Saturday, 28 June 2014

Apa Kau Tahu Tentang Ikhlas?



Apa kau tahu tentang ikhlas? Kapan dengan bening hatimu merasakan keikhlasan?
Kau tahu kawan, terkadang aku berpikir tentang ikhlas.
Dalam pikiranku, mungkin saja  ikhlas juga serupa dengan rasa cinta bahagia, nestapa, gembira, cemburu ataupun mendurja.
Serupa
Serupa bahwa semua rasa itu tak pernah kekal selamanya, berganti-ganti rupa dan masa
Pernahkah kau bahagia selamanya?
Pernah kau sedih selamanya?
Mungkin juga itu serupa dengan ikhlas.
Bahkan hatimu pun terkadang ambigu, kapan ikhlas benar-benar terasa ikhlas.
Hatimu terkadang sebening telaga, hening, lalu ikhlas terasa dekat hatimu
Tapi kemudian sesaat kemudian,
Beberapa hari kemudian, sebulan kemudian
Hatimu tergugu, kemudian rasa ikhlas itu terkadang lepas
Kadangkala aku tahu bahwa ikhlas mungkin bukan berarti lekas melepas, tapi berupaya lebih keras.
Lalu aku menjadi ambigu, ini ikhlas atau bersikeras?
Oh,
Apa kau tahu sesuatu tentang ikhlas?
Iyah, karena kadang-kadang aku tahu. Kurasakan ikhlas bening mengalir dalam hatiku
Namun sering kali aku tidak tahu,
Yah, lebih sering aku benar-benar tidak tahu.
Oh lalu tiba-tiba ada suara menyerua :
Tak mengapa
Tak mengapa
Oh ternyata memang tak mengapa.

Glasgow, 28 June 2014 di sebuah siang yang tenang. Sehari menjelang Ramadan

Glasgow Central Mosque, Bukti Sejarah Peradaban Islam di Skotlandia


Glasgow Central Mosque
Hidup jauh dari tanah air terkadang membuncahkan kerinduan akan rumah. Namun jarak kadang kala tak bisa terelak, bahwa antara Glasgow dan Indonesia terbentang 7569 mil jauhnya. Untung saja rasa rindu rumah sedikit teredakan dengan adanya rumah-rumah jiwa yang saya temukan di tanah tempat menjejakkan kaki sekarang ini. Sebagai seorang muslim, saat hendak tinggal di negara lain dimana islam bukan merupakan agama mayoritas tentu ada sebuah kerisauan tersendiri. Apakah ada tempat peribadatan? Bagaimana perlakuan penduduk setempat terhadap orang asing ? Apakah ada diskriminasi yang mungkin terjadi. Tapi saya bersyukur, Glasgow merupakan rumah yang ramah bagi para pendatang termasuk pendatang muslim. Salah satunya dengan adanya rumah fisik sebagai rumah peribadatan komunitas muslim di Glasgow yakni Glasgow Central Mosque.
Keberadaan masjid utama di Glasgow tersebut pastilah istimewa bagi kami komunitas muslim di Glasgow. Jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia, masjid ada dimana-mana. Namun di sini, masjid adalah bangunan istimewa yang setidaknya sanggup membuktikan keberadaan komunitas muslim di Glasgow. Sejarah perkembangan muslim di Inggris Raya termasuk juga di Glasgow, hampir serupa dengan sejarah islam di Perancis, yakni melalui proses imigrasi. Proses ini berlangsung pada akhir abad ke-18 dan awal abad 19.  Umat muslim di Glasgow awalnya datang dari India dan Pakistan yang tinggal di daerah Gorbals. Daerah ini merupakan sentra ekonomi yang menarik datangnya para imigran dari Irlandia, India, Pakistan, Yahudi dan juga Italia. Komunitas muslim tersebut kemudian berupaya membangun rumah peribadatan, dimulai dari Oxford street, Carlton Place dan kemudian akhirnya terbangunlah Glasgow Central Mosque dengan luas empat hektar yang terletak di 1 Mosque Avenue, Glasgow ini. Karena sejarah inilah, Glasgow Central Mosque merupakan bukti peradaban islam di Skotlandia.


