Monday, 14 April 2014

Dua Perempuan


         Di meja berbentuk bundar di sudut café  itu terlihat pemandangan yang sama tiap kali mereka ke sini, secangkir coffee latte dan kopi hitam pekat. Coffee latte tentu saja milik Gayatri, sementara Anggia dipastikan pemilik secangkir kopi hitam pekat itu. Pesanan mereka berdua memang jarang berubah, termasuk camilan yang menemani mereka, croissant dan pie susu.
          “ Berarti dokumennya sudah kelar semua, Aya?” tanya Anggia dengan matanya yang menatap lurus pada sahabatnya, Gayatri yang biasa dipanggilnya Aya itu.
Gayatri mengambil secangkir coffee latteenya yang kemudian disesapnya perlahan, kemudian menjawab.
          “Iya, sudah. Pengacaraku akan kirim dokumen finalnya esok hari,” jawab Aya singkat. Matanya masih terlihat sayu.
       “Sabar ya, semuanya akan kembali baik-baik. Yakinlah,” Anggia mencoba menenangkan Aya, lalu menggeser tubuhnya mendekati sahabat yang telah dikenalnya lebih dari 10 tahun itu. Diusap-usap punggung Aya, mencoba memberikan penghiburan.
Aya terdiam, matanya tiba-tiba merah memanas dan bulir-bulir airmata tak tertahankan jatuh dari pelupuk matanya.
        “Aku merasa sendirian, Nggi,” isak Aya dalam tangisnya. Suaranya parau menahan gejolak perasaannya.
Perjalanan pernikahannya bersama Bimo yang hampir 4 tahun akhirnya kandas.     Entah kemana perginya cinta yang dulu menjadi alasan bagi Aya dan Bimo untuk menikah dulu.  Pernikahan sudah tidak menjadi sebuah ikatan yang nyaman lagi bagi mereka berdua. Ada laju yang timpang, ada pertumbuhan diri yang tak selaju. Komunikasi sudah tidak lagi berjalan dalam harmoni, namun lebih sering dialog yang berakhir dengan saling tidak mengerti. Rasanya ikatan pernikahan bukanlah wadah yang tepat lagi bagi mereka. Tiga bulan lalu, Aya mengajukan permohonan cerainya yang baru saja dikabulkan pengadilan minggu lalu.
        “Ah Aya, kamu kan selalu ada aku. Apapun yang terjadi. Kita hadapi bersama,” kata Anggia mencoba kembali menentramkan sahabat itu.
Bagi Gayatri, tentu saja ada kecemasan akan kesendirian, tentang tekanan psikologis dari masyarakat, bahkan pertentangan dari keluarganya sendiri tentang keputusannya itu.
           “Hidupmu itu bukan tentang kata orang kan Nggi?” kaliat itu meluncur dari Anggia.
Dan Gayatri kembaki terkenang, bahwa kalimat itu adalah kalimat sama yang diucapkannya dulu saat Anggia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri sementara hitungan umurnya memicu pertanyaan-pertanyaan yang mengusik. Pertanyaan seperti : Kapan menikah Nggi? Jangan karier melulu lah yang dikejar? Setinggi-tingginya karir dan pendidikan perempuan ya ujung-ujungnya harus patuh pada suami. Jangan cari lelaki yang sempurna, Nggi, nggak ada yang sempurna, Nggi atau pernyataan seperti, Kamu sih terlalu pilih-pilih.
“Hidupmu itu bukan kata orang, Nggi. Hidup itu pilihanmu sendiri kan, dan kamu tahu pasti konsekuensi dan risikonya. “ Aya masih ingat kalimat-kalimatnya saat menghibur Anggia yang tengah galau karena pilihannya tersebut. Ah, sekarang kalimatnya itu berbalik dialamatkan untuk dirinya sendiri.
“Iyah sih, tapi kadang sebel tahu sama orang-orang itu. Rese amat, memangnya nggak ada bahasan lain apa? Seneng banget gitu kalau ngurusi urusan orang lain,” Anggia menjawabnya dengan raut muka yang sedikit ketus.
“Kalau semua orang penuh pengertian, baik, memahami bahwa setiap orang punya jalan hidup dan ujiannya masing-masing, kayaknya dunia nggak bakalan seru ya?” goda Aya melihat Anggia yang sedikit ketus.
Percakapan itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Tempatnya sama, di Rumah kopi ini. Mereka bertemu di tempat yang sama, dengan pesanan kopi yang sama, namun dengan cerita-cerita hidup yang berbeda. Jarak di antara mereka pun tidak pernah menjadi masalah bagi persahabatan mereka. Gayatri di Yogya, sementara Anggia di New Castle, Inggris. Tapi bila mereka punya kesempatan untuk bertemu, Cafe Rumah Kopi di Jalan Kaliurang km 5.4 ini selalu menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan waktu bersama. 

