Thursday, 30 April 2015

Cerita Tentang Dapur




Saya tengah iseng menscroll timeline Facebook seusai mengirimkan revisian draft paper ke supervisor, dan senyum-senyum melihat ada gambar-gambar lucu di timeline. Menemukan beberapa gambar karya “Puuung” yang bertemakan tentang "in relationship, everyday interaction are more important than grand gestures-don't forget the small things". Itulah tema yang coba dibawakan oleh Puuung dalam karya-karyanya. Ada beberapa karya yang hampir semuanya saya suka, tapi entah kenapa paling suka dengan karyanya seperti foto di bawah ini :




Mungkin karena mengingatkan saya pada percakapan dengan pasangan beberapa waktu lalu tentang dapur. 
           " Dapur di rumah Purwokerto itu bentuknya open kitchen atau seperti apa?" tanya pasangan saya.  Hiyaaa entah kenapa tiba-tiba saya menemukan diri saya merona ketika bicara soal rumah. Rumah kita- kata itu ternyata memberikan efek seperti ada kupu-kupu di perut saya. *ahaha halaaah.
              " Dibikin desain kayu-kayu gini bagus ya?" hih saya malah tambah merona. Fiuhh..
Kata orang, cinta kalau baru itu berasa luar biasa, tapi kalau lama-lama ya biasa aja, sudah terbiasa. Tapi entah kenapa kok rasanya tetap luar biasa, eh bertambah luar biasa *maafkan kalimat saya yang gombal amoh ini. Padahal saya mengenal pasangan saya ini sudah cukup lama, hampir setengah dekade usianya. Tapi satu hal yang saya percayai bahwa setiap pasangan bisa menciptakan rasa luar biasanya sendiri-sendiri. Maksud saya, pasangan-berapapun umur hubungan mereka-bisa tetap saling mesra, penuh romantika dan tetap berasa luar biasa. Itu tergantung upaya masing-masing pasangan itu sendiri. Saya ingat kata Fadh Padhdepie dan istrinya, rizqa. Ah siapa sih yang tak kenal pasangan ini, seantero Indonesia Raya pasti banyak yang iri dengan kemesraan cinta mereka. Well, itulah untungnya punya pasangan penulis-bisa diromantisin tiap hari ahaha. Fadh dan Rizqa menyepakati untuk tetap mengupayakan ada waktu berdua di tengah tengah kesibukan mereka dan juga di antara waktu mengurus dua krucil mereka yang lucu-lucu, si kalky dan si kemi itu. Secara pribadi, saya setuju dengan pendapat mereka, walaupun cara tiap tiap pasangan masing-masing berbeda tentu saja. Tapi poinnya adalah untuk menjaga cinta tetap luar biasa memang selalu harus diupayakan dan diusahakan secara luar biasa pula oleh kedua belah pihak. 
We can create our own life, termasuk bagaimana kita mempersepsikan tentang relationship yang kita jalani. Yaaah, tuh kan lari kemana mana ini tulisan hahah.
Well, kembali soal dapur. Karena saya suka masak-dan pasangan saya juga suka makan (dan bisa masak juga), jadi dapur merupakan spot yang penting untuk rumah kami. Kami belum mengetahui dengan detail rumah yang baru saja kami beli, hanya lewat foto saja. Namun ada sedikit gambaran dari foto dapur yang dikirimkan orang rumah di Indonesia. Dapur sederhana saja, sepertinya sejenis open kitchen yang menjadi satu ruangan agak besar dengan ruang makan. Tapi tentu saja bisa disulap menjadi dapur yang istimewa dengan upaya yang ekstra pula.
Dapur bagi saya pribadi merupakan tempat yang penting, karena secara filosofis dari tempat itulah saya bisa menciptakan berbagai macam rasa masakan untuk disajikan pada orang tercinta saya. Namun banyak orang mengesampingkan sebuah ruangan bernama dapur ini. Misalnya saja dari filosofi jawa tentang dapur, tempat ini selalu diletakkan di belakang karena mempunyai konotasi dengan tempat untuk hal-hal yang kotor, sehingga harus disembunyikan.
Ah, apapun pandangan masing-masing orang dapur, kadangkala yang harus didengarkan adalah tentang preferensi diri sendiri. Dapur, bagi saya adalah tempat mengejawantahkan cinta saya dalam rasa. Rasa-rasa masakan yang saya ciptakan untuk orang tercinta. 
Terimakasih untuk gambar karya Puuung tadi itu, setidaknya bisa menjadi pengingat, untuk selalu berupaya menjaga cinta senantiasa tetap hangat.
Seperti dengan meluangkan waktu untuk memasak bersama-sama di dapur kita.

