Monday, 27 February 2012

Memanggil diriku pulang

“ Aku. Orang yang begitu dekat, kalau tidak salah ingat. Diriku. Pintu hatiku juga akan selalu terbuka untuk diriku sendiri. Aku ini, tak peduli apapun yang telah kulakukan, ayo masuk!” (Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya-Ajahn Brahm)


Aku menguat-nguatkan nyali untuk bicara begini pada diriku sendiri, memanggil sebagian dari diriku untuk pulang. Pulang dalam diriku sendiri, bagian yang beberapa saat lalu sepertinya terusir. Sudahlah, redakan peperangan itu, aku lelah. Apapun yang telah kau lakukan, wahai sebagian dari diriku, engkau tetaplah aku. Manusia yang terkadang pada suatu titik kehilangan kendali, tapi sekarang aku punya nyali, untuk berkata : apapun yang telah kau lakukan, pulanglah..ayo masuk..aku selalu siap menerimamu pulang.

Lama aku tak berani mengajakmu pulang, lama aku memandangimu dari kejauhan, wahai sebagian dari aku. Aku meragu, sungguh meragu. Bisakah selanjutnya kita seiring bersama lagi, melupakan peperangan kita yang membuatku terkadang merasa lelah, membuat seluruh makanan kehilangan rasa enak, membuatku mengurus seketika.

Wahai sebagian dari diriku, yang rasanya seperti diriku yang lain, sesungguhnya beberapa waktu ini aku berpikir. Untuk menggandengmu lagi, dan kita berjalan bersama lagi seperti sebuah manusia yang utuh, dimana selalu kita tantangi segala macam impian-impian kita.

Kini, dengan pintu yang kubuka lebar-lebar, aku memanggilmu pulang. Redakan rasa bersalahmu, lupakan galau dan gundahmu, terimalah bahwa engkau bisa salah, pahamilah engkau adalah manusia biasa yang bisa melakukan hal yang membuat kita bertentangan rasa, pulanglah..terimalah ini adalah bagian dari sejarah diri kita, dan sejatinya kita harus berterimakasih pada Tuhan karena telah mempercayakan pada kita, bahwa kita harus menjalani pertentangan seperti ini. Agar aku, berani memanggilmu pulang, apapun yang telah kaulakukan..
Wahai diriku, aku memanggilmu pulang,  dengan apa adanya dirimu...***

Saturday, 25 February 2012

Menepi Darimu, Hujanku

Mendung menggantung lagi sore ini, lagi-lagi begitu. Mungkin hujan sebentar lagi akan turun menderas lagi. Seperti itu terus ritme akhir-akhir ini, biar saja, mungkin hujan tengah pongah menunjukkan betapa ia nampak mempesona untuk selalu kucinta. Seperti kemarin sore itu, ia nampaknya terlalu percaya diri padaku, menunjukkan guyuran dengan intensitas maha tinggi, dengan kilat dan petir menyambar, sementara aku di bawah guyurannya, bersama si hitam manisku dan mantel yang tak lagi kuasa menahan kepongahanmu, hujanku. Lalu aku memilih untuk berhenti, dan menepi.

Apakah sore ini kau akan lagi-lagi seperti itu?
Hujanku, telah kutegaskan aku  mencintai rinai suaramu, sensasi tak tergantikan saat kau membasahi kulitku, dingin yang menyesap dalam hatiku, aku suka hujan, aku cinta hujan, tapi ingatlah, tidak setiap waktu.
Aku gamang dan menepi mencari teduh saat kamu mengguyuri bumi dengan membuta, daratan terdiam, menjadikan suaramu penuh seluruh. Semesta terkesiap begitu melihat engkau marah-marah seperti kemarin sore itu, begitupun aku. Dan aku menepi, harus menepi, karena deraimu tak mampu kutampung lagi.
Dan sore inipun kau isyaratkan pada mendung menggantung, menanda bahwa mungkin deraimu akan mengguyuri bumi lagi.

            “ Perlahanlah, tahukah engkau bila suara derai perlahanmu itu sanggup menciptakan sajak-sajak senja dan puisi menanti pagiku?
Cintaku pada hujan, kenapa kini menjadi bersyarat..aku mencintaimu bila deraimu rinai-rinai di sore hari, menemani senja milikku yang sunyi, tapi aku sungkan dan ingin menepi bila bulir-bulirmu itu berubah menderas, hingga suara yang kau timbulkan tak lagi serupa harmoni. Maaf hujanku, memang cintaku begitu, masih saja penuh syarat..
Tapi sebenarnya, diam-diam ingin kubilang padamu, aku tetep mencintai derai hujanmu, entah rinai-rinai ataupun menderas, tapi menderasmu itu membuatku memilih untuk menepi.
Maka pahamilah, aku menepi..bukan berarti aku tak lagi mencintamu.

GBI, 25 Feb 2012.. di senja yang menggelap, menanda mendung, menyedia hati bahwa engkau akan datang lagi, hujan..

Friday, 24 February 2012

Telaga Sunyi : Pesona Wisata Banyumas yang Sepi Promosi

“ Jalan-jalan terkadang merupakan cara mujarab untuk menyembuhkan diri, mengusir gundah hati, dan mendekatkan diri pada Gusti ” (Siwi Mars, February 2012)

            Bila seseorang ditanya, kalo di jogya...wisata mana saja yang bisa disambangi? Dengan fasih orang bisa menyebut berbagai tempat, baik wisata alam, wisata budaya, wisata kerajinan sampai wisata kuliner. Tapi bila menyebutkan nama Kabupaten Banyumas ataupun Purwokerto, mungkin hanya satu tempat yang akan disebut orang, Baturaden. Aku yang notabene-nya penghuni kabupaten inipun bingung bila ditanya wisata mana yang patut dikunjungi untuk sekedar memandangi pesona lokal. Maka marilah kuajak kalian jalan-jalan ke Telaga Sunyi, yang terletak sekitar 3 km ke arah timur dari wanawisata Baturaden.
Untuk menjangkau tempat ini sangatlah mudah, bisa dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum (angkot) yang bisa langsung sampai ke daerah Baturaden. Yang paling gampang dan menyenangkan tentu saja mbalap pakai motor, sambil memandangi pemandangan sepanjang jalan yang asri dengan udaranya yang masih segar, dengan hijau-hijau landskap yang membuat riang hati. Wisata telaga sunyi ini memang jauh dari hingar bingar promosi, maka tak heran banyak yang tidak tahu tentang wisata telaga ini, padahal letaknya tak begitu jauh dari hotspot, Baturaden.

