Friday, 17 April 2015

Happiness is #

Cherry Blossom in Spring, Glasgow (dokumentasi pribadi)



Every man wants to be happy, but in order to be so he needs first to understand what happiness is (Jean-Jacques Rousseau)
                                                                         


Sebuah buku kembali datang pada saya. Iya, saya mengambilnya dari rak buku di sebuah charity shop di Great Western Road, harganya murah saja hanya sekitar 1.50 GBP.
Kenapa lagi-lagi soal buku tentang bahagia?
Apa saya nggak bahagia sampai harus baca buku begitu begitu? Hihi, No. Saya kini semakin menyadari bahwa saya tipe seeker, tipe pencari. Saya suka mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya akan hidup. Saya menikmati proses pencarian, penantian, penemuan, hilang, menemukan lagi, ah iya..saya menikmati perjalanan.
Dan saya bacai buku tentang bahagia tadi, yang berjudul " Happiness- a Guide to Developing Life's Most Important Skill" ditulis oleh Matthieu Ricard, seorang buddist monk yang tadinya seorang peneliti cellular genetics.
Kalau kemarin-kemarin, buku Conversation with God, saya bisa baca hanya dua kali dudukan, namun untuk buku ini saya memerlukan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Pertama, karena bahasanya “berat” heuheu. Iya, buku ini bahasanya rada berat, sehingga kecepatan saya membaca (dalam bahasa inggris) pun tidak secepat kalau bahasanya ringan-ringan saja. Penulisnya banyak menggunakan diksi antah berantah yang saya kadang nggak ngeh, tapi malas cari kamus-jadi akhirnya tebak tebak buah manggis, dilihat dari konteks kalimatnya apa. Kedua, isinya memang berat ahaha. Buku ini semacam review dari berbagai macam buku-buku yang mengupas tentang kebahagiaan yang dibaca oleh si penulis.
Tapi ternyata keren banget ini buku, karena saya menemukan AHA moment dalam buku ini. Walaupun awalnya sering dibikin gemes sama ini buku,
“Kenapa sih, teoritis banget nerangin perbedaan pleasure, joy dan happiness?
But what?
Ternyata memang saya sering keliru, menganggap pleasure, joy sebagai Happiness. Dan dengan mengerti perbedaan antara pleasure dan happiness, akhirnya saya tiba dalam titik pemahaman lebih dalam tentang happiness. Dulunya saya lebih mengartikan happiness pada kondisi seperti saat harapan kita terwujud, keinginan kita tercapai, kondisi baik-baik saja, lulus kuliah, dapat beasiswa, ketemu teman, ketemu pasangan, bersama keluarga bla bla dimana keadaan di luar kita nampak selaras dengan mau kita. Harapan kita sesuai dengan kenyataan.
Namun di posting saya  di sini , saya menemukan bahwa saya merasa bahagia walaupun dalam kondisi hidup yang tidak ideal (menurut saya). Hingga saya akhiri posting tulisan saya tersebut dengan ketidaktahuan, alih-alih mencoba mencari definisi lebih baik dirasai saja kebahagiaan yang mengada.
And then, dalam buku ini saya menemukan sesuatu yang lebih dalam
" unlike pleasure, genuine flourishing may be influenced by circumtance, but it isn't dependent on it.  Authentic happiness is not linked to an activity, it is a state of being"
Selama ini kondisi di luar seperti cuaca, perlakukan ataupun ucapan orang lain, keadaan, apakah keinginan saya terwujud atau tidak, hasil ujian bagus atau tidak atau kondisi di “luar diri kita” lah yang sering kali mempengaruhi kebahagiaan saya.
Tapi konsep- keadaan di luar kita mungkin bisa mempengaruhi kondisi di dalam diri kita- tapi kita bisa menjadi independent terhadap itu semua. Artinya tidak tergantung dari kondisi-kondisi di luar kita. Bayangkan?
Jadi itukah titik yang telah dicapai oleh pendahulu seperti Budha, Bunda Teresa, Gede Prama? Saya menjadi lebih mengerti sekarang. 
Itulah kenapa seringkali para tercerahkan mengatakan, kebahagiaan itu tergantung diri kita sendiri, ada di dalam diri kita sendiri. Selama ini saya masih dalam tataran "tahu" tentang konsep tersebut, dan mencoba mempraktekkannya tentu saja. Tapi seringkali masih gagal karena terpengaruh oleh kondisi-kondisi di luar diri saya misalnya hasil eksperimen gagal, mendapat perlakuan tidak seperti diharapkan dan lain-lain. Itu terjadi karena saya masih belum independent terhadap kondisi di luar diri saya.  
Tapi kira-kira bisa nggak sih mencapai titik balance itu? menjadikan happiness is a state of being?
Banyak pendahulu-pendahulu yang memberikan bukti mereka mampu berada di titik itu. Mari berjalan seperti mereka. Happiness is a skill, ternyata harus dilatih terus, dan terus.
Saya pun belajar menjadi semakin aware dengan the power of mind. Bagaimana mengendalikan pikiran kita adalah kunci menciptakan hidup yang luar biasa. Tadinya saya berpikir mengeliminasi pikiran negatif itu nggak mungkin karena aliran pikiran negatif itu secara alamiah terjadi. Tapi ternyata semua itu bisa dilatih, dengan disiplin dan terus menerus. Bagaimana kita terus mencoba memfokuskan diri pada pikiran-pikiran positif, kebersyukuran, kecukupan, keberlimpahan, cinta, kasih ternyata bisa berubah menjadi kebiasaan sehingga lama-lama kita akan terbiasa berpikir positif. Pikiran positif tentu saja akan menciptakan hidup yang positif pula.
Satu hal yang sedang saya pelajari sekarang adalah belajar semakin aware, semakin sadar kala pikiran pikian negatif mulai berseliweran di kepala.
Ketika mulai selintasan kecemasan, takut kehilangan, risau, kecewa, sebel mulai beruntun melintasi pikiran, ketika kita aware..akan ada semacam alarm peringatan.
            “Hayoo hayoo, di pindah channel ke yang positif-positif," ada chatter box seperti itu di kepala yang kadang-kadang mengingatkan diri sendiri.
Atau sekarang ini yang sering saya mantrakan ke pikiran saya kala sudah sadar beberapa pikiran negatif melintas adalah
“ Create! Create! Create!” perintah saya pada diri saya sendiri. Artinya saya harus mencoba menciptakan pikiran dan persepsi yang positif untuk menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang mulai melintas. Saya sadar kekuatan pikiran luar biasa dahsyatnya, jadi saya belajar bagaimana mengontrol pikiran saya. Hidup kita adalah hasil apa yang kita pikirkan dan persepsikan.
Mari ciptakan hidup luar biasa, seluarbiasa apa yang kita pikirkan, dengan luar biasanya  cara kita bersyukur dan menjalani hidup. Hidup yang kita inginkan, hidup yang kita maknai seperti apa yang benar-benar kita inginkan.
Salam perjalanan ke dalam diri

Glasgow, Saat kota ini dihiasi mekarnya cherry blossom seperti yang saya tangkap lewat kamera saya pada gambar di atas.

  

0 comments:

Post a Comment