Salam.
Glasgow, di penghujung bulan April 2015 yang penuh warna warni


 

Thursday, 23 April 2015

Mari Menari Bersama Hadapi Ketidakpastian


Foto : Dokumentasi Pribadi

Sering kali saat makan siang di ruang makan komunal lab, bapak dari Turki yang tengah menjadi visiting researcher di department menghampiri saya. Kadang-kadang cuma bilang “ Buon Appetite” sambil tersenyum lalu berjalan kembali menuju labnya bersama secangkir kopi di tangannya. Atau seringkali pula ia tiba-tiba duduk di kursi sebelah saya, lalu mengajak ngobrol. Usianya sudah kira-kira menjelang 50, bahasa inggrisnya terkadang patah-patah. Professor dari salah satu universitas di Turki itu di awal obrolannya selalu menanyakan pertanyaaan sejenis ini,
            “ How’s today?” “ How your feeling today?” sejenis pertanyaan yang agak sulit dijawab sebenarnya.
Bagaimana hidup saya akhir-akhir ini?
Ah, tentu saja hidup selalu saja dengan perputarannya yang menakjubkan. Penuh dengan kejutan dan tentu saja, dengan ketidakpastian.
Minggu lalu pengumuman perpanjangan beasiswa dikti saya sudah dirilis di situs dikti. Begitu membuka pengumuman udah berasa deg-deg an, dengan harapan bahwa saya akan diterima perpanjangan beasiswa saya untuk April-September 2015. Karena biaya living cost di UK memang luar biasa mahal kalau dikurs dengan rupiah. Gaji dosen saya sebulan bahkan tidak cukup membayar sewa flat dan utilitiesnya per bulan.
            “ Ayo belajar mengurangi ketergantungan terhadap hasil,” ada suara begitu dalam diri saya. Dan ketika saya buka lampiran pengumuman,  nyatanya saya masuk ke Lampiran 2 yakni yang belum menerima perpanjangan Dikti. Solusi yang ditawarkan cuma satu, menunggu pengumuman dibuka lagi tahap berikutnya untuk bisa apply lagi. Kapan? Entah.
Kecewa? Iya tentu saja ada rasa itu, tapi ternyata saya baik baik saja. Belajar mengurangi ketergantungan pada hasil, membuat diri terasa lebih tenang, lebih lepas dan lebih mudah menerima apapun yang datang dalam hidup. Padahal beasiswa saya habis periodenya Maret lalu, bagaimana saya bertahan sampai September (dan masa sesudah itu untuk menunggu viva akhir)? Saya tidak tahu, tapi saya yakin saya bisa menghadapinya. Dan lagi, sedapnya tabungan saya baru saja terkuras untuk pembelian rumah..lalala..que sera seraa.
Tapi nyatanya, fokus saya justru bukan pada kenyataan bahwa saya belum diterima perpanjangan beasiswa, namun dengan kembali disadarkan bahwa senantiasa ada orang-orang tercinta yang selalu ada untuk saya,
            “ Nanti kita pikir sama-sama, kita hadapi sama-sama,” begitu kata pasangan saya kala saya kabari info pengumuman tadi.
Oh, kalimat itu sudah seperti seluruh energi sedunia tiba-tiba diserahkan ke tangan saya *halaaah. Saya serius, that’s mean a lot. Terimakasih untuk dukungan yang selalu ada untuk saya.
            “Kalau ada yang bisa dibantu, jangan sungkan kabar-kabar,” begitu teks salah seorang sahabat saya.
Sejenis kalimat-kalimat itu datang dari orang-orang di sekitar saya yang membuat saya merasa sangat beruntung dan bersyukur. 
Perjalanan studi doktoral saya pun penuh dengan ketidakpastian. Keputusan Ethic Aproval yang entah kapan keluarnya, bisa nggaknya sampel dibawa ke Glasgow, kapan sampel bisa sampai dan sebagainya. Pun kala eksprimen lab saya masih belum berhasil juga.  Sejak awal tahun 2015 hingga sekarang masih juga belum menemukan hasil yang menggembirakan. Hampir tiap kali eksperimen, saya membiasakan diri untuk siap mendapatkan hasil yang belum seperti diinginkan. Mencari cara ini itu, baca ini itu, diskusi dengan X, Y bla blaa..belum juga ada titik terang sampai sekarang.
Dan di kala jalan mulai terlihat,  tiba-tiba saja  saya dikabari kalau asuransi lab saya sudah habis masanya, sehingga sudah tidak boleh lagi mengerjakan lab work. Jreng, what? Terus saya mau nulis apa di thesis saya? ini adalah final work yang menjadi inti dari projek saya. Apa jadinya thesis saya tanpa hasil lab yang sedang saya kerjakan ini. Sedangkan deadline submit thesis september, hanya beberapa bulan lagi.
Nyes rasanya, hidup memang selalu penuh kejutan dan ketidakpastian. Tapi bacalah kata Fadh Djibran :