Sepinya promosi inipun pastinya berimbas dengan sepinya pengunjung, tak banyak wisatawan yang terlihat mengunjungi tempat ini. Pengelolaan kawasan wisata inipun terkesan minimalis, semuanya masih terlihat tanpa sentuhan tangan-tangan kreatif. Padahal sebenarnya telaga sunyi menyimpan pesona alami yang potensial. Memasuki gerbang wisata telaga sunyi, kita hanya membayar tiket seharga Rp. 3000 rupiah, dan bisa segera memarkir sepeda motor di tempat yang dijaga beberapa orang lokal (belum ada parkiran motor hoho). Rindangnya pepohonan hijau membuat suasana adem, cocok untuk jalan-jalan menyembuhkan diri dari segala macam apapun yang membuat “redup” hati. Bisa sambil nongkrong-nongkrong, ataupun memuaskan hasrat narsisme dengan mengambil foto berbackground hijaunya alam telaga sunyi.



Hotspot tempat ini tentu saja si telaga sunyi-nya...untuk menuju tempat ini, kita berjalan kaki melewati jalan setapak, melewati sungai kecil dan akhirnya sampailah di telaga sunyi, yang dilatarbelakangi sebuah curug/air terjun kecil. Suasananya memang cocok untuk “semedi”, berlama-lama duduk di dekat air terjun, dengan kaki direndam di air yang masih segar. Suara rinai air terjun, paduannya dengan alam menghijau, dan udara sejuk yang menentramkan hati mungkin mujarab bagi siapapun yang berniat menyembuhkan diri.
Mungkin tak banyak yang bisa ditawarkan oleh tempat ini, tapi setidaknya kesederhanaan dan keaslian tempat ini mungkin sanggup membekaskan kenangan di hati.
**sempat bertanya dalam hati, bila promosi wisata tempat ini kemudian membuat banyak pengunjung menyambangi telaga sunyi ini, akankah telaga itu tetap sunyi? Hihi **


Meredup

Bila masanya aku harus meredup, biarkan aku mengambil waktu dan pergi sejenak
Bila saatnya aku redup, mungkin karena binar yang terlalu menyilaukan
Menyisakan kegamangan
Bila tak bisa kucegah diriku meredup, biarlah, mungkin begitulah sebuah siklus berjalan
Tak usah kau risaukan
Bila suatu saat aku redup, mungkin sedang susah payah kucoba nyalakan binar itu
Binar diri, bukan menyerap binar-binarmu, ataupun binar orang lainnya
Tak apalah aku sejenak meredup, hilang binar, biar kucipta lagi
Perlahan-lahan
Tapi redupku seketika menghilang, bila menemukanmu meredup
Karena aku ingin menjadi binar dalam segala redupmu

GBI, 24 Feb 2012..

Thursday, 23 February 2012

Kembali


“Keber-ada-an itu ternyata lebih masuk ranah rasa, dibandingkan soal kehadiran wujud”
                                                                                                         (Siwi Mars, Februari, 2012)


Pulang, mungkin tentang “meninggalkan” dan soal “kembali”. Aku meninggalkan Glasgow dengan suhunya yang masih minus, dengan dialek Glaswegian supir taksi yang mengantarkanku ke Bandara, dengan tanpa ketergesa-gesaan. Aku tak ingin terburu-buru, beberapa saat ini aku ingin belajar untuk membaiki penyakit “terburu-buru dan ketergesaan”ku, dan sejauh ini lumayan berhasil. Ketergesaan terkadang memporakporandakan rasa, bercampur-campur, mondar mandir hingga hidup menjadi chaotic. Mungkin aku sudah terlalu “tua” untuk sering-sering mengalami situasi mondar mandir tak jelas itu. Hingga ingin kutempatkan pikirku tetap di tempatnya, itu saja.

12 Feb 2012. 2.30. Glasgow Airport.


Glasgow Airport
Gate 27 C masih lengang, hanya aku yang duduk menungu waktu boarding yang masih lumayan lama itu. Sebelumnya saat masih di flat, aku sudah check in online, sehingga saat di bandara prosesnya sangat singkat. Bagasiku lolos dengan tanpa masalah,

          Rayulah Tuhan agar semuanya di perjalanan lancar. Biar nggak over bagasi, dan tidak ada masalah administrasi di bandara” Kata Pak Ustadz Nanung saat menitip oleh-oleh untuk keluarganya di Jogya.
Aku terhenyak sejenak, hampir saja tergelak sebenarnya. Karena semenjak lama bentuk hubunganku dengan Tuhan sering kali berbentuk protes, ngeyel, baik-baik saja, keterdiaman, penghambaan, ke-berserahan, tapi belum pernah dalam sebentuk “rayuan” seperti kata Pak Ustadz. Bukankah berdoa dengan menyebutkan nama-nama kebesaran Tuhan dengan Asmaul Husna-nya pun salah satu bentuk “rayuan” kita padaNya? Ataupun bisa dengan meminta dengan bahasa yang “manis-manis” hihi, Tuhan suka dirayu-rayu, begitu lanjut pak ustadz.
Heuu, selama ini bila tengah berbincang denganNya, aku selama merasa bahwa aku dan Dia sudah tahu sama tahu, bahwa Ia-lah Maha Besar, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan segala Ke-Mahaan-nya yang lain. Tapi karena rasa tahu sama tahu-itulah yang membuat jarang merayuNya.
Padahal pada orang yang kita sayang, biasanya kita memanggil dengan panggilan sayang, walau terkadang hanya berupa penegasan-penegasan remeh yang berefek besar. Ehehe, mungkin harus mulai belajar merayu Tuhan.
          Hasil merayu sedikit (masih belajaran ;p) Tuhan, bagasiku pas ditimbang hanya 22 kg, dari jatah 23 kg. Dan hand luggage-ku enggak ditimbang hihi..plus si pacarku-tas export yang berisi laptop dan buku pun tanpa dilihat lolos dengan mulus. Lalu menunggulah aku di Gate 27 C dengan membacai buku Pinnochio, kepergianku ternyata tenang, walau di taksi sempat ditelpon suzana (rekan labku) menanyakan sudah sampai mana, dan sebagainya. Aku tahu pasti, hanya sedikit orang-orang yang kehilanganku saat aku meninggalkan Glasgow. Karena aku dan Glasgow, selama ini hubunganku hanya berupa masalah menjejakkan kaki, belum menjejakkan hati.

19.30. Amsterdam Airport
Dengan langkah bergegas kubawa hand luggage-ku yang lumayan berat untuk berpindah Gate di Amsterdam airport. Heuu tadinya kupikir waktu transit sekitar 2 jam, tapi melupa kalau beda waktu UK dan Belanda selisih 1 jam, sedangkan penerbangan dari Glasgow terlambat 20 menit. Ah ternyata, sudah direncanakan agar tidak tergesapun ada saja hal tak terduga yang membuat ketergesaan. Hingga tak sempat melihat-lihat seperti apa rupa Amsterdam airport, karena hanya berjalan berganti dari gate E3 ke Gate 20 karena sudah masuk waktu boarding menuju Jakarta.

13 Feb 2012. 4.20 KL Airport
Aura yang terasa di KL airport sudah membuatku merasa hidup di dunia yang berbeda. Wajah-wajah melayu, bahasanya, perilakunya sudah membuatku terlempar lagi dunia yang berbeda dari kehidupan yang kujalani sekitar 15 jam yang lalu. Coat pendek dan syal sudah kulepas, karena suhunya sudah cukup membuatku merasa kebakaran. Panaaaas....
Mahkluk di sebelah duduk di pesawat selama 18 jam lebih itu, ternyata seorang anggota LSM dari Belgia yang concern di bidang pelanggaran HAM di bidang pertambangan. Perbincangan kami hanya sekedar saling menyapa, dan ternyata pada saat kutanya, so you can speak Indonesian languange?
dijawabnya : sedikit..sedikit..ahaha, mungkin dia telah lebih banyak menjejalahi daratan-daratan Indonesia, dibandingkan aku..heuu

6.30. Bandara Soetta.
Akhirnya pesawat KLM mendarat dengan selamat di Bandara Soetta. Perasaanku?entahlah..akhir-akhir ini rasa tak bisa terdefinisi dengan baik. Setelah mengambil bagasi, pemeriksaan melalui jalur khusus (diplomatik) yang lebih cepat dibandingkan jalur biasa, semuanya mulus dan lancar. Dua misscall ada di Hpku, satu dari bapak dan satu dari Mba Sur, sahabat yang selama ini baru ber-dunia maya saja. Dan saat kulangkahkan kaki keluar, sudah berderet menyambutku, bapak, ibu, adekku, dan mba sur. Aku kembali. Lagi. Paduan rasa, antara senang, lega, lelah, panas..mondar mandir tak pasti.



Ketemu pertama kali secara "nyata" dengan Mba Sur

** 23 Feb 2012..beberapa hari setelah aku pulang, aku masih saja mencari pulang, ingin menemukan rasa pulang. Dan mungkin soal rasa keber-ada-aan itu telah masuk ranah rasa, bukan lagi hanya sekedar wujud saya yang pulang. Dan kini aku menyadari bahwa bisa kembali pulang kapan saja. Mungkin aku sudah kembali, jauh sebelum saya pulang. Mungkin.




Thursday, 9 February 2012

Kata Tuhan Padaku Hari ini

Bersama-Baturaden 2011
Mataku masih kriyip-kriyip saat bangun pagi hari ini, nyawa belum kumpul benar, dan ditambah lagi brrrrr...dingin, padahal sudah tidur berlapis-lapis dengan sleeping bag lalu ditimpa duvet setebal hampir 5 cm itu. Kugapai HP di meja di sebelah ranjang, untuk melihat jam berapa untuk siap-siap salat shubuh. Masih gelap karena lampu kamar kumatikan dan di luar Glasgow pastilah masih juga pekat.  Jam masuk waktu shubuh sudah berubah, kalau biasanya jam setengah tujuh pagi baru masuk subuh, sekarang sudah lebih pagi lagi. Kulihat jam di HP menunjukkan jam setengah jam pagi, dan ada sms masuk, dan masih dengan keadaan sadar dan tidak, kubuka smsnya..tulisannya singkat, tapi seketika saat kubaca membuatku terlonjak, kaget, senang, dan terharu :
            “ Siwi Glasgow, Cuu lulus ADS
Whui...tak pikir panjang aku segera menelponnya, seingatku paket gratisan dari Vodafone masih, kalau habispun ku tak peduli. Hanya beberapa dering, langsung diangkat..dan terdengarlah suaranya yang renyah di ujung sana, riang karena tengah dimabuk gembira. Mungkin karena haru, atau entah kenapa justru dirikulah yang mewek..menangis bahagia. Sungguh, detik itu Tuhan sepertinya berkata lagi padaku, Dia, sungguh Sang Maha Perencana yang baik.
Aku, dia, Sudewi namanya, tapi kebanyakan kami memanggilnya dengan sebutan “Cu’u”, sudah belasan tahun bersama dalam persahabatan, sungguh sebuah kebahagiaan tak terkira saat mendengar ia sudah berhasil menggenggam impiannya. Perjalanan yang panjang, berdarah-darah, sungguh berbuah manis terasa hari ini. Lama, ya telah lama sebenarnya langkahnya menapaki mimpi-mimpi itu. Tapi dengan konsistensi dan persistensi kawan, tak ada yang tak mungkin untuk digapai. Lama dia mulai secara autodidak mempersiapkan diri belajar bahasa inggris, kala ke Bali mengunjunginya akhir januari tahun lalu, kudapati dia rajin belajar toefl online. Lalu dengan semangatnya bolak-balik Bali-Purwokerto untuk mendaftar dan tes beasiswa unggulan S2 di Fakultas Biologi Unsoed. Masih ingat saat dia menginap di kos, jalan-jalan ke Baturaden seusai tes wawancara. Aku dan dia, begitu optimis dan yakin bahwa dia akan diterima, dan melanjutkan hidup di Purwokerto sebagai persinggahan selanjutnya.
            “ Mungkin sudah ada yang menungguku di sini” begitu ucapnya dengan mantap, dan juga tes wawancaranya nampak tidak bermasalah. Dari 20 kursi beasiswa yang tersedia, dengan hanya 25 peserta kala itu, dengan posisinya sebagai alumni, dengan proposal risetnya yang sudah mantap, dengan background pekerjaannya di Balai Riset Gondol sementara banyak yang lain masih baru lulus S1, sepertinya tak ada alasan yang terlihat dapat menghalangi jalannya mendapat beasiswa itu. Tapi dengan begitu mengherankan, saat pengumuman tiba, dia gagal mendapatkan beasiswa itu, heuuu..Tuhan mungkin mempunyai rencana yang lebih baik lagi untukmu, sahabat..begitu yang kuyakinkan saat itu padanya.

