Saturday, 31 May 2014

Tentang Maaf


Ada riak-riak percakapan dalam diri suatu kali
“Kenapa harus minta maaf? Toh bukan kamu yang salah”—kata si pikir menceramahi.
“Harusnya dia dong yang minta maaf duluan”—si pikir kembali memprovokasi.
“Tapi aku merasa tidak nyaman. Seperti ada yang menyesakkan dadaku.” –si hati mencoba berargumentasi.
Meminta maaf. Ini bukan tentang minta maaf seperti kala lebaran yang entah kenapa terkadang sepi makna. Apa yang terjadi pada dua orang yang bersalaman itu. Mungkin saya yang manusia biasa ini harus mendalami lagi makna saling memaafkan.
Saya selalu mengagumi proses saling memaafkan. Karena bila hanya saya seorang diri saja, tak mungkin saling memaafkan bila hadir dan ada.
Saling memaafkan membutuhkan kerja hati dua manusia. Dalam prosesnya ia tak pernah selibat. Bukankah mengagumkan?
Aku minta maaf ya...mungkin kalimat itu pernah saya lontarkan pada sahabat saya, pada pasangan saya, pada orang-orang tercinta saya.
Saya dulu sempat bertanya, kenapa musti meminta maaf? Misalnya dalam kondisi bahwa hati saya bilang bahwa bukan saya yang salah.
Kalian tahu bahwa mungkin saja ada dua orang yang sama-sama tidak salah, namun menghadapi momen-momen yang tidak  mengenakkan. Dunia tak selalu menjadi tempat orang yang selalu paham apa yang kita inginkan, apa yang ingin kita katakan. Bahkan perkataan yang lugas pun bisa dimaknai lain, bila diucapkan di saat yang mungkin kurang tepat.
Dua manusia mencipta keajaibannya sendiri-sendiri dalam berkomunikasi. Kalian mungkin telah mengakrabi, dua sahabat yang saling diam, yang mungkin saja satu pihak tidak tahu kenapa sahabatnya mendiamkannya. Ataupun mereka sama-sama tahu, namun tak ada satu pihak yang mengulurkan kalimat : aku minta maaf yaa..
Saya suatu ketika, pada beberapa peristiwa mengalami itu, seperti juga mungkin kalian semua. Tiap harinya kita berinteraksi dengan banyak manusia, semuanya jalin menjalin dan memberikan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman, ketidakmengertian dan situasi yang tidak mengenakkan. Kalian pernah mengalami hal itu bukan?
Lalu biasanya apa yang terjadi.
DIAM. Mungkin hal ini juga terasa familiar, dua orang yang saling diam. Jembatan hati terputus sejenak tanpa ada pihak yang berniat menyambungkan kembali. Diam, tanpa ada yang mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan pihak lainnya.
Ada yang mengganjal dalam hati, ada semacam rasa yang membuat sesak di dada. Tapi mungkin kedua pihak memilih mendiamkannya. Atau mungkin suatu saat akan terlupa, dan (pura-pura) baik-baik saja.
“Aku minta maaf yaa”
Entah mengapa seperti ada jembatan-jembatan yang kembali menghubungkan kembali dua hati, dua sahabat, sepasang pasangan, anak dengan orang tua, atau dengan menantu, kakak dengan adik, siapa saja.
Pihak lainnya biasanya melumer, menyambungkan kembali jembatan yang sempat terputus.
“ Iyah, sama-sama ya..aku juga minta maaf,” semacam itu.
Saya lama tidak mengerti, kenapa saya misalnya harus minta maaf duluan? Meskipun pada suatu kala saya merasa tidak salah. Tapi kalau saya merasa salah, memang biasanya saya dengan sadar meminta maaf duluan.
Kenapa musti minta maaf? Protes hati saya suatu kala. Tapi jawaban yang diberikan hati saya seringkali adalah bahwa diri ini terasa lebih ringan, lalu hubungan dengan orang yang sempat tidak mengenakkan itu akan kembali baik-baik saja.
Tapi baru-baru ini saya membaca ini :


It just means that you value your RELATIONSHIP more than your EGO.
Ah, iya..mungkin memang benar demikian. Semoga menjadi pengingat diri suatu saat nanti, bila ego kadang kala menguasai.

Salam harmoni di Akhir Mei 2014. Glasgow di hari sabtu yang benderang, terang.



Friday, 30 May 2014

Kembali ke Manchester (Day 2)

