindu pada matahari, membiarkan sinar matahari menghangatkan tubuh kami yang lama dibekukan musim dingin. Lalu saya menjelajah di padang rumput untuk mencapai daerah yang lebih tinggi agar bisa mendapat view yang lebih dahsyat indahnya.


Can't help not to pose..and pose ;p

Pinky-Lolipop Style ahahah

Di puncak dunia hihih

Dan yang paling bikin horay adalah ketika menjumpai domba-domba lucu yang biasanya hanya bisa lihat dari balik jendela bis atau kereta itu sekarang ada di depan mata saya. Merunduk lucu saat memakan rumput. Domba-domba putih dengan hidungnya yang mungil, serta bulu-bulunya yang menggemaskan. Akhirnya dong, saya bisa berfoto bareng mereka.

Aaaaa..akhirnya bisa foto sama domba-domba lucu ituuuh


Tengok sini, ganteng...eaaa mereka nengok  langsung ;p

Kami menghabiskan sisa hari dengan piknik, makan, leha-leha menikmati matahari di tempat yang menurut saya super cantik ini. Jalan-jalan spontan bisa menjadikan perjalanan kita penuh kejutan, seperti cerita saya kali ini tentang liburan spontan ke Lake District-Cumbria. Terkejut menjumpai satu lagi keindahan ciptaan Tuhan di tempat ini. So wonderfull Day! Terimakasih Tuhan.

Thanks for such wonderful holiday!

Salam Travelling

Tengok foto-foto lengkapnya di sini


Monday, 14 April 2014

Dua Perempuan


         Di meja berbentuk bundar di sudut cafĂ©  itu terlihat pemandangan yang sama tiap kali mereka ke sini, secangkir coffee latte dan kopi hitam pekat. Coffee latte tentu saja milik Gayatri, sementara Anggia dipastikan pemilik secangkir kopi hitam pekat itu. Pesanan mereka berdua memang jarang berubah, termasuk camilan yang menemani mereka, croissant dan pie susu.
          “ Berarti dokumennya sudah kelar semua, Aya?” tanya Anggia dengan matanya yang menatap lurus pada sahabatnya, Gayatri yang biasa dipanggilnya Aya itu.
Gayatri mengambil secangkir coffee latteenya yang kemudian disesapnya perlahan, kemudian menjawab.
          “Iya, sudah. Pengacaraku akan kirim dokumen finalnya esok hari,” jawab Aya singkat. Matanya masih terlihat sayu.
       “Sabar ya, semuanya akan kembali baik-baik. Yakinlah,” Anggia mencoba menenangkan Aya, lalu menggeser tubuhnya mendekati sahabat yang telah dikenalnya lebih dari 10 tahun itu. Diusap-usap punggung Aya, mencoba memberikan penghiburan.
Aya terdiam, matanya tiba-tiba merah memanas dan bulir-bulir airmata tak tertahankan jatuh dari pelupuk matanya.
        “Aku merasa sendirian, Nggi,” isak Aya dalam tangisnya. Suaranya parau menahan gejolak perasaannya.