Bersama--Bali, 2011

Lalu waktu berjalan, perjuangannya pun juga terus berjalan, dan walau terpisah samudra, aku berusaha untuk tetap ada seiring langkahnya berjalan. Dia melamar ADS dan beasiswa prestasi Amerika, yang kuingat, form-form berbahasa inggris yang bercerita tentang perspektif diri, pengalaman, rencana ke depan, konstribusi komunitas yang berlembar lembar itu, aku ikut andil dalam editing dan menambahinya dengan bahasa rayuan “jual diri” yang lebay dan memabukkan ahaha. Satu hal dalam hal meraih beasiswa, kau harus tunjukkan pada si pemberi dana itu bahwa engkaulah kandidat yang tak kuasa ditolak ehehe.... Oh ya, surat rekomendasinya dari kepala Balai Riset sebenarnya adalah kata-kata manis penuh keju-ku, yang meyakinkan bila salah satu staffnya adalah kandidat jempolan yang layak mendapat kesempatan, dan si bapak kepala balai tinggal mencantumkan tanda tangannya saja. Dan ternyata semua itu berhasil hihi, loloslah dalam seleksi administrasi. Berikutnya adalah tes IELTS dan wawancara. Maka ngebutlah dia dalam waktu kira-kira sebulan untuk mempersiapkan diri tes IELTS, yang masih asing baginya. Belum pernah sekalipun ikut tes IELTS dan juga belum pernah kursus IELTS. Maka selain dia belajar sendiri, kursus privat jarak jauh lewat YMpun dilakukan ehehe, kukirimi kitab-kitab IELTS zaman bertempur dengan IELTS dulu, dan mengecek serta komen hasil belajar writingnya. Bila kukenang sekarang, ternyata jalan sudah sedemikian panjang. Sampai akhirnya berita menggembirakan itu datang, bahagiaku untukmu, sahabat.
Dia, sama saja denganku, cah ndeso yang rumahnya terletak di desa yang jarang disebut orang. Bila aku dan bala-bala lain ingin mengunjunginya kala ia mudik dari Bali, kami naik motor menyusuri jalanan yang lengang, dan bila tengah musim hujan tiba, dipastikan motor-motor kami belepotan karena jalanannya yang becek. Desanya sepi, kecuali agak ramai oleh lenguhan sapi-sapi. Bila kami kesana, pasti disambut ibunya yang telah lanjut usia dengan senyuman ramah namun sederhana. Tapi dengan gupuh pasti disiapkannya kami rupa-rupa makan siang, yang beliau masak dengan tungku tradisional. Yang kuingat, selalu tersedia ikan di meja, karena desanya dekat dengan laut, sehingga gampang sekali mendapatkan ikan segar. Bila menginap, pastilah deburan ombak dari luat terdengar kala malam menjelang. Sedangkan bapaknya juga sama sederhananya, walau lebih banyak berbicara dibandingkan ibunya yang pendiam. Kala main ke sana, masih ingat dengan semangatnya beliau memanen petai-petai di samping rumah untuk oleh-oleh kami sepulang dari laut. Laut dekat desanya sangat menyenangkan, apalagi bila masih sepi, seperti layaknya pantai pribadi, dimana kami bebas berceloteh ke sana kemari, dan bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Plus ada penjual sate dan mendoan favorit kami, rasanya tak usah jauh-jauh ke karimun jawa, pantai itu bisa menyamainya.
Hari ini, kami semua bala kurawa  merayakan keberhasilannya, turut berbahagia dan bersyukur untuknya.
Dan satu hal, peristiwa ini sekaligus sekali lagi membukakan ruang kesadaran bagiku, Tuhan sudah mengatur sebaik-baiknya rencana untuk kita. Betapa Dia memutuskan untuk dia gagal beasiswa unggulan yang rasanya sudah di depan mata, menggantinya dengan beasiswa ADS karena Tuhan memberikan yang lebih baik, lebih tepat untuknya. Seperti dulu, dia gagal mendapat beasiswa BPPS UGM dan kemudian mendapatkan berkah diterima CPNS di Balai Riset Perikanan Bali. Tuhan, Maha Misterius untuk memberikan kesempatan pada manusiaNya untuk mencari, berjuang sampai akhir dan berserah diri, mungkin juga dengan menanti. Karena Dia, Gustiku, setahuku Maha Perencana yang baik. Bersiaplah dan ijinkanlah keajaiban-keajaiban terjadi dalam hidupmu...

Begitulah kata Tuhan padaku hari ini, melangkahlah terus, menanti, mencari, menerima, mengabdi, berkontribusi, mengoptimalkan karya diri..
Hari ini aku merayakan kemenanganmu, kemenanganku, kemenangan kita semua***

*Salam kasih dari Glasgow, 9 Feb 2012. Di meja kerja ruangan student yang sebentar lagi kutinggalkan, sebentar.