Mungkin itulah pentingnya belajar untuk “berada di tengah roda”—istilah Gede Prama ini selalu saya ingat.
            “Kalau kamu masih berada di pinggir roda, hidupmu akan mudah sekali terasa naik turun berputar seiring dengan berputarnya hidup. Belajarlah berada di tengah roda, kamu tidak lagi terlalu terpengaruh perputaran  naik turunnya hidup,” saya selalu mengingat kalimat beliau.
Gampang  mencapai titik itu? Enggaaaaklah pastinya ahah.
Belajar mengurangi attachment terhadap hasil ataupun hal-hal di luar kendali kita memang tidak mudah, tapi pelan-pelan bisa membuat hidup terasa lebih tenang, lebih tentram.
Dan ternyata Tuhan sudah menyiapkan orang-orang tercinta yang selalu ada untuk kita. Mungkin masa-masa sulit dihadirkan dalam hidup untuk menyadarkan kembali bahwa ada orang-orang tercinta yang selalu ada dalam hidup kita.
Saya lebih banyak bersyukur dibanding harus mengeluh pada keadaan yang saya hadapi sekarang ini. Saya baik-baik saja dan mencoba menjalani semuanya dengan upaya terbaik yang saya bisa.
Dan kali ini, ijinkan saya mengucap terimakasih pada orang tercinta saya
- - - - -
Kamu, selalu saja bisa menjadi tempat yang nyaman dan damai untuk pulang.
Kamu, selalu membuat segala kejutan hidup dan tantangan menjadi penuh kejenakaan. Hidup kadang memang perlu dijalani dengan kejenakaan, agar urat-urat hidup kita tidak tegang.
Carilah seseorang yang bisa membuatmu senantiasa tersenyum. Begitu pernah kubaca entah dimana. Dan kamu selalu bisa menerbitkan senyumku, tawaku, bahagiaku.
Terimakasih, selalu menjadi tiang tangguh yang siap menopangku bila lelah, bila resah, bila gundah.
Terimakasih, untuk kesediannya belajar bersama mengerti satu sama lainnya sepanjang  usia,
Terimakasih untuk menari bersama saya, menghadapi ketidakpastian-ketidakpastian hidup yang datang pada kita.
Anggap saja hidup memang penuh dengan kejutan, ketidakpastian, keajaiban dan kejenakaan yang terkadang kita cukup rayakan dengan tangis dan tawa.
Kala kita bersama, bukankah hidup selalu luar biasa dan penuh cinta?
Ah, semoga.
Terimakasih, telah selalu ada.




