Saturday, 17 December 2011

Christmas Party Lab

Tak banyak yang bisa kubayangkan tentang pesta natal, karena di Indonesia belum pernah menghadirinya sama sekali. Natal bagiku, identik dengan libur pada tanggal 25 artinya bisa mudik ke rumah, itupun kalau hari-nya pas, karena libur natal hanya 1 satu di Indonesia. Tapi disini? 2 minggu, dengan catatan : itu libur yang resmi, karena semenjak minggu awal Desember aura pesta sudah merebak dimana-mana. Di labku, CVR (Center of Virus Reseacrh), dari minggu pertama bulan Desember di ruangan library lantai 4 tempat biasanya semua staff, dan student makan siang sudah dihiasi pohon natal. Pengumuman tentang pesta natal tgl 15 Desember sudah disebar bahkan semenjak akhir november. Poster-poster pesta natal yang tahun ini bertajuk “ Camera, Light, Action” sudah ditempel hampir di setiap sisi gedung. Pembicaraan saat makan siang, atau saat santai di lab adalah tentang persiapan mereka mengisi hari natal, mulai dari kado, persiapan mudik ke negara masing-masing, dan rencana kostum yang akan dipakai pada pesta natal lab. Iyap, karena kami harus memakai kostum tertentu sesuai dengan tema film masing-masing. Begini aturannya, setiap lab (biasanya 1 dosen disebut satu lab, karena ia mempunyai beberapa mahasiswa PhD dan post doc) harus menampilkan atau berkostum sesuai dengan karakter di sebuah film natal. Dan serunya, setiap lab harus merahasiakan tema film mereka sampai pada saat acara mereka muncul dengan kostum karakter masing-masing. Aku sendiri bengong, karena tidak tahu film natal satupun.

Maka akhirnya Claire, rekan PhD-ku yang menyutradarai peran-peran kami. Yeap, kami akan meniru karakter-karakter di Film natal Christmas Carol. Ada beberapa karakter yang dibagi-bagi masing-masing kami yang keseluruhannya berjumlah 7 orang, termasuk supervisor kami, Alain Kohl. Hihi, serunya, supervisor kami akan berperan sebagai Miss Piggy. Oaaaah, tidak menyangka kalau beliau mau untuk “gila-gila”an. Maka kamis kemarin benar-benar hari yang seru dan menyenangkan. Jam 2 siang, masing-masing kami sudah bersiap-siap dengan kostum masing-masing. Aku dan Suzana (mahasiswa PhD asal malaysia) kebagian peran hantu. Wuiiiih hantuuuu...! saat melihat tokoh hantu di film tersebut, si hantu itu memakai rantai-rantai, maka kami membuat rantai warna warni kata kertas. Dan Claire menyuruh kami untuk berkostum berwarna. Jadi mikir, kami ini hantu atau pemain sirkus???ahaha...lagian,walaupun jadi hantupun, diriku tetap manis...wakakak piss..

Nah inilah pose kami sebelum show,

Lucu sekali melihat kostum-kostum peserta yang lain. Dan ternyata, ada 3 lab yang menampilkan film Christmas Carol, tadinya pesimis untuk bisa menang. Oh ya, ada penjuriannya. Jadi masing-masing lab bergiliran di foto dan dinilai kostumnya, lalu diumumkan. Dan kalian tahu??? Kami menaaaaaang...ahaha...kami semua bersorak, termasuk Alain yang dengan segera mengambil hadiahnya berupa satu kaleng besar coklaaaaat. Rupanya dia menikmati perannya sebagai Miss Piggy, memakai rok, wig dan topi serta hidung babi...hihi, sayang kurang satu polesan terakhir yang lupa, yakni polesan lipstik merah menyala ahahaha....

Oh guys, are you forget that you still have to finish your PhD?” katanya sambil becanda, mengancam kami karena mengerjainya.

Pesta yang menyenangkan, makanan dan minuman pun berlimpah ruah. Untuk makanan, paling aman untuk mencicipi berbagai jenis ikan, roti dan cascus (sejenis gandum) sampai perut kenyaaaaang. Inilah pengalaman pertamaku mengikuti pesta natal. Lumayan seru juga, walaupun kuperhatikan acara kumpul-kumpulnya orang sini sangat informal. Nggak acaranya sama sekali, maksudnya tak ada sambutan-sambutan atau semacam acara seperti bila orang mengadakan acara, runtut dari pembukaan sampai doa. Kuamati, hanya datang, ngobrol-ngobrol masing-masing dengan informal, makan dan minum. Begitu saja, sangat sederhana dan praktis. Tapi satu hal, ternyata mereka kalo sudah “gila” benar-benar gila ahaha, ditilik dari totalitas mereka mempersiapkan segala macam kostum demi acara tersebut. Ahaha, setiap budaya memang punya caranya tersendiri untuk mengekspresikan caranya berbudaya.


0 comments:

Post a Comment