Monday, 6 February 2012

Tentang Pulang


Malam yang lumayan brrr...dingin, pasti suhunya minus lagi, ditambah dengan kabut yang terus turun di luar jendela. Entahlah, anomali rasanya, bila kota-kota lain membeku dengan turunnya salju, di Glasgow malah sejak dini hari tadi turun kabut. Jadi berasa bagaimanaaa begitu, bangunan-bangunan terselimuti kabut, dan jarak pandang menjadi terbatas, terasa misterius. Tapi beginilah, kunikmati saja. Karena sebentar lagi mungkin aku merindui kabutnya, merindui dinginnya, merindui badainya. Ah..ya karena tak terasa, hanya dalam hitungan hari lagi saya akan pulang, pulang..walau memang hanya beberapa bulan saja, tapi setidaknya saya pulang. 
Seperti biasa, saya selalu “nggak sadar diri” bahwa akan pulang, seperti halnya dulu “nggak sadar diri” kalau akan segera berangkat. Ternyata sudah lebih dari empat bulan saya menjejakkan kaki di negeri antah berantah ini, di kota yang berbelok 51.3 mil dari kota tujuan saya, Edinburgh. Kesadaran seseorang memang kadang kala mengenal kata terlambat, mungkin memang keterlambatan itulah yang justru menghadirkan ruang-ruang kesadaran. Bila semuanya berjalan baik-baik saja, tepat waktu, mulus tanpa onak duri, tak terbayangkan betapa hambarnya rasa hidup. Mungkin begitulah polanya, keterlambatanpun bisa menjadi loncatan kesadaran. Sadar bahwa mungkin selama ini saya belum “benar-benar hidup” di sini.
 Masih banyak tarikan-tarikan lain yang menyebabkan saya “membuta” ehehe. Mungkin karena fokus mikirin riset (haiiih cari alasan ilmiah) jadinya nafsu jalan-jalan dan menjelajahnya rada berkurang. Saya belum benar-benar mengenal Glasgow, kota yang saya tempati ini dengan baik. Seperti hanya numpang hidup, celakanya itupun cuma siang doang. Karena kebanyakan setelah pulang dari lab, dan pulang ke Flat, hidup saya rasanya di Indonesia saja. Dengan nonton tivi Indonesia dengan mivo tv, lalu dilanjut nulis atau melakukan hal lain sambil mendengarkan radio Swaragama lewat Jogya streamer. Belum lagi ditambah chat dengan sahabat-sahabat di Indonesia, rasanya di luar Glasgow, tapi di dalamnya Jogya..ahaha. Begitulah kawan, ritme hidup selama beberapa bulan ini. Sebenarnya tak masalah, hanya saja aku ingin mengenali tempat yang kutinggali ini dengan lebih pribadi lagi.
Mungkin karena saya tidak terlalu excited dengan tempat ini, itu awalnya yang membuat saya sok “angkuh” enggan melirik seperti apa sebenarnya Glasgow. Berbeda saat saya datang ke Itali, sepertinya tak sesuatupun ingin terlewatkan dari pengamatan saya. Walau hanya tinggal selama 3 bulan di sana, namun rasanya hampir semua tentang Itali dapat tertangkap melalui mata, telinga dan rasa. Tapi Glasgow benar-benar masih terasa asing di hati saya, walaupun setidaknya saya merasa nyaman tinggal di sini. Tipe-tipe kawasan yang tak terlalu modern, nggak terlalu ramai, udara masih bersih dan segar, everything seems okay. Tapi bila ditanya, makanan khasnya Glasgow apaan? Budayanya orang situ yang unik apa? Oh..memalukan, saya tidak tahu, belum tahu. Nggak kepikiran..ehehe..
Duuh benar-benar payah saya.
Padahal beberapa saat lalu, dosen saya di UGM dulu tiba-tiba mengirimkan pesan lewat inbox FB :
hebat ya..bagus deh foto-fotonya, jadi kangen kuliah lagi. jangan lupa pelajari heritage-nya
Begitu kira-kira isi pesan beliau yang dulu pernah kuliah di Liverpool School of Tropical Medicine.
Ah, begitulah. Makanya kemarin saya sempatkan untuk mengunjungi Edinburgh, jadi paling tidak sudah menjelajahinya. Oh, saya belum kemana-manaaaa...ahaha...parah. Saya juga tidak tahu lari kemana daya penjelajahan saya, atau sekarang merasa “sensasi jalan-jalan” sudah tak semenggairahkan dulu lagi. Ahaha entahlah...
Pulang ini juga membukakan kesadaran, bahwa Tuhan sudah memberikan saya kesempatan berharga yang tak semua orang bisa dapatkan untuk melihat, merasai kehidupan lain, dan seharusnya bisa belajar dari itu. Sudah sih sebenarnya, tapi belum-belum total rasanya ehehe..Jadinya, akhir-akhir ini bila saya sedang jalan-jalan sendiri menyusuri kota, saya benar-benar menikmatinya. Ternyata ada banyak hal yang selama ini tak terlihat oleh saya. Lambang kota ini yang lucu, yang hampir ada di setiap jalan, tentang keramahan penduduknya, tentang cuacanya yang unik, apalagi tentang akses bahasa inggris orang sini yang..hadeeeh..berasa nggak pernah belajar bahasa inggris deh, aksen Glaswegian memang terkenal bahasa planet, orang Inggris saja nggak ngerti mereka ngomong apa. Tapi bagaimanapun, saya yakin Glasgow pastilah mempesona, karena tempat ini yang dipilihkan Tuhan untuk saya.
Selalu saja begitu, kepergian, terkadang membukakan kesadaran betapa berartinya apa yang kita tinggalkan. Seperti Indonesiaku, yang saya tinggalkan, kini aku melihat Indonesia, keluarga, pekerjaan, anak-anakku, orang-orang yang kusayang, serta banyak hal dengan sebuah pemahaman baru, dengan sudut pandang yang baru, dengan rasa yang baru. Hal itu mungkin tak bisa kudapat bila aku tidak “pergi”. Pergi, meninggalkan, mungkin justru adalah saat memberikan ruang untuk menghargai sesuatu, seseorang, apapun. Saya akan pulang dengan rasa “baru” pada Indonesiaku, dan semoga saat saya balik lagi ke sini, saya juga datang dengan rasa “baru pada Glasgow. Mungkin itulah peran kata “pergi”, untuk menjadikan pulang terasa indah..

Banyak ijazah hidup, memang kadang bisa dibentuk oleh pergi. Di dalam pulang, manusia memperoleh arti-artinya yang baru, bobot hidupnya yang baru..(Prie GS)


**Glasgow masih saja sepi, sementara adzan subuhmu baru saja berkumandang di Swaragama, saya baru saja shalat isya dan menyantap dessert saya yang sebentar lagi aku saya rindukan, Strawberry Trifle, semacam puding strawberry dengan tiga lapis dan atasnya dilapisi whipped cream, rasanya jangan ditanya, selalu menggoda lidah, apalagi harganya, bikin tak usah pikir panjang membelinya, cuman 98 pence, nggak ada 1 pounds, sepertinya di Indo saja nggak dapet si penggoda lidah ini dengan harga segitu. Beginilah, saya sedang mengalami sindrom doyan makan tingkat tinggi, rasanya belum pernah saya serakus ini. Bila ditanya berapa kali kamu makan hari ini? Hihi lima kali..ekekek..setelah bangun pagi, sebelum berangkat ke lab, pas makan siang di lab, lalu setelah pulang lab, dan kemudian makan malam sesi kedua, plus diakhiri dengan si strawberry trifle ini..
Salahkan cuaca yang minus-minus itu, pastilah karenanya saya doyan makan ;p;p
 Selamat menyambut hari barumu kawan, sementara kasur dan duvet itu rasanya sudah memanggil-manggil saya untuk segera zzzz....enjoy ur life..


