Wednesday, 11 February 2015

Bagaimana Caranya Mendapatkan Supervisor untuk Studi S3?


Ada banyak orang-orang yang selama ini mengontak saya untuk menanyakan tentang bagaimana langkah untuk melanjutkan studi S3. Mungkin bermanfaat bila saya jadikan satu postingan, dan mungkin saja lebih simpel dalam menjawab pertanyaan sama yang diajukan suatu saat.
Dalam tulisan ini akan saya bahas mengenai langkah-langkah untuk mendapatkan supervisor. Untuk studi doktoral (S3), mendapatkan supervisor merupakan langkah yang sangat penting apabila hendak melanjutkan S3. Peran supervisor juga sangat krusial karena dialah teman seperjalanan selama menempuh perjalanan panjang studi doktoral. Perlu diketahui, untuk studi S3 tidak ada kuliah sama sekali, tidak seperti kuliah S1 ataupun S2. Mungkin ada program yang ada kuliah di tahun pertama, kemudian full riset di tahun berikutnya. Namun sepengetahuan saya, sebagian besar studi S3 adalah program full riset dari awal. Oleh karena itu, peran supervisor di sini sangat penting dalam menentukan kelancaran studi S3, karena dia lah yang membimbing jalannya penelitian kita dari awal hingga akhir.
            Yang akan saya bahas di sini adalah cara mencari supervisor untuk studi di luar negeri, berdasarkan pengalaman saya. Karena untuk supervisor S3 dalam negeri akan berbeda pula prosesnya.
Berikut langkah-langkah yang perlu untuk disiapkan.
1. Menyusun Proposal Riset S3
Langkah pertama ketika berencana melanjutkan S3 adalah menentukan topik riset serta membuat proposal. Kita harus memutuskan akan meneliti apa selama studi S3 tersebut. Pada langkah ini, banyak yang dihantui kecemasan bahwa riset S3 harus benar- benar “baru”, harus ekstra keren dan canggih dan beberapa ketakutan lainnya yang justru menyusutkan niat untuk memulai langkah. Nggak gitu kok ternyata, asal kita punya ide kemudian kita mulai membuat proposal tersebut, banyak membaca tentang subjek yang akan kita ambil, coba saja untuk dibuat. Intinya sih nggak usah kebanyakan mikir, kerjakan..kerjakan. Ya memang nekad itu bagian dari langkah-langkah besar heheh.
Untuk menyusun proposal riset, cobalah banyak browsing contoh-contoh proposal riset dari internet ataupun meminta rekan yang sudah S3. Poin yang saya ingin bagikan di sini adalah, buatlah proposal yang ringkas, padat, berisi. Karena proposal tersebut adalah “jualan” yang harus menarik si supervisor tanpa harus banyak membacanya. Itulah kenapa proposal jangan terlalu banyak halaman, karena bayangkan si supervisor yang tiap hari menerima banyak sekali email mana mau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menengok email dan proposal kita.
Berikut contoh proposal riset saya saat mencari supervisor bisa diunduh di sini . Eh sebenarnya saya sih pas nyolek supervisor belum punya ide, belum punya proposal, cuma modal nekad doang.  Dan untungnya diterima. Tapi tentu saja saya mencoba menuliskan langkah-langkah di sini dengan runtutan yang “seharusnya”. Jangan ikuti saya :D
Saran : Topik ini akan kalian geluti selama 3-4 tahun, pastikan kalian menyukainya, atau PhD akan berubah seperti neraka *eh eh..ini serius. Topik itu adalah komitmen jangka panjang, walaupun tentu saja bisa berubah ataupun berkembang seiring perjalanan. Memangnya apa yang tidak bisa berubah? *malah curcol ;p
2. Buatlah CV singkat
Buatlah CV singkat yang menjelaskan tentang informasi personal singkat, riwayat pendidikan cukup mulai S1 saja, penelitian yang sudah pernah dilakukan dan publikasi yang pernah dibuat.
3. Mencari Supervisor Potensial
Langkah berikutnya yakni mencari supervisor potensial yang pas untuk membimbing riset kalian. Nah bagaimana caranya?