Manchester yang baru bangun pagi

Bangun di pagi hari kala jalan-jalan memang lain rasanya dengan hari-hari biasanya, terasa lebih bersemangat dan dunia lebih indah ahaha. Kami melakukan England Trip sekitar 8 hari loncat dari kota ke kota lainnya. Memang kadang membutuhkan energi ekstra *(dan duit ekstra) untuk melakukan perjalanan yang long run seperti ini. Sebatas pengalaman saya, asal malamnya bisa beristirahat dengan nyaman dan tubuh memperoleh porsi istirahat serta asupan makan yang cukup, so far sih tidak berasa capek-capek banget ataupun sampai sakit.
Pagi ini setelah mandi dan mencereweti kamar depan biar cepetan mandi, saya dan Mba Fitri menyiapkan sarapan seadanya. Cukup dengan kentang goreng dan telur sisa bekal dari Mba Dini di Leeds.
            “ Ayo cepetan mandi, kami tunggu di bawah,”  memang si bapak-bapak itu ya, baru setelah dicereweti baru mau siap-siap hihih.
Setelah sarapan, kami sekalian check out dari hotel karena sorenya kami akan menuju London. Tapi kami menitipkan tas-tas segede gaban kami di tempat penitipan hotel, biar nanti sebelum ke stasiun kami kembali lagi ke hotel untuk mengambil tas-tasnya. Soalnya nggak enak jalan-jalan sambil memakai backpack yang besar plus tentengan macam-macam. Terasa kurang leluasa. Dan pastinya akan cepat lelah bisa tubuh dibebani barang bawan yang berat, sementara pastinya kami akan jalan kaki lumayan untuk menjelajah Manchester. Maka travellinglah selagi muda, tenaga masih ekstra, semangat masih membara, suatu saat kalian akan menyadari ada beberapa keterbatasan dalam travelling seiring bertambahnya usia *huaaah ini persis nasihat simbah-simbah yak.
Pagi ini jadwal kami kembali ke Old Trafford! Ahaha masih belum puas semalam, dan juga Mas Munir dan Mas Dipta belum ke sini. Nah pagi ini kami jalan kaki menuju Old Trafford lagi, dan foto-foto (lagi). Saya tidak masuk ke Stadionnya, karena dulu pas pertama kali ke Old Trafford sudah pernah masuk ke dalam stadion. Heuheu mahal juga tour-nya, untuk informasinya kalian bisa check di sini. 18 Pounds per person? Glek. Mahal banget kan? Saya dulu bisa masuk dengan harga lebih murah karena menggunakan family ticket. Walaupun saat itu ya pura-pura saja jadi family. Kebetulan saat itu ada bapak-bapak, dan 2 anak dari indo hendak ikut tour stadium, lalu setelah ngobrol-ngobrol maka ikutlah saya biar diikutkan dengan harga family ticket. Jauh lebih murah pastinya.
Begitulah, selain biaya transportasi, akomodasi, harga tiket masuk objek wisata banyak menyita budjet perjalanan.
Kami asik asik aja berwisata murah dengan (kembali) foto-foto di sekitar stadion dan masuk ke Official store-nya MU untuk melihat-lihat berbagai macam pernak pernik khas United. Dan ya pastilah harga merchandise official mahal ahaha, tapi saya beli beberapa souvenir yang sedang diskon christmas. Lumayan untuk kenang-kenangan.
Sanggupnya beli souvenir yang sale ahaha ;p

Sebelum ke Manchester, ada beberapa teman yang nitip belikan jersey asli MU. Tapi setelah saya beritahu harganya, mereka mundur teratur. Oh ya kalau mau check-check harganya apa aja yang ada di megastore MU, bisa dilihat di sini. Kadang-kadang ada diskon yang lumayan lho

Yeiii kami dalam formasi lengkap di depan Old Trafford

ini di dalam Megastore-nya MU, ada versi bahasa Indonesianya lho..huaaa Teater Impian!

Tau nggak Made in mana? INDONESIA huaah
Mas Basid dan Mas Munir berpose :D

Nah sementara saya, begitu melihat ada angka 7, langsung saja nemplok dan minta difoto hihih iya saya memang pecinta angka tujuh. Sepertinya gara-gara nomer punggung si abang yang pernah menjadi punggawa The Red Devils ini.


Eh di dekat kasir, ada bakcground lucu untuk berfoto, lihatlah saya jemur baju dulu yaaah

Hihihi harus segera dijemur, biar kostumnya bisa dipake bertanding lagi 
Oya, akhirnya dong saya ketemu dengan si abang pemilik nomer 7 The Red Devils itu ahah

Si abang ngajak ngobrol lho *lewat layar LOL
Heuheu pernak perniknya super lucu-lucu, tapi harganya sungguh enggak lucu. Seperti boneka MU ini, lucu pas liatnya tapi ditaruh lagi setelah lihat harganya eheh
Lucu bangeeet..pengen bawa pulang, tapi nggak usah bayar hahah

Model terbaru NIKE hiyahahah
Eh eh, di Old Trafford tiba-tiba disapa sekeluarga asal Indonesia yang tengah berlibur di Manchester. Bapak Ibu dan seorang anak perempuan, dan setelah ngobrol ternyata om tante-nya Handini Audita, sahabat saya dulu di Glasgow. Dia sudah balik ke Indo setelah merampung kuliah master. Ampun yah dunia memang sempit ehehe.
Saya dan mereka

Nah setelah dirasa puas menjelajah Old Trafford, kami makan siang dulu di tempat makan yang menyajikan makanan halal. Alhamdulillah di dekat Old Trafford ada tempat makan halal dan harganya terjangkau. 


muka-muka kelaparan tapi tetap sumringah
Dan setelah perut di isi kami melanjutkan perjalanan kami menuju markasnya Manchester City, Etihad Stadium
Walaupun MU dan City adalah musuh bebuyutan, dan saya sebagai fans MU pastinya bukanlah pendukung The Citizens tapi tetap saja ingin melihat bagaimana wujud stadionnya. Atau setidaknya bisa bilang pada diri sendiri “Aku udah pernah ke sana lho” ahaha.
Kami menuju ke markas The Citizens menggunakan tram, lalu berjalan kaki sekitar 20 menit. Sampailah kami di Etihad Stadium yang hawanya terasa berbeda dengan Old Trafford. Entah karena saya pendukung United atau entah karena memang sejatinya demikian, namun Etihad Stadium kurang terasa “gagah”. Kalah wibawa dibandingkan dengan stadion United itu, walaupun prestasi The Citizens tengah moncer sekarang ini.
Kami berombongan kemudian menjelajah stadion ini, berkeliling, foto-foto dan masuk juga ke store-nya City ini. Harga-harga souvenirnya lebih murah dibanding souvenir MU, namun saya enggan membeli souvenir musuh bebuyutan klub yang saya bela ahaha.

di dalam Store the Citizen
Di depan Etihad Stadium


Ada kejadian lucu saat kami menunggu tram ke city center. Mas munir ternyata menenteng tas belanjaan yang satu MU dan yang satunya City. Soalnya dia nggak suka bola tapi membeli ya gara-gara seru-seruan, oleh-oleh kalau pulang nanti. Tapi begitulah, petugas-petugas yang tengah berpatroli saat ini mencadai kami gara-gara dualisme klub itu. Yang satu pendukung MU, sedangkan petugas satunya pendukung the Citizens. Huah jadinya rame. Di situ kami juga melihat beberapa ABG yang tertangkap petugas gara-gara tidak membeli tiket. Memang jarang ada pemeriksaan tiket, namun sekali tertangkap dendanya selangit. Jadi tetaplah membeli tiket apapun itu, agar tenang jalan-jalan kemana saja.
Dari  markas City kami melanjutkan perjalanan menuju City centre-nya Manchester. Humm tidak seperti kota lainnya yang berhias diri dengan ornamen ornamen khas Natal, seperti Manchester nampak plain. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di city centre-nya.

