Thursday, 5 February 2015

We only see what we wanted to see



Saya masih ingat pembicaraan sederhana di bis yang saya tumpangi bersama orang tercinta saya. Seperti biasa, saya pasti duduk di dekat jendela. Dan orang di samping saya pun sudah mahfum dan selalu mempersilahkan saya menempati tempat duduk favorit saya yang dekat jendela. Saya lebih suka menjelajahi pemandangan di luar jendela, sementara yang di sebelah saya lebih suka membaca berita-berita politik via handphonenya.
Kami memang berbeda.
            “ Cantik juga ya bangunan itu, sering kali lewat tapi seperti baru pertama kali ngeliat,” kata saya pada sebelah saya. Yang kemudian mengalihkan perhatiannya dari handphonenya kemudian memandang bangunan yang saya maksud.
Bangunan dengan atap membulat dan patung malaikat di atasnya, nampak gagah di latari langit yang membiru.
            “ Kan kita pernah kesana” sahutnya
            “ Iyah, tapi kayaknya baru pertama kali liat. Kita melihat tapi kadang-kadang tidak benar-benar melihat,” jawab saya.
Iya, kita melihat namun seringkali hanya sekedarnya, atau memang kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Entahlah, saya sering mengalami dan merasakannya. Walau sudah berapa kali melewati jalan yang sama, namun sering mendapati pemandangan yang baru. Detail-detail yang terlewatkan. Motif-motif di bangunan-bangunan, simbol-simbol di pinggir jalan, warna-warna atap rumah, dedaunan ataupun banyak hal lainnya.
            “eh lihat, ternyata di situ ada jembatan gantung ya..baru lihat juga” kata orang yang di samping saya. Mata saya kemudian mengamati, dan baru sadar juga kalau ada jembatan gantung yang melintasi jalan.
We only see what we wanted to see.
Mata kadang semacam indera yang begitu mekanis mengerjakan perintah otak. Tapi apa yang ditangkap oleh mata dan diterima otaklah sang pembeda.
Mungkin selama ini banyak hal-hal yang terlewatkan terlihat. Mungkin detail-detail istimewa yang terlewatkan mata.
Tapi saya masih terus ingin melihat banyak hal-hal istimewa bersama. Kamu. Yang kala itu di samping saya.

 


0 comments:

Post a Comment