Interior dalam Glasgow Central Mosque

Masjid utama Glasgow ini merupakan masjid terbesar di Skotlandia selain Edinburgh Central Mosque di Edinburgh. Masjid ini dibangun dengan menelan biaya sebesar 3 juta poundsterling dan kemudian dibuka untuk umum pada 18 Mei tahun 1984. Masjid tersebut digunakan untuk salat sehari-hari. Tempat ibadah ini dapat mengakomodasi sekitar 2.500 jamaah, termasuk alokasi 500 jamaah untuk perempuan yang terletak di lantai dua. Selain untuk sholat, Glasgow Central Mosque juga menyediakan layanan konsultasi, acara pernikahan dan upacara pemakaman.  Terdapat juga tempat yang disewakan untuk  resepsi pernikahan, pengumpulan dana amal, konferensi serta pameran. Selain itu, komunitas masjid juga mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti donor darah, sumbangan untuk orang miskin, bantuan penanganan orang-orang lanjut usia serta juga menyelenggarakan seminar ataupun diskusi keagamaan.
Selain Glasgow Central Mosque, di kota juga terdapat beberapa masjid lainnya dan juga tempat peribadatan. Ada pula tempat salat untuk umum yang dari luar sama sekali tak terlihat seperti tempat peribadatan umat islam. Misalnya saja Dakwatul Islam yang dekat dengan tempat tinggal saya. Bila orang melintas di Oakfield Avenue jarang yang mengira kalau di sana terdapat tempat peribadatan umat muslim. Meskipun begitu, rasa syukur tak terhenti karena pemerintah tidak membatasi aktivitas ibadah kami. Pemerintah Skotlandia menerapkan The UK Government's Equality Act yang disetujui pada bulan April 2010. Peraturan tersebut berisi kesetaraan tanpa adanya diskriminasi karena ras, umur, orientasi seksual, serta agama dan kepercayaan.  Dan ditambah lagi, ternyata semua masjid di Britania Raya ini memperoleh bantuan operasional dari pemerintah.  Hal tersebut tentunya menjadi bukti adanya dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan warganya untuk memperoleh haknya dalam beribadah.


Saya dan rekan-rekan Glasgow seusai salat Idul Adha

Saya dan rekan-rekan muslim di Glasgow biasanya menunaikan salat Idul Fitri dan Idul Adha di Glasgow Central Mosque ini. Ada pengalaman baru saat menjumpai banyaknya umat muslim di Glasgow yang berasal dari berbagai negara dan etnis. Pun juga melihat perbedaan-perbedaan yang saya jumpai, misalnya ternyata hanya saya dan rekan-rekan Indonesia, Malaysia  saja yang sholat mengenakan mukena, karena kebanyakan jamaah perempuan lainnya hanya memakai pakaian biasa saja. Ada yang memang pakaiannya menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan saat sholat, namun banyak pula yang hanya mengenakan lengan pendek lalu berkerudung disampirkan. Ada banyak ragam perbedaan batasan aurat saat sholat yang saya jumpai. Selain itu, ada sedikit tata cara sholat yang berbeda saat menunaikan sholat Ied. Ah, kadangkala perbedaan hadir untuk menguji seberapa dalam toleransi dan upaya saling mengerti, bukan untuk saling mencaci dan membenci.

* Siwi Mars Wijayanti, Penulis merupakan PhD Student di University of Glasgow. Anggota tim redaksi PPI Glasgow.

Artikel ini dipublish di portal Detik Ramadan di link berikut


Friday, 20 June 2014

Uniknya Puasa Ramadan Saat Musim Panas di Glasgow


Publikasi artikel ini di detik ramadhan (linknya): http://ramadan.detik.com/read/2014/06/19/102451/2612655/1598/uniknya-puasa-ramadan-saat-musim-panas-di-glasgow?r992203625