Perjalanan pernikahannya bersama Bimo yang hampir 4 tahun akhirnya kandas.     Entah kemana perginya cinta yang dulu menjadi alasan bagi Aya dan Bimo untuk menikah dulu.  Pernikahan sudah tidak menjadi sebuah ikatan yang nyaman lagi bagi mereka berdua. Ada laju yang timpang, ada pertumbuhan diri yang tak selaju. Komunikasi sudah tidak lagi berjalan dalam harmoni, namun lebih sering dialog yang berakhir dengan saling tidak mengerti. Rasanya ikatan pernikahan bukanlah wadah yang tepat lagi bagi mereka. Tiga bulan lalu, Aya mengajukan permohonan cerainya yang baru saja dikabulkan pengadilan minggu lalu.
        “Ah Aya, kamu kan selalu ada aku. Apapun yang terjadi. Kita hadapi bersama,” kata Anggia mencoba kembali menentramkan sahabat itu.
Bagi Gayatri, tentu saja ada kecemasan akan kesendirian, tentang tekanan psikologis dari masyarakat, bahkan pertentangan dari keluarganya sendiri tentang keputusannya itu.
           “Hidupmu itu bukan tentang kata orang kan Nggi?” kaliat itu meluncur dari Anggia.
Dan Gayatri kembaki terkenang, bahwa kalimat itu adalah kalimat sama yang diucapkannya dulu saat Anggia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri sementara hitungan umurnya memicu pertanyaan-pertanyaan yang mengusik. Pertanyaan seperti : Kapan menikah Nggi? Jangan karier melulu lah yang dikejar? Setinggi-tingginya karir dan pendidikan perempuan ya ujung-ujungnya harus patuh pada suami. Jangan cari lelaki yang sempurna, Nggi, nggak ada yang sempurna, Nggi atau pernyataan seperti, Kamu sih terlalu pilih-pilih.
“Hidupmu itu bukan kata orang, Nggi. Hidup itu pilihanmu sendiri kan, dan kamu tahu pasti konsekuensi dan risikonya. “ Aya masih ingat kalimat-kalimatnya saat menghibur Anggia yang tengah galau karena pilihannya tersebut. Ah, sekarang kalimatnya itu berbalik dialamatkan untuk dirinya sendiri.
“Iyah sih, tapi kadang sebel tahu sama orang-orang itu. Rese amat, memangnya nggak ada bahasan lain apa? Seneng banget gitu kalau ngurusi urusan orang lain,” Anggia menjawabnya dengan raut muka yang sedikit ketus.
“Kalau semua orang penuh pengertian, baik, memahami bahwa setiap orang punya jalan hidup dan ujiannya masing-masing, kayaknya dunia nggak bakalan seru ya?” goda Aya melihat Anggia yang sedikit ketus.
Percakapan itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Tempatnya sama, di Rumah kopi ini. Mereka bertemu di tempat yang sama, dengan pesanan kopi yang sama, namun dengan cerita-cerita hidup yang berbeda. Jarak di antara mereka pun tidak pernah menjadi masalah bagi persahabatan mereka. Gayatri di Yogya, sementara Anggia di New Castle, Inggris. Tapi bila mereka punya kesempatan untuk bertemu, Cafe Rumah Kopi di Jalan Kaliurang km 5.4 ini selalu menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan waktu bersama. 

