Tuesday, 13 May 2014

Tentang Menemukan Kembali




Saya, seperti banyak anak perempuan lainnya adalan pecinta bapak. Anak perempuan mempunyai proyeksinya sendiri memandang lelaki pertama yang dikenal dalam hidupnya. Ayah, Bapak, Abi, Abah atau apapun itu sebutannya. Lelaki itu adalah lelaki pertama yang dikenal anak perempuan dalam hidupnya.
Saya adalah anak bapak. Bukan meniadakan kasih sayang, dan cinta saya pada ibu saya tentu saja. Tapi ada semacam talian rasa yang tak perlu banyak kata untuk mengetahuinya. Saya seperti reinkarnasi bapak saya dalam tubuh perempuan, menyalin lengkap hampir semua minat beliau. Kecuali dalam beberapa hal, saya sejak kecil pemalu, kurang pandai bersosialisasi sedangkan bapak saya terlahir sebagai seorang pemimpin. Sejak muda hingga pensiun, beliau adalam pemimpin yang biasa didengarkan apa katanya, mengatur banyak orang dan dikenal banyak orang. Bahkan kini saat pensiun, perkataan beliau masih didengarkan banyak orang atau banyak yang mencari beliau untuk dijadikan “semar”, sang penasihat.
Inilah yang berbeda dengan saya, saya tidak berbakat untuk mengatur banyak orang. Saya lebih luwes menjadi seorang pelaksana yang handal dibandingkan seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan tepat dan mempunyai aura untuk merangkul orang yang dipimpinnya. Saya tidak memiliki aura seperti itu, mungkin itu beda saya dengan bapak saya.
Dan karena tidak memiliki hal itulah, dalam perjalanan hidup saya, saya cenderung untuk mengagumi lelaki yang mempunyai kualitas-kualitas yang tidak saya miliki itu. 
Iya, saya adalah anak bapak, yang ketika kecil selalu enggan melepaskan tangan-tangan kecil saya yang bergelayutan di kaki bapak kemanapun beliau pergi. Simbolisme penganyom selalu didapatkan anak perempuan dari ayah mereka. Itulah mengapa figur ayah selalu mendominasi proyeksi rasa seorang perempuan. Energi feminim pada diri perempuan menemukan pelengkap pada sosok bapak, dengan energi maskulinnya.
Lalu perempuan tumbuh dewasa, kemudian ia akan mengenal laki-laki selain bapak yang biasa ia kenal sejak lahir. Mungkin ia akan menemukan sinkronitas pada sosok-sosok sahabat lelakinya, pacar, ataupun suami.
Pernahkah terpikirkan, atau cobalah lihatlah baik-baik pasangan kalian kini, hei perempuan?. Tidakkah kau lihat sosok bapak, ayah, abi atau abahmu di situ?
Kalian akan tersenyum mengangguk atau menggeleng? Ah itu tentu saja terserah.
Hanya saja, saya merasa bahwa hidup ini berjalan dengan sinkronitas, dengan kebetulan-kebetulan yang terencana. Ada gerakan dan pikiran bawah sadar yang menarik seseorang, sesuatu. Lalu ada momen seperti “menemukan kembali”, walau mungkin pada sosok yang lain.
Seperti menemukan sosok bapak saya pada orang tercinta saya. Seperti energi feminim saya menemukan energi maskulin yang seperti yang saya rasakan saat saya lahir dan ditumbuhkan.
Hidup, banyak menyimpan rahasia-rahasia, seperti peta yang tak dikenali manusia. Kita berjalan, kita memutuskan atau memilih sesuatu. Mungkin ada kait masa lalu, karena hidup adalah jalinan peristiwa-peristiwa yang mungkin padu.
Dan saya tentu tahu, siapa Maha pencipta skenario paling hebat itu.

Salam.
Glasgow, 13 May 2014

3 comments:

Ila Rizky Nidiana said...

iya, kadang ada karakter yang mirip sama bapak di diri orang yang kita cintai, mungkin itu ketertarikan awal yang jadi sebuah kunci untuk memulai komunikasi ya, mba :D

Fardelyn Hacky said...

Wah, rasanya udah lama sekali gak baca2 tulisan mbak Siwi :D
Btw, membaca tulisan mb Siwi ini, mengingatkan akan diri saya. Bukan cerita tentang bapak, tapi tentang kecenderungan diri yang lebih cocok menjadi pelaksana ketimbang menjadi pemimpin. Saya juga kurang berbakat mengatur banyak orang :D
TFS mbak

Siwi Mars Wijayanti said...

@Ila Rizky Nidiana : hehehe mungkin seperti itu :D
mba @Fardelyn Hacky : yang penting kita tahu potensi masing-masing dan memaksimalkannya. Makasih udah mampir-mampir baca mbak :)

Post a Comment