Glasgow, 6 Feb 2012, 9.45 pm.

Sunday, 5 February 2012

Rindu Tahu

Tahu apa engkau tentang rindu? Tanyakanlah pada tahu, karena ia tahu betapa rinduku padanya. Sederhana saja rindu, tak muluk-muluk, hanya ingin makan tahu. Tahu saja, karena bila ngidam tahu gimbal mas aris di Semarang, tentu saja jauh, dan akupun tidak (terpaksa tidak) ngidam tahu petis kesukaanku di depan pasar Gombong yang berjualan mulai jam 4 sore itu. Aku tahu pasti anak-anak Indonesia yang sekolah ke negeri antah berantah ini banyak disergap rindu, entah rindu keluarga, rindu sahabat, kekasih, ataupun rindu makanan. Sudah sering kudapati upaya-upaya gigih mereka dalam rangka menuntaskan satu rasa, rindu. 
Puput, flatmate-ku nyari labu siam kemana-mana untuk bikin lontong opor, bikin pempek. Lalu cerita kegigihan rekan lain pastilah sudah sering kudengar, berbagi bumbu rendang, dan masakan-masakan Indonesia yang lain. Begitulah rindu, kawan, memberimu segala macam daya upaya untuk menuntaskannya, dan kali ini aku rindu tahu.
Tadinya ingin kubuat semacam tahu yang dibikin opor, tapi niat kuurungkan, kayaknya enak bila diolah original saja. Hanya direndam dengan garam dan bawang putih saja, dan digoreng lalu dilahap panas-panas..hasiih..dan kau tahu..itulah tahu terenak sepanjang sejarahku ahaha...lebaaay..
Kubeli tahu itu di toko cina Chunying, yang letaknya jauh dari flat, harus naik bisa dulu ke city center, lalu jalan sekitar 15 menit ke toko tersebut, panjang perjalanan demi kerinduanku pada tahu.  Dan harganya pun, bikin tarik nafas panjang-panjang, hampir 3 pounds (hampir 45rebu) untuk sebungkus tahu berisi 15 biji. Tapi kau tahu, demi rindu, sepertinya semuanya dikesampingkan. Maka akhirnya tersaji juga tahu goreng panas yang kumakan dengan nasi hangat plus tumis teri, dan oh Gusti...nikmatMu sungguh susah kuingkari.
Mungkin tulisanku terdengar berlebihan, tapi rasailah engkau misal sudah sebulan tak makan nasi, lalu engkau akhirnya menemukannya, rasanya akan berkuadrat-kuadrat nikmatnya. Akhir-akhir kusadari hal itu, Tuhan memang punya mekanismenya sendiri agar manusia belajar bersyukur. Tahu di Indonesia adalah makanan murah yang bisa dibeli dimana saja, tak terlihat, kalah saing dibanding makanan-makanan rupa-rupa yang kini naik pamor dengan semakin nge-trend-nya wisata kuliner yang sekarang berubah menjadi lifestyle manusia masa kini. Tapi kau lihat, tahu yang diolah dengan cara paling tradisional itu, mampu menuntaskan rinduku. Sederhana saja , bukan?
Tahu itu mengajarkan padaku, bagaimana menikmati berkahNya dalam setiap detiknya. Dengan caranya yang sederhana.

**Glasgow, 5 Feb 2012,  8.30 malam dengan bulan yang membulat purnama di luar jendela..




Tragedi Masuk Angin

Di negeri antah berantah begini, yang paling merepotkan adalah bila badan sudah mulai protes, dan entah kenapa sudah kedua kalinya, masuk angin, dan mual-mual. Kejadian pertama, juga begini rupa dan berikutnya lebih parah karena harus melakukan 911 sendirian dan akhirnya muntah-muntah...aisssh...sudah kubujuk-bujuk si badan akan bekerjasama dengan baik hari ini. Karena sederet kerjaan lab menanti,ekstraksi RNA, sintesis ke cDNA, lalu fiksasi untuk immunoflourecens serta mengganti media si sel-sel itu. Pengennya kabur ke flat dan tidur, tapi apa daya..jadwal dengan makhluk hidup memang tak bisa ditunda. Lalu iseng, sambil menghilangkan mual, chat dengan sahabat, ikutan bingung dia di seberang sana, dan mulai rewellah dia :

S : “makan banyak, minum banyak, terus tak usah lembur
Aku : Tapi kan nulis membuatku bahagia,
S : iya tapi bukan berarti mengurangi jatah fisik untuk tidur
S : Istirahatlah sebentar, pejamkan mata, atur nafas
Haikk..seperti orang mau melahirkan saja, Jawabku dengan ngakak tertahan. Walaupun perut masih mual. Sepertinya ini gara-gara menghirup powder virkon saat piket tadi pagi, curigaku begitu. Karena sudah kali dua aku mengalami hal serupa, dan  hari ini lebih parah. Tadi pagi masih baik-baik saja, sarapan seperti biasa. Dan setelah piket membereskan lab, dan menyediakan segala keperluan laboratorium termasuk mengganti cairan pembuangan pipet dan sterilisasi, yakni dengan membuat larutan virkon 1% tiba-tiba jadi mual begini rupa. Tapi dasarnya aku tipe yang sering kali mengindahkan rasa sakit, kuanggap ini sakit biasa saja. Mungkin sejenis masuk angin biasa, yang nanti akan sembuh dan baik-baik saja. Jadi dengan mengambil segelas air hangat di lantai 5, kuharap mualnya akan segera sembuh.

