Monday, 26 January 2015

Mau Kau Tukar Masa Sulitmu?


Ketika kau ditanya sebuah pertanyaan “Mau kau tukar masa sulitmu?” apa yang kira-kira kau pikirkan dan kemudian kau jawab apa?
Pernah kau menanyai dirimu sendiri pertanyaan seperti itu?
Misalnya saja kita ditanya “Mau kau tukar masa bahagiamu? Masa senangmu?” mungkin jawabannya bisa ditebak. Kita pasti menggeleng dan tidak mau menukar masa-masa yang menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan.
Namun, jika pertanyaan sebaliknya yakni : Maukah kau tukar masa sulitmu? Bisa jadi masa sulit tersebut ditukar dengan kemudahan seketika lalu dihapus dari perjalanan hidupmu. Atau bisa jadi masa sulitmu itu ditukar dengan masa sulit orang lain.
Bagaimana? Kira-kira kau jawab apa?
Dan setelah saya menanyakan pertanyaan tersebut pada diri saya sendiri, ternyata jawabannya, saya menggelengkan kepala, Tidak. Saya tidak ingin menukar masa sulit saya.
Pertama, misalnya masa sulit saya ditukar dengan masa sulit orang lain? Phew jelas saya tidak mau. Kenapa?
Karena masa sulit saya pastilah dikarenakan pilihan-pilihan yang saya buat sendiri selama perjalanan hidup saya. Misalnya saja saat ini saya tengah menghadapi masa-masa sulit dalam lab work untuk studi PhD saya. Tapi toh melanjutkan studi doktoral adalah pilihan saya sendiri, dan saya lah yang paling bertanggung jawab atas risiko-risiko penyertanya.
Tentu saja saya tidak mau menukar masa sulit saya dengan masa sulit orang lain. Saya tidak mau menghadapi masa sulit karena pilihan-pilihan orang lain. Betapapun beratnya masa-masa sulit yang saya hadapi terkadang, ada suara-suara yang muncul “ Hey, that’s my choice anyway”, ini risiko pilihanku sendiri, hadapi!
Setidaknya kalimat tersebut menguatkan kala masa sulit itu datang.
Kedua, bila masa sulit itu dihapus atau ditiadakan. Anehnya, pada akhirnya saya memilih untuk menggelengkan kepala juga. Ternyata saya butuh masa-masa sulit itu. Ternyata ketangguhan tidak dibentuk oleh kemudahan-kemudahan, namun justru oleh kesulitan-kesulitan. Kekuatan juga banyak dibentuk oleh tantangan, hambatan dan masalah. Masa sulitpun membuat kemudahan yang kita terima terasa begitu mudah untuk kita syukuri.
Masa-masa sulit mungkin seperti guru yang kita benci. Namun pada akhirnya kita menyadari, kita membutuhkannya, jiwa dan kehidupan kita ternyata banyak dibentuk olehnya.
Kapanpun engkau menghadapi masa sulit, mungkin bisa kau tanyai dirimu sendiri pertanyaan tadi. Mau kau tukar masa sulitmu? Mungkin itu bisa membantumu memperoleh lagi semangatmu, kekuatanmu, ketangguhanmu. Semoga.  



Glasgow, 26 January 2015

5 comments:

Qhe Falkhi said...

Jadi ingat kata-kata "laut yang bergelombang melahirkan pelaut yang handal" :)
Salam kenal mbak..

Siwi Mars said...

ehehe iyaah betul sekali. salam kenal juga yaa, terimakasih sudah mampir :)

i Jeverson said...

hmm, coba masa sulit kita bisa ditukar sama seseorang.
mungkin...

evi nypw said...

Klo mo liat pelangi kta harus melalui hujan badai dulu...krng lbh sprti itulah...miss u mb Swiwi

Siwi Mars said...

@evi nypw : ehehe yuhuuu sepertinya begitu. miss u too evi :))

Post a Comment