 

Friday, 17 April 2015

Happiness is #

Cherry Blossom in Spring, Glasgow (dokumentasi pribadi)



Every man wants to be happy, but in order to be so he needs first to understand what happiness is (Jean-Jacques Rousseau)
                                                                         


Sebuah buku kembali datang pada saya. Iya, saya mengambilnya dari rak buku di sebuah charity shop di Great Western Road, harganya murah saja hanya sekitar 1.50 GBP.
Kenapa lagi-lagi soal buku tentang bahagia?
Apa saya nggak bahagia sampai harus baca buku begitu begitu? Hihi, No. Saya kini semakin menyadari bahwa saya tipe seeker, tipe pencari. Saya suka mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya akan hidup. Saya menikmati proses pencarian, penantian, penemuan, hilang, menemukan lagi, ah iya..saya menikmati perjalanan.
Dan saya bacai buku tentang bahagia tadi, yang berjudul " Happiness- a Guide to Developing Life's Most Important Skill" ditulis oleh Matthieu Ricard, seorang buddist monk yang tadinya seorang peneliti cellular genetics.
Kalau kemarin-kemarin, buku Conversation with God, saya bisa baca hanya dua kali dudukan, namun untuk buku ini saya memerlukan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Pertama, karena bahasanya “berat” heuheu. Iya, buku ini bahasanya rada berat, sehingga kecepatan saya membaca (dalam bahasa inggris) pun tidak secepat kalau bahasanya ringan-ringan saja. Penulisnya banyak menggunakan diksi antah berantah yang saya kadang nggak ngeh, tapi malas cari kamus-jadi akhirnya tebak tebak buah manggis, dilihat dari konteks kalimatnya apa. Kedua, isinya memang berat ahaha. Buku ini semacam review dari berbagai macam buku-buku yang mengupas tentang kebahagiaan yang dibaca oleh si penulis.
Tapi ternyata keren banget ini buku, karena saya menemukan AHA moment dalam buku ini. Walaupun awalnya sering dibikin gemes sama ini buku,
“Kenapa sih, teoritis banget nerangin perbedaan pleasure, joy dan happiness?
But what?
Ternyata memang saya sering keliru, menganggap pleasure, joy sebagai Happiness. Dan dengan mengerti perbedaan antara pleasure dan happiness, akhirnya saya tiba dalam titik pemahaman lebih dalam tentang happiness. Dulunya saya lebih mengartikan happiness pada kondisi seperti saat harapan kita terwujud, keinginan kita tercapai, kondisi baik-baik saja, lulus kuliah, dapat beasiswa, ketemu teman, ketemu pasangan, bersama keluarga bla bla dimana keadaan di luar kita nampak selaras dengan mau kita. Harapan kita sesuai dengan kenyataan.
Namun di posting saya  di sini , saya menemukan bahwa saya merasa bahagia walaupun dalam kondisi hidup yang tidak ideal (menurut saya). Hingga saya akhiri posting tulisan saya tersebut dengan ketidaktahuan, alih-alih mencoba mencari definisi lebih baik dirasai saja kebahagiaan yang mengada.
And then, dalam buku ini saya menemukan sesuatu yang lebih dalam
" unlike pleasure, genuine flourishing may be influenced by circumtance, but it isn't dependent on it.  Authentic happiness is not linked to an activity, it is a state of being"
