Monday, 11 May 2015

Ngamen Nari Saman di Buchanan Street, Glasgow

Terimakasih pada semua tim pendukung acara ini 

Kadang-kadang ada banyak hal besar yang terjadi “hanya” berawal dari iseng-iseng atau candaan belaka. Yang membedakan apakah hal tersebut bisa terwujud atau tidak hanyalah soal kemauan dan keseriusan kita. Hal ini kembali saya sadari setelah acara Saman Street performance a.k.a ngamen di Buchanan Street kemarin sabtu akhirnya terwujud dan berjalan lancar.
Tadinya cuma berawal dari candaan kami dan angan-angan kosong pas kumpul latihan nari saman untuk pentas di acara ASEAN-China Day di University of Stratclyde.
            “Eh, kapanlah kita tampil nari di Buchanan street gituu,” celetuk salah seorang dari kami. Dan kemudian disambut dengan antusias oleh anggota samaners lainnya. Tapi candaan itu kami anggap angin lalu belaka. Pengen sih, tapi sekedar becandaan iseng--begitu pikir kami tadinya.
Buchanan Street itu jalanan pusat kota yang ramai dengan lalu lalang orang-orang, kanan kirinya toko toko pusat perbelanjaan. Tempat itu relatif selalu ramai, apalagi pas weekend. Biasanya di sepanjang jalan ada yang ngamen seperti group Caledonia dengan atraksi khas ala Skotlandia dengan seragam kilt dan bag pipe mereka, ataupun juga pertunjukan lain sering saya lihat di Buchanan Street.
Ide ngaman nari saman sebetulnya seru juga, cuma gimana caranya bisa ngamen di sana kami nggak ngerti. Bagaimana perijinannnya, peraturannya, seragam samannya yang kami nggak punya, dan hal-hal lainnya.
Tapi memang benar, kadang-kadang hanya perlu kemauan dan keseriusan untuk membuat hal yang kita rencanakan terwujud.
Kemarin sabtu, 10 Mei 2015 sejarah tercetak dengan penampilan tari saman pertama kali di jalan (semacam street performance) di Glasgow. Finally We did it!
Begini ceritanya, ide tampil di Buchanan kembali muncul pas usai acara ASEAN-China Day ketika upload foto-foto trus terlontar lagi ide tampil di Buchanan. Tujuan awalnya untuk mempromosikan kegiatan Indonesian Cultural Day yang dilaksanakan Tanggal 18 Mei 2015. Alhamdulillah, Pak Nasir (salah seorang senior kami di sini) menyambut ide ini dengan kesediaan beliau untuk mencari informasi ke Glasgow city council, tanya tanya rekanannya tentang ijin street performance di Buchanan Street. Kemudian Ema, salah satu samaners-menjadi ketua acara ini-dan menindaklanjuti acara yang awalnya cuma iseng-iseng. 



Tujuan awal untuk mempromosikan ICD pun berubah ketika melihat waktu yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan sebelum ICD. Dan kebetulan kami juga sedang punya gawe untuk mengadakan semacam acara “kelas inspirasi” kolaborasi dengan Rumah Zakat di Indonesia. Untuk pelaksanaan acara yang rencananya akan diselenggarakan akhir Mei tersebut, kami membutuhkan sejumlah dana. Nah pas lah, kami akhirnya ngamen nari saman sekaligus penggalangan dana untuk kegiatan pendidikan tersebut
***
Penat mendera setelah sebelumnya menyibukkan diri dengan acara ICD 2015. Selain menjadi performer dengan nari saman, saya juga menjadi koordinator konsumsi yang cukup memakan energi beberapa hari sebelum acara. Koordinasi, menyiapkan menu untuk 200 orang, belanja, latihan saman, gladi resik, dan masak bagian saya yakni nasi kuning 4 kg dan 225 tusuk sate cukup melelahkan. Jadi usai acara akhirnya tepar bahagia *halaaah. Tapi keesokan harinya kami harus ngamen di Buchanan Street, tepat sehari setelah ICD. Kami memilih sabtu karena lebih ramai dan juga mumpung kostum saman belum dikembalikan. Alhamdulillah cuaca yang sebelumnya diramalkan bakal hujan ternyata benderang. Rupanya Tuhan merestui niat kami untuk ngamen sekaligus penggalangan dana tersebut.
Jam 1 siang kami kumpul dan memakai kostum di flat teh siska-markas besar tim samaners, sebelumnya saya sudah make up sendiri jadi tinggal memakai kostum saja. Dan sekitar jam 2 siang sesuai rencana kami ke Buchanan Street, dimana rekan-rekan kami yang lain terlebih dulu men-tag tempat dengan menyiapkan matras yang dialasi batik.
Acara ini banyak dibantu rekan-rekan PPI Glasgow yang lain, baik yang bantu urusan sounds system, tag tempat, MC, fotografer maupun urusan publikasi ke media. Aih, senanglah kalau semuanya dilakukan dengan kebersamaan. Lelah tapi senang.


Interaksi dengan pengunjung saat sesi workshop

Ngamennya berisi pertunjukkan tarian saman kami, kemudian diselingi workshop beberapa gerakan saman bagi para pengunjung yang ingin mencoba. Alhamdulillah para pengunjung antusias, menonton menikmati tarian kami, ada yang mencoba beberapa gerakan dan bermurah hati menyumbangkan dana. Kami memainkan tiga kali pertunjukkan full, dan pas tari yang ketiga kalinya rasanya badan sudah jompo ahaha lelah maksimalis. Ngamen yang kurang dari 2 jam tersebut berhasil mengumpulkan 155.70 pounds (sekitar Rp. 3.174.878) . Wuaaa luar biasa rasanya. Semoga dana yang terkumpul bisa dipergunakan sebaik baiknya untuk membantu pendidikan di Indonesia. Seneng sih rasanya, narinya aja seneng, dapat duit untuk tujuan pendidikan pula, untuk Indonesia pula. Jadi rasa senangnya itu berlipat-lipat, Alhamdulillah.
Selain bahagia, saya juga merasa bangga bisa menjadi bagian dari acara tersebut. Terimakasih atas kerja keras semua samaners dan tim pendukung acara ini. Kalian semua luar biasa.
Sekali lagi, saya percaya ketika ada rencana atau keinginan, cukuplah dengan bekerja lebih keras, berkemauan lebih kuat, dan konsistensi untuk bertekad mewujudkan, maka Tuhan akan mendatangkan orang-orang dari segala penjuru untuk membantu mewujudkannya.
I do believe that!

We did it, Ladies! 



Glasgow, 11 Mei 2015. 


Photo credit : Varyan Aryo

Publikasi acara di media di link ini

3 comments:

Arian Sahidi said...

wuihh,,, ditunggu tampil di Indonesia LIVE :)

nurma yunita said...

Keren!!
Barokalloh fiikum
Semoga Indonesia semakin menginspirasi

Siwi Mars said...

@arian : ahaha giliran nanti mahasiswa yang aku kompori bikin acara lucu lucu di Indo :D
@nurma yunita : ehehe terimakasih :)

Post a Comment