City centre Manchester

Saya secara pribadi memang tidak terlalu menyukai kota ini. Entahlah, hanya terasa “garing” saja sih. Wisata paling populer ya wisata stadion saja, suasana kotanya juga biasa-biasa saja. Jauh-jauh ke Manchester eh masuknya ke Sport Direct ahaha..nemenin Mas Basid beli topi winter. Topi seperti ini cocok untuk melindungi kepala dan telinga, jadi terasa hangat.
            “ Jangan yang warna ini ah, ntar kembaran sama Mas Munir,” kata Mas Basid enggan punya warna yang sama. Soalnya model topinya kembaran dengan topi Mas Munir. Jadilah si kembar ini berfoto dengan topi yang kembar ahah.
Si Topi Kembar

Setelah agak lama menjelajah city centre kami kembali ke hotel untuk mengambil tas dan menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan kami ke London, yeay!

Saya dan backpack. terimakasih Ibis Hotel !
Catatan perjalanan England Trip Winter Break Desember 2013. Merapikan kenangan
30 May 2014. Glasgow yang cerah ceria siang ini.

Thursday, 29 May 2014

Kembali ke Manchester : Menengok Sejarah Mimpi (Day 1)


Kerlip-kerlip bintang di langit musim dingin nampak berkilau. Rasi orion terlihat jelas dari balik jendela Megabus yang kami tumpangi menuju Manchester. Pemandangan megah itu urung membuat saya lelap seperti penumpang lainnya. Saya lebih memilih menikmati kerlipan Orion di langit Britania Raya yang merupakan pemandangan langka. Dulu, rasi itu sering sekali saya amati di atas bubungan rumah saya. Dan kini di langit yang sama, hanya bagian dunia yang berbeda saya kembali menyaksinya.
Ini perjalanan kedua kalinya ke Manchester. Kali pertama dulu saat mengikuti kegiatan KIBAR Gathering, jadi memang menyempatkan jalan-jalan sebentar di sela-sela acara. Nah kali ini memang sengaja ke kota ini untuk jalan-jalan England Trip. Menuju Manchester adalah perjalanan menengok ke belakang tentang mimpi-mimpi. Manchester dulu pernah menjadi bagian penting dari hidup saya, impian saya. Memang tak lagi seexcited dulu waktu pertama kalinya menginjak kota ini, namun tetap saja jalan-jalan selalu menyenangkan.
Kami tiba di terminal bus Manchester sekitar pukul 10.00 malam. Hawa dingin langsung menyergap begitu kami turun dari bis. Penat badan juga terasa setelah hari ini jalan-jalan di Leeds, dilanjutkan dengan naik bis menuju Manchester. Rasanya ingin segera menuju penginapan kami dan beristirahat.
Kami kemudian menggunakan tram menuju ke daerah Salford Quays, tempat kami menginap di Hotel Ibis Budjet Salford Quays. Kami merasa beruntung bisa mendapatkan akomodasi dengan harga yang murah, kami menyewa 2 kamar dengan total harga (53.20 GBP). Satu kamarnya berisi double bed dan satu bed di atas, jadi bisa ditempati oleh 3 orang. So, dari total 53.20 dibagi enam orang, sekitar 8.86 per orang, murahnya kebangetan kan?
Dan ternyata Hotel Ibis-nya dengan mudah kami jangkau, dengan turun di stop Salford Quays lalu kemudian berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Dan tadaaaa, ternyata emang enak banget tempatnya. Nampaknya hotel ini baru, atau mungkin baru direnovasi. Hotelnya nampak bersih, nyaman dan petugasnya ramah. Saya sekamar dengan mba fitri, lalu yang laki-lakinya berempat berkumpul di kamar satunya. Kamarnya sangat nyaman, kamar mandi dalam, full wifi. Hotel ini sangat recommended untuk kalian yang akan jalan-jalan ke Manchester. Jarang lho bisa dapat harga semurah itu untuk dapat tempat enak dan senyaman itu. Kalau berminat menjajalnya, info lengkapnya di sini.

Ini kamarnya, super nyaman

Setelah mandi-mandi, hal pertama kali ingin kami lakukan pastilah makan ahaha. Perut sudah keroncongan minta diisi. Untung saja Mba dini dkk di Leeds sudah membekali kami dengan nasi briyani plus ayam bakar yang yummy untuk mengisi perut kami yang kelaparan. Tempat makannya juga nyaman, dengan fasilitas microwave, piring dan alat makan lainnya. Nampaknya hanya kami yang bolak balik memanaskan makanan karena piring yang disediakan tidak terlalu besar ahaha. Lalu dengan lahap menghabiskan semua makanan yang tersedia.
Tadinya kami hendak beristirahat, namun demi melihat stadion Manchester United yang nampak dari jendela hotel membuat kami tergoda untuk menuju stadion itu kala malam. Iyah, mungkin sensasinya akan lain bisa ke Old Trafford kala malam. Kapan lagi, mumpung menginap di dekat stadion.
Saya, Mas Basid, Mas Wahyu dan Mba Fitri saja yang beranjak berjalan menuju Old Trafford, sedangkan Mas Munir dan Mas Dipta memilih menyelonjorkan badan di hotel.
Walau ini kali keduanya ke Old Trafford, tapi tetap saja menyenangkan mengunjungi stadion yang pernah menjadi tujuan nonton bola nomer satu, selain San Siro. Hanya dengan berjalan sekitar 20 menit kami sampai di Old Trafford. Eh mungkin lebih dari 20 menit karena banyak berhentinya untuk foto-foto sepanjang ahaha

Di jalan seberang Old Trafford
Stadionnya berdiri gagah, dengan kerlip tulisan Manchester United yang terlihat di langit Manchester yang telah menggelap. Lalu kamipun segera menjelajah di sekitar stadion sambil sesekali berfoto. Memang berfoto bagi sebagian orang *apalagi saya ahah menjadi aktivitas wajib kala jalan-jalan.