                                                            ***
“ Bimo sakit, Nggi. Katanya ada gangguan pada ginjalnya. Aku dapat kabar dari Mbak Meda. Aku bingung mesti jenguk dia atau enggak,” gambar bergerak di layar monitor itu tersendat-sendat. Layanan skype dua negera itu memang sering ditentukan bagus tidaknya koneksi.
“ Hatimu yang tahu, kau harus jenguk dia atau enggak. Dan dalam kapasitas apa kau kesana,” jawab Anggia. Kadang kala perempuan sebenarnya tahu apa yang ingin mereka putuskan, mereka hanya perlu didengarkan.
“Jangan-jangan, kau takut jatuh cinta lagi padanya ahaha,” canda Anggia memecahkan kebekuan di antara mereka.
“ Hush, cintaku padanya kan sudah bermetamorfosa,” jawab Gayatri diakhiri tawa
“Memangnya kupu-kupu, bermetamorfosa, sok gaya. Memang apa maksudnya cintamu sudah bermetamorfosa?” tanya Anggia sambil mencibir.
Sejak bercerai lima bulan lalu, Gayatri seperti memasuki kehidupan yang baru. Ketunggalannya setelah pernah menjalani hidup berdua, jauh berbeda dengan kesendiriannya saat belum menikah dulu. Tidak mudah memang, ia kini harus menghidupi dirinya sendiri dengan kembali menekuni dunia desain grafis yang dulu sempat ditinggalkannya. Ditambah lagi tekanan psikologis masyarakat dengan perkataan yang terkadang bising menghampiri telinganya. Kenapa menjadi janda selalu menjadi konotasi negatif. Ini hanya jalur dan pilihan yang semua orang bisa pilih.
            “ Hei, kok malah bengong. Apaan itu tadi metamorfosa?” tanya Anggia mengagetkan Gayatri.
            “ Ya bukan lagi cinta sebagai pasangan. Entahlah apa namanya, semacam rasa terhadap sahabat baik. Itu saja. Mungkin kami lebih cocok jadi sahabat, bukan pasangan.” Jawab Gayatri.
            “Nggak ngerti ah, absurb.” Jawab Anggia seenaknya.
            “ Ah kamu. Makanya jatuh cinta dong. Yang lain udah pada belajarin anaknya ngaji, kamu belajar jatuh cinta aja belum, ” Ejek Gayatri. Begitulah keajaiban antar sahabat, mau ngejek tingkat tinggi bagaimanapun, nggak bakal tersinggung. Coba kalau yang ngomong begitu tetangga sebelah, sudah berubah pasti raut muka jadi merah menahan amarah.
“ Ahaha sialan. Memangnya kamu nggak inget aku pernah jatuh cinta?” sergah Anggia.
Kadang-kadang jarak memang hanya soal relativitas. Demikian juga waktu. Perbedaan enam 6 jam antara Indonesia-Inggris tak pernah menyurutkan komunikasi mereka berdua. Padahal tiap hari mereka berdua bisa bertemu dengan sahabat-sahabat nyata lain yang bisa bertemu muka. Tapi memang ada daya ajaib dari rasa persahabatan. Aku tak pernah khawatir kau akan pergi kemanapun, bertemu sahabat-sahabat baru berapapun, manusia dalam hidupnya mungkin memang ditakdirkan hanya memiliki beberapa sahabat sejati. Dan kau sudah menemukanku, aku sudah menemukanmu. Anggia paling sok yakin dengan teorinya tersebut.
