Monday, 7 July 2014

Salam Cinta Untuk Indonesia


Saat rekan-rekan lain deklarasi di London, saya salam dua jari dari Glasgow

Pilpres di Indonesia akan berlangsung dua hari lagi, walaupun sudah memasuki masa tenang namun suasana nampaknya semakin panas menjelang hari pencoblosan. Untuk saya dan rekan-rekan di UK, kami sudah memilih melalui pos beberapa saat yang lalu. Surat suara dikirim lewat pos, kemudian saya mencoblos dan mengirimkannya kembali ke Panitia Pilpres di London. Sedangkan untuk mencoblosan langsung di London juga sudah diselenggarakan Sabtu 5 Juli kemarin, namun penghitungannya masih menunggu pemilu di Indonesia Tanggal 9 Juli nanti.
Pilpres-pilpres sebelumnya, saya biasanya hanya sebagai pemilih pasif yang menggunakan hak suara saya dengan memilih pasangan presiden dan wakil presiden pilihan saya. Biasanya hanya sebatas itu, tidak lebih. Namun entah mengapa Pilpres kali ini mendorong saya untuk lebih banyak bergerak dan berbuat. Seperti ada gelombang viral yang sambung menyambung, tular menular yang menggerakkan banyak sekali anak bangsa yang tergabung sebagai relawan. Dan ini kali pertama saya ikut dalam barisan relawan itu.
Relawan yang tidak dibayar dan tidak terbayar. Karena kami melakukan itu semua dengan hati, dengan harapan bahwa ternyata harapan itu ada. Untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Relawan kubu siapa? Mungkin begitu pertanyaannya. Dengan hanya ada 2 pasangan Capres memang rakyat Indonesia terasa terdikotomi menjadi barisan pendukung Prabowo-Hatta dan pendukung Jokowi-JK.
Saya memang dari awal sudah menjatuhkan pilihan hati saya untuk memilih dan mendukung Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil presiden Indonesia. Kenapa? Ada banyak alasan sebenarnya, namun intinya hati saya memilih pemimpin yang memimpin dengan hati. Yang telah bekerja keras untuk kepentingan umat. Jokowi adalah sosok yang sulit ditemukan pada para pemimpin sebelumnya ataupun pemimpin-pemimpin lain. Sosok dan kinerjanya memang telah lama saya amati sejak beliau mencalonkan diri sebagai gubernur DKI dan selama memerintah DKI.
Saat dihadapkan pada dua pilihan, tentu saja saya harus memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan saya. Pertimbangan hati dan akal. Dan pertimbangan saya sebagian besar tercermin dalam speech Anies Baswedan di link ini 
Ada harapan perubahan yang lebih baik, ada harapan mendapat seorang pemimpin dengan semangat melayani. Memang bukan tanpa kekurangan, tidak ada pemimpin sempurna. Namun setidaknya saya memilih di antara dua pilihan, dan saya memilih yang saya anggap lebih punya kapabilitas, track record kepemimpinan publik yang telah teruji dan yang paling penting ada sosok pemimpian yang pekerja keras dan pemimpin dengan hati yang tulus melayani.
Kalau pemimpinnya  memimpin dengan hati, kita rakyatnya bisa ngerasa kok. Itu menjawab tuduhan pencitraan yang banyak dialamatkan pada pihak Jokowi-JK. Analogi saya sangat sederhana, hati saya merasa kapan seseorang berpura-pura dan kapan seseorang bersungguh-sungguh. Dan saya meyakini ada ribuan, jutaan hati-hati lain yang merasakan hal yang sama.
Dan karena itulah, saya tergerak untuk berbuat. Turun tangan, kata Anies Baswedan. Manakala ada orang baik, pekerja keras dan memimpin dengan hati maju untuk menjadi pemimpin maka tugas kita semua adalah membantunya.
Karena itulah saat rekan saya di Leeds mengontak untuk bergabung dalam barisan pendukung Jokowi-JK UK dan ikut sign-up dalam petisi deklarasi, saya langsung mengiyakan. Saya akhirnya tergabung dalam komunitas tersebut dan semakin merasakan people power yang bergerak didorong oleh hati. Tanpa dibayar, tanpa ada iming-iming apa-apa. Hanya dorongan hati untuk berbuat sesuatu. Apa yang saya lakukan tentu saja sebatas yang saya bisa. Kadang kala kita ingin terlibat, tapi timbul pertanyaan, trus kita harus ngapain? Kita bisa apa? Kita bisa melakukan sebatas apa yang kita bisa lakukan kok.
Karena saya bisanya nulis dan punya kontak dengan beberapa media, maka saya menawarkan diri untuk membantu publikasi. Saya membantu menulis pers release dan mengirimkannya ke media. Saya tahu seperti apa media sekarang ini menjelang pilpres. Tapi setidaknya saya menulis berdasarkan sumber utama, saya tahu proses penggalangan deklarasi ini dan terlibat di dalamnya sehingga saya merasa aman menulis tanpa takut dicap penyebar berita bohong, fitnah dan sebagianya yang marak belakangan ini.
 Dan ini adalah salah satu publikasi dari hasil pers release yang saya kirimkan.



