Sepanjang perjalanan dari Mannheim, kami mencari-cari tempat untuk mengisi hari minggu yang kosong belum ada agenda. Tadinya kami berencana untuk menyelesaikan tugas proposal dari short course yang kami ikuti yang harus disubmit hari senin. Tapi proposal kami sudah jadi dan sudah dikirim ke Pauline. Jadi jiwa jalan-jalan langsung meronta haha. Awalnya kami ingin ke Munich, kota besar yang tentu sangat terkenal di Jerman. Sepertinya memang must to see banget ya. Namun, ketika kami melihat opsi transportasi dan waktu yang tersedia hanya 1 hari rasanya tidak memungkinkan.
Saya jadi mengingat-ingat
dulu sebelum berangkat ke Jerman, pernah browsing kota-kota kecil yang cantik
yang dekat dengan Heidelberg. Yang saya ingat, salah satu kota yang menarik
hati saya itu karena ada istananya yang indah. Hanya saja aku lupa namanya.
Usai menghabiskan sore yang begitu manis di Dossenheim, kami kembali ke tempat
tinggal sementara kami di Hotel Adagio.
Kami
bersyukur bisa tinggal di Hotel Adagio selama di Heidelberg karena di pusat
kota, dekat dengan stasiun jadi memudahkan untuk kemana-mana. Mbak dwi sudah
tiba duluan di kamar, ia baru diajak jalan-jalan oleh keponakannya ke Frankfurt.
Dan yang paling menyenangkan mbak menik dan suami (keponakan mbak dwi) membelikan
kami fried-chicken halal! Tentu makanan yang sangat ditunggu-tunggu oleh kami
yang berlidah Indonesia. Kami yang habis lelah jalan-jalan ke Manheim dan dossenheim
dengan lahap makan bareng-bareng di kamar. Suasana penuh keakraban yang menyenangkan.
Sungguh berkesan.
Setelah teman-teman
ke kamar masing-masing. Saya masih penasaran dengan kota yang saya maksud itu,
dan mulai googling, dan ketemulah kota itu. Schwetzingen! Langsung saja saya wa
ke mas budi, bilang bagaimana kalau ke Schwetzingen saja untuk mengisi waktu
luang di hari minggu.
” Pakai tiket yang dikasih Pauline bisa nggak ya?”,
tanyaku. Kami dikasih tiket weekend yang katanya bisa dipakai untuk
transportasi di kota-kota sekitar Heidelberg. Jadi lumayan banget kan hemat
biaya transportasinya.
” Sepertinya bisa pakai tiket itu mbak, coba
dikomunikasikan ke teman-teman,” jawab mas budi.
Langsunglah saya share ke group
rombongan short course untuk menawarkan besok siapa saja yang mau bergabung ikut
jalan-jalan ke Schwetzingen. Jadilah saya, mas budi, mas dwi, nindya dan mbak
intan yang cus jalan-jalan kesana. Yang lainnya, memilih untuk tetap di Heildelberg
saja.
Paginya kami
berlima pergi ke Schwetzingen menggunakan kereta. Dari Heidelberg ke
Schwetzingen ternyata dekat sekali. Perjalanan dengan kereta hanya sekitar
20–30 menit, cukup singkat untuk sebuah day trip santai. Begitu kereta
mulai meninggalkan Heidelberg, pemandangan perlahan berubah menjadi area yang
lebih tenang dengan hamparan hijau dan kota-kota kecil khas Jerman.
Keluar dari
stasiun Schwetzingen, kami disambut hujan rintik-rintik yang membuat kami harus
mengeluarkan payung dari tas. Pagi yang dingin dan syahdu, menyambut kami di
kota itu. Ternyata wisata utama yakni Schwetzingen Palace sangat mudah dijangkau
dari stasiun. Hanya dengan berjalan kaki saja, tidak terlalu jauh sudah sampai
ke istananya. Untuk masuk ke taman Schwetzingen Palace, tiketnya sekitar 9 euro
saat musim semi dan musim panas. Menurutku cukup worth it, karena taman
istananya luas banget dan penuh spot cantik untuk jalan santai maupun
foto-foto.
Dari luar,
istana ini terlihat elegan dengan arsitektur khas Eropa abad ke-18, tetapi
bagian yang paling memikat justru tamannya. Lorong-lorong pepohonan yang
simetris, air mancur besar, patung klasik, dan hamparan taman hijau membuat
tempat ini terasa seperti lukisan. Saat berjalan di dalamnya, rasanya seperti
masuk ke dunia yang jauh lebih tenang dari hiruk-pikuk kota besar.
Yang paling
menarik perhatian adalah pavilion bergaya masjid di dalam kompleks taman
istana. Bangunan itu berdiri unik di tengah taman Eropa klasik, menciptakan
perpaduan budaya yang tidak biasa. Cahaya matahari sore yang jatuh di antara
pepohonan membuat suasananya terasa hangat. Aku inget pesen suamiku, kalau di
sana nemu masjid, dia pengen dikirimi foto-fotonya. Jadi aku tentu berfoto
dengan latar belakang masjid itu. Unik dan cantik.
Kami asik
berjalan menikmati istana dan tamannya yang super luas. Daun-daun di Bulan Agustus
ternyata sudah mulai berwarna kekuningan khas mulainya musim gugur. Saya membayangkan
bisa menikmati suasana musim gugur, pasti cantik sekali ya. Daun-daun yang
berubah warnanya.
Meski
ukurannya kecil, Schwetzingen punya pesona yang sulit dijelaskan. Kota ini
bukan tempat yang ramai atau penuh atraksi besar, tetapi justru ketenangan,
taman yang indah, dan ritme hidup yang santai membuat ingin berlama-lama di
sana.
Usai dari
istana Schwetzingen, rasanya ingin makan sesuatu jadi kami berjalan mencari tempat
makan. Karena datang di hari Minggu, suasana Schwetzingen terasa jauh lebih
tenang. Banyak toko, cafe dan supermarket tutup, sesuatu yang cukup umum di
Jerman karena hari Minggu dianggap sebagai hari istirahat atau Ruhetag.
Jalanan kota terlihat lebih lengang, hanya beberapa café dan restoran yang
masih buka. Awalnya terasa aneh melihat pusat kota begitu sunyi, tapi lama-lama
justru suasana itu yang membuat perjalanan terasa lebih santai dan khas Eropa.
Syukurlah
kami menemukan ada kedai makanan halal yang buka, akhirnya kami makan di sana. Kami
makan bersama di luar dengan meja-meja, menikmati suasana lengang, santai dan
menenangkan di kota kecil itu. Obrolan yang hangat dengan teman-teman
seperjalanan tentu membuat hatiku hangat.
Usai makan, kami memutuskan
untuk pulang menggunakan bis.
”Biar beda suasanya, kita coba pakai bis saja,” ujar
mas budi kala itu.
Jadilah kami berlima naik bis
menuju ke Heildelberg. Kami berlima duduk di bagian belakang bis. Awalnya kami
ngobrol seperti biasa, namun karena lelah berjalan jalan, kemudian perut yang
kenyang. Ternyata kami semua ketiduran di bis. Dan baru sadar ketika mendengar
teriakan supir bis yang mengatakan kami sudah di akhir rute bis itu.
Kami gelagapan dan
buru-buru turun. Dan kemudian baru menyadari kalau kami keblablasan haha...dan
waktu tertawa bersama-sama. Sungguh perjalanan yang mengesankan!
Akhirnya kami mencari lagi rute menuju pulang ke Heildelberg. Dengan kepingan
cerita indah tentang perjalanan ke kota kecil yang rupawan, Schwetzingen! *




.jpg)
0 Komentar