Tuesday, 9 March 2010

Takdir Terkunci di Barcelona


Angin Mediterania Barat bertiup tak begitu kencang menjelang akhir Bulan September, membuat sepanjang jalan Las Ramblas yang membelah kota Barcelona begitu nyaman untuk dilewati. Jajaran pepohonan di kanan kiri jalan jantung kota ini nampak bisu ikut menyimak pembicaraan kami. Burung-burung merpati yang beterbangan di sepanjang jalan turut menguping bahasa aneh yang mungkin belum pernah mereka dengar.

”Bagaimana Barcelona menurutmu?” ia bertanya sambil merapikan kameranya.

” Seperti surga yang asing, uhm..cantik, mempesona, hidup, tapi denyutnya belum kurasakan dengan penuh.” Hanya jawaban itu saja yang mampu mampir di kepalaku yang saat ini tengah beku. Beku, yah beku karena harus bekerja keras memerintahkan agar degup jantungku tetap tenang.

“Uhmm.. begitu ya? tapi mungkin sebentar lagi surga itu akan terasa seperti rumah bagimu. Eh, mampir minum kopi sebentar yuk, Bar La Questas itu langgananku, kopinya mantap,” ajaknya sambil menunjuk sebuah bar di antara deretan bangunan di sepanjang Las Ramblas.

Aku bergegas mengikuti langkahnya yang panjang-panjang menuju sebuah bar yang nampak ramai. Aku benar-benar buta daerah yang baru kujejaki selama dua hari ini. Bahasa yang cepat dan nadanya mendayu-dayu berdesingan di telingaku tanpa bisa kumengerti satupun artinya. Ah, mungkin hanya Gracias, Senorita, sedang kosakata yang lainnya aku tak mengerti sama sekali. Orang-orang dengan wajah asing berlalu lalang dengan urusan dan pikirannya masing-masing, membuatku merasa terkucil. Hanya wajah orang yang tengah meneliti menu bar di sampingku saja yang kukenali. Hingga entah mengapa tiba-tiba sebuah pertanyaan menyeruak “Untuk apa berkelana sejauh ini?” pertanyaan itu membuatku tersenyum sekilas. “Demi menemuinya tentu saja!” bisik hatiku, mencoba meyakinkan tekadku lagi. Setengah mati aku mencari kesempatan mengikuti seminar ataupun workshop di Spanyol untuk bisa menemuinya lagi, hingga pada akhirnya jagat raya mau bekerjasama membantuku menemukannya. Keikutsertaanku pada workshop tentang stem cell di Barcelona Genomic Regulation Center selama seminggu merupakan alasan yang sempurna untuk mencarinya, menemuinya. Aku tersenyum dalam hati menyadari bahwa terkadang cinta sanggup membuat seseorang melakukan hal-hal yang tak terduga.

Aku memandang wajahnya sekilas saat ia memesan cappucino hangat pada pelayan bar La Questas. Ah, Mas Elang tidak banyak berubah, wajahnya yang khas Jawa tulen dan sepasang mata hitam granitnya, kini bisa kulihat lagi setelah begitu lama tak melihatnya. Hatiku menghangat tiba-tiba, kuhembuskan nafas perlahan, menekan kegugupan yang melanda. Mungkin memang dia! benarkah, Tuhan? lelaki yang kukunci dalam hatiku sekian lama itu, kini telah ada di depan mataku. Dan kini melemparkan senyuman yang bisa membuatku tersedak saat menyesap coffee latte yang baru saja disajikan.

’’Uhm..ada apa?“ tanyaku dengan ekspresi keheranan melihat senyum di wajahnya. Ia tersenyum lagi, dengan sepasang mata hitam granitnya yang dalam, menyilaukan hatiku. ”Ah Tuhan, memang tidak sia-sia aku mengejarnya kemari,” kataku dalam hati. Walaupun sebenarnya aku menyadari peluang yang sama sekali tidak meyakinkan.