                                                            ***
“ Bimo sakit, Nggi. Katanya ada gangguan pada ginjalnya. Aku dapat kabar dari Mbak Meda. Aku bingung mesti jenguk dia atau enggak,” gambar bergerak di layar monitor itu tersendat-sendat. Layanan skype dua negera itu memang sering ditentukan bagus tidaknya koneksi.
“ Hatimu yang tahu, kau harus jenguk dia atau enggak. Dan dalam kapasitas apa kau kesana,” jawab Anggia. Kadang kala perempuan sebenarnya tahu apa yang ingin mereka putuskan, mereka hanya perlu didengarkan.
“Jangan-jangan, kau takut jatuh cinta lagi padanya ahaha,” canda Anggia memecahkan kebekuan di antara mereka.
“ Hush, cintaku padanya kan sudah bermetamorfosa,” jawab Gayatri diakhiri tawa
“Memangnya kupu-kupu, bermetamorfosa, sok gaya. Memang apa maksudnya cintamu sudah bermetamorfosa?” tanya Anggia sambil mencibir.
Sejak bercerai lima bulan lalu, Gayatri seperti memasuki kehidupan yang baru. Ketunggalannya setelah pernah menjalani hidup berdua, jauh berbeda dengan kesendiriannya saat belum menikah dulu. Tidak mudah memang, ia kini harus menghidupi dirinya sendiri dengan kembali menekuni dunia desain grafis yang dulu sempat ditinggalkannya. Ditambah lagi tekanan psikologis masyarakat dengan perkataan yang terkadang bising menghampiri telinganya. Kenapa menjadi janda selalu menjadi konotasi negatif. Ini hanya jalur dan pilihan yang semua orang bisa pilih.
            “ Hei, kok malah bengong. Apaan itu tadi metamorfosa?” tanya Anggia mengagetkan Gayatri.
            “ Ya bukan lagi cinta sebagai pasangan. Entahlah apa namanya, semacam rasa terhadap sahabat baik. Itu saja. Mungkin kami lebih cocok jadi sahabat, bukan pasangan.” Jawab Gayatri.
            “Nggak ngerti ah, absurb.” Jawab Anggia seenaknya.
            “ Ah kamu. Makanya jatuh cinta dong. Yang lain udah pada belajarin anaknya ngaji, kamu belajar jatuh cinta aja belum, ” Ejek Gayatri. Begitulah keajaiban antar sahabat, mau ngejek tingkat tinggi bagaimanapun, nggak bakal tersinggung. Coba kalau yang ngomong begitu tetangga sebelah, sudah berubah pasti raut muka jadi merah menahan amarah.
“ Ahaha sialan. Memangnya kamu nggak inget aku pernah jatuh cinta?” sergah Anggia.
Kadang-kadang jarak memang hanya soal relativitas. Demikian juga waktu. Perbedaan enam 6 jam antara Indonesia-Inggris tak pernah menyurutkan komunikasi mereka berdua. Padahal tiap hari mereka berdua bisa bertemu dengan sahabat-sahabat nyata lain yang bisa bertemu muka. Tapi memang ada daya ajaib dari rasa persahabatan. Aku tak pernah khawatir kau akan pergi kemanapun, bertemu sahabat-sahabat baru berapapun, manusia dalam hidupnya mungkin memang ditakdirkan hanya memiliki beberapa sahabat sejati. Dan kau sudah menemukanku, aku sudah menemukanmu. Anggia paling sok yakin dengan teorinya tersebut.
                                                            ***
Gayatri seperti melihat sesosok Bimo yang lain saat memasuki kamar Rumah Sakit dimana Bimo dirawat. Tubuhnya kurus, wajahnya tampak lebih tirus dan kuyu dibandingkan terakhir kali dilihatnya. Lelaki itu, yang pernah menghabiskan hidup bersamanya selama hampir empat tahun lamanya. Gayatri tercekat, dilanda kebimbangan apa yang harus diucapnya. Bimo tersenyum dalam raut mukanya yang pucat.
“Terimakasih sudah datang menjenguk,” akhirnya dalam suaranya yang parau Bimo memecahkan kebekuan. Mungkin tak mudah juga baginya untuk bertemu lagi dengan Gayatri, perempuan yang dulu pernah menemani hidupnya itu.
“Formal amat, kayak pejabat,”sahut Gayatri menyahut dengan bergurau. Keduanya tergelak. Entah kenapa kebekuan dan kekakuan karena kisah pernikahan mereka yang tamat rasanya mencair seketika.. Kemudian mereka bercakap-cakap layaknya dua sahabat yang kembali saling bertemu.
“Oh ya, apa kabar Anggia sekarang?”tanya Bimo dengan suara yang kini jauh lebih jelas.
“Masih belum selesai studinya, tapi kayaknya masih asik jalan-jalan melulu tuh anak. Eh dia mau mudik ke Indo sebentar, mau nikah bulan depan.” Jawab Gayatri, sambil menggeser letak kursinya agar lebih dekat pada ranjang tempat Bimo berbaring.