Beda lagi dengan adekku, yang tiba-tiba menyapa di chat FB, yang bilang
Ss : Minum wedang jahe sama kunir asem
Hadeeeh ribet bener. Ini kan cuma masuk angin..nanti juga sembuh sendiri. Begitulah, terkadang bila sakit-nya masih dalam kategori ringan sampai sedang, jarang-jarang kuanggap sebagai perkara besar. Dan saat kucerita tentang masuk angin dan muntah-muntah dengan tersangka gara-gara bubuk virkon itu pada si dosen kimia pengampu mata kuliah kesehatan laboratorium untuk bertanya tentang bahaya si bubuk merah jambu itu, komentar awalnya bisa diduga,
            “ Sudah berapa bulan?” fiuuuuh...tapi kalimat berikutnya,baru dia bilang “ banyakin minum susu karena bla..bla..bla..haiiih, selalu saja kebalik, siapa coba yang dosen kesmas..
Cerita tentang masuk angin itu kuanggap berakhir, seiring dengan kembali normalnya badanku dengan nafsu makan yang kian meningkat saja. Tapi tiba-tiba dua hari kemudian, Esther (mahasiswa postdoc di lab) mencari tahu apakah ada sesuatu yang aneh di lab, karena petugas kebersihan yang membersihkan sisa cairan di drum pipet (yang berisi cairan virkon) mengeluh mual dan sakit tenggorokan. Dan akhirnya ceritalah aku tentang masuk angin dan muntah-muntah yang sudah terjadi dua kali dengan tersangka di bubuk merah jambu itu. Semula aku menganggap itu cerita biasa saja, hanya ingin menegaskan lagi, mungkin tersangka si penyebab sakit antara aku dan si petugas kebersihan itu sama, si virkon itu. Tapi siangnya, tiba-tiba Esther berkata bila aku harus menemui Joice, kepala health safety CVR untuk mengisi form. Hiyaaak, sudah mulai curiga aku. Dan dengan manggut-manggut dan sedikit shock mendapati form yang kuisi itu berjudul agak serius : form laporan injury and dangerous occurance..aih mantap kataku dalam hati, masuk anginku masuk injury serius rupanya. Dan lagi, aku diwawancarai seperti korban saja, awalnya bagaimana, saat kejadian kira-kira jam berapa, memakai apa, apakah bercerita tentang kejadian itu ke orang lain, gejala-gejala apa yang dirasakan, tindakan apa yang dilakukan dan sampai berapa lama sembuh. Sementara dia mencatat secara detail pernyataanku. Hohoho kok jadi begini yaaaah...
            “ Baik, form ini akan diajukan ke Uni, nanti mungkin dari pihak health safety uni akan merundingkan dan mungkin akan mengadakan pemeriksaan kesehatan, dikhawatirkan kamu terlalu sensitif terhadap bahan kimia tertentu. Nanti juga saya akan ke Alain untuk memberitahukan tentang hal ini kata Joyce, yang dengan telatennya menghadapi “kasus” ini. Duuuh, ini kan kasus masuk angin doang, kok ceritanya jadi panjang sih, apalagi sampai urusan dengan supervisorku segala, haiiih, paling nggak mau ada perkara dengan supervisor, jadi saat dia bilang akan lapor Alain, kupingku langsung sensitif,
            “ Humm I don’t want to make a trouble” kataku bimbang

Lalu dia tersenyum “ oh bukan, sama sekali bukan masalah, ini hanya sekedar laporan saja, karena dia kan yang bertanggungjawab atasmu di sini, jadi dia harus tahu. Jangan merasa begitu. Kami di sini semua membantu untuk memastikan bahwa seluruh anggota lab baik-baik saja, jadi jangan sungkan bila ada masalah seperti ini “ katanya panjang lebar. (sebenarnya jauh lebih panjang lebar lagi, dengan banyak bumbu-bumbu seperti halnya bagian healthy safety yang tak menginginkan anggota lab-nya cedera seujung kukupun).
Rekan-rekan lab yang lain pun merespon dengan seriusnya,
            “ Why you don’t tell us?” dengan muka bersimpati. Hadeeeh lha wong cuman masuk angin dan muntah-muntah kok yoo...waktu itu aku memang hanya cerita pada susana (rekan mahasiswa phD dari Malaysia) dan Stephanie (mahasiswa postdoc) saja. Aih...aku jadi terharuuu..halaaah lebaay..
hari berikutnya, Joyce dan Esther memintaku untuk sering mengecek email student-ku, mungkin pihak healthy safety Uni akan menghubungiku. Hoho kuharap nggak usah ada pengecekan kesehatan segala...hadeeeeh....


Tapi dari tragedi masuk angin ini, aku menyadari beberapa hal, satu, ternyata aku dikelilingi orang-orang yang perhatian dan menyayangiku...jiaaaah hi hi...dua, ternyata perkara healthy safety di UK ini memang bukan perkara main-main, serius sekali mereka dengan masalah ini. Salut juga dengan sistem mereka yang begitu memperhatikan keselamatan. Bila di Indo, rasanya sering kali peraturan tentang healthy safety hanya berupa lip service yang berakhir dengan tempelan di dinding yang sering diabaikan dan tak dianggap penting. Tadinya, saat pertama kali masuk gedung CVR, heran juga dengan papan larangan memakai sarung tangan lateks yang tergantung di koridor-koridor. Dan sebenarnya jadi ribet, karena harus melepas sarung tangan bila ingin berpindah-pindah untuk memakai alat tertentu. Tapi ternyata peraturan itu dibuat karena ada beberapa anggota dan staff  CVR yang alergi dengan lateks. Hummm...jempol empat deh buat mereka tentang healthy safety, dengan harapan Indonesia bisa menerapkan hal serupa suatu hari, semoga ***

Thursday, 2 February 2012

Luka//Lalu//Lupa

Semua luka akan sembuh, tapi tidak semuanya akan hilang. Beberapa luka akan menyisakan bekas—tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada (Luka, Fadh Djibran)