Selama ini kondisi di luar seperti cuaca, perlakukan ataupun ucapan orang lain, keadaan, apakah keinginan saya terwujud atau tidak, hasil ujian bagus atau tidak atau kondisi di “luar diri kita” lah yang sering kali mempengaruhi kebahagiaan saya.
Tapi konsep- keadaan di luar kita mungkin bisa mempengaruhi kondisi di dalam diri kita- tapi kita bisa menjadi independent terhadap itu semua. Artinya tidak tergantung dari kondisi-kondisi di luar kita. Bayangkan?
Jadi itukah titik yang telah dicapai oleh pendahulu seperti Budha, Bunda Teresa, Gede Prama? Saya menjadi lebih mengerti sekarang. 
Itulah kenapa seringkali para tercerahkan mengatakan, kebahagiaan itu tergantung diri kita sendiri, ada di dalam diri kita sendiri. Selama ini saya masih dalam tataran "tahu" tentang konsep tersebut, dan mencoba mempraktekkannya tentu saja. Tapi seringkali masih gagal karena terpengaruh oleh kondisi-kondisi di luar diri saya misalnya hasil eksperimen gagal, mendapat perlakuan tidak seperti diharapkan dan lain-lain. Itu terjadi karena saya masih belum independent terhadap kondisi di luar diri saya.  
Tapi kira-kira bisa nggak sih mencapai titik balance itu? menjadikan happiness is a state of being?
Banyak pendahulu-pendahulu yang memberikan bukti mereka mampu berada di titik itu. Mari berjalan seperti mereka. Happiness is a skill, ternyata harus dilatih terus, dan terus.
Saya pun belajar menjadi semakin aware dengan the power of mind. Bagaimana mengendalikan pikiran kita adalah kunci menciptakan hidup yang luar biasa. Tadinya saya berpikir mengeliminasi pikiran negatif itu nggak mungkin karena aliran pikiran negatif itu secara alamiah terjadi. Tapi ternyata semua itu bisa dilatih, dengan disiplin dan terus menerus. Bagaimana kita terus mencoba memfokuskan diri pada pikiran-pikiran positif, kebersyukuran, kecukupan, keberlimpahan, cinta, kasih ternyata bisa berubah menjadi kebiasaan sehingga lama-lama kita akan terbiasa berpikir positif. Pikiran positif tentu saja akan menciptakan hidup yang positif pula.
Satu hal yang sedang saya pelajari sekarang adalah belajar semakin aware, semakin sadar kala pikiran pikian negatif mulai berseliweran di kepala.
Ketika mulai selintasan kecemasan, takut kehilangan, risau, kecewa, sebel mulai beruntun melintasi pikiran, ketika kita aware..akan ada semacam alarm peringatan.
            “Hayoo hayoo, di pindah channel ke yang positif-positif," ada chatter box seperti itu di kepala yang kadang-kadang mengingatkan diri sendiri.
Atau sekarang ini yang sering saya mantrakan ke pikiran saya kala sudah sadar beberapa pikiran negatif melintas adalah
“ Create! Create! Create!” perintah saya pada diri saya sendiri. Artinya saya harus mencoba menciptakan pikiran dan persepsi yang positif untuk menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang mulai melintas. Saya sadar kekuatan pikiran luar biasa dahsyatnya, jadi saya belajar bagaimana mengontrol pikiran saya. Hidup kita adalah hasil apa yang kita pikirkan dan persepsikan.
Mari ciptakan hidup luar biasa, seluarbiasa apa yang kita pikirkan, dengan luar biasanya  cara kita bersyukur dan menjalani hidup. Hidup yang kita inginkan, hidup yang kita maknai seperti apa yang benar-benar kita inginkan.
Salam perjalanan ke dalam diri