”Lama juga kita nggak ketemu ya, Cha?uhm..sekitar satu tahun sejak kita bertemu di Yogya. Kau nampak semakin dewasa sekarang” ia menyesap kopi di cangkirnya, dan memandangku seketika. Deg, takdir jatuh!

” Waduh...makin dewasa apa makin tua nih maksudnya?ehehe. Waktu kan terus berjalan Mas, hidup terus berjalan, tiap orang terus berubah. Mas Elang juga berubah, tambah apa ya,” aku berpura-pura menelitik perubahan yang ada pada dirinya.

” Tambah rontok nih rambut, gara-gara stress mikirin tesisku yang nggak selesai-selesai ehehe” tawanya yang renyah menghangatkan udara di sekitar kami dan menghangatkan seluruh ruangan di hatiku tentu saja.

Saat terakhir kali melihatnya, eh tunggu! pertama kali sekaligus juga berarti terakhir kali melihatnya satu tahun yang lalu di sebuah seminar nasional bioteknologi di Jogya. Tapi apa aku harus menyalahkan Tuhan bila pertemuanku yang hanya sesaat dengan Mas Elang saat itu menimbulkan loncatan-loncatan listrik dalam hatiku, memicu jantungku berdetak begitu cepat saat melihatnya dan membuatku berkeyakinan untuk ”mengejar”nya?. Ah, ”mengejar cinta”, rumus yang sebelumnya tak pernah ada dalam kamus hidupku. ” Aku percaya Tuhan akan memberikanku seseorang yang tepat di waktu yang tepat, semua indah pada satina,” jiahh..kalimat pamungkas yang terkesan filosofis dan bijak, kalimat andalan saat orang-orang di sekelilingku menanyakan soal pernikahan dan jodoh. Tapi pertemuanku dengan Mas Elang pada akhirnya membawakan kesadaran bahwa aku telah salah mengartikannya, karena seharusnya ada peran usahaku, perjuanganku untuk menemukan orang yang tepat dan menentukan waktu yang tepat.

Dan apakah sekali lagi aku harus menyalahkan Tuhan bila ternyata setelah Dia menganugerahiku sebentuk perasaan yang kunamai cinta itu, Dia segera membawa Mas Elang pergi diterbangkan mimpi-mimpinya ke Negeri Spanyol. Aku tersenyum getir saat mengetahui ia melanjutkan studinya di bidang biologi molekuler di Barcelona, tempat yang sebelumnya tidak pernah terlintas di kepalaku, selain kukenal karena klub sepakbola tempat Lionel Messi merumput itu. Dan lagi-lagi aku semakin penasaran apa rencana Tuhan karena tak jua mengerti mengapa perasaan yang kukira akan layu sebelum berkembang itu tetap bertahan hingga kini. Seperti perasaan aneh dan mistis yang kuberi nama ”keyakinan” bahwa dengan dialah akan kuhabiskan sisa hidupku. Titik, tidak ada satu keraguanpun tentang itu!

”Bagaimana coffee latte nya? Enak?” pertanyaannya memecah lamunanku. Aku buru-buru meneguk lagi coffee latte dari cangkir di hadapanku.

”Uhmm..enak”, jawabku singkat sambil mengacungkan ibu jariku. Sebenarnya jauh lebih enak daripada coffee latte yang sering menjadi teman nongkrongku di cafe-cafe sambil berlama-lama berkelana di dunia maya. Yah kopi, yang membuat semua temanku geleng-geleng kepala mendapatiku begitu hangat bersenyawa dengan butiran-butiran pekat yang menawarkan aroma dan rasa yang tak tergantikan itu.

Sedari tadi sebenarnya hatiku mencari-cari, bertanya dan mencari jawab, apakah sebuah ruang yang selama ini hampa di hatiku telah menemukan penghuni yang ditakdirkan untuk mengisi. Aku selalu meminta persetujuan hati dan kepalaku untuk menentukan hal apapun dalam hidup, menikmati kolaborasi mereka dalam setiap langkah-langkahku.