Di depan stadion-bersama Ryan Giggs *fotonya doang ;p



Huaah ada Ryan Giggs benaran..aahah ini Mas Basid ding ;p

Suasana stadion kala malam memang terasa berbeda, sepi dan lenggang. Hanya bangunan yang berdiri membisu tanpa suara. Tak ada riuh seperti kala siang hari, apalagi saat hendak pertandingan berlangsung. Tapi bangunan ini adalah saksi banyak pertandingan United, saksi banyak mimpi-mimpi fans MU bergantung.



Lorong Stadion Old Trafford



Gerimis mulai turun satu-satu, malam juga sudah menua. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat dan bersiap-siap untuk petualangan hari kedua di Manchester esok hari.***

Catatan UK Trip winter break akhir 2013. Alasan menulis memang salah satunya untuk merapikan kenangan.

29 May 2014 10.30 pm Glasgow yang baru saja menggelap.


Friday, 23 May 2014

Jaga Keypad - Jaga Keyboard



Hiruk pikuk menjelang Pilpres sepertinya bakal mengiringi hari-hari ke depan, dengan meruahnya berita-berita tentang pilpres ataupun status-status di media sosial yang berkaitan dengan Pilpres. Memang terkadang yang membuat jengah adalah berita-berita yang bernada menjelek-jelekkan, menjatuhkan kompetitornya. Pun begitu juga dengan perang status, atau perang komen yang bertebaran di timeline dengan bahasa yang kurang santun membuat polusi pikiran.
Jengah, iya.
Kenapa manusia sih begitu ngototnya untuk mempengaruhi orang lain untuk mau sepihak dengan mereka? Terkadang sampai titik tertentu saya belum bisa mencerna sikap orang-orang yang ngotot untuk memaksakan pilihan mereka.
Orang sepertinya berlomba-lomba menentukan bahwa pilihannya lah yang paling oke, paling tegas, paling jujur, paling bla bla. Terkadang dengan jalan menyebarkan berita yang menginformasikan kekurangan/kejelekan kompetitornya. Sayangnya media juga kini bukan lagi menjadi sumber informasi yang bisa dipercaya kevalidan beritanya. Betapa kita harus berhati-hati membaca, memilih sumber berita, karena banyak sekali berita-berita yang provokatif, judulnya fenomenal, atau kadang berita yang hanya berisi asumsi, persepsi, bahkan yang lebih memprihatinkan lagi berita/artikel dengan bahasa yang tidak layak untuk disebut sebagai produk jurnalisme.
Saya juga punya preferensi keberpihakan dan pilihan Capres mana yang akan saya pilih nantinya. Iya dong, sebagai warga negara Indonesia saya harus tetap ikut berpartisipasi ikut serta dalam demokrasi yang berlangsung. Memang saya jarang menulis tentang politik, ngetweet tentang politik atau bikin status yang berkaitan dengan politik. Tapi sebenarnya saya punya ketertarikan dan kepedulian tersendiri pada apa yang tengah terjadi di kancah perpolitikan tanah air. Mungkin dulu wacana yang banyak berkembang ada pemikiran “sudahlah, yang penting damai-damai, ngapain ngurusin politik” atau pilihan golput yang dianggap sebagai pilihan seksi. Namun, semakin lama semakin saya menyadari mungkin dulu  saya adalah bagian dari masyarakat yang tidak peduli. Mungkin banyak orang-orang yang baik, jujur, cerdas, punya banyak ide untuk kemajuan bangsa ini, namun cenderung tidak peduli. Saya banyak terpengaruh dengan gagasan-gagasan Anies Baswedan dengan gerakan turun tangan, bagaimana kita sebagai warga negara, apalagi seorang warga negara terdidik haruslah ikut serta turun tangan untuk membuat perubahan yang baik untuk negeri ini.
Dan saya melihat menjelang Pilpres ini, kita semua bangsa Indonesia tengah diuji. Seberapa dewasa kita semua menghadapi perbedaaan entah perbedaan pilihan, perbedaan pendapat dan sebagainya. Mungkin saya, kamu juga geregetan saat membaca berita, status atau hal-hal yang kita rasa mengusik. Lihatlah jejaring sosial yang kadang menjadi ajang adu komentar yang kurang elegan. Mungkin saatnya belajar untuk menjaga sikap reaktif kita dengan lebih mengendalikan apa yang kita ketik. Jaga keypad, jaga keyboard. You are what you write. Iyah, karena dengan fenomena dunia maya dan media sosial, keypad dan keyboardlah yang harus banyak kita kendalikan. Pikirlah kembali sebelum menekan tombol enter.
Bangsa ini harus banyak belajar mensikapi perbedaan. Bahwa ketidakseragaman adalah hal yang sangat wajar. Menjelang pilpres ini, saya meyakini bahwa pemenang adalah pihak-pihak yang menunjukan kualitasnya, dengan cara yang ksatria. Bukan dengan cara menjelek-jelekkan pihak lain, bukan dengan menggunakan segala macam cara untuk menjatuhkan kubu lainnya. Saya merindu sebuah kampanye yang elegan, dengan saling bersaing menunjukkan kualitas, kapasitasnya masing-masing. Seharusnya sebagai pemilih, kita dorong orang-orang terbaik Indonesia untuk berkiprah memimpin Indonesia. Kita sebagai pemilih, seharusnya belajar untuk menyuarakan pilihan kita dengan cara yang bijak, santun dan cerdas.
Jaga Keypad jaga keyboardmu. Itu akan menentukan kalian adalah pemenang atau hanya pecundang.
Salam demokrasi damai dan santun.

 Glasgow, 23 May 2014. Di suatu siang yang cerah.

Because You are Special!

source pic here

Pernah nggak merasa iri pada orang lain? Pasti pernah ya, sepertinya perasaan itu normal saja dialami manusia. Seperti juga rasa cinta, cemburu, iri, senang, bangga semua katalog rasa tersebut hampir pasti pernah menghampiri pada kita manusia.
Saya pernah iri sama orang lain? Iya pastilah pernah. Kadang kala, ada manfaatnya juga untuk dijadikan motivasi agar diri berkembang menjadi lebih baik lagi. Belajar dari orang lain, tentang perjuangan, konsistensi, persistensinya untuk mencapai apa yang ia inginkan. Kadang pula terinspirasi dari orang lain, bagaimana si orang itu berjalan mencapai apa yang ia ingin wujudkan.
Kamu, kalian pernah ngerasa iri pada orang lain nggak? Pernah? Sering? Ahahah eh.
Tapi iri saya juga ternyata milih-milih, hihi ternyata saya memang pemilih. Iyalah, kita hidup kan dibekali dengan kewenangan untuk memilih apapun. Ya masa mau semuanya di-iri-in? enggak dong.
Iri dalam batas yang wajar akan menjadi energi pemacu, namun sebaliknya iri yang berlebihan malah akan menjadi energi penghancur.
Mari bicara soal iri, saya biasanya iri pada apa ya?
Iri soal fisik? Ahaha jarang banget. Biasanya perempuan itu paling sensi urusan kecantikan. Si itu lebih cantik, lebih seksi, lebih kinclong, lebih ayu bla bla bla. Di dunia perempuan, diskusi tentang kecantikan itu sudah menjadi historis genetis yang sudah menaun, yang mungkin akan tetap ada seiring dengan masih adanya perempuan di bumi ini. Serius. Cuma ada yang jujur mengenai ini, ada yang pura-pura mengacuhkannya.
Pernah iri karena kecantikan perempuan lain? Ahaha pernah sih tapi jarang. Saya sih suka dengan saya sebagaimana saya sekarang ini. Tapi kalau muji perempuan cantik malah sering. Saya suka tipikal Raisa, Alisa Subandono, Raline Shah. Perempuan saja suka ngeliatnya. Oh ya, suka juga lihat OSD atau Meyda Safira yang anggun dengan jilbabnya.
Iri soal kesuksesan orang lain?
Kadang mungkin terbersit pikiran : oaah si itu baru umur segitu muda sudah mencapai itu yah? Ih si itu bisa ini ya..eh si anu udah pergi kesana lho..ah si ini udah bisa beli itu ya..bla blaa..
Eit, mungkin itu saatnya saya kembali mendudukan definisi kesuksesan. Karena kesuksesan pun tidak sama bagi semua orang. Saya punya definisi kesuksesan tersendiri, dan itulah saatnya saya membisiki diri :
            “Hidup kita ini bukan untuk bersaing dengan orang lain. Tapi untuk menunjukkan sisi terbaik dari diri kita sendiri
Itu sih mantra sakti saya tatkala hidup kadang riuh rendah dengan berseliweran kegaduhan tentang opini, pendapat, persepsi dan lain sebagaimana, konsekuensi dari manusia sebagai makhluk sosial.
Definisi kusuksesan bagi saya, bisa melampaui “saya” yang sekarang dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semacam perjalanan ke dalam diri yang tak pernah henti.
Saya sadar tidak bisa melakukan semua hal, iyah pastilah, masa semua orang good at everything? Tapi saya punya potensi tersendiri yang harus terus saya pupuk, harus saya hidupi, harus terus saya yakini.
Berapa banyak orang yang terperangkap menjadi manusia penuh iri, dengki tanpa mengenali tujuan diri sendiri? Dunia terkadang begitu gaduh dan riuh, hingga mungkin saja terhanyut menjadi bukan dirinya sendiri. Lihat, lihat dan kenalilah diri. Pahami, bincangi. Orang lain adalah teman seperjalanan kita dalam menjalani perjalanan hidup, tapi jalur-nya bisa berbeda, kecepatannya juga berbeda, bahkan tujuannya saja mungkin saja berbeda.
Jangan sampai kita kehilangan perjalanan diri kita sendiri. Kita berjalan dalam jalur masing-masing, dengan kecepatan masing, dengan tujuan masing-masing.
Saat kita sudah berfokus pada diri sendiri, maka semoga hidup akan menjadi lebih harmoni. Meminimalkan rasa iri dengki atau rendah hati, atau bahkan sombong ataupun arogan. Mungkin inilah pentingnya mengenali diri sendiri, kebutuhan dan tujuan diri. Saat kita lebih mengenal diri, semoga kita berjalan dengan lebih harmoni. Antara hati, pikir, jiwa dan semesta.
Lihatlah dirimu, dengan potensi ajaib yang menunggu kau maksimalkan. Yang berbeda, yang unik, yang spesial anugerah dari Tuhan. Mari maksimalkan. Because you are special!
Mari terus belajar, karena belajar tiada pernah berhenti.
You were born unlike nobody else. All you need to do is to be yourself, everyone else is already taken (Oscar Wilde)

 Glasgow, 23 May 2014. Di sebuah pagi yang hangat.