Glasgow, Saat kota ini dihiasi mekarnya cherry blossom seperti yang saya tangkap lewat kamera saya pada gambar di atas.

  

Saturday, 11 April 2015

Easter Break : Menjelajah Linlithgow Palace




Kami di UK mendapat jatah libur 2 hari untuk menghormati yang merayakan paskah, hari jumat dan hari senin lalu, jadi total bisa break selama 4 hari. Sedangkan untuk anak-anak sekolah kabarnya libur sampai 6 minggu heuheu enak ya. Dan kemana easter break kali ini? Tahun lalu saya masih ingat saya pergi ke lake district untuk mengisi easter break. Catatan perjalanannya ada di sini. Dan kali ini saya jalan-jalan ke daerah Scotland saja *liburan murah meriah, yakni ke daerah bernama Linlithgow.
Awalnya random sih, sampai paginya kami juga masih belum memutuskan mau kemana. Tadinya mau ke the kelpies trus lanjut ke Linthgow. Jadi hari itu kami asal aja ke Queen street lalu beli tiket, karena tiket ke Edinburgh dan ke Linlithgow sama harganya dan satu jalur akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket Glasgow-Edinburgh return seharga 8.35 GBP.
            “ Ntar kalau ada waktu bisa ke Edinburgh Zoo trus mampir ke tempat makan biasanya (biasanya kami makan di Kitchen mosque di dekat Uni of Edinburgh, halal, enak dan terjangkau harganya)," kata teman seperjalanan saya. Iya baiklah, kami memang super random, yang penting jalan-jalan.
Kemudian kami naik kereta sekitar 20 menit dari Glasgow Queen Street sampai ke Linlithgow. Cuaca hari itu cerah ceria, matahari bersinar dengan hangatnya. Ramalan cuaca yang kami lihat memang selama Minggu dan Senin cuacanya bakal bagus. Dan tentu saja cuaca bagus itu langka di Scotland. Jadi ya, kami bersyukur hari itu cuacanya sangat mendukung untuk jalan-jalan. Dan satu lagi, enak banget rasanya jalan-jalan tanpa coat tebal. Kami sampai di Linlithgow sudah tengah hari karena berangkat dari Glasgow juga siangan. Linlithgow terletak di utara-timur dari West Lothian, dekat perbatasan dengan Stirlingshire. Kota ini terletak 20 mil (30 km) sebelah barat dari Edinburgh sepanjang rute kereta api utama ke Glasgow.
Begitu sampai stasiun, mata saya langsung menangkap spot cantik buat foto, ..langsunglah saya mengajak teman seperjalanan untuk mampir foto di sana, ternyata sekolah SD. Ya ampun cantik begitu bangunannya..simetris desain kanan dan kirinya, coba saja perhatikan

Tujuan wisata utama kota ini memang Linlithgow Palace, tempat lahirnya James V dan Queen Mary of Scot, Ratu Skotlandia. Mary of Scot lahir pada tahun 1542 dan menjadi ratu setelah 6 hari kelahirannya. Hiyaa masih bayi udah jadi ratu ya. Linlithgow Palace ini dibangun pada tahun 1424 oleh James I of Scotland dan pernah terbakar pada tahun 1424. Setelah kebakaran tersebut, James I memulai rekonstruksi istana tersebut dan menghabiskan 200 tahun untuk menyelesaikannya. Wah lama banget yaa.
Untuk mencapai istana ini sangat gampang dari stasiun, hanya sekitar 10 menit jalan kaki sampailah kami di Linlithgow Palace. Untuk masuk ke istana ini, harga tiket untuk dewasa sebesar 5.50 GBP, tapi karena kami member dari historic Scotland jadinya kami bisa free masuk ke sana ayeeee. 
 
pose dulu sebelum masuk ke palace

Dalam istananya biasa aja sih, nggak semewah Stirling Castle. Tapi kami bisa naik ke atas dan bisa melihat dari puncak palace, dimana dari situ bisa memandang hamparan danau Linlinthgow (Linlithgow loch). Memang letak palace ini sangat sempurna dengan dikelilingi oleh loch/ danau jadi terlihat sangat cantik. Lihatlah foto-foto yang kami ambil dari puncak palace, rasanya betah berlama-lama memandangi hamparan pemandangan yang sangat memanjakan mata
 