Menjelang Bulan Ramadhan tahun ini, kami warga muslim Indonesia yang bermukim di Glasgow, Skotlandia  menyambutnya dengan penuh suka cita. Walaupun tak ada tabuh bedug yang semarak menyambut Ramadhan seperti di Indonesia, tapi tak urung membuat kami tetap merayakan kedatangan bulan suci tersebut. Salah satu yang menarik dari berpuasa di sini yakni waktu puasanya yang tentu jauh berbeda dengan waktu puasa di Indonesia. Glasgow saat ini sedang memasuki musim panas dengan waktu siang yang lebih panjang daripada waktu malam. Bila mengacu pada jadwal puasa dari Central Mosque Glasgow (masjid terbesar di Glasgow), waktu sahur Ramadhan pertama sekitar pukul 2.45 kemudian buka puasa (waktu magrib) pukul 22.14. Jadi kami akan menjalani puasa ramadhan kurang lebih 18 jam,  yang tentu saja lebih lama dibandingkan dengan waktu puasa di Indonesia.
Hal ini terjadi karena puasa ramadhan berlangsung saat musim panas. Berbeda bila berpuasa di musim dingin, yang magribnya bisa saja sudah tiba sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Mungkin terpikir alangkah beratnya berpuasa sebegitu lamanya, apalagi saat musim panas. Itu juga yang dahulu terpikirkan oleh kami saat belum pernah mempunyai pengalaman puasa di sini. Kami sebelumnya terbiasa dengan waktu puasa Ramadhan di Indonesia yang waktunya relatif sama dari tahun ke tahun. Kemudian saat tinggal di Glasgow, kami berpuasa dengan waktu yang jauh lebih lama. Untungnya, walaupun berpuasa di musim panas namun pada kenyataannya suhunya tidak terlalu panas. Di Glasgow, rata-rata suhu harian selama bulan Juni adalah 16 ° C, sementara Juli dan Agustus rata-rata harian 18 ° C dan tertinggi sekitar 23-25 0 C. Jadi tentu saja lebih panas di Indonesia bukan? Kondisi ini menyebabkan walaupun waktu berpuasanya cukup panjang namun tidak terlalu kehausan karena tidak terlalu panas. Uniknya jadwal puasa Ramadhan di Glasgow ini, mau tidak mau membuat kami menyesuaikan aktivitas dengan jadwal puasa. Karena waktu maghrib dan subuh saling berdekatan, biasanya kami mensiasatinya dengan tetap terjaga sampai subuh, kemudian setelah sholat subuh baru tidur.
Menjalani puasa Ramadhan di negeri orang tentu saja menghadirkan kerinduan untuk menikmati suasana Ramadhan seperti di tanah air. Salah satu yang istimewa dari Indonesia sebagai negara dengan mayoritas agama islam adalah semaraknya Bulan Ramadhan. Sepertinya semua orang menyambutnya dengan penuh keriangan. Berjajar penjual makanan takjil menjelang buka puasa, suara adzan dari masjid-masjid, banyaknya jamaah sholat tarawih, acara buka puasa bersama dan juga banyak kegiatan-kegiatan pengisi ramadhan lainnya. Sementara kami tinggal di Skotlandia dimana islam menjadi agama minoritas. Populasi muslim di Skotlandia sampai tahun 2011 mencapai 76.737, sekitar 1.4% dari total penduduk di Skotlandia. Mayoritas penduduk skotlandia beragama kristen, dan Muslim merupakan kelompok ketiga terbesar non-kristen setelah Atheis dan Agnostik. Sebagain besar populasi muslim di Skotlandia berasal dari Asia Selatan, terutama yang berasal dari Pakistan. Oleh karena itu, tentu saja tak ada bedug yang semarak, tak ada ramainya penjual-penjual takjil menjelang buka puasa. Aura ramadhan sama sekali tak terasa. Mungkin penduduk Glasgow banyak yang tidak menyadari atau mengetahui bahwa umat muslim akan memasuki bulan Ramadhan, namun masih aja juga mengetahuinya.
Namun sebagai kaum minoritas, kami bersyukur masih diberikan banyak kemudahan untuk tetap beribadah di negeri ini. Halal Butcher (tempat menjual daging halal) relatif mudah dijangkau, tempat beribadat untuk sholat berjamaah juga ada di beberapa daerah Glasgow. Dan tentu saja, mempunyai pengalaman berpuasa di luar negeri dimana islam menjadi minoritas tentu saja menjadi pengalaman menarik yang akan memperkaya pengalaman hidup kami. Beribadah bisa dimana saja, Tuhan selalu memberikan kemudahaan bagi umatNya. Panjangnya waktu berpuasa semoga menambahkan semangat ibadah kami. Dan kami menyambut Bulan Ramadhan dengan penuh suka cita. ***


Glasgow, 20 June 2014 di siangnya yang benderang cerah

Saturday, 14 June 2014

Oh Malangnya, Manusia




Mungkin ada kalanya melihat orang yang korupsi, kemudian kita merasa suci
Ada kalanya melihat orang yang salah, lalu membuat kita merasa benar
Melihat orang-orang yang kita kira belum melakukan perintah agama, membuat kita merasa lebih baik, lebih agamis, lebih mulia.
Melihat orang lain berbuat begini, bersikap begitu. Lalu membuat kita merasa menjadi umatNya yang lebih baik dari manusia lainnya.
Oh, Malangnya.
Alangkah malangnya kita, manusia.


Glasgow, di sebuah sore yang tenang. 