What? Kok tiba-tiba sekali. Siapa laki-laki yang sanggup menaklukkannya?” Bimo mengenal Anggia sebagai sosok perempuan mandiri, yang tahu apa yang dia mau, dan ia jarang melihatnya bersama laki-laki.
“Mas Danar. Hihi jodoh memang ajaib. Lama banget lho Anggia nunggu, tapi kan nggantung gitu sejak lama. Akhirnya si Anggia yang melamar duluan, ahaha dasar gokil itu anak,” Rasanya pembicaraan cair seperti ini justru jarang mereka dapatkan saat memasuki tahun ketiga pernikahan mereka. Saat komunikasi berakhir pada satu sisi, saat ego masing-masing terlalu kuat untuk saling mengerti.
Melamar duluan? Ahaha mantap. Kadang-kadang perempuan itu memang harus kayak gitu. Apalagi kayak Anggia, laki-laki kadang-kadang nggak pede mau lamar dia. Ah, seneng dengarnya,” Ah itu Bimo yang dikenalnya dulu. Spontan, ceria dan apa adanya. Bahkan Gayatri merasa menemukan lagi Bimo yang dulu dikenalnya setelah tak bersamanya dalam ikatan pernikahan.
Ada perasaan lega saat Gayatri meninggalkan rumah sakit tempat Bimo dirawat. Semoga hidupmu baik-baik saja. Mungkin itu kalimat yang tak terucap dari keduanya, namun sorot mata mereka telah cukup jelas mengatakannya. Mungkin cinta terkadang adalah kemampun untuk saling membebaskan.
                                                            ***
Anggia mengancingkan coatnya dan mengenakan syal senada dengan jilbab ungu yang dikenakannya. Hawa dingin masih menyelimuti New Castle Bulan Februari ini, apalagi kalau disertai angin, rasanya tubuh kecilnya mau terbang tersapu angin. Lelaki itu di sampingnya, sibuk mengamati pemandangan di luar jendela bis yang akan membawa mereka ke Alnwick Castle, kastil dimana salah satu syuting film Harry Potter diambil.
            “Indah ya?” tanya Anggia mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu dari lanskap cantik di luar jendela.
            “Ehehe iyah, walau ada yang lebih indah. Perempuan di sampingku ehehe.” Jawab Mas Danar sambil tergelak, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
            “Ish gombal. Kalau lebih indah, kok lihatnya ke sana terus, nggak kemari,” kata Anggia dengan pipinya yang berubah merona. Salahkan semua orang yang tengah jatuh cinta, entah hilang kemana kewarasannya.
            “ Kalau dilihat terus, takut terjadi gempa bumi beruntun di sini, jawab Mas Danar sembari menunjuk ke arah dadanya sambil tersenyum penuh cinta. Oh, salahkan juga laki-laki yang pandai membumbui kalimatnya dengan bahasanya yang berbunga, dan celakanya semua perempuan suka mendengarnya.
Anggia hanya tersenyum dengan pipinya yang kemerahan. Terkadang dalam hidup selalu memberinya kejutan. Seperti saat ini, lelaki yang ditunggunya selama lebih dari tiga tahun lamanya tiba-tiba menghampirinya. Mas Danar tengah menghadiri konferensi di New Castle dan sepertinya semesta merestui mereka berdua.  Hingga entah dengan keberanian macam apa, Anggia melamarnya. Mungkin hatinya sudah terlalu lama yakin bahwa lelaki itu mencintainya.
            “Kenapa sih nggak bilang dari dulu? Kan bisa jadi sekarang anak kita sudah satu?” ledek Mas Danar menggodainya.
            “Ishh..heloow. Aku kan perempuan, kamu dong harusnya yang bilang duluan. Ini malah aku yang harus bilang duluan. Malu tau, ntar dibilang agresif ehehe,”sergah Anggia
Bis terhenti sejenak di perempatan, terlihat orang-orang menyeberang tetap dengan pakaian hangatnya, boots dan syal yang melilit leher. Matahari memang menjadi barang langka di negeri itu.
            “Kirain kamu maunya sama bapak-bapak mapan, pejabat, yang banyak duit, kedudukannya mantap, keren gitu.” Timpal Mas Danar.
            “Memangnya aku ini materialistis?aku bisa menghidupi diriku sendiri, nggak punya ketergantungan finansial sama orang.” Balas Anggia.
            “Makanya itu. Jadi nggak pede tahu, kamu kan manis, karir melangit, pendidikan tinggi, penggemar banyak, follower bejibun. Eh ternyata maunya sama aku ahaha, “ ledek Mas Danar lagi. Yang dibalas dengan cubitan kecil di pinggangnya.
Kadang hidup memang membutuhkan manusia pemberani yang mengungkapkan apa yang diinginkannya dalam hidup. Tidak pernah ada lagi, What If.