                                                            ***
Gayatri seperti melihat sesosok Bimo yang lain saat memasuki kamar Rumah Sakit dimana Bimo dirawat. Tubuhnya kurus, wajahnya tampak lebih tirus dan kuyu dibandingkan terakhir kali dilihatnya. Lelaki itu, yang pernah menghabiskan hidup bersamanya selama hampir empat tahun lamanya. Gayatri tercekat, dilanda kebimbangan apa yang harus diucapnya. Bimo tersenyum dalam raut mukanya yang pucat.
“Terimakasih sudah datang menjenguk,” akhirnya dalam suaranya yang parau Bimo memecahkan kebekuan. Mungkin tak mudah juga baginya untuk bertemu lagi dengan Gayatri, perempuan yang dulu pernah menemani hidupnya itu.
“Formal amat, kayak pejabat,”sahut Gayatri menyahut dengan bergurau. Keduanya tergelak. Entah kenapa kebekuan dan kekakuan karena kisah pernikahan mereka yang tamat rasanya mencair seketika.. Kemudian mereka bercakap-cakap layaknya dua sahabat yang kembali saling bertemu.
“Oh ya, apa kabar Anggia sekarang?”tanya Bimo dengan suara yang kini jauh lebih jelas.
“Masih belum selesai studinya, tapi kayaknya masih asik jalan-jalan melulu tuh anak. Eh dia mau mudik ke Indo sebentar, mau nikah bulan depan.” Jawab Gayatri, sambil menggeser letak kursinya agar lebih dekat pada ranjang tempat Bimo berbaring.
What? Kok tiba-tiba sekali. Siapa laki-laki yang sanggup menaklukkannya?” Bimo mengenal Anggia sebagai sosok perempuan mandiri, yang tahu apa yang dia mau, dan ia jarang melihatnya bersama laki-laki.
“Mas Danar. Hihi jodoh memang ajaib. Lama banget lho Anggia nunggu, tapi kan nggantung gitu sejak lama. Akhirnya si Anggia yang melamar duluan, ahaha dasar gokil itu anak,” Rasanya pembicaraan cair seperti ini justru jarang mereka dapatkan saat memasuki tahun ketiga pernikahan mereka. Saat komunikasi berakhir pada satu sisi, saat ego masing-masing terlalu kuat untuk saling mengerti.
Melamar duluan? Ahaha mantap. Kadang-kadang perempuan itu memang harus kayak gitu. Apalagi kayak Anggia, laki-laki kadang-kadang nggak pede mau lamar dia. Ah, seneng dengarnya,” Ah itu Bimo yang dikenalnya dulu. Spontan, ceria dan apa adanya. Bahkan Gayatri merasa menemukan lagi Bimo yang dulu dikenalnya setelah tak bersamanya dalam ikatan pernikahan.
Ada perasaan lega saat Gayatri meninggalkan rumah sakit tempat Bimo dirawat. Semoga hidupmu baik-baik saja. Mungkin itu kalimat yang tak terucap dari keduanya, namun sorot mata mereka telah cukup jelas mengatakannya. Mungkin cinta terkadang adalah kemampun untuk saling membebaskan.
                                                            ***
