Heidelberg, Si Kota Jelita




Musim panas di Heildelberg tahun ini agak berbeda dari biasanya. Hujan yang turun cukup sering menghiasi langit Heidelberg terutama awal-awal kami tiba disana.

            “Jangan lupa membawa payung saat kemari,” begitu pesan Pauline beberapa hari menjelang keberangkatan kami kemarin.

Agak mengejutkan memang, karena tadinya yang saya siapkan kacamata hitam dan kipas angin kecil portable karena khawatir cuaca agak terlalu panas. Kalau di Glasgow dulu, Summernya tidak terlalu terasa musim panas karena aura glommy dan windy-nya kayaknya menghiasi setiap musimnya. Ternyata, Heidelberg juga penuh kejutan juga.

Tentu tak jadi mengapa, karena matahari juga bersinar cerah di beberapa hari selama kami disana, menikmati hangat pelukan kota.

Heidelberg, saya menyebutkan Si Kota Jelita karena memang cantik rupawan kotanya. Saat pertama kali melihatnya dari kejauhan ketika shuttle bus yang menjemput kami dari Bandara Frankfurt mengantarkan kami ke Heidelberg, terlihat landscape kota yang sungguh menakjubkan. Kastil Heidelberg yang menjulang terlihat menaungi kota, terasa tak sabar ingin segera mengunjunginya.

Suatu kota terasa mengesankan bukan hanya karena begitu cantik rupawan, tapi karena ada kenang yang tertinggal. Bukankah begitu bukan? Heidelberg terasa begitu berkesan tentu karena ada pengalaman tinggal di sana walaupun sebentar dan berinteraksi dengan orang-orang yang menyenangkan. Rombongan kami bersepuluh orang, ada 5 orang dosen dan 5 orang mahasiswa. Saya bersama dengan empat dosen lainnya, yakni Mas Budi, Mbak Dwi, Nindya dan Pak Suratman yang seringkali kami panggil simbah hehe. 

Kemudian mahasiswa S2 Kesmas yang berangkat ada Mbak Intan, Ananda bela, Bela Wiranti, Berta Ivana dan Bu Azizah. Untuk mahasiswa tentu ada mekanisme seleksi untuk menentukan kandidat yang terpilih. Berangkat dalam rombongan tentu vibes-nya berbeda kalau sendirian. Ternyata lebih seru dan menyenangkan. 

                                                                     

Kami beruntung dalam rombongan kami ada Mas Budi, Dekan sekaligus dosen kolega kami di Kesmas yang alumni Heidelberg University. Karena dia tentu sudah tahu betul tempat-tempat cantik mana yang bisa kami kunjungi seusai kelas. Biasanya kami selesai kelas di Heidelberg University sekitar jam 4 sore, dan kemudian kami jalan-jalan sampai sekitar jam 8-9 malam. Uhmm bukan malam gitu sih, karena memang matahari baru tenggelam sekitar jam 9 malam. Waktu maghrib di sini sekitar pukul 9.11 yang bisa digabung dengan sholat isya. Ada fatwa dari ulama jerman untuk rentang tanggal tertentu sholat maghrib bisa digabungkan dengan sholat isya. Pengalaman baru juga buat saya, karena seingat saya saat di Glasgow dulu walau ada waktu yang ekstrim saya belum menjumpai fatwa seperti itu. 

                                                   
Lalu favorit saya area mana dari Heidelberg yang paling cantik? duuh susah ini harus memilihnya. Salah satu spot favorit saya itu Alte Brucke, jembatan batu berarsitektur barok yang dibangun tahun 1788 dan menghubungkan Kota Tua dengan Neuenheim. Dari jembatan ini, kita bisa menikmati panorama indah kota serta patung 'Bridge Monkey' yang legendaris—katanya menyentuh cerminnya membawa keberuntungan dan membuat orang tersebut akan kembali ke Heidelberg. 

Dulu sebelum ke Heidelberg, foto-foto Alte Brucke ini yang paling saya suka pandangi. Dan ternyata bisa sampai juga melihat wujud aslinya. Rasanya sepertinya mimpi.

Kemudian favorit berikutnya ada Altstadt & Hauptstrasse, area kota tua dengan arsitektur abad pertengahan, jalan pejalan kaki terpanjang di Eropa, gereja kuno (seperti Heiliggeistkirche), butik, galeri, kafe, dan restoran – sebuah wujud romantisme dan sejarah yang betul-betul  hidup. Pokoknya nggak habis-habisnya kalau keliling area ini. Rasanya tiap sudut cantik, pengen foto lagi-lagi hehe. Ada barisan toko-toko souvenir juga yang bisa dipilih-pilih untuk oleh-oleh. Kalau lelah berjalan kaki-karena kemana-mana memang lebih banyak jalan kaki-kami istirahat sambil memesan kopi atau minuman lainnya. Duduk-duduk menikmati suasana musim panas di eropa bersama temen-temen dengan kebersamaan yang hangat. Duh high dose of happiness emang sih!


Tentu kesempatan ini tak lepas dari ijin, dukungan dan support system dari suami yang selalu mendukung kegiatan-kegiatan saya. Ada ibu saya yang diimpor beberapa hari untuk ikut menjaga Deva dan tentu saja Bu Imah pengasuh Deva yang sehari-hari membantu saya ketika saya di Jerman. Tanpa mereka, tentu saya tidak bisa menikmati pengalaman berharga selama di Heidelberg.
Uhmm lalu mana lagi area Heidelberg yang menawan? ah, nanti kita sambung lagi ya ceritanya.

Karena Si Jelita Heidelberg punya banyak pesona lainnya **



0 Komentar