Tuesday, 24 January 2012

Yang Mungkin Tak Ingin Kau Kenang

“Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenangan itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan.
Maka kedudukan aib dan kesalahan itu, sesungguhnya setara dengan kebenaran dan keberhasilan. Ia sama-sama menjadi batu penyangga hidup saya. Jadi ia tak perlu diruntuhkan” (Prie GS)
Satu hal yang menyenangkan saat membacai tulisan Prie GS adalah keterusterangannya, bagaimana ia menulis tanpa label-label. Ia membukakan ruang bagi para pembacanya untuk menertawakan kisah-kisahnya, dan pastinya sedang menertawai diri sendiri, dan dengan begitu kita semua menarik pembelajaran dengan menyenangkan. Betapa terkadang manusia butuh momen seperti itu.
Terkadang ada kalanya, kita ingin “membuang “ beberapa petak sejarah dalam hidup karena kita pikir itu sebuah kesalahan, hal yang memalukan, nggak keren, ndeso atau sebagainya. Betapa bila dikenang, akan ada berbaris baris daftar hal-hal konyol yang telah kita lakukan. Banyak orang yang serta merta ingin men-delete-nya, tapi tulisan Prie GS itu membuatnya tersenyum, terkikik, dan tersadar. Bahwa kenangan sebagaimanapun bentuknya, memang tak seharusnya diruntuhkan. Karena batu-batu penyangga hidup kita ini memang tidak hanya dibentuk dari prestasi-prestasi, kebaikan, kemuliaan, dan kecemerlangan semata, tapi juga kekonyolan laku, kesalahan, serta peristiwa-peristiwa memalukan.
Tak perlu berlama-lama menengok daftar, tingkah kita tempo hari, minggu lalu, tahun lalu saja bisa membuat diri kita tersenyum semu sendiri menahan malu. Apa yang kutulis saja bila kubacai lagi bisa membuatku tak kuasa bila membacainya lagi. Seperti bukuku yang tengah kunanti terbitnya, saat dulu kubacai lagi seluruhnya untuk mengkoreksi naskah, banyak bab yang tak sanggup kubacai saking konyolnya, dan bila tak kuingat lagi misi di balik buku itu, segera ingin kuurungkan penerbitan buku itu karena tak sanggup menahan malu bila orang lain membacainya. Persis seperti sebuah kalimat endorsement dari Sg.Laura Romano...
 I could not stop reading. At least 10 times I was moved to tears and at least as many I was cracking into laughter…
Cerita macam ini pasti juga dialami Prie GS, yang berkata : 
Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri.
 