Ah, penat baru terasa menjelang sore hari, setelah melewatkan waktu mengitari kota Barcelona nan molek ini. Mengagumi detail La Sagrada Familia yang terkenal itu, mengunjungi miniatur Spanyol di Spanish Village dan menikmati pertunjukan flamenco, benar-benar membawaku ke dunia yang sama sekali berbeda. Surga itu kini kian terasa akbrab dan dekat. Saat malam menjelang, ia mengajakku ke Via Campanile, tempat mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di Barcelona biasanya berkumpul. Berkenalan dengan beberapa teman Mas Elang dan menghabiskan waktu bersendau gurau dengan komunitas orang Indonesia di Barcelona sungguh menyenangkan. Senang rasanya bertemu dengan teman sebangsa di suatu tempat yang jauh dan asing. Sajian makan malampun sangat istimewa, Paya hangat dihidangkan untuk memuaskan lidah kami. Paya memang cocok untuk lidah orang Indonesia karena makanan ini berupa nasi yang dimasak dengan telur dan olive serta kerang-kerangan. Paya ditemani dengan Escvaliva (potongan terung dan paprika dengan minyak zaitun), sajian khas kota ini. Aku telah merasa Barcelona adalah rumah. Dan hati dan kepalaku membisikkan keputusan mereka padaku, bahwa nama itu, wajah itu dan sepasang mata hitam granitnya, kupercaya dialah orangnya yang selama ini bersembunyi.

***

Gemerlap pesta kota, seolah gemetar flamenco mengalun jiwa

Kududuk terhanyut nuansa, di sudut semarak Plaza Catalonia

Kala sepasang mata menatapku manja, mengajak berdansa

Sapanya queire usted bailar conmigo?”

Alunan suara khas milik Fariz RM mendendangkan lagu Barcelona-nya di earphone membiusku dalam suasana saat menikmati hari terakhirku di Barcelona. Besok harus segera meninggalkan kota nan cantik ini. Harus? Ufff..andaikan ada alasan bagiku untuk tetap tinggal. Aku mencopot earphoneku saat melihat langkah-langkah panjang Mas Elang terlihat menuju Plaza Catalonia, tempatku duduk sekitar setengah jam lalu menantinya.

” Pantas saja Mas Elang betah ya tinggal di sini. Uhmm..kotanya begitu cantik, hidup terasa lebih berwarna,” ujarku saat duduk bersama di depan Plaza Catalonia. Malam mulai merambat naik, lampu-lampu jalan nampak berkerlap-kerlip di kejauhan.

“ Ah, itu karena Icha baru beberapa hari tinggal di sini, bila sudah lama rasanya bosan juga. Hidup juga akan mengalir dalam rutinitas, tekanan dan hambar. Aku sudah kangen masakan ibu, pengen makan serabi notokusuman, sudah ingin kembali ke tanah air.” Mas Elang menjawabku, namun mata hitam granitnya itu memandangi bulan yang mulai berangkat menunaikan tugasnya. Purnama di langit Barcelona, seperti polesan lipstik di moleknya wajah bidadari. Aku tersenyum kecil mendengar jawabannya. Pandanganku menyalang dan merasakan kehidupan di sini terasa berbeda. Sulit membayangkan ada sebuah kehidupan yang dijalaninya di belahan bumi ini, jauh dari kehidupanku, hal yang tak tergambarkan sebelumnya.

”Aku merasa lelah,” ucapnya tiba-tiba, entah ditujukan pada siapa. Matanya tak jua lepas menyusuri bentukan mahakarya piazza di kejauhan. Lalu tiba-tiba mata hitam granitnya mengarah padaku, aku menahan nafas.

”Kau sepertinya punya dua sayap yang kokoh? Kau bisa terbang kemanapun yang kau mau, meraih apapun yang engkau inginkan. Apa kau tidak pernah merasa lelah?” Ia bertanya sambil diakhiri dengan senyumnya yang mengembang samar. Dan atas nama malam yang begitu molek di Barcelona, sungguh aku ingin detik berdetak lebih lambat.