Ada lho yang komentar kalau itu berita hoax..ehehe saya tidak terlalu ambil pusing. Saya menulis berdasarkan sumber utama, tidak ada yang perlu saya khawatirkan.
Memang salah satu risiko menjadi relawan adalah intimidasi ataupun adanya serangan dari pihak yang berseberangan. Nama saya terpampang di antara 500an orang yang mendukung deklarasi mendukung Jokowi-JK UK. Awalnya saya memang memilih untuk tidak mempublikasikan pilihan saya, namun pada akhirnya saya memilih untuk membuat terang pilihan saya. Risikonya tentu saja ada . Bila ada  yang mengirimkan gambar-gambar dan share berita yang menyerang, cukup saya hide dari timeline, saya tidak mau menghabiskan energi untuk saling serang. Kita semua saudara, hanya saja pilihan kita berbeda, itu saja. Tidak usah memperkeruh suasana dengan menyuburkan benci dan caci maki.
Saya cukup menunjukan kapasitas calon presiden pilihan saya, tanpa berniat menjelekkan ataupun menjatuhkan calon presiden satunya. Menjadi pemenang, bukan berarti dengan cara menjatuhkan. Mari belajar kampanye bersih, kampanye cerdas dan belajar mempunyai hati yang luas untuk menerima perbedaan.
Dan menjelang Pilres yang tinggal dua hari ini, saya banyak berdoa. Jujur saja, baru kali ini juga saya berdoa untuk pemimpin bangsa dengan setulus-tulusnya. Dengan harapan, dengan cinta. Dan saya yakin, banyak sekali rakyat Indonesia yang berdoa. Yang kali ini mereka rasanya memiliki harapan. Yang kali ini menjadi begitu peduli akan nasib Indonesia ke depan, yang merasa ikut dilibatkan. Bahwa nasib bangsa ini ditentukan oleh kita bersama, bukan segelintir elit di atas sana.
Semoga Pilpres nanti berlangsung damai, apapun hasilnya itulah suara rakyat. Tentu saja harus bersama kita kawal agar pemilu ini tidak terjadi kecurangan-kecurangan. Kita mulai politik yang bersih, tanpa money politic. Fenomena relawan yang terjadi sekarang ini telah menjadi pondasi hebat berlangsungnya proses politik yang bermartabat, semoga ini adalah tonggak laju Indonesia yang lebih maju.
Mari kita songsong pemilu dengan damai. Tidak pernah saya setuju kampanye hitam, fitnah, kata-kata yang menjatuhkan, menjelekkan. Kita harus mulai pendidikan berpolitik yang cerdas, santun dan dewasa. Kamu boleh pilih 1, walau saya pilih nomer 2. Kita tetap bangsa Indonesia. Saudara sebangsa setanah air. Kita harus menjaga proses politik negeri tercinta dengan cara yang terhormat.
Selamat memilih sesuai pilihan hatimu, kawanku.
Siapapun pilihanmu, Tetap semangat berkontribusi untuk negeri ini.
Salam Dua Jari dari Glasgow

Glasgow, 7 Juli 2014. Dari anak bangsa yang selalu punya harapan untuk Indonesia tercinta.




4 comments:

angkisland said...

keren du jarinya dari glasgow...dkung saya ja mbak saya salam 3 jari lho hehe.....

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe tetep dong salam generasi optimis! Salam Dua Jari :))

Fardelyn Hacky said...

Saya juga sudah coblos nomor 2, tanggal 5 lalu.
Tapi siapapun pemenangnya nanti, dialah yang akan kita dukung dan kawal bersama. TFS atas sharingnya yang cakep mb Siwi.
Selamat juga atas Press Release-nya. Aku terlewatkan berita itu mbak, kalau cepat tau, pasti aku share karena aku kenal sumbernya, xixiixiii....

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe kompak pilihan kita mbak..semoga hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan bersama. Tapi tetap siap menang, siap kalah. Bismillah :))

Post a Comment