Monday, 19 May 2014

Ada Cinta dalam Olahan Rasa


Gambar di ambil dari sini

Mata saya terhenti pada sebuah gambar di Instagram milik Dee Lestari. Err..saya sungguh ingin membuatnya juga suatu saat. Iya, selain seorang penulis yang mumpuni, Dee ini mahir memasak dengan berupa-rupa masakan yang bikin drooling hanya dengan melihat foto-foto hasil masakannya saja. Foto yang diunggahnya di media Instagram tersebut adalah menu pilihan yang bisa dipilih oleh suami dan anak-anaknya untuk ia masak dan sajikan. Aih, terlihat menyenangkan sekali bisa seperti itu. Mewujudkan cinta dalam olahan rasa.
Pernahkah berpikir bahwa cinta juga bisa berasa seperti rasa manis, asin, pedas ataupun gurih? Pernahkah berpikir bahwa makanan yang kita makan juga merupakan perwujudkan cinta? Atau pernahkah memasak dengan cinta?
Ternyata memasak itu bisa menjadi aktivitas yang membahagiakan. Saya suka mengulik ngulik resep-resep baru dan mencobainya di dapur, hanya berdasarkan alasan sesederhana bahwa saya menyukai aktivitas tersebut. Apapun aktivitas yang membuat saya bahagia, akan saya lakukan ahaha. Seperti ketika saya ditanya sahabat saya,
            “Eh sampai kapan mau foto-foto narsis begitu, sampai nenek-nenek?” kata sahabat saya sambil mencandai saya.
           “ Ahaha  sepanjang itu membuat aku bahagia. Kemarin aku di Lake district ngelihat ada nenek-nenek yang jalan-jalan trus foto-foto gokil, huaaah seru banget.” Jawab saya sekenanya. 
Seperti halnya juga saya menikmati memasak walaupun masih dengan resep-resep sederhana. Tapi saya menikmatinya. Memasak juga butuh banyak belajar, banyak membaca. Seperti halnya keahlian-keahlian lainnya. Seperti juga mencintai juga membutuhkan banyak belajar. Belajar memahami orang lain, dan yang tak kalah penting adalah memahami diri sendiri.
Memasak bagi saya, adalah menyajikan cinta dalam rasa. Ada keinginan untuk menyajikan masakan yang enak untuk disantap oleh orang-orang yang kita cintai. Wujud cinta dalam olahan rasa baik itu manis, pedas, ataupun gurih. Saya masih harus banyak belajar untuk bisa lebih banyak lagi menyajikan masakan yang beraneka rupa. Kadang berhasil dalam sekali coba, kadang kala tidak berhasil atau malahan berhasil tapi berbeda hasilnya hihih.
Dan sambil belajar memasak, ada juga makna yang bisa dipelajari lho. Salah satunya, ternyata memang benar bahwa usaha ekstra bisa menghasilkan hal yang lebih luar biasa. Kalau mengerjakan atau mengusahakan sesuatu biasa-biasa saja, hasilnya juga standar saja, dan itu juga berlaku pada masak memasak ternyata.
Dulu, masakan saya paling-paling berbumbu standar. Udah enak kok, pikir saya (enak menurut lidah saya yah #mengantisipasi banyak yang protes ;p). Tapi setelah mengenal beraneka bumbu-bumbu dan menambah aneka macam bahan seperti lengkuas, serai, daun pandan, daun jeruk, daun salam ternyata memberikan tambahan rasa yang sungguh signifikan. Huaaah ternyata beda rasanya dengan masakan yang cuma dikasih bumbu standar saja. Ternyata dengan menambah usaha ekstra dengan menambahkan bahan-bahan ekstra memberikan sentuhan rasa yang makin menggugah selera.


Mungkin sama dengan cinta, cinta akan cepat kadaluarsa bila tidak dijaga dengan usaha ekstra. Bahwa cinta tidak serta merta bertahan bila dibiarkan apa adanya. Butuh usaha dan perjuangan untuk tetap menjaga cinta dua manusia yang terus berbeda dengan laju perubahannya. Maka sepertinya perlu upaya dari kedua belah pihak untuk tetap membuat cinta senantiasa mengada.
           " Terlepas dari betapa tidak logisnya cinta, namun ia punya mekanismenya sendiri untuk bertahan"
Saya teringat kalimat yang ditulis Dee, entah di bukunya yang mana ehehe.
Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengekspresikan cinta, untuk saya..cinta, bagi saya salah satunya terwujud dalam olahan rasa masakan yang saya cipta.

Cinta saya..eh masakan saya ;p

Glasgow, 19 Mei 2014. Menjelang isya sambil menunggu sayur asem matang.

Tuesday, 13 May 2014

Tentang Menemukan Kembali




Saya, seperti banyak anak perempuan lainnya adalan pecinta bapak. Anak perempuan mempunyai proyeksinya sendiri memandang lelaki pertama yang dikenal dalam hidupnya. Ayah, Bapak, Abi, Abah atau apapun itu sebutannya. Lelaki itu adalah lelaki pertama yang dikenal anak perempuan dalam hidupnya.
Saya adalah anak bapak. Bukan meniadakan kasih sayang, dan cinta saya pada ibu saya tentu saja. Tapi ada semacam talian rasa yang tak perlu banyak kata untuk mengetahuinya. Saya seperti reinkarnasi bapak saya dalam tubuh perempuan, menyalin lengkap hampir semua minat beliau. Kecuali dalam beberapa hal, saya sejak kecil pemalu, kurang pandai bersosialisasi sedangkan bapak saya terlahir sebagai seorang pemimpin. Sejak muda hingga pensiun, beliau adalam pemimpin yang biasa didengarkan apa katanya, mengatur banyak orang dan dikenal banyak orang. Bahkan kini saat pensiun, perkataan beliau masih didengarkan banyak orang atau banyak yang mencari beliau untuk dijadikan “semar”, sang penasihat.
Inilah yang berbeda dengan saya, saya tidak berbakat untuk mengatur banyak orang. Saya lebih luwes menjadi seorang pelaksana yang handal dibandingkan seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan tepat dan mempunyai aura untuk merangkul orang yang dipimpinnya. Saya tidak memiliki aura seperti itu, mungkin itu beda saya dengan bapak saya.
Dan karena tidak memiliki hal itulah, dalam perjalanan hidup saya, saya cenderung untuk mengagumi lelaki yang mempunyai kualitas-kualitas yang tidak saya miliki itu. 
Iya, saya adalah anak bapak, yang ketika kecil selalu enggan melepaskan tangan-tangan kecil saya yang bergelayutan di kaki bapak kemanapun beliau pergi. Simbolisme penganyom selalu didapatkan anak perempuan dari ayah mereka. Itulah mengapa figur ayah selalu mendominasi proyeksi rasa seorang perempuan. Energi feminim pada diri perempuan menemukan pelengkap pada sosok bapak, dengan energi maskulinnya.
Lalu perempuan tumbuh dewasa, kemudian ia akan mengenal laki-laki selain bapak yang biasa ia kenal sejak lahir. Mungkin ia akan menemukan sinkronitas pada sosok-sosok sahabat lelakinya, pacar, ataupun suami.
Pernahkah terpikirkan, atau cobalah lihatlah baik-baik pasangan kalian kini, hei perempuan?. Tidakkah kau lihat sosok bapak, ayah, abi atau abahmu di situ?
Kalian akan tersenyum mengangguk atau menggeleng? Ah itu tentu saja terserah.
Hanya saja, saya merasa bahwa hidup ini berjalan dengan sinkronitas, dengan kebetulan-kebetulan yang terencana. Ada gerakan dan pikiran bawah sadar yang menarik seseorang, sesuatu. Lalu ada momen seperti “menemukan kembali”, walau mungkin pada sosok yang lain.
Seperti menemukan sosok bapak saya pada orang tercinta saya. Seperti energi feminim saya menemukan energi maskulin yang seperti yang saya rasakan saat saya lahir dan ditumbuhkan.
Hidup, banyak menyimpan rahasia-rahasia, seperti peta yang tak dikenali manusia. Kita berjalan, kita memutuskan atau memilih sesuatu. Mungkin ada kait masa lalu, karena hidup adalah jalinan peristiwa-peristiwa yang mungkin padu.
Dan saya tentu tahu, siapa Maha pencipta skenario paling hebat itu.

Salam.
Glasgow, 13 May 2014

Tulisan Saya di Mata Mereka (1)


Terkadang asik juga berkelana maya, kemudian menemukan tulisan  mengenai karya saya. Walaupun ada pula yang lumayan bikin nyesek, karena menemukan beberapa tulisan saya di copas seenak hati tanpa menyebutkan sumbernya.
Namun ada pula yang memberikan apresiasi. Tulisan di bawah ini sudah tulisan lama namun baru saya temukan hasil iseng-iseng. Dia mengapresiasi tulisan blog saya di awal-awal kelahiran blog ini, tentang petualangan saya di Italia. Saya masukkan di sini, sekedar sebagai penyemangat diri.
Saya juga membaca kalimat Ibu Suri-Penulis favorit saya Dee Lestari :
“ Penulis yang masih mengandalkan ide atau inspirasi itu penulis semi profesional, kalau penulis profesional cukup dengan komitmen dan deadline”

Eaaa jleb jleb..Mari terus berkarya, diriku.

Setiap orang tau pasti apa mimpi-mimpinya, hanya saja ada yang membiarkannya hanya menjadi imaji yang membayangi dan menjalani hidup dalam khayalan semu yang menyenangkan tanpa mempunyai keberanian untuk mewujudkannya, tapi ada juga yang berbekal keyakinan bahwa segala ketidakmungkinan mewujudkan mimpi adalah sebuah dusta besar, ia memilih untuk berjalan setapak demi setapak, berpeluh dalam pahit, getir, manis dan permbelajaran di setiap tapak yang dijalaninya.Dan ia percaya penuh langkah-langkahnya menuju sebuah titik..seperti piramidanya Santiago dalam the alkemis.
Bermimpilah, dan kau harus mempunyai keyakinan dan keberanian untuk mewujudkannya..Dan niscaya seluruh jagat raya akan membantumu untuk mewujudkannya.


Dikutip dari sumber yang sama dengan kutipan di postingan lalu. Gw baru aja baca semua postingan mengenai petualangan singkat sang penulis di negeri pizza. Hasilnya, bulu kuduk berdiri dan air mata sempat menetes. Loh kok bisa? Iya, aneh memang gw sendiri ga tau kenapa. Mungkin karena gaya penulisannya yang bikin gw seakan terbawa mengikuti petualangannya, atau karena cerita2nya yang bisa dibilang ‘menyentil’ hati gw yang paling dalam. Tiba2 gw juga jadi mellow pas dia menceritakan petulangan-nya di Florence, ketika dia berdiri di atas jembatan Ponte Vecchio dan sempat menitikkan air mata. Tempat yang selama ini dia impi2kan, akhirnya dia bisa menjejakkan kaki disana. Nyata. Bukan apa2, gw bener2 kebayang aja kalo misalnya gw juga berada dalam posisinya. Mungkin gw juga akan melakukan hal yang sama. Buat gw tempat itu mungkin bukan Ponte Vecchio, walau gw ga menolak kalo ada yang mau ngajakin kesana hehehe.
Sebetulnya isi paragraf pertama di atas sedikit mirip dengan postingan yang beberapa hari lalu gw baca di salah satu blog tempat gw kesasar. Semua orang pasti punya mimpi, tapi ada yang membiarkannya hanya menjadi mimpi dan ada yang mengubahnya menjadi kenyataan. Atau seperti yang dikatakan Douglas Everett, “There are some people who live in a dream world, and there are some who face reality ; and then there are those who turn one into the other.”
Gw tentunya mau masuk kedalam kategori ketiga. Walaupun saat ini gw cuma bisa ngoceh di blog tentang mimpi2 gw itu (menyedihkan memang tapi ya mau bagaimana lagi), gw cukup yakin gw bisa mengubahnya menjadi kenyataan suatu saat. Kalau gw ga bermimpi, gw ga akan punya motivasi untuk menjalani hari. Dan satu langkah kecil untuk memulai semua itu adalah mencoba. Sekali waktu gw menyesal karena tidak mencoba akan suatu hal, alhasil gw (masih) penasaran. Bertanya-tanya dalam hati “Bagaimana seandainya waktu itu gw nyoba? mungkin….”, jadi mulai sekarang kalau gw liat ada kesempatan yang bisa membuat gw mewujudkan semua itu, tanpa ragu2 gw akan nyoba. Entah apapun hasilnya nanti.
“If you lose the moment, you might lose a lot. So why not? why not?

