Saturday, 31 May 2014

Tentang Maaf


Ada riak-riak percakapan dalam diri suatu kali
“Kenapa harus minta maaf? Toh bukan kamu yang salah”—kata si pikir menceramahi.
“Harusnya dia dong yang minta maaf duluan”—si pikir kembali memprovokasi.
“Tapi aku merasa tidak nyaman. Seperti ada yang menyesakkan dadaku.” –si hati mencoba berargumentasi.
Meminta maaf. Ini bukan tentang minta maaf seperti kala lebaran yang entah kenapa terkadang sepi makna. Apa yang terjadi pada dua orang yang bersalaman itu. Mungkin saya yang manusia biasa ini harus mendalami lagi makna saling memaafkan.
Saya selalu mengagumi proses saling memaafkan. Karena bila hanya saya seorang diri saja, tak mungkin saling memaafkan bila hadir dan ada.
Saling memaafkan membutuhkan kerja hati dua manusia. Dalam prosesnya ia tak pernah selibat. Bukankah mengagumkan?
Aku minta maaf ya...mungkin kalimat itu pernah saya lontarkan pada sahabat saya, pada pasangan saya, pada orang-orang tercinta saya.
Saya dulu sempat bertanya, kenapa musti meminta maaf? Misalnya dalam kondisi bahwa hati saya bilang bahwa bukan saya yang salah.
Kalian tahu bahwa mungkin saja ada dua orang yang sama-sama tidak salah, namun menghadapi momen-momen yang tidak  mengenakkan. Dunia tak selalu menjadi tempat orang yang selalu paham apa yang kita inginkan, apa yang ingin kita katakan. Bahkan perkataan yang lugas pun bisa dimaknai lain, bila diucapkan di saat yang mungkin kurang tepat.
Dua manusia mencipta keajaibannya sendiri-sendiri dalam berkomunikasi. Kalian mungkin telah mengakrabi, dua sahabat yang saling diam, yang mungkin saja satu pihak tidak tahu kenapa sahabatnya mendiamkannya. Ataupun mereka sama-sama tahu, namun tak ada satu pihak yang mengulurkan kalimat : aku minta maaf yaa..
Saya suatu ketika, pada beberapa peristiwa mengalami itu, seperti juga mungkin kalian semua. Tiap harinya kita berinteraksi dengan banyak manusia, semuanya jalin menjalin dan memberikan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman, ketidakmengertian dan situasi yang tidak mengenakkan. Kalian pernah mengalami hal itu bukan?
Lalu biasanya apa yang terjadi.
DIAM. Mungkin hal ini juga terasa familiar, dua orang yang saling diam. Jembatan hati terputus sejenak tanpa ada pihak yang berniat menyambungkan kembali. Diam, tanpa ada yang mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan pihak lainnya.
Ada yang mengganjal dalam hati, ada semacam rasa yang membuat sesak di dada. Tapi mungkin kedua pihak memilih mendiamkannya. Atau mungkin suatu saat akan terlupa, dan (pura-pura) baik-baik saja.
“Aku minta maaf yaa”
Entah mengapa seperti ada jembatan-jembatan yang kembali menghubungkan kembali dua hati, dua sahabat, sepasang pasangan, anak dengan orang tua, atau dengan menantu, kakak dengan adik, siapa saja.
Pihak lainnya biasanya melumer, menyambungkan kembali jembatan yang sempat terputus.
“ Iyah, sama-sama ya..aku juga minta maaf,” semacam itu.
Saya lama tidak mengerti, kenapa saya misalnya harus minta maaf duluan? Meskipun pada suatu kala saya merasa tidak salah. Tapi kalau saya merasa salah, memang biasanya saya dengan sadar meminta maaf duluan.
Kenapa musti minta maaf? Protes hati saya suatu kala. Tapi jawaban yang diberikan hati saya seringkali adalah bahwa diri ini terasa lebih ringan, lalu hubungan dengan orang yang sempat tidak mengenakkan itu akan kembali baik-baik saja.
Tapi baru-baru ini saya membaca ini :


It just means that you value your RELATIONSHIP more than your EGO.
Ah, iya..mungkin memang benar demikian. Semoga menjadi pengingat diri suatu saat nanti, bila ego kadang kala menguasai.

Salam harmoni di Akhir Mei 2014. Glasgow di hari sabtu yang benderang, terang.



0 comments:

Post a Comment