” Uhmm..aku ke sini karena sudah merasa lelah, aku ingin meminjam sesuatu untuk bersandar. Aku mendengar bisikan kalau aku harus mencarinya di sini ehehe,” aku menjawabnya dengan penuh canda, berusaha mengembalikan ritme detak jantungku yang mengalami percepatan. Aku khawatir ia mendengar degup jantungku yang menyuarakan daya hidup tentang pencarian cinta.

” Icha, apa yang terjadi ya kira-kira bila kita dipertemukan bertahun-tahun yang lalu?” kali ini raut mukanya terlihat lebih santai.

” Mas Elang pernah berpikir setelah Adam dan Hawa dipisahkan, sebenarnya Adam yang mencari Hawa, atau malah sebaliknya? atau mereka berdua memang saling mencari dan akhirnya bertemu di Jabal Nur?” Keningnya terlihat berkerut mendengar pertanyaanku, aku merasa ia nampak semakin ganteng bila sedang berpikir.

”Uhm..pasti Hawa yang mencari Adam! ya kan?” jawabnya nakal sambil melirikku. Senyumnya mengembang membuatku merasa kikuk. Fiuhh..jawabannya menyebalkan, aku meninju lembut bahunya menandakan protes akan jawabannya. Tapi segera ia melanjutkan lagi,

” Kata Eyang Plato, semula kita dan pasangan kita dilahirkan sebagai kembar. Suatu pasangan diciptakan Tuhan dengan dua kepala, dua leher, dua badan, dua pasang tangan, dua pasang kaki, dan seterusnya, tapi mereka hanya dikarunia satu hati, satu jiwa. Dan mereka harus berbagi.” Aku menyimak ceritanya, tak peduli hembusan angin malam yang menciumi syal di leherku.

”Suatu hari, karena takdir tertentu yang tak terjelaskan, mereka harus terpisah satu sama lainnya. Namun, sejauh apapun mereka berpisah, jiwa mereka akan saling “memanggil”, saling mengirimkan sinyal untuk saling mendekat, dan kelak bila mereka mengikuti panggilan itu, mereka akan bertemu kembali. Jadi, begitulah jawabanku” lanjutnya dengan wajah yang meyakinkan.

” Curang, jawabannya nyontek ufff ” tukasku singkat. Tapi sebenarnya aku mengagumi jawabannya yang begitu mengena tadi. Dan benarkah Barcelona adalah Jabar Nurku? entah mengapa tiba-tiba aku merasakan sebuah perasaan yang aneh saat memikirkan hal itu. Tangannya melambai pada seorang penjual bunga di depan plaza, setangkai mawar merahpun berpindah ke tanganku.

” Sesuai budaya di sini, setangkai mawar merah untuk si jelita, hanya mengikuti tradisi. Entah mengapa orang-orang di sini selalu mengumbar romantisme, bahkan mengkomersialkannya. Cinta rasanya ada di setiap jengkal tanah negeri ini, tapi entah mengapa tak disisakannya untukku..ehehe” tawanya renyah menghangatkan udara di sekeliling Plaza yang bertambah dingin seiring malam yang kian merambat naik.

“ Tak mengapa, karena aku membawakanmu sekeranjang penuh dari tanah air, jadi salah kalau kau mencarinya di sini..hihi” kataku mencandainya. Ia membalas dengan senyumnya yang mengembang mempesonakanku.

“Mana?aku harus menelitinya lebih dulu sebelum kuambil...jangan..jangan..ehehe,” tawanya terkekeh.