You’ll never get to heaven or even to LA if you don’t believe there’s a way”
- Hilary Duff ~ Why Not

Tulisan di atas diambil dari blog ini

Friday, 9 May 2014

Catatan Tentang Kebahagiaan



Sambil istirahat siang di lab, saya asik melirik-lirik timeline jejaring social Facebook dan twitter saya. Terkadang hanya untuk melihat-lihat saja celotehan teman-teman. Dan hup, saya menemukan postingan tulisan teman saya si Eel, di sini :
Kemudian saya terpikir bahwa memang konstruksi pemikiran, termasuk nilai tentang kebahagiaan juga tergantung dari latar belakang seseorang, bagaimana kondisi sosial ekonomi dan cara ia ditumbuhkan.
Di sinilah tersadari kembali betapa uniknya manusia. Dan betapa semakin terasa tak perlunya menghakimi seseorang. Hey, we don’t know the whole story.
Seseorang berjalan dengan awalnya sendiri-sendiri, bergerak dengan lajunya sendiri, dengan jalannya masing-masing. Mungkin kita akan saling lihat, namun menghakimi seseorang sepertinya terlalu jauh bukan?
Setiap tahapan hidup manusia, ia punya konsep, nilai/value hidup yang ia yakini. Konsep dan nilai tersebut pun terus bergerak seiring dengan pengalaman, pertumbuhan diri seseorang. Seperti teman saya tadi, yang dulu menganggap ukuran kebahagiaan adalah punya uang banyak, kemudian kini bukan lagi.
Lalu karena tulisan teman saya itulah, saya tergerak untuk menelusur catatan-catatan kebahagiaan saya.
Konsep bahagia adalah dengan uang banyak, hampir tidak pernah saya alami. Mungkin karena saya ditumbuhkan dari keluarga yang biasa saja. Ayah saya dulu awalnya guru SD, kemudian pernah jadi Kepala Desa, kemudian jadi penilik Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Ibu saya, seorang ibu rumah tangga yang bekerja di rumah dengan punya usaha konveksi kecil-kecilan. Selama ini saya dibesarkan dengan keuangan yang serba pas-pasan. Untuk kebutuhan sekolah, jajan dan lain sebagainya. Jadi ukuran uang sebagai sumber kebahagiaan hampir tidak pernah mampir dalam benak saya. Dengan segala yang pas-pasan itu, saya bahagia.
Saya mungkin memikirkan bahagia itu apa dan rasanya itu bagaimana, mungkin saat MU mendapat treble winner tahun 1999.
Ehehe kalian mungkin akan mengkerutkan dahi. Tuh kan, apa yang membuat orang bahagia kadang-kadang tidak kita mengerti. Bahkan ketika saat ini diri saya menengok lagi ke belakang, sekarang saya sudah tidak bisa merasakan hal itu lagi, bahagia saya sudah lain lagi. Padahal saat itu saya hanya tahu bahwa saat itu saya merasa menjadi perempuan paling bahagia seluruh dunia. Ahahah, saat menuliskannya saat ini, saya geli sendiri.
Ukuran kebahagiaan yang super sederhana. Dan sepertinya nilai-nilai kebahagiaan saya pun bergerak sederhana.
Ketika kuliah S1, bahagia saya terukur dari nilai-nilai mata kuliah saya baik, kumpul bersama teman-teman, pulang tiap minggu berkumpul dengan keluarga lalu berangkat lagi hari senin dengan uang saku Rp. 50.000 untuk hidup selama satu minggu.
Kemudian selanjutnya bahagia saya masih sederhana, menulis, membaca buku-buku favorit saya, belajar Bahasa Italia, melanjutkan kuliah master, kumpul-kumpul dengan sahabat saya.
Jangan tanya tentang cinta pada lawan jenis dan ukuran kebahagiaan saat saya muda dulu (weks sekarang apa?) karena cinta saya paling-paling sebatas cinta lucu-lucuan.
Saya tidak pernah benar-benar memperhatikan konsep-konsep atau nilai kebahagiaan saya, sampai ketika saya berhasil menginjakkan kaki di Italia. Bahagia saat impian saya terwujud. Bahagia saat impian tertaklukan, ketika perjuangan panjang saya berbuah manis. Mungkin saat itulah, saya mengalami kadar kebahagiaan yang berbeda dan lebih memperhatikan tentang kebahagiaan.
Semua orang katanya ingin bahagia. Sekarang ini banyak sekali bertebaran di mana-mana, di status facebook, twitter, path dan dimanapun sepertinya setiap orang berupaya meyakinkan pada dunia bahwa dirinya bahagia.
Tidak salah pastinya.
Seorang sahabat saya yang lama belum dikarunia keturunan, tiba-tiba hamil kemudian melahirkan seorang putri cantik, tentu saja dia bahagia.
Seorang sahabat yang baru saja menemukan pasangan dan menikah, ia bahagia
Ada yang diterima di pekerjaan baru, ada yang diterima beasiswa, ada yang berhasil bikin masakan yang katanya enak trus bahagia (itu saya ahahaha).
Setelah saya menelusur semua cerita-cerita tentang bahagia, ada satu hal yang saya kini yakini. Kita hanya bisa tahu rasanya bahagia dan apa yang membuat kita bahagia berdasarkan pengalaman rasa kita sendiri. Bahagia  itu ternyata nggak bisa nyontek lho ahahah.
Saya pernah mendengar wawancara seseorang, dan ia menjawab :
            “ Ya bahagialah, nggak usah saya ceritakan. Kamu nggak akan tahu rasanya kayak apa”
Hihihi terkesan arogan, tapi ya benar juga.
Orang-orang bilang bla bla itu sangat membahagiakan. Tapi bagi orang lain atau saya mungkin biasa saja. Demikian pula sebaliknya, apa yang biasa-biasa bagi seseorang, mungkin bagi orang lain terasa luar biasa.
Di sinilah saya sampai dalam pemahaman bahwa saya memiliki rasa kebahagiaan unik tersendiri, dan juga orang-orang lainnya masing-masing. Tidak sama, dan mungkin tidak bisa dipahami satu lainnya karena tataran rasa sungguh terkadang  sulit dibedakan antara sederhana atau rumitnya.
Sekarang ini bahagia saya lebih pada melahirkan tulisan, jalan-jalan, memasak, bersama pasangan saya,  ngobrol dengan sahabat dan keluarga.
Rasa pun mengalami perubahan, ia bertumbuh seiring pertumbuhan pribadi. Bersama pengalaman yang mengiringi.
Ini bahagiaku, itu bahagiamu, bahagia kalian. Lihatlah bahwa kita bahagia dengan rasa kita masing-masing.