Anggia mengancingkan coatnya dan mengenakan syal senada dengan jilbab ungu yang dikenakannya. Hawa dingin masih menyelimuti New Castle Bulan Februari ini, apalagi kalau disertai angin, rasanya tubuh kecilnya mau terbang tersapu angin. Lelaki itu di sampingnya, sibuk mengamati pemandangan di luar jendela bis yang akan membawa mereka ke Alnwick Castle, kastil dimana salah satu syuting film Harry Potter diambil.
            “Indah ya?” tanya Anggia mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu dari lanskap cantik di luar jendela.
            “Ehehe iyah, walau ada yang lebih indah. Perempuan di sampingku ehehe.” Jawab Mas Danar sambil tergelak, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
            “Ish gombal. Kalau lebih indah, kok lihatnya ke sana terus, nggak kemari,” kata Anggia dengan pipinya yang berubah merona. Salahkan semua orang yang tengah jatuh cinta, entah hilang kemana kewarasannya.
            “ Kalau dilihat terus, takut terjadi gempa bumi beruntun di sini, jawab Mas Danar sembari menunjuk ke arah dadanya sambil tersenyum penuh cinta. Oh, salahkan juga laki-laki yang pandai membumbui kalimatnya dengan bahasanya yang berbunga, dan celakanya semua perempuan suka mendengarnya.
Anggia hanya tersenyum dengan pipinya yang kemerahan. Terkadang dalam hidup selalu memberinya kejutan. Seperti saat ini, lelaki yang ditunggunya selama lebih dari tiga tahun lamanya tiba-tiba menghampirinya. Mas Danar tengah menghadiri konferensi di New Castle dan sepertinya semesta merestui mereka berdua.  Hingga entah dengan keberanian macam apa, Anggia melamarnya. Mungkin hatinya sudah terlalu lama yakin bahwa lelaki itu mencintainya.
            “Kenapa sih nggak bilang dari dulu? Kan bisa jadi sekarang anak kita sudah satu?” ledek Mas Danar menggodainya.
            “Ishh..heloow. Aku kan perempuan, kamu dong harusnya yang bilang duluan. Ini malah aku yang harus bilang duluan. Malu tau, ntar dibilang agresif ehehe,”sergah Anggia
Bis terhenti sejenak di perempatan, terlihat orang-orang menyeberang tetap dengan pakaian hangatnya, boots dan syal yang melilit leher. Matahari memang menjadi barang langka di negeri itu.
            “Kirain kamu maunya sama bapak-bapak mapan, pejabat, yang banyak duit, kedudukannya mantap, keren gitu.” Timpal Mas Danar.
            “Memangnya aku ini materialistis?aku bisa menghidupi diriku sendiri, nggak punya ketergantungan finansial sama orang.” Balas Anggia.
            “Makanya itu. Jadi nggak pede tahu, kamu kan manis, karir melangit, pendidikan tinggi, penggemar banyak, follower bejibun. Eh ternyata maunya sama aku ahaha, “ ledek Mas Danar lagi. Yang dibalas dengan cubitan kecil di pinggangnya.
Kadang hidup memang membutuhkan manusia pemberani yang mengungkapkan apa yang diinginkannya dalam hidup. Tidak pernah ada lagi, What If.