”Ufff memang susah mencintai seorang peneliti,” ups kalimatku meluncur tanpa bisa kutarik ulang. Semu merah merona di wajahku bersaing dengan purnama di kejauhan. Mata hitam granitnya mencari-cari mataku, dan senyumnya samar mengembang. Ah Tuhan, kuharap saat ini Engkau mengunci takdirku di sini.***


(Dilarang mengutip sebagian atau keseluruhan naskah ini tanpa menyebutkan sumbernya)

By Siwi Mars Wijayanti

Ingin Bicara Tentang Senyuman


Bila senyuman bisa diindentikkan dengan suasana penuh kebahagiaan, maka kali ini aku ingin mengingat senyuman-senyuman itu...

Apakah karena aku tengah bahagia? mungkin saja begitu.

Bagaimana dengan engkau? uhmm...bila detik ini engkau tidak bahagia maka kupastikan ada sesuatu yang salah dengan dirimu. ya..dengan dirimu sendiri.

Saat ini aku sedang berpikir, apakah setiap senyuman mempunyai maknanya sendiri? ataukah manusia bila hatinya sedang senang dan bahagia, ia akan tersenyum?

Apakah saat kita tersenyum..kita merasa pernah ada pada tataran kebahagiaan itu..?.


Dulu senyuman yang lebar, tawa yang renyah kurasakan saat berkumpul bersama teman-teman sebaya, walau hanya sekedar ngumpul-ngumpul bicara tentang apa saja...tentang kecengan masing-masing atau kecengan bersama (ops...), tentang shopping, tentang kuliah, tentang bola, tentang musik...Ah, teman-teman, banyak sekali jalur hidup dan macam-macam yang pernah kita bicarakan.

Masihkah kini? ya...masih, tapi cerita itupun sudah beralih rupa..tapi kadang dengan senyuman yang sama. Kita bercerita tentang hal-hal yang sudah sama sekali berbeda, kita bertumbuh dan berkembang, tapi kita masih bisa tersenyum dan tertawa bersama. Walau dalam tawa yang buta, karena mungkin hanya telinga yang menangkap ritmis tawa mereka di ujung telepon.


Senyum pula saat kita meraih apa yang kita inginkan, gelar pendidikan yang didapat..meraih mimpi-mimpi kita masing-masing. Tersenyum pula melihat orang-orang di sekitar kita ikut bahagia. Dan kalian juga bahagia, kita bahagia. Kita tersenyum...kita tertawa, dan orang menggangap itu bahagia.

Saat jalur-jalur hidup telah kita bawa menuju jalur kita masing-masing (kawan, ”kita bawa’ bukan jalur-jalur hidup itu yang membawa kita—itu menurutku), banyak yang telah terjadi, dan kita masih terus sanggup tersenyum.

Saat kita sudah bergelut dengan dunia pekerjaan dan orang-orang telah menggangap kita sebagai orang dewasa, apakah kita telah kehilangan keriangan itu?

Apakah orang-orang dewasa tidak boleh mempunyai keriangan itu? sepertinya tidak. Dan kita sampai saat ini tidak kehilangan keriangan itu bukan? ataukah itu berarti kita belum cukup dianggap dewasa..ehehe...alur pikiranku berbolak balik tak menentu.


Ada banyak alasan yang membuatku tersenyum, bahkan terkadang tanpa membutuhkan alasan. Ada banyak orang yang mampu membuatku tersenyum, hingga terkadang tidak harus ada seseorang yang mampu membuatku tersenyum...karena ada banyak orang....umm, malam ini aku menulis dengan berbelit-belit.

Salahkan aku kalau engkau membacanya sampai berkerut-kerut...

Ah, salahku..padahal aku ingin membuatmu tersenyum..karena aku ingin bicara tentang senyuman.

Baiklah, senyuman bukan untuk dibicarakan...


Dunia, tidakkah engkau merekam terlalu banyak senyuman dalam hidupku?

Untuk itu aku berterima kasih....

Kawan, tersenyumlah! aku suka keriangan yang ada pada kalian...hidup yang berwarna ada pada senyum kalian...


-- Aku menikmati saat tersenyum sendiri, bersama orang lain, bersama dunia, bersamaNya-