Bila Prie GS bilang—bertahun kemudian-sedangkan aku baru saja-sebulan kemudian, saat dibacai lagi, sudah mampu membuat aku ingin menghilang kehabisan malu. Merona pipi sampai warna merah kalah terang.
Lalu saat muda dulu—seperti simbah sedang bercerita—daftar kekonyolan rasanya tak akan pernah habis dicentang, bagaimana aku bisa tahan malu, bisa ingat lagi saat dengan hati berdebar menggantungkan permen payung dengan diselipi kertas berisi puisi di motor seseorang kala itu menarik hatiku, menempelkan kertas pengumuman di papan pengumuman kampus yang menggegerkan se-angkatan atas, atau menuliskan pesan-pesan padanya di daftar absen ujian yang tertempel di depan pintu kelas. Cinta memang banyak melahirkan kekonyolan, sekaligus roman yang bahkan kau rela membayar berapapun dan apapun untuk mendapat geleyar rasa itu.
Berapa kali engkau jatuh cinta secara platonik dalam hidupmu? Tidak banyak, terkecuali kau maniak.
Belum lagi bila catatan beranjak ke daftar hal-hal gila, misalnya saat nekad memanjat ruang dosen ekologi hanya untuk mengumpulkan tugas tepat waktu. Kala itu sudah lembur-lembur mengerjakan laporan, dan tiba-tiba dunia seakan runtuh saat file-ku hilang, lalu dengan kesetanan kuketik ulang, sampai tak tidur semalaman. Sementara teman-teman yang lain memang baru selesai saat sore hari, teeeet hari terakhir laporan harus dikumpulkan. Dosen ekologi itu memang tampangnya sedikit sangar, berwibawa dan membuat segan. Dan nilai ekologi kala itupun terkenal menyeramkan, terlambat menyerahkan tugas alhasil nilai terancam mengulang. Maka sore itu, segerombolan kami-mahasiswa yang telat mengumpulkan-mencari cara agar berkas laporan kami yang telah disusun dengan curahan semangat lembur dan tetes darah penghabisan (mulai lebay) dapat tergeletak dengan aman di meja pak dosen ekologi itu. 
Ruang utama dosen ekologi masih terbuka, sayangnya pintu ruangan masing-masing dosen sudah tertutup rapat. Kami kebingungan, lalu muncullah ide gila, manjat sekat ruangan dosen yang terbuat dari papan itu. Sekat setinggi hampir 4 meter itu, tak bisa dipanjat oleh manusia dengan berat badan tertentu, dan aku yang notabenenya masih cungkring kala itu, ketiban sampur. Selain itu, karena memang tidak ada lagi perempuan setengah laki-laki yang mau memanjat selain aku. Maka, jadilah aku pahlawan kesorean dengan usaha setengah mati memanjat papan tinggi itu, dengan membawa sebendel laporan teman-teman. Sementara yang lain, serius mengamati pergerakan, sudah sampai mana si penjaga kampus berjalan hendak mengunci pintu semua ruangan. Dan dengan debaran jantung berpacu entah sampai berapa kecepatan, selamatlah aku kembali dan keluar ruangan dengan tersenyum polos inosen pada si penjaga kampus, agar percaya bahwa aku sejenis mahasiswi penuh sopan santun yang tak akan berbuat nakal.
Dan sekarang, percayakah kau kawan..setelah sebelasan tahun kemudian, dua bulan lalu aku menggarap proyek buku bersama beliau, bersama 18 penulis lain dalam sebuah antologi “Balada Seorang Lengger”. Lalu akupun melakukan pengakuan dosa, dan beliaupun malah tertawa. Apalagi saat kukenangkan lagi saat wawancara mahasiswa berprestasi kala itu, sergahan beliau singkat saja, tapi cukup membuatku yang begitu lugu kala itu menjadi ciut nyali,
            “ Jadi begitu tipe bacaan bukumu? Sejenis Cinderella story?” tanyanya dengan nada mengintimidasi, mengomentari jenis bacaanku yang sejenis roman picisan. Hadeeeh rasanya kala itu aku mau menghilang saja.
Tapi begitulah cara kehidupan bertutur, bahwa ternyata kekinian bukan dibangun serentak dalam sehari, menjadikanmu diri yang seperti ini saat ini. Tapi itu juga  terbentuk dari susunan episode-episode memalukan, konyol, kesalahan, sedih ataupun kegembiraan.
Aku tahu pasti, engkau yang saat ini membacai tulisan ini mulai menengok daftar-daftar kekonyolanmu, tersenyum simpul sendirian, atau bahkan tertawa mengingatnya. Syukurlah kawan, engkau masih hidup normal. Setidaknya itu membuktikan, betapa mentereng dan kerennya engkau saat ini, bila dikupas episode-episode dalam hidupmu..kita semua ini tetaplah manusia biasa, yang penuh dengan kekonyolan-kekonyolan itu, Dan bersyukurlah kita bila masih mampu menertawainya, dan semoga bisa belajar darinya...***

3 comments:

R. Widyaniarti said...

Kapan terbit bukunya ? mauuu :)

fardelynhacky said...

Beneran deh, sambil baca tulisan ini, aku mengenang hal-hal yang memalukan bahkan aib di masa lalu, heheee...
Eniwe, selalu suka dengan tulisan Prie GS

Siwi Mars Wijayanti said...

@ R.Widyaniarti : bentar lagiiiii...katanya sih 45 hari kerja, seharusnya bentar lagi ditunjukin desain covernyaa...sudah tak sabar rasanya :)
@mba Fardelynhacky : hihi sudah banyak korbannya mba..ehehe..tapi senang rasanya, berbagi kekonyolan..jadi hidup tambah berwarna..:)

Post a Comment