Linlinthgow loch terlihat membiru dari puncak Linlinthgow Palace
 
Foto ini diambil dari lubang angin puncak tertinggi Linlinthgow Palace..breathtaking scenery banget
Dan yaaa..tetap saja acara utamanya adalah foto-foto ria dan mencobai lensa baru. Masih rada kagok memakainya karena lensa fix, nggak bisa zoom. Tapi seru juga bereksperimen dengan lensa baru ini, walau tentu saja berganti ganti dengan lensa standar kit bawaan Nikon D5100 saya itu.

ini di lorong lorong bagian dalam Palace

Usai puas menjelajah palace, huhuh lumayan melelahkan juga naik turun tangga, kami memutuskan untuk leyeh leyeh di hamparan rerumputan sambil memandangi loch dari kejauhan. Plus makan siang tentu saja karena perut sudah keroncongan. Dan strategi wisata murah meriah kami adalah membawa bekal sendiri. Selain dipastikan halal (agak susah memang mencari tempat makan halal selain kebab dan fish and chips), pastinya jauh lebih murah. Kali ini menunya tahu telur (telur dicampur tofu lalu digoreng enak bangeeet) , tempe goreng dan sayur ahaay nikmatnyaaaa  plus teh panas yang kami juga bawa. 
            “Kayaknya kalau foto dari kastil dari jauh bagus deh, dari seberang loch kayak di foto foto di internet itu” kata saya ke teman seperjalanan. Sebelumnya saya cek foto foto Linlinthgow Palace, kebanyakan diambil dari seberang Loch, jadi palacenya kelihatan dari jauh, nampak cantik sekali. Dan kami akhirnya jalan-jalan santai mengelilingi Loch yang lumayan luaaaassss. Kami mengamati nelayan-nelayan yang baru saja selesai melaut, melihat mereka menimbang hasil tangkapan mereka. Sempat pula tergoda membeli es krim di tengah teriknya hari namun setelah melihat harga dan porsinya yang sedikit tapi mundur dari antrian *wisata pelit ahaha.
Benar saja, pemandangan palace dari seberang loch terlihat cantik sekali, dan waktunya bernarsis ria ehehe.

ini nyobain lensa baru, latihan bikin bokeh..lumayan laah hasilnya
 
shoes-selfie di LinlinthgowLoch

Favorit banget pemandangannya

 
biasanya lensa kit bawaan nggak bisa nangkep foto dengan depth of field sedalam ini

Linlinthgow palace di belakang

 
Pemandangan dari tempat kami berhenti untuk sholat..betah banget di sini lama-lama
Untuk bisa mengelilingi loch cukup lumayan memegalkan kaki juga. Hampir sejam-an lebih kami berjalan, kalau total diselingi foto-foto ya pasti lebih dari itu hihi. Ketika kaki mulai pegal, ada kursi yang tersedia untuk melepas lelah. Kami juga menyempatkan untuk sholat di pinggiran loch.
            “ Udah sore ternyata, nggak jadi kayaknya nih kita ke Edinburgh” kata teman seperjalanan saya. Haha iyaaah ternyata kami keasyikan menikmati LInlinthgow palace dan lochnya. Tak apa, tujuan jalan-jalan kan menikmati suasana yang ada. Dan hari itu terasa begitu sempurna dengan cuaca yang cerah dan pemandangan yang menakjubkan. Scotland ini semakin dijelajah semakin cantik. Benar-benar saya akui hal tersebut. Selama perjalanan sudah disuguhi lanskap yang cantik di luar jendela bis atau kereta, begitu sampai lokasinya, dimanjakan dengan objek wisata yang ada. Satu-satunya kelemahannya hanyalah cuaca, dan hari itu begitu sempurna karena cuaca sangat bermurah hati pada kami.
 
Menjelang senja
Lalu kamipun beranjak pulang, tadinya mau mampir ke the kelpies, tapi kaki sudah pegal dan juga waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, walaupun suasana masih benderang. Tapi rasanya Glasgow sudah memanggil manggil pulang.
Terimakasih untuk easter break yang super menyenangkan. Bila kalian ke Scotland, Linlinthgow sangat recommended untuk dikunjungi lho.

Salam perjalanan