![]() |
Aku bertanya-tanya kenapa
beberapa waktu ini rasanya disergap rasa rindu pada Heidelberg? Apakah aku
rindu kotanya, rindu suasananya, rindu rasa ketika berada disana, atau
semuanya?
Ah, mungkin semuanya.
” Aku tahu kenapa kamu happy selama berada di Heildelberg.
Karena kamu unreachable, orang-orang tau kalau kamu di Heidelberg. Kamu
nggak harus selalu dalam mode ”available”. Sementara kamu di sini harus dalam
situasi ”selalu tersedia”, begitu terang Pauline saat kamu berbincang usai
makan siang bersama Mas Budi, Mbak Arih dan Shafiu di hari terakhir mereka di
Purwokerto dua minggu lalu.
Setelah dipikir-pikir benar
juga analisanya. Kadang-kadang hari-hari yang penuh jadwal, rutinitas,
pekerjaan benar-benar menguras waktu dan energi. Rasanya sudah ingin mengambil
jeda.
Itu mengapa aku jadi teringat
jeda istimewa tahun lalu di Heidelberg. Walau hanya 2 minggu saja namun sampai
sekarang terasa begitu mengesankan. Hidup yang pelan dan menentramkan. Rutinitas
hari-hari yang justru memberikan kesempatan untuk me-recharge energi.
Aku ingat rasanya menemukan
diriku kembali di meja lobi hotel adagio usai memesan tiket kereta api ke
brussel. Aku ingat rasanya bersama-sama rekan rekan lainnya menikmati musim
panas di tepian sungai Neckar, di rerumputan hijau dengan pemandangan yang
memanjakan mata. Rutinitas usai kelas, mulai dari menjelajah sudut-sudut Heidelberg,
mampir ke bakery lokal beli pretzel atau
sekedar membeli bahan-bahan makanan di supermarket Kaufland atau Rewe. Hal-hal
sederhana yang justru mengesankan.
Kadang aku berpikir, mungkin yang kurindukan dari Heidelberg bukan hanya kotanya, melainkan versi diriku sendiri ketika berada di sana. Versi diri yang tidak terus menerus tergesa, tidak merasa harus selalu menjawab semuanya dengan cepat, tidak hidup di antara notifikasi dan daftar pekerjaan yang seakan tak pernah selesai.
Di Heidelberg, bahkan perjalanan pulang selepas kelas pun terasa menyenangkan. Langit musim panas yang masih terang di atas pukul delapan malam, suara tram yang berlalu pelan, orang-orang duduk santai di tepi sungai Neckar, hingga langkah kaki yang terasa lebih ringan saat menyusuri jalanan Altstadt. Aku menyukai bagaimana hidup terasa begitu sederhana di sana.
Kembali lagi merasai atmosfer kampus, belajar hal-hal baru, makan siang di kantin kampus bersama para mahasiswa. Sungguh kesempatan yang amat berharga yang tentu kusyukuri bisa merasai itu semua.
Saat ini saya bersama rekan-rekan yang akan berangkat ke Heildelberg Agustus nanti sedang menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Awalnya kami seharusnya berangkat Bulan Mei ini, namun situasi dunia nampaknya tidak memungkinkan. Ah semoga semua persiapan berjalan dengan lancar. Semoga dipertemukan lagi dengan Heidelberg yang pelan, yang tenang.
Dan mungkin, di tengah rutinitas yang sering terasa melelahkan, aku memang sedang merindukan perasaan itu. Perasaan ketika akhirnya bisa memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas.



0 Komentar