Wednesday, 11 June 2014

Edensor, Menjamahi Mimpi-Mimpi



Mobil yang kami tumpangi menembus jalan-jalan kecil yang di samping kanan kirinya berupa hamparan hijau padang rumput dan domba-domba yang merumput. Kami tengah dalam perjalanan menuju Edensor, seusai penutupan acara KIBAR Gathering di Markfield. Namun cuaca yang tadinya cerah dan langit biru sore itu berganti menjadi hujan deras tatkala kami sampai di daerah Derbyshire. Hatiku sedikit gundah, ah padahal tadinya saya membayangkan Edensor dengan langitnya yang cerah, dengan hijaunya perbukitan dan domba-domba yang lucu itu. Cuaca memang terkadang mempengaruhi saat kita jalan-jalan, seperti kala saya jalan-jalan ke Oxford dan Cambridge tahun lalu. Rasanya saya tidak terlalu mengingat kemana saja di kota itu karena hujan deras tak henti-henti mengguyur kota. Berjalan kaki kala hujan, langit gelap huhu mana bagus buat foto-fotoan dan tentu saja mobilitas sangat terbatas. Karena itu, kali ini saya ingin sekali melihat Edensor dalam pesona terbaiknya soalnya tempat itu sudah lama sekali menjadi list saya untuk dikunjungi. Tentu saja gara-gara membacai buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata itu. Edensor merupakan  desa impian Andrea Hirata karena membacai buku If Only They Could Talk karya James Herriot.
Mas Basid terus melajukan mobilnya menuju Bakewell di tengah hujan yang masih saja mengguyur langit England kala itu. Hati saya ciut mendapati belum ada tanda-tanda hujan mereda. Namun sepersekian detik kemudian sepertinya ada terdengar suara :  Sepertinya kau meminta terlalu banyak. Mungkin itu suara dari dalam diriku sendiri, lalu kemudian menyadari, ah mungkin saja begitu. Saya sedang menuju ke tempat yang saya impikan sejak dulu, dengan segala kemudahanNya, kesehatan, beserta sahabat-sahabat. Bukankah kau seharusnya bersyukur? Suara itu terdengar lagi. Jleb. Tiba-tiba saya malu pada Tuhan.
Ah, saya pada akhirnya tiba pada kebersyukuran pada semua berkahNya. Entah hujan, entah berawan, entah cerah..saya akan menyambut Edensor sesuai dengan apapun jatah Tuhan yang diberikan pada saya. Setelah itu hati saya berubah tenang dan menikmati tetesan hujan di luar jendela mobil kami yang terus melaju. Hujan kemudian berangsur berubah menjadi gerimis rinai-rinai kala kami sampai di Bakewell. Rencananya kami ingin melihat Haddon Hall (Rumah/istana bergaya English milik Duke of Rutland) di River Wye, Bakewell, Derbyshire karena tempat itu sejalan menuju Edensor. Namun sayangnya tempat parkir dan Haddon Hallnya sudah tutup sehingga kami urung masuk. Coba tempat parkirnya masih bisa, kan bisa jalan-jalan ke padang menghijau dengan domba-domba lucu itu. Namun ternyata memang tidak bisa sembarangan parkir mobil di UK ini. Eit, tapi bukan saya kalau nggak bisa mencuri narsis sejenak di tempat itu eheh.
Hamparan padang rumput di belakang itu selalu saja mempesona

Paling betah memandangi yang begini begini
Lalu kemudian kami memutuskan untuk langsung ke Edensor. Kadang kami melewati jalan sempit seperti di tengah hutan, lengang. Uwooo kami benar-benar masuk pedesaan tipikal England. Tentu saja nuansanya terasa berbeda dibandingkan saat jalan-jalan di kota besarnya. Kami terus memecah sepi, melajukan mobil menyusuri jalan-jalan sempit yang berkelok kelok sembari menikmati hijau dan damainya pemandangan di luar jendela.

Pemandangan di luar jendela
Dan ajaibnya, gerimis rinai-rinai berhenti dan langit mulai membiru cerah kembali begitu mobil kami mencapai Edensor. Matahari mulai bersinar kembali, hatiku pun bersinar-sinar seketika. Tuhan itu kadangkala memang suka becanda, kala saya sudah berserah (bukan menyerah lho), seringkali Dia kemudian memberikan apa yang saya pinta. Alhamdulillah, Tuhan selalu Maha Baik.
Oh yeah, finnaly kita sampai. Begitu kata saya pada diri sendiri. Alhamdulillah, rasa syukur saya terasa berlimpah-limpah pada pemberi kehidupan yang menakjubkan ini.
“ Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, menciut dicengkeram angin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup!” (EDENSOR-Andrea Hirata)
Kutipan-kutipan dalam buku Edensor itu kembali melintas di kepala saya. Dulu entah sampai berapa kali saya membacai buku itu. Buku tetralogi (paling suka sampai buku ketiga sih, Maryamah Karpov-nya kurang suka)itu memang seperti buku yang bisa mencharger semangat yang kadang kala menciut dulu saat saya mulai menata langkah melanjutkan studi ke luar negeri. Dan karena itulah buku itu dan tentu saja Edensor membekas di hati saya.