                                                            ***
The Bay Bali, sensasi menikmati makanan di tepi Pantai Nusa Dua (pic taken from The Bay Bali FB Pages)

Semilir angin Pantai Nusa Dua Bali menyibakkan rambut sebahu milik Gayatri dan jilbab merah marun milik Anggia. The Bali Bay memang pilihan yang menyenangkan, menggabungkan dua hal yang mereka gilai sekaligus, makanan enak dan pantai. Gayatri antusias dengan pilihan menu Asianya dengan Aya lebih memilih Bebek Bengil kegemarannya.
“ Nggi, cobain deh Bebek Bengilnya uuuuh, the best pokoknya. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Susah banget dapet ini di New Castle,” ujar Anggia dengan sigap mencomot bebek bengil dan menaruh sambel matah ke dalam piringnya. Penggila bebek dan sambel serba pedas.

Maknyusnya Bebek Bengil-The Bay Bali (pic taken from : The Bay Bali FB Pages)

 Kesempatan bertemu nyata antara dua perempuan ini sungguhlah hal yang istimewa. Walau mereka paham, kebersamaan bukanlah soal tempat, tapi lebih pada soal rasa. Namun ada yang lebih istimewa pada pertemuan mereka ini, kali ini bukan lagi Rumah Kopi. Mereka menghabiskan liburan di Nusa Dua Bali.
“ Kamu tinggal dimana sekarang ? tanya Anggia di sela-sela keasikannya mencicipi Bebek Bengil di piringnya.
“ Nomad ahaha, kantor sih tetap di Jogya, tapi kerjaanku tergantung projek juga. Jadi memang harus sering  pindah-pindah,”
“Nggak berasa capek hidupmu kayak gitu?”
“ Ehehe capek fisik sih kadang iya, Tapi hatiku, jiwaku baik-baik saja. Bahkan terasa lebih segar kalau pindah ke tempat yang baru. Mungkin manusia memang butuh perubahan, perpindahan. Rasanya aku sudah menemukan rumah, hatiku dan jiwaku sudah padu. Bukankah kemanapun pergi terasa pulang bila kita telah menemukan rumah di dalam diri,”
“ Hadeeeh minum..mana minum, ngomong apa sih kamu.” Kata Anggia meledek.
“ Ahaha,. Aku merasa bahagia aja bisa berbagi dengan banyak orang. Kayaknya hidup jadi lebih bermakna gitu. Ah, pantesan aja kamu suka keliling-keliling, dulu kupikir kau sinting mau-maunya ngajar di pedalaman Kalimantan, jadi anggota komunitas-komunitas macam-macam. Aku dulu melewatkan itu semua”,
 “ Hihi baguslah, Tapi sejak bersama Mas Danar, Aku sudah tak ingin kemana-mana lagi. Yunani, Maldives, Turki, nggak ada artinya lagi. Aku cuma pengen ada di samping Danar, itu saja. Wah nggak tau kenapa, rasanya berubah total jadi orang rumahan banget deh aku”
“Jiaah yang pengantin baru. Eh tapi serius kamu kan gatel pengin jalan-jalan lagi?” tanya Gayatri dengan dengan nada hampir tak percaya. Anggia dan kegemarannya menjelajah dunia adalah hal yang sudah dimakluminya
“Iyalah, tapi kalau keliling dunianya sama Mas Danar sih mau-mau aja ahaha,” kata Anggia sambil tergelak.
“ Beuhh dasaar. Ajaib ya, kamu kan kayak burung terbang-terbang mulu sekarang penginnya mendekam terus di rumah. Belajar masak, bikin kue.” Kenang Gayatri.
Dan sekarang kamu yang terbang-terbang ahaha, aneh ya,” timpal Anggia.
“ Well, Life is a choice. Our own choice, tergantung pilihan masing-masing ,” kata Gayatri kemudian,
“ Bukan pilihan orang lain dan bukan nurut kata orang lain ya kan? Sebelum keduluan kamu bilang gitu ahaha,” penggal Anggia cepat.
“What which make us happy juga beda-beda masing-masing orang.” Kemudian mereka berdua tergelak dalam tawa, larut dalam suara riuh ombak di tepi Pantai Nusa Dua Bali.
Eh, ketemu di sini lagi ya nanti. Mas Danar dateng jam 7 malam nanti. Ada Art Show, macam tari-tari tradisional Bali gitu di The Bay Bali. Sambil kita makan malam bareng-bareng di tepi pantai, lama kan nggak ketemu. Kita godai Mas Danar dengan sensasi maknyusnya bebek bengil.
“Yups, eh kita foto dulu dong. Lama nih nggak foto berdua, ada tripod gurita punyaku tuh bisa dipakai,” ajak Anggia, sembari mengeluarkan tripod kecil berbentuk gurita yang dengan mudah bisa  menopang kamera dengan mengaitkannya pada papan.
Klik! Ada wajah dua perempuan yang berbahagia dengan masing-masing pilihan hidupnya. 

Nusa Dua Bali (pic taken from : The Bay Bali FB Pages)


***
Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti proyek menulis Letter of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali and Get discovered !