                                                            ***
The Bay Bali, sensasi menikmati makanan di tepi Pantai Nusa Dua (pic taken from The Bay Bali FB Pages)

Semilir angin Pantai Nusa Dua Bali menyibakkan rambut sebahu milik Gayatri dan jilbab merah marun milik Anggia. The Bali Bay memang pilihan yang menyenangkan, menggabungkan dua hal yang mereka gilai sekaligus, makanan enak dan pantai. Gayatri antusias dengan pilihan menu Asianya dengan Aya lebih memilih Bebek Bengil kegemarannya.
“ Nggi, cobain deh Bebek Bengilnya uuuuh, the best pokoknya. Bumbunya meresap sampai ke dalam. Susah banget dapet ini di New Castle,” ujar Anggia dengan sigap mencomot bebek bengil dan menaruh sambel matah ke dalam piringnya. Penggila bebek dan sambel serba pedas.

Maknyusnya Bebek Bengil-The Bay Bali (pic taken from : The Bay Bali FB Pages)

 Kesempatan bertemu nyata antara dua perempuan ini sungguhlah hal yang istimewa. Walau mereka paham, kebersamaan bukanlah soal tempat, tapi lebih pada soal rasa. Namun ada yang lebih istimewa pada pertemuan mereka ini, kali ini bukan lagi Rumah Kopi. Mereka menghabiskan liburan di Nusa Dua Bali.
“ Kamu tinggal dimana sekarang ? tanya Anggia di sela-sela keasikannya mencicipi Bebek Bengil di piringnya.
“ Nomad ahaha, kantor sih tetap di Jogya, tapi kerjaanku tergantung projek juga. Jadi memang harus sering  pindah-pindah,”
“Nggak berasa capek hidupmu kayak gitu?”
“ Ehehe capek fisik sih kadang iya, Tapi hatiku, jiwaku baik-baik saja. Bahkan terasa lebih segar kalau pindah ke tempat yang baru. Mungkin manusia memang butuh perubahan, perpindahan. Rasanya aku sudah menemukan rumah, hatiku dan jiwaku sudah padu. Bukankah kemanapun pergi terasa pulang bila kita telah menemukan rumah di dalam diri,”
“ Hadeeeh minum..mana minum, ngomong apa sih kamu.” Kata Anggia meledek.
“ Ahaha,. Aku merasa bahagia aja bisa berbagi dengan banyak orang. Kayaknya hidup jadi lebih bermakna gitu. Ah, pantesan aja kamu suka keliling-keliling, dulu kupikir kau sinting mau-maunya ngajar di pedalaman Kalimantan, jadi anggota komunitas-komunitas macam-macam. Aku dulu melewatkan itu semua”,
 “ Hihi baguslah, Tapi sejak bersama Mas Danar, Aku sudah tak ingin kemana-mana lagi. Yunani, Maldives, Turki, nggak ada artinya lagi. Aku cuma pengen ada di samping Danar, itu saja. Wah nggak tau kenapa, rasanya berubah total jadi orang rumahan banget deh aku”
“Jiaah yang pengantin baru. Eh tapi serius kamu kan gatel pengin jalan-jalan lagi?” tanya Gayatri dengan dengan nada hampir tak percaya. Anggia dan kegemarannya menjelajah dunia adalah hal yang sudah dimakluminya
“Iyalah, tapi kalau keliling dunianya sama Mas Danar sih mau-mau aja ahaha,” kata Anggia sambil tergelak.
“ Beuhh dasaar. Ajaib ya, kamu kan kayak burung terbang-terbang mulu sekarang penginnya mendekam terus di rumah. Belajar masak, bikin kue.” Kenang Gayatri.
Dan sekarang kamu yang terbang-terbang ahaha, aneh ya,” timpal Anggia.
“ Well, Life is a choice. Our own choice, tergantung pilihan masing-masing ,” kata Gayatri kemudian,
“ Bukan pilihan orang lain dan bukan nurut kata orang lain ya kan? Sebelum keduluan kamu bilang gitu ahaha,” penggal Anggia cepat.
“What which make us happy juga beda-beda masing-masing orang.” Kemudian mereka berdua tergelak dalam tawa, larut dalam suara riuh ombak di tepi Pantai Nusa Dua Bali.
Eh, ketemu di sini lagi ya nanti. Mas Danar dateng jam 7 malam nanti. Ada Art Show, macam tari-tari tradisional Bali gitu di The Bay Bali. Sambil kita makan malam bareng-bareng di tepi pantai, lama kan nggak ketemu. Kita godai Mas Danar dengan sensasi maknyusnya bebek bengil.
“Yups, eh kita foto dulu dong. Lama nih nggak foto berdua, ada tripod gurita punyaku tuh bisa dipakai,” ajak Anggia, sembari mengeluarkan tripod kecil berbentuk gurita yang dengan mudah bisa  menopang kamera dengan mengaitkannya pada papan.
Klik! Ada wajah dua perempuan yang berbahagia dengan masing-masing pilihan hidupnya. 

Nusa Dua Bali (pic taken from : The Bay Bali FB Pages)


***
Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti proyek menulis Letter of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali and Get discovered !


0 comments:

Post a Comment