Aku adalah saksi sekaligus pelaku, bahwa luka-luka itu pernah ada. Bukti bahwa kita hanya manusia, yang mungkin saja rentan untuk terluka. Entah itu luka karena seseorang yang sengaja atau tak sengaja, atau bahkan luka yang dicipta sendiri? Entahlah, luka terkadang tetaplah getir yang sering kali ditelan sendiri. Kadang kala  berupa sayatan tak terkendali yang tiba-tiba merobek hati tanpa bisa dicegah lagi. Begitu saja, tiba-tiba, tanpa permisi.
Tak ada guna benteng-benteng, topeng-topeng, atau tameng-tameng yang kita pakai, luka itu terlalu jelas untuk bisa bersembunyi. Mungkin luka bersembunyi di balik senyum yang masih bisa terulas, di balik tawa yang sebenarnya getir, dibalik canda yang sebenarnya hanya dengan cara itulah ingin kau kubur lukamu dalam-dalam. Karena bila tidak, tangismu akan pecah.
Tanda bahwa kata-katamu tak sanggup lagi bicara, senyummu sudah tak bisa lagi terkulum, tawamu hilang ditelan getir yang datang menghampir. Dan hanya tangis yang mampu menerjemahkan luka itu dengan sedemikian fasihnya. Saat kata-kata hilang daya, tangis hampir sempurna mengambil peran itu. Tangismu, yang mungkin tangis sendirian yang sepi. Yang menegaskan bahwa setangguh apapun dirimu, rapuhmu adalah bagian dari dirimu yang tak terbantahkan. Bukan untuk kehilangan ketangguhan dan kekuatan, namun mengambil jeda dari peristiwa, mengambil jarak dari apapun yang kaupikir menyakitimu, dan ingin sendirian dengan dirimu sendiri.
Bila kautengok kebelakang, jejak-jejak luka itu pastilah pernah ada. Mungkin karena memang dalam setiap diri manusia ada jejak-jejak luka yang disimpannya. Ada yang memilih menguburnya, pura-pura melupa, bahwa episode itu adalah sepenggal kisah yang ingin ia hapuskan dari sekuen hidupnya. Ada pula yang membumbui luka, yang justru merawati lukamu, dan hidup di atasnya. Iya, dengan mengenang-kenang terus lukamu itu, luka segores yang dikenali hati itu akhirnya justru menjadi bumbu bumbu yang kau buat dramatis.
Manusia memang terkadang masokis rasa, menyukai sakit, atau luka yang dikorek-korek lagi. Merasai kilasan rasa-rasa itu lagi. Perhatikan deretan-deretan lagu di jetaudio, winamp atau playlist di HPmu. Lagu-lagu kebangsaanmu itu pasti mengingatkanmu akan sesuatu, akan peristiwa atau akan seseorang. Mungkin juga ada jejak-jejak luka bertebaran dimana-mana, namun kau menikmatinya. Kadang malah berubah menjadi kisah begitu dahsyat yang dialami oleh hati kalian. Yang sering dilagukan, sering kali malah seperti dirayakan. Begitulah manusia.
Merayakan luka setelah luka berlalu, namun tetap tak bisa lupa. Luka-luka itu akan sembuh, dengan si penyembuh terdahsyat dan tak tergantikan, waktu. Si detik jarum jam yang berdetak ritmis itu terkadang adalah harapan saat luka menyesakkan dadamu. Dengan mengucap mantra sakti “ dan inipun akan berlalu”.
Seorang sahabat bertanya dalam statusnya “apakah sebuah tangisan akan menyembuhkan luka?” Entahlah, itu mungkin tergantung kadar dan seberapa cepat penerimaanmu pada luka itu. Mungkin hanya butuh sejenak waktu, karena saat luka memenuhi dada, tak ada lain yang terasa kecuali pedihnya. Sesaknya yang menyulitkanmu bernafas, lalu tangis adalah semacam naluri alamiah yang tak harus kau pelajari mengapa bulir-bulir air matamu itu tiba-tiba saja menderas. Sepertinya luka dan tangis mempunya koneksinya yang ajaib. Tangis yang kadang tanpa kata. Mungkin tak perlu lagi kata-kata. Tangismu itu sudah mewakili segalanya. Percayalah nantinya, luka itupun akan lalu, walau mungkin kau takkan pernah lupa. Tak apa bila kau memilih pura-pura melupa, toh dengan penghapus macam manapun luka itu sebenarnya tak pernah bisa benar-benar terlupa. Mungkin luka itu akan sembuh, nanti, seiring dengan dengan pemahaman-pemahamanmu yang baru. Di sinilah justru betapa kadang luka itu adalah sejenis anak tangga yang akan membuatmu melangkah pada tataran pemahaman berikutnya.
Satu hal, sadarilah, bahwa takkan pernah ada sesuatu atau seseorangpun yang sanggup melukaimu, menyakitimu tanpa engkau mengijinkannya. Ya, kau terluka karena engkau mengijinkanmu terluka. Dan sayangnya, orang yang paling berpotensi membuatmu terluka adalah orang-orang terdekatmu, orang-orang tercintamu, orang yang paling yang menduduki porsi-porsi besar di hatimu. Bukankah begitu? Karena  mungkin mereka-merekalah yang kau ijinkan, atau tak sengaja kau ijinkan menjejakkan luka. Entah luka yang kau buat sendiri, atau terluka oleh orang lain. Luka yang kau buat sendiri? Yaa..luka yang barangkali orang yang kau anggap melukaimu itu tak pernah merasa atau bermaksud melukaimu. Luka karena harapmu tak bertemu dengan nyata,  luka karena inginmu tak seperti yang dilakukannya.
Tengoklah lagi jejak-jejak lukamu itu, jangan-jangan banyak luka yang kau buat sendiri, lalu kau usung-usung kemanapun kau pergi, lalu kau coba sembuhkan sendiri. Humm..tapi yakinlah, bahwa tetap ada harga untuk sebuah luka bila engkau mau belajar darinya. Mungkin luka itu akan mengantarkanmu pada pemahaman-pemahaman hidup yang baru. Biasanya seperti itu. Mungkin. Mungkin saja, aku hanya menduga.

Luka karena cinta, bukanlah luka yang mencacatkan, tapi yang menuntunmu untuk mengenali keindahan asli dari jiwamu (Mario Teguh)
Tulisan ini untukku, untukmu, untuk kalian, yang pernah terluka, mempunyai luka, menjagai luka, dan menyembuhkannya, walau mungkin tidak untuk lupa bahwa luka itu pernah ada. Jadikanlah luka itu jejak berharga dalam hidupmu, bahwa pernah ada peristiwa, dan pembelajaran di baliknya.

Sungguh, saya mengajak Anda semua untuk mempercayai rumus ini, bahwa seluruh kepahitan-kepahitan hidup, hanyalah intro bagi sebuah kegembiraan. Maka orang yang tidak pernah menderita, sebetulnya telah kehilangan separoh kebahagiaannya (Prie Gs)


**Glasgow, 2 Feb 2012 yang tengah membeku dengan suhu -7 C,