Saturday, 28 June 2014

Glasgow Central Mosque, Bukti Sejarah Peradaban Islam di Skotlandia


Glasgow Central Mosque
Hidup jauh dari tanah air terkadang membuncahkan kerinduan akan rumah. Namun jarak kadang kala tak bisa terelak, bahwa antara Glasgow dan Indonesia terbentang 7569 mil jauhnya. Untung saja rasa rindu rumah sedikit teredakan dengan adanya rumah-rumah jiwa yang saya temukan di tanah tempat menjejakkan kaki sekarang ini. Sebagai seorang muslim, saat hendak tinggal di negara lain dimana islam bukan merupakan agama mayoritas tentu ada sebuah kerisauan tersendiri. Apakah ada tempat peribadatan? Bagaimana perlakuan penduduk setempat terhadap orang asing ? Apakah ada diskriminasi yang mungkin terjadi. Tapi saya bersyukur, Glasgow merupakan rumah yang ramah bagi para pendatang termasuk pendatang muslim. Salah satunya dengan adanya rumah fisik sebagai rumah peribadatan komunitas muslim di Glasgow yakni Glasgow Central Mosque.
Keberadaan masjid utama di Glasgow tersebut pastilah istimewa bagi kami komunitas muslim di Glasgow. Jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia, masjid ada dimana-mana. Namun di sini, masjid adalah bangunan istimewa yang setidaknya sanggup membuktikan keberadaan komunitas muslim di Glasgow. Sejarah perkembangan muslim di Inggris Raya termasuk juga di Glasgow, hampir serupa dengan sejarah islam di Perancis, yakni melalui proses imigrasi. Proses ini berlangsung pada akhir abad ke-18 dan awal abad 19.  Umat muslim di Glasgow awalnya datang dari India dan Pakistan yang tinggal di daerah Gorbals. Daerah ini merupakan sentra ekonomi yang menarik datangnya para imigran dari Irlandia, India, Pakistan, Yahudi dan juga Italia. Komunitas muslim tersebut kemudian berupaya membangun rumah peribadatan, dimulai dari Oxford street, Carlton Place dan kemudian akhirnya terbangunlah Glasgow Central Mosque dengan luas empat hektar yang terletak di 1 Mosque Avenue, Glasgow ini. Karena sejarah inilah, Glasgow Central Mosque merupakan bukti peradaban islam di Skotlandia.


Interior dalam Glasgow Central Mosque

Masjid utama Glasgow ini merupakan masjid terbesar di Skotlandia selain Edinburgh Central Mosque di Edinburgh. Masjid ini dibangun dengan menelan biaya sebesar 3 juta poundsterling dan kemudian dibuka untuk umum pada 18 Mei tahun 1984. Masjid tersebut digunakan untuk salat sehari-hari. Tempat ibadah ini dapat mengakomodasi sekitar 2.500 jamaah, termasuk alokasi 500 jamaah untuk perempuan yang terletak di lantai dua. Selain untuk sholat, Glasgow Central Mosque juga menyediakan layanan konsultasi, acara pernikahan dan upacara pemakaman.  Terdapat juga tempat yang disewakan untuk  resepsi pernikahan, pengumpulan dana amal, konferensi serta pameran. Selain itu, komunitas masjid juga mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti donor darah, sumbangan untuk orang miskin, bantuan penanganan orang-orang lanjut usia serta juga menyelenggarakan seminar ataupun diskusi keagamaan.
Selain Glasgow Central Mosque, di kota juga terdapat beberapa masjid lainnya dan juga tempat peribadatan. Ada pula tempat salat untuk umum yang dari luar sama sekali tak terlihat seperti tempat peribadatan umat islam. Misalnya saja Dakwatul Islam yang dekat dengan tempat tinggal saya. Bila orang melintas di Oakfield Avenue jarang yang mengira kalau di sana terdapat tempat peribadatan umat muslim. Meskipun begitu, rasa syukur tak terhenti karena pemerintah tidak membatasi aktivitas ibadah kami. Pemerintah Skotlandia menerapkan The UK Government's Equality Act yang disetujui pada bulan April 2010. Peraturan tersebut berisi kesetaraan tanpa adanya diskriminasi karena ras, umur, orientasi seksual, serta agama dan kepercayaan.  Dan ditambah lagi, ternyata semua masjid di Britania Raya ini memperoleh bantuan operasional dari pemerintah.  Hal tersebut tentunya menjadi bukti adanya dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan warganya untuk memperoleh haknya dalam beribadah.


Saya dan rekan-rekan Glasgow seusai salat Idul Adha

Saya dan rekan-rekan muslim di Glasgow biasanya menunaikan salat Idul Fitri dan Idul Adha di Glasgow Central Mosque ini. Ada pengalaman baru saat menjumpai banyaknya umat muslim di Glasgow yang berasal dari berbagai negara dan etnis. Pun juga melihat perbedaan-perbedaan yang saya jumpai, misalnya ternyata hanya saya dan rekan-rekan Indonesia, Malaysia  saja yang sholat mengenakan mukena, karena kebanyakan jamaah perempuan lainnya hanya memakai pakaian biasa saja. Ada yang memang pakaiannya menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan saat sholat, namun banyak pula yang hanya mengenakan lengan pendek lalu berkerudung disampirkan. Ada banyak ragam perbedaan batasan aurat saat sholat yang saya jumpai. Selain itu, ada sedikit tata cara sholat yang berbeda saat menunaikan sholat Ied. Ah, kadangkala perbedaan hadir untuk menguji seberapa dalam toleransi dan upaya saling mengerti, bukan untuk saling mencaci dan membenci.

* Siwi Mars Wijayanti, Penulis merupakan PhD Student di University of Glasgow. Anggota tim redaksi PPI Glasgow.

Artikel ini dipublish di portal Detik Ramadan di link berikut


6 comments:

Farida Durrotun Nasihah said...

Subhanallah. Nambah wawasan nih huehe. Wuaaa jadi pengen jalan-jalan ke sana :(

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe ayok mari mari ke sini. Thanks sudah mampir-mampir baca :)

Ririen Dias said...

Wuaaah.. masjidnya kereeen.. Mba Siwi salat tarawih di masjid ini jugakah? :D

Siwi Mars Wijayanti said...

Masjid central mosque ini letaknya jauh dari flat, harus naik bis..padahal mulai tarawihnya malam sekali . Jadi untuk tarawih, saya di mushola dekat flat, mulai jam 11.15 sampai jam 1 malam. Happy Ramadan ya :))

usemayjourney said...

Suka sekali dengan kalimat penutup ini. "Ah, kadangkala perbedaan hadir untuk menguji seberapa dalam toleransi dan upaya saling mengerti, bukan untuk saling mencaci dan membenci." Kalimat ini harus semakin dipahami masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Nice post mbak. Selamat berpuasa juga. Di Glasgow berapa jam ini puasanya? Salam kenal :)

Siwi Mars Wijayanti said...

@yusmei : ehehe soalnya kadang gemes liat apa-apa dipeributkan sih. Jadinya mencoba menyebarkan semangat toleransi dan saling mengerti. Tengkiu yah sudah mampir-mampir, sudah kunjung balik..blogmu keceeeh.
Salam kenal juga yaa..di sini puasanya sekitar 19.30 jam hihi lumayan :)

Post a Comment