Padang rumput dan domba-domba yang asyik merumput
Puncak menara dari bangunan gereja St Peter sudah nampak dari kejauhan. Oh, itu pasti tempat dimana banyak pengelana berfoto saat mengunjungi Edensor. Sepertinya menara itu menjadi penanda khas  lanskap desa edensor. Setelah memarkir mobil di belakang gereja St. Peter kami mulai berjalan-jalan. Humm akhirnya menghirup udara segar Edensor seusai hujan, bisa menyalangkan mata menikmati sekelilingnya. Oh yeaah I’m HERE! Ada yang mendesak-desak gembira di hati saya. Bagi saya, mewujudkan apa yang saya inginkan adalah urusan saya membuktikan pada diri sendiri bahwa saya akhirnya bisa mencapainya. Dan saya dengan gembira bisa membincangi diri saya sendiri “ Ah, diriku. Kita sampai di tempat ini. Tempat yang dulu sering kau bacai itu. Hidup selalu ajaib!
Kami kemudian masuk ke dalam gereja, menikmati setiap sudutnya, mengambil postcard gratis yang disediakan dan seperti biasa, dan juga tentu saja  berfoto-foto.

Interior dalam gereja St. Peter Edensor

Saya setelah di sini, baru tahu kalau Edensor dibaca dengan lafal “Ensor” seperti juga Edinburgh diucapkan dengan lafal “Edinbra”. Awalnya terasa janggal di lidah, karena terbiasa mengucapkan namanya dengan sebutan Edensor.
Edensor. Saya tak harus berbusa-busa untuk mengatakan bahwa Edensor itu sungguh indah. Karena bila dibandingkan dengan tempat lain di UK, desa kecil di Derbyshire ini memang tidak menonjol, tidak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi bahkan informasi travellingnya juga sangat terbatas. Tapi bukankah terkadang rasa spesial itu tak hanya melulu soal fisik, tapi lebih pada keterikatan hati #halah. Berapa harga yang bisa membeli rasa rindu, cinta, suka? Priceless.
Tapi memang harus diakui, selain karena adanya keterikatan dengan tempat ini, ternyata saya suka tempat ini. Walaupun memang Edensor terlihat sepi, tak terlihat banyak orang-orang yang lalu lalang tapi saya suka hijaunya, damai dan segarnya udara tempat ini. Hamparan padang rumput menghijau kemanapun mata memandang, domba domba yang asyik merumput, rumah-rumah mungil yang tertata rapi, udaranya yang segar dan damainya suasana. Duke of Devonshire ke-6 saja pindah lho ke desa ini karena terpesona dengan pemandangan dan kedamaian tempat ini.
            “ Kalau disuruh tinggal di daerah seperti ini mau nggak? Makan dan tempat tinggal dijamin, walaupun internetnya susah? “ tanya Uti, salah satu anggota rombongan kami.
          “Wah kalau nggak ada, internet nggak sanggup deh,” jawab Sani, suaminya yang bergelut di bidang IT dan nampaknya susah hidup tanpa internet.
          “Kalau aku, tergantung sama siapa sih,” jawab saya yang disambut koor kata “halaaaah” hampir serempak dari rombongan semobil, diiringi tawa kami semua. Kami bepergian berlima untuk mengikuti acara KSG (Kibar Summer Gathering di Markfield.
Hihi, baiklah saya memang gombal. Daripada gombal terus, baiklah kita lanjutkan menyelusuri gereja St.Peter. Tentu saja kesempatan untuk berfoto ria tidak saya lewatkan, dengan mengeksplore sudut dan sisi yang menarik untuk dijadikan latar berfoto. Saya paling suka mengeksplor sudut yang tak biasa ditemukan orang tapi hasilnya (menurut saya) sih bagus. Kali ini saya jalan-jalan dengan si tukang jepret andalan saya *halaaah, jadilah saya puas berfoto-foto.

Terlihat atap-atap rumah yang lucu. Konon bangunan-bangunan di Edensor dibangun dengan desain yang tiap-tiap bangunannya berbeda. Seru juga.


Berlatar hijaunya Edensor

Sensasi mencari sudut berfoto yang tak biasa

Suka banget foto ini, terimakasih yaaa si tukang jepret ;p
Tipikal foto orang Indonesia kalau jalan-jalan itu biasanya cari papan nama yang menyebutkan nama tempat itu ahaha, dan saya juga. Biar nggak bilang hoax hihi akhirnya saya dan teman-temanpun berfoto di halaman depan gereja St Peter yang ada penanda tempat yang ada kata edensornya




ini group band apaan? ahaha

Cheeers..Kami dalam formasi lengkap. Terimakasih sudah menemani saya ke sini
Kemudian setelah puas di gereja St Peter, dan tea cottage-nya, kami berencana ingin melihat Chatsworth House yang super cantik itu. Kami sudah sempat melihat bangunan yang mirip istana di negeri dongeng itu saat melintas menuju ke gereja St.Peter. Kami mencari jalan menuju ke sana, namun sayang setelah beberapa kali mencoba rute jalan ke sana, sepertinya memang hanya satu satu akses jalan kesana yang restricted. Entah karena ada peraturan jam sekian sudah tidak bisa akses lagi, atau kenapa hingga jalan itu tidak bisa kami lewati saya kurang mengerti. Saat itu sudah hampir jam 7 pm, mungkin jalan itu hanya dibuka sampai jam tertentu, entahlah. Kami tak berani menerabas masuk, karena mungkin saja sesampainya di Glasgow bisa-bisa kami mendapat surat cinta denda berpounds-pounds. Akhirnya, kami harus legowo dengan hanya menyaksi bangunan indah itu dari jauh, dan saya sempat mengabadikan bangunan nan cantik itu dengan jepretan kamera saya dari jendela mobil.


Indahnya Chatsworth House dari kejauhan
Sebenarnya bisa saja kalau mau, jalan kaki dari gereja St. Peter menuju ke Chatsworth House karena saya lihat tempatnya masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Namun sayangnya waktu kami terbatas, masih ada perjalanan ke Glasgow yang masih jauh ditempuh. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sheffield dan kemudian pulang ke Glasgow.
Walau singkat, namun mengunjungi Edensor rasanya seperti menjamahi mimpi-mimpi. Terkadang kebahagiaan ada pada penaklukan, menaklukan impian sendiri karena pada akhirnya bisa mewujud. Itu hanya soal waktu. Tuhan selalu sempurna mengatur kapan waktu yang tepat impian-impian itu mewujud. Hati saya tersenyum saat meninggalkan Edensor. Terimakasih Tuhan, cintaMu selalu berlimpah, semoga hambaMu ini pintar bersyukur.

Glasgow,11 June 2014 dengan langitnya yang tengah mendurja, namun hati tetap berbunga halah :D

Tuesday, 3 June 2014

Gibson Gala Street #West End Festival




Langit Glasgow mendung kala saat saya siap-siap ke Otago, ngumpul bersama rekan-rekan saya yang lain untuk melihat Gibson Gala Street. Combro yang saya buat pun dibikin dalam kecepatan super kilat. Namun begitu siap akan melangkah, tiba-tiba Glasgow diguyur hujan. Eaah..padahal Glasgow sudah memasuki musim panas, namun matahari akhir-akhir ini jarang muncul. Kalau tentang hujan, memang selama empat musim di Glasgow, hujan selalu mencumbu kota ini dengan mesranya.
Saya akhirnya berjalan dalam gerimis ke Otago, yang ternyata sampai sana masih sepi. Cuma ada Mas Basid dan Mas Munir, penghuni tetap flat itu. Flat itu memang jadi basecamp tempat kami ngumpul-ngumpul bila ada waktu luang. Biasanya masak-masak, makan, nge-teh, karaoke, nonton youtube sampai diskusi politik dan negara ahaha.
Tak lama kemudian, Mona, Mba Fitri dan Mas Wahyu pun datang, dan komplitlah sudah kami yang akan nonton festival. Ceritanya kami pengin lihat-lihat festival yang kebetulah sangat dekat. Kami semua tinggal di daerah West End, dan setiap tahunnya diadakan West End Festival. Festival itu sebenarnya diselenggarakan selama 1 bulan, jadi selama sebulan itu ada berbagai acara baik acara musik, budaya, olahraga, parade, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang diadakan di daerah West End. Nah, Gibson Gala Street yang rencananya akan kami saksikan itu semacam acara pembuka dalam rangkaian West End Festival. Huaa selama lebih dari 2 tahun di sini, ini kali pertama seriusan nonton West End Festival. Tahun lalu saya “kebetulan” lihat west end festival di Byres Road saat saya akan ke Tesco (Semacam mini market di sini). Ahaha memang parah, entah kemana saja saya dua tahun belakangan ini.
Kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu hujan reda, sambil mencamil combro jadi-jadian buatan saya. Setelah combro habis, sementara hujan di luar jendela masih belum juga reda. Akhirnya mereka kelaparan, dan seperti biasa agenda kami tentu saja adalah makan-makan. Mie kuah bakso ala saya pun kemudian tandas dalam waktu singkat.
Baru usai sholat dhuhur, kami akhirnya nekad berangkat. Gerimis masih tak henti-hentinya turun. Dengan payung-payung kami berangkat ke festival yang terletak hanya di seberang jalan Otago Street. Kalau di Indonesia, mungkin saja bila ada acara dan hujan kemungkinan akan sepi pengunjung. Namun begitu kami sampai di Gibson Street, ternyata ramai lho. Mungkin memang tak seramai bila cuacanya cerah sih. Tapi salut juga dengan penghuni-penghuni Glasgow ini, mereka penakluk hujan. Karena hujan turun tak pernah mengenal musim, maka yang dilakukan orang-orang sini ya menerima cuaca maha aneh itu dan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka tetap jogging kala hujan, tetap kemana-mana, tetep beraktivitas seperti biasa. Maka festival pun ternyata tetap meriah walaupun hujan.
           “Mereka nggak punya pawang hujan kali ya,” kataku bergurau. Kalau di Indonesia kan terkenal dengan pawang hujan untuk menangkal hujan kalau ada acara-acara besar/publik. Hihihii Indonesia memang sungguh kaya raya.
Kami kemudian berkeliling sekedar melihat-lihat apa saja yang ada di festival ini. Ada panggung musik, kemudian juga ada stand stand berjajar yang menjual makanan, minuman, coklat, snack, kerajinan tangan, lukisan, souvenir, dan banyak barang-barang lainnya.

Ini kayak si abang-abang jual nasi goreng kambing ya..ahaha ini stand makanan spanyol, yang mirip nasi goreng itu nasi plus kerang yang dimasak ala spanyol, jangan-jangan terinspirasi dari nasi goreng ;p

Dan ada juga lho yang bagi-bagi bingkisan gratis. IKEA sebagai salah satu sponsor acara ini membagikan bingkisan gratis. Ada air minum, coklat, dan bisa juga dapat payung gratis kalau register. Saya cuma ngembat bingkisannya saja, lalu menunggu dua orang ini seru-seruan antri payung ahaha, lihatlah muka cerah ceria mereka mau dapat payung gratisan. 

Mas Basid dan Mba Fitri ngantri payung :D
Ternyata nuansanya serba oranye, jadi tadaaaa payungnya juga oranye bermotif polkadot ahaha, yeiiii ini muka dapat payung gratis ;p
Mas Basid dan payung gratisannya ;p
Kami memang hobi mencari gratisan, termasuk teh, kopi, coklat gratis yang diadakan oleh salah satu stand juga pasti menarik perhatian kami. 

Setelah ini, yang motret juga segera ngantri kopi susu gratisan :D
Kemudian dengan kopi di tangan, kami melihat lihat kembali stand demi stand. Iyah, cuma melihat-lihat saja sih, soalnya harganya untuk ukuran kami pastinya mahal-mahal. Kemudian untuk makanannnya juga tak terjamin kehalalannya. Jadi untuk keamaan kantung dan status kehalalan, mendingan memang cuma lihat-lihat saja ehehe.
stand yang tetap ramai walau hujan

Eh, kami ketemu ikon Glasgow Commonwealth Games yang lucu lho, dan memintanya untuk foto bareng. Glasgow akan jadi tuan rumah penyelenggara Commonwealth Games XX yang berlangsung mulai tanggal 23 July-3 Agustus 2014 itu. 
Kami bertiga, yang secara tak sengaja berseragam jilbabnya ungu-ungu
Iklan untuk vote YES untuk referendum nanti
Ternyata acara publik seperti ini juga dimanfaatkan secara ajang kampanye seperti gambar di atas, tapi kampanyenya sederhana seperti terlihat di gambar tersebut. Seperti diketahui, September nanti akan ada referendum yang akan memilih apakah Skotlandia akan tetap bergabung dengan UK, atau melepaskan diri dari UK. Semacam ngeri-ngeri juga sih bisa keputusannya melepaskan diri dari UK, bisa-bisa ke England harus bikin Visa. Namun untungnya apapun keputusannya akan berlaku sejak tahun 2016, yang seharusnya saya sudah selesai studinya *amiiin. 
ada pula stand yang jual buka-buka, dua buku harganya 1 pounds, lumayan murah juga
Selain berkeliling seperti biasa, kami juga tetap narsis sedikit ;p


The girls and umbrella

The boys and umbrella
Absurb banget! ahaha setelah menikmati pertunjukan musik kami pun pulang ke Otago. Ngeteh, sholat, masak lagi, makan lagi dan nonton youtube serius hihih. Iya, nonton talkshow politik, peristiwa sejarah Indonesia. Ada tayangan-tayangan yang membuat saya sedikit terguncang sebagai orang Indonesia. Ternyata sebegininya negeri ini. Ada sejarah masa lalu yang masih terus ditutup tutupi. Bangsa ini punya luka yang dibiarkan menganga, disimpan rapat-rapat. Ketidakberanian bangsa ini untuk menghadapi masa lalu, pun dengan berbagai macam intrik politik yang terjadi di Ibu Pertiwi. Semoga Pilpres ini merupakan momentum mulainya Indonesia yang membaik, yang bekerja dan memperbaiki dirinya. 
Tengah malam, saya pulang sambil dideru pertanyaan. Selama ini saya kemana? Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk Nusantara tercinta?
Tanya itu sepertinya membutuhkan banyak kerja dan karya,
Salam

Glasgow menjelang maghrib. 3 June 2014. 21.00 pm


Menuju Edensor


Heuuu indah yaaaah...betah kalau hijau hijau damai beginii

“Mereka nanya nih, yang menarik dari Edensor itu apa? Katanya cuma desa lho,” kata Mas Basid. Kami tengah menyusun rencana akhir pekan ini. Rencananya kami, rombongan Glasgow akan ikut Kibar Summer Gathering di Markfield. KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya) itu semacam perkumpulan muslim-muslim se-UK. Biasanya diadakan semacam Gathering tiap tahunnya. Nah, kali ini akan diadakan di Markfield, Leicester. Lokasinya memang cukup jauh dari Glasgow, dan biaya transportasinya, baik menggunakan bis ataupun kereta tergolong mahal, plus jalurnya nggak ada yang langsung. Maka dari itu, kami di Glasgow akhirnya menyewa mobil untuk ke sana, karena dihitung-hitung lebih murah, fleksibel dan nyaman. Sudah jauh hari, ada misi terpendam untuk mengusulkan mampir ke Edensor ehehe. Karena setelah dilihat lokasinya, Edensor hanya sekitar 1 jam dari Markfield, jadi setelah selesai acara bisa mampir ke Edensor.
            “ Iyah memang cuman desa. Tapi pengin banget ke sana. Itu kan terkenal banget di bukunya Andrea Hirata. Sebentar juga nggak apa-apa,” rajuk saya ahaha. Soalnya sebagian yang lain lebih ingin mampir jalan-jalan ke Sheffield (inget kan Universitasnya Si Ikal Andrea Hirata di Sheffield Hallam University?). Tapi setelah rajuk merajuk ahaha, akhirnya deal mampir ke Edensor kemudian lanjut ke Sheffield yipieeee!
Terkadang memang begitu, ada tempat-tempat yang mungkin biasa saja namun tetap saja pengen menginjakkan kaki di sana. Edensor, kalau tidak karena buku ketiga Tetraloginya Andrea Hirata pastilah tempat itu tidak seterkenal sekarang di Indonesia. Gara-gara buku itulah sepertinya Edensor menjadi destinasi impian para pembacanya tetralogi Laskar Pelangi, termasuk saya hehe. Saya dulu sangat maniak dengan karyanya Andrea Hirata tersebut, keempat bukunya saya baca habis bahkan berkali-kali baca ulang tanpa merasa bosan. Saya suka gaya bertuturnya, diksinya, alurnya. Maka dengan hati berbunga-bunga saya menghitung hari menuju Edensor.
Dibilang mainstream? Ehehe saya nggak terlalu peduli apa lokasi wisata saya tergolong mainstream atau enggak. Banyak para traveller yang sekarang menghindari tempat-tempat mainstream lalu mencari tempat-tempat lain yang non mainstream. Bagus juga sih, buat inspirasi tempat-tempat travelling baru eheheh. Bagi saya, mainstream atau non mainstream nggak terlalu penting, yang terpenting saya memang pengen ke sana, titik. Seperti halnya tempat wisata mainstream lainnya seperti Menara Eifel Paris, Keukenhoffnya Belanda, Santorini-nya Yunani, Capadoccia-nya Turki, saya tetap ingin mengunjunginya. Kadang kala memang hidup itu tahu apa yang kau inginkan, tentang selera orang lain bukan hal yang harus dirisaukan bukan? Hihih.
Doakan perjalanan menuju Edensor lancar yaa..masih menghitung hari. Sudah tak sabar lagi untuk bilang : “Sure lof, It’s EDENSOR!”

3 June 2014. Musim panas Glasgow yang hari ini langitnya mendung.