- Kalau kalian sudah punya inceran negara yang dituju, pncarian akan menjadi lebih spesifik.  Misalnya saja saya dari dulu S3 cuma mau di Inggris, nggak ada opsi untuk negara lain. Nah, itu juga pasti tergantung preferensi kalian pengen dimana, setelah itu bisa cari universitas yang kalian tuju. Misalnya saja, saya dari dulu cuma ngincer dua : London School of Tropical Hygiene dan University of Edinburgh. Nah kalau kalian tahu apa yang kalian mau, pencarian akan semakin spesifik dan sempit. Kemudian cari saja via website universitas, biasanya di situ ada informasi staff-nya. Informasinya biasanya lengkap dengan interest topik si supervisor, daftar publikasinya, daftar grant ataupun daftar anggota labnya. Dan tentu saja alamat kontaknya. Jadi kalau kalian merasa pas dengan background si supervisor, silahkan kontak saja.
- Kalian juga bisa lihat nama-nama peneliti di jurnal acuan kamu. Peneliti yang memang sudah lama meneliti tentang topik yang kamu maui selama S3. Nah dengan begitu kalian tahu peneliti mana yang kompeten untuk menjadi supervisor kamu. Begitu kalian tertarik pada suatu nama, tinggal di browsing saja informasi mengenai supervisor inceran itu.
- Kalau punya temen yang sedang S3 dan kebetulan satu jurusan, bisa juga minta informasi dan direkomendasikan. Biasanya mahasiswa S3 punya informasi mengenai lowongan PhD di jurusannya, atau bisa memberikan email kontak professor yang menurut dia pas dengan topik yang kamu pilih.
3. Kontak Supervisor
Setelah menemukan supervisor inceran, tinggal kontaklah dia. Banyak cerita temen-temen yang mengontak banyak sekali supervisor inceran tapi no response sama sekali. Ada juga yang sekali kontak trus langsung nyantol. Yah, memang beraneka macam ceritanya. Mungkin ada yang bilang tentang keberuntungan, tapi mungkin saya bisa bilang Tuhan Maha Tahu apa, siapa, dan kapan yang tepat untuk kita *jleb jleb. Intinya, coba..coba, jangan pernah terhenti. Untuk pengalaman saya, saya pernah mengirim beberapa email ke supervisor dengan bahasa yang rapi jali hasil browsing contoh-contoh di internet, dan nggak ada yang direspon. Tapi sekali saya email iseng cuma tanya kemungkinan apakah bisa bergabung di lab-nya sebagai mahasiswa PhD, eh langsung disamber dan jodoh sampai sekarang. Saya juga pernah iseng mengirimkan proposal atas nama sahabat saya, dan langsung direspon dan berjodoh sampai sekarang. ini contoh cover letternya bisa diunduh di sini . Cover letter yang pernah saya buat lainnya bisa diunduh di sini Jadi berdasarkan pengalaman sih, lebih prefer gunakan cover letter yang ringan, informal tapi sopan dibandingkan dengan coverletter yang kaku dan bertele-tele. Intinya sih si supervisor itu supersibuk yang males baca email dari antah berantah kalau isinya banyak-banyak.
Saat kontak dengan supervisor, sertakan proposal dan CV kalian  di attachment.
Nah, itu beberapa langkah untuk mencari supervisor untuk melanjutkan studi ke jenjang S3, Good Luck ya..semoga infonya bermanfaat.

Glasgow,11 Februari 2015. Oh ya, tentu saja saya masih “hidup”. Dan saya tidak pernah berhenti ingin berkontribusi.

 



4 comments:

Muhamad Hamdi said...

sangat bermanfaat mbak' terima kasih mba' jadi membakar semangat saya ni..salam kenal mba' kang hamdi.

Siwi Mars said...

sama-sama, Good Luck yaa :)

Lita Yustinasari said...

Terimakasih infonya mbak Siwi, membuat saya menjadi semangat. ^^
Apa boleh konsultasi lewat email? Kalau ada info di Glasgow University bidang Veteriner boleh dong bagi-bagi infonya. Terimakasih.

Vanda Jocom said...

terima kasih untuk share infonya... really helpfully...

Post a Comment