Saturday, 6 December 2008

Maryamah Karpov Mimpi-Mimpi Lintang


Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan

Buah paling manis dari berani bermimpi

Adalah kejadian-kejadian menakjubkan

Dalam perjalanan menggapainya


Tetap mempesona dengan permainan kata-katanya yang selalu mampu menyihir pembaca untuk terus meruntuti baris-baris kalimat dan masuk dalam petualangannya, Itulah Andrea Hirata!

Karya pamungkasnya yang berjudul Maryamah Karpov melengkapi tetralogi Laskar pelangi yang semakin meneguhkan Andrea dalam jajaran penulis yang berkelas. Memang tidak banyak penulis natural yang mampu menggabungkan sastra, sains, budaya menjadi suatu kesatuan yang bukan hanya enak dinikmati pembaca namun memberikan pesan moral dan inspirasi bagi tidak sedikit masyarakat. Sejak booming Laskar pelangi memang nama Andrea Hirata telah masuk dan langsung melejit dalam kancah karya sastra Indonesia. Menyegarkan dari segi piihan kata dan baris kalimatnya yang bertabur metafor menggelitik. Dan tentu saja, satu hal yang menjadi titik sentral kemagisan karya Hirata adalah daya penuturan kisahnya yang luar biasa.

Di tengah berita tidak sedap tentang pernikahannya dengan seorang wanita bernama Roxanne, peluncuran buku Maryamah Karpov yang telah ditunggu jutaan penggemar tetralogi Laskar Pelangi mungkin bisa menjadi penyejuk. Makanya setelah mengunjungi Book fair grup Gramedia di lantai 3 Sri Ratu yang cukup menguras kantong, aku menyempatkan diri cuci mata di Gramedia Lantai 2..ups, ternyata Maryamah Karpov telah terbit! Sempat menimbang apakah beli sekarang atau tidak, pasalnya jatah beli buku bulan ini sudah benar-benar jor-joran. Tapi setelah terlintas pikiran “toh cepat ato lambat bakalan beli, hee..beli sekarang aja!” akhirnya buku Maryamah Karpovpun berhasil kubawa pulang!!

Bila Edensor, buku ketiganya berkisah tentang petualangannya di Eropa, Maryamah Karpov melanjutkan kisah si ikal pulang kembali ke tanah kelahirannya di Belitong. Setelah baru sekali membaca cepat (biasanya nanti trus diulang lagi membaca beneran), apa yang terlintas di pikiranku saat usai membacanya?

Maaf bila kalian tidak setuju! Tapi menurutku banyak bagian dalam buku yang bertebal 504 halaman dan terdiri dari 73 mozaik ini yang harusnya dipangkas. Banyak mozaik (istilah buku ini untuk Bab) yang mungkin terlalu dipaksakan untuk hadir, jadi berkesan banyak hal yang tidak perlu diceritakan. Hal ini berlawanan dengan Edensor yang menurutku terlalu singkat karena seharusnya masih banyak hal yang bisa untuk dikisahkan malah terlewatkan. Entahlah, mungkin banyak pertimbangan dari penerbit dengan karya keempat yang cukup tebal ini.

Antiklimaks! Maaf sekali lagi, itupun tak bisa dihindari terasa dalam alur ceritanya. Si ikal yang pulang kampung dari gemerlap dan menakjubkannya Eropa, kembali ke Belitong dan menganggur sekian lama! Hingga ia harus mendengarkan ceramah Ibunya setiap pagi. Walaupun tetap angkat topi buat Hirata yang sekali lagi mampu menghadirkan sebuah kisah “tidak menyenangkan” dengan gaya bertuturnya yang kadang meneterwakan nasib yang sebenarnya tengah tak berpihak padanya.

Yang mengejutkan, Arai akhirnya menikah dengan Zakiah Nurmala!!! Wow..sama sekali tak terduga! Si Arai yang telah entah berapa kali ditolak mentah-mentah akhirnya mampu meluluhkan si “perempuan bersaraf tegang”itu. Namun kok cerita Arai berhasil memenangkan cinta Zakiah Nurmala begitu sederhananya ya? Nggak seru! (Hush ini kisah nyata, bu...masa harus dipoles bumbu biar seru ehehe).

Si ikal terus mencari Aling, setelah mendapat tanda-tanda keberadaan Aling di pulau batuan, Ikal dibantu sahabat Laskar Pelanginya membuat perahu untuk menyebrangi pulau demi mencari pujaan hatinya itu.

Busyet..cinta Ikal pada Aling ini memang bisa dikategorikan sebagai cinta gila rupanya. Singkat kisah, Ikal dengan berbagai perjuangannya bisa bertemu lagi dengan Aling, namun saat ia meminta ayahnya untuk merestui pernikahan Ikal dan A ling, ternyata lelaki pendiam itu mengatakan TIDAK!!. Pada halaman terakhir saat Ikal dan Aling bertemu, ending cerita dibiarkan menggantung, apakah Ikal akhirnya melarikan Aling?ataukah cinta mereka akan kandas?Nggak ngerti!

Bagaimana dengan keyakinan Ikal dan aling yang berbeda karena Aling adalah gadis Ho Pho? Kenapa Ayah ikal mengatakan TIDAK untuk hubungan mereka?Apakah memang saat ikal bertemu lagi dengan Aling yang dicarinya sampai ke penjuru dunia, ia masih merasakan “pesona si gadis berkuku cantik” itu? Apakah Aling hanya sebuah obsesi yang selalu memenuhi pikiran ikal?Entahlah, tapi karena ini cerita memoar jadi aku tergelitik untuk bertanya..

Kemudian kenapa saat tokoh-tokoh laskar pelangi asli bermunculan di layar TV, tapi mana A ling???

Namun di tengah berbagai pertanyaanku tadi, secara keseluruhan karya Andrea Hirata tetap merupakan karya satra jempolan karya anak bangsa, Salut, Ikal!

Kapan aku bisa seperti engkau???ehehe..

2 comments:

p_Neee kuRoAoi said...

curang! dah beli duluan.. pesenanku dtg tgl 12 bsk. abis trakhir ke gramed crb lum ada.

yah mba..mba ya mba. andrea ya andrea. klo mba jd andrea ga asik ah..
dalam arti lain loh..

MARS said...

ehehe..Maksudnya kapan bisa nerbitin buku keren kayak punya bang Andrea, gitu loh Pen..

Post a Comment