Sunday, 18 March 2012

Memori Sambel Terasi : Sebuah Potret Peradaban

Sore yang lengang, dengan udara yang sedikit gerah, aku melangkahkan kaki menyusuri jalanan desaku. Usai mengantar hantaran arisan keluarga ke seorang saudara yang rumahnya terletak tak jauh dari rumah, aku mengambil jalan memutar. Iseng saja, sambil mengamati perubahan, lama rasanya aku tak mengamati desaku ini. Yang telah sekian tahun, rasanya tak banyak perubahan berarti. 
Memandangi lapangan rumput tempat dulu saat SD aku dan kawan-kawan bermain kasti saat pelajaran olahraga. Kini, lapangan itu rumputnya tak terurus, nampak di kejauhan kandang-kandang sapi hasil PNPM Mandiri yang dikelola desaku. Tapi denyut nadi desa ini terasa sepi. Lalu kembali kulangkahkan kaki, dan menyalangkan pandangan mata pada sebuah rumah di sebelah gardu itu. Kupandanginya lama-lama. Tak asing, karena tak terlalu banyak berubah seperti dulu aku biasanya mengunjunginya hampir tiap hari, sekitar 25 tahun lalu. Lama waktu berjalan ternyata, hidup telah berubah, tapi cerita masih segar dalam ingat.
Tiap pagi, yah hampir tiap pagi sebelum berangkat sekolah saat aku masih duduk di bangku SD, aku menyambangi rumah itu terlebih dulu. Setelah ibuku selesai menyuapiku, dengan lauk yang biasanya tak banyak berubah, yakni nasi, daun kecipir hasil ladang, atau menu paling poool adalah telur. Juga setelah kepangan rambutku sudah selesai rapi jali, karena biasanya ibuku akan membuat kepangan dari bagian kepala atas sampai ujung rambutku yang panjang. Aku sejak kecil, tak pernah punya bakat protesan, maka walaupun aku tak terlalu suka didandani ala perempuan, aku tak pernah protes dan membiarkan ibuku bereksprimen tiap hari mendadani anak perempuannya. Namun paling jauh jangka waktu dandanan hasil jerih payah ibuku itu adalah sampai gardu, karena dengan segera kuobrak obrik kepangan rambutku dan membiarkannya lurus, kadang lalu kuikat sekenanya, atau kubiarkan terurai. Entah mengapa aku tak suka didandani seperti perempuan,
Atau, ada naluri yang mengatakan,
            “ aku tak suka menjadi perempuan, apalagi bila didandani menjadi lebih cantik, karena akan menyiksa. Aku lelah dengan tingkah kakak kelas yang hampir setiap saat menguntitiku dan mengatakan suka padaku, lelah dengan ece-ecean kakak kelas. Jadi mungkin menjadi cantik menjadikan hidup tidak sederhana”
Ahaha..mungkin itu salah satunya, yang membuatku selalu mengobrak abrik dandanan ibuku dan lebih memilih bertingkah menjadi seperti laki-laki.
Cukup pembahasan itu, mari lanjutkan tentang rumah itu, yang selalu kusinggahi di pagi hari sebelum berangkat sekolah. Aku segera masuk rumahnya, yeaap setiap pagi begitu, menghampiri seorang teman yang hampir tiap pagi berangkat ke sekolah SD bersama, dan pulang juga bersama. Namanya aku masih ingat, Yuli Riana. Bila kuhampiri, kadang dia tengah bersiap-siap mengenakan dasi merahnya. Aku segera duduk di atas balok separuh kepala kering di dekat tungku masak. Belum ada kompor minyak, apalagi kompor gas waktu itu. Lalu ibunya akan menyiapkan sarapan, yang hampir tiap pagi juga sama, nasi hangat dan sambel terasi bakar, kadang ditemani sayur. Itu saja, hampir tiap pagi itu saja. Terasi itu dibakar di tungku kemudian diulek di atas ulekan kayu bersama cabai, garam dan bawang. Kemudian setelah nasi panas-panas diambil dari kukusan bambu, dan diletakkan di atas piring seng, ibunya segera menyuapi temanku itu. Dan menyuapiku juga, jadi hampir tiap pagi aku selalu sarapan dua kali ehehe..
Sambel terasi itu, memori itu selalu kuingat, simbolisasi betapa sederhana dan kurang gizinya kami-kami ini jaman dahulu kala. Dibandingkan dengan anak-anak sekarang yang serba berkecukupan. Kala istirahat, aku dan teman-teman kadang nggragas menggasak daun-daun mangga muda yang dimakan dengan garam. Mau tak mau aku harus tersenyum bila mengenangnya. Kami, anak-anak kampung yang sampai sekarangpun jalan akses menuju kampungku masih memprihatinkan.
Bila mengenang Yuli, aku seperti melihat Arai di Tetralogi laskar pelangi. Otaknya pintar brilian, aku dan dia..hanya bergonta ganti saja menjadi ranking 1 dan 2 sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD, kalau bukan aku pasti dia. Tapi sayang, akhirnya dia bernasib seperti pemuda pemudi lain di desa ini. Usai menamatkan SMKnya, ia ke jakarta untuk mengadu peruntungan sebagai pekerja pabrik, seperti juga hampir semua pemuda pemudi di desaku.
Kini aku berpikir, mungkin karena dalam pikiran mereka, tak pernah membayangkan bagaimana cara hidup selain itu. Karena cara itulah yang ditempuh banyak orang lainnya, pendahulu-pendahulunya. Cerita-cerita yang didengarnya, rencana-rencana hidup yang dicanangkan orang-orang  di sekitarnya juga.
Aku merasa beruntung lahir dari keluarga “guru”, jadi setidaknya cerita dan model yang kudengar dan kulihat adalah sosok guru dan pendidik, jadilah aku  juga seperti mereka, hanya saja aku mengajar di perguruan tinggi.
Imaginasi, cakupan mimpi-mimpi memang berkadang menjadi kunci. Ah andaikan dari kecil, anak-anak kampung sudah dicekoki mimpi-mimpi, bahwa masih banyak cara lain untuk hidup, banyak jalan-jalan ajaib lain yang bisa ditempuh. Aku jadi teringat cerita mahasiswiku saat berKKN dulu,
            “ Ibu, kasian lho anak-anak di sana, Pas disuruh menuliskan di kertas mimpi, mereka dengan penuh semangat menuliskan mimpi-mimpinya dan mewarnainya dengan beraneka warna, untuk ditempel di rumah. Tapi banyak orang tua mereka yang melarang untuk menempelnya, orang tua mereka berkata “ kita ini orang kecil, orang desa..tidak usah ngimpi-ngimpi besar, jauh dari kenyataan, nanti kecewa”
Aku yang kala itu mendengar ceritanya, merasa seperti ditohok, sakit. Berapa banyak anak-anak bangsa yang sudah ditebasi keberaniannya untuk bermimpi?bahkan oleh orang tuanya sendiri yang takut bermimpi, yang nrimo nasib, hingga tak heran bagaimana  kualitas hidup bangsa ini bisa meningkat? Ah...jadi teringat update status FB dosen eksentrik saat pelatihan di Malang dulu, kali ini aku harus setuju 107% akan tulisannya ini, biarlah untuk menghormati beliau kukutip tulisannya disini :

Ambillah contoh pemuda desa yg tumbuh besar di pegunungan kapur tandus; ladang ayahnya hanya ditumbuhi ilalang dan palawija yg tak menjanjikan kemakmuran. Adakah dia punya keinginan menggapai hari depan yg manusiawi, tinggal di rumah mewah, kerja kantoran, bersenang-senang, ke luar negeri, pelesiran? Belum tentu. Kenapa? Seumur-umur dia hidup melarat di tengah alam gersang dan otaknya tak mampu membayangkan, apalagi menyaksikan kehidupan yg lain itu.
 Jadi jangan heran kalau ada perawan desa menolak pinangan bos kaya dari kota dan dijanjikan kemewahan yg menyilaukan mata. Dia lebih suka hidup miskin di puaknya, di rumah beratap rumbia, berteman lampu pelita, dibelai desau angin yg menembus sela-sela anyaman bambu di bilik sempitnya. Alasannya sama: tradisi kemiskinan dan kebodohan itu tak memberi sedikit pun ruang bagi manusia seperti dia untuk bercita-cita. Baginya, hidup miskin, lapar dan diremehkