Hari masih gelap di
Heildelberg, udara dingin biasanya mulai terasa menjelang pagi. AC di Hotel
Adagio bersistem sentral yang diatur suhunya di 21 derajat celcius. Kita bisa
menurunkan dan menaikan tiga tingkat saja, sehingga kadang-kadang saya matikan
ACnya bila rasanya terlalu dingin. Sholat shubuh biasanya mulai pukul 3.15an
setelah itu biasanya saya masak untuk sarapan pagi. Awal-awal di Heidelberg
memang kami mempunyai jatah sarapan dari Hotel, namun beberapa hari lalu
Pauline mengambil kebijakan untuk meniadakan sarapan pagi di hotel dan
menggantinya dengan uang lump sum.
Dengan uang itu kami bisa membeli bahan-bahan makanan dan memasaknya sendiri. Mendingan
begitu sih, karena sarapan di hotel hanya paling roti-rotian saja yang bosenin hehe.
Makanya kami memasak beberapa bahan yang dibeli di Kaufland seperti sayur, mie, ikan-ikan dan telur. Seru sih, karena beberapa dari kami iuran untuk membeli bahan makanan dan dimasak kemudian makan bareng-bareng. Kamar kami bermodel studio dengan mini kictchen di kamar yang sungguh sangat bermanfaat bagi kami. Peralatan masak pun lumayan lengkap. Bahkan rice cooker pun bisa dipinjem di resepsionis bawah. Meja dan peralatan setrika, kulkas, alat-alat bersih-bersih juga tersedia. Memang sepertinya hotel ini didesain untuk orang yang tinggal untuk beberapa waktu, sehingga nyaman sekali.
![]() |
Mini Kitchen di Hotel Adagio |
Hari-hari di Heidelberg berjalan dengan
menyenangkan. Course di Heidelberg University tidak terlalu padat jadi kami
masih punya waktu untuk jalan-jalan. Menikmati rasa seperti mahasiswa lagi
tentu super menyenangkan bagi saya. Berangkat ke kelas menggunakan bus
ramai-ramai, kemudian mengikuti kelas course yang juga penuh materi yang sangat
bermanfaat plus pengalaman langsung menulis proposal hibah. Sungguh sangat
beruntung bisa ikut course di Heildelberg University ini.
![]() |
Diskusi group dalam penyusunan proposal |
Biasanya kami makan siang
di kantin/mensa university, atau pernah juga diundang makan siang di
restaurant. Pauline dan Shafiu, pribadi yang menyenangkan. Jauh dari label
“orang jerman yang cenderung kaku” seperti yang sering saya dengar. Kami juga
bertemu lagi dengan Anna, Jamila yang dulu bersama Pauline dan Shafiu ke Unsoed
Purwokerto. Saya menikmati berinteraksi dengan pribadi-pribadi yang ramah dan
hangat seperti mereka. Mungkin itu juga yang membuat pengalaman di Jerman
terasa menyenangkan.
Welcome dinner hehe makan malam yang belum malam |
usai welcome dinner |
![]() |
Usai kelas lalu jalan-jalan, kalau lapar mampir ke tempat makan halal-Sahara Restaurant |
Kaget juga ternyata keluhan asam lambung saya tidak pernah terasa lagi. Bahkan berani nyicipin minum kopi yang hampir setengah tahun ini puasa kopi. Gejala vertigo ringan seperti nggliyeng yang kata dokter spesialis syaraf, saya terkena gangguan syaraf perifer pun hilang seketika. Padahal salah satu yang diwanti-wanti oleh dokter spesialis syaraf adalah saya nggak boleh angkat barang-barang yang berat. Padahal saya seringnya di sini jalan kaki kemana-mana dengan mengunakan tas punggung yang lumayan berat. Mungkin aura bahagia merupakan obat alami yang lebih mujarab ya hehe..alhamdulillaah, lega sekali rasanya selama di Jerman saya malah jauh lebih sehat. Karena sebelumnya, saya agak khawatir dengan kondisi kesehatan saya sebelum keberangkatan kemarin.
Begitulah hari-hari saya
di Heidelberg, singkat namun begitu mengesankan. Sebuah pengalaman hidup yang
akan terus tersimpan dalam kenang indah. Semoga suatu saat, bertemu lagi ya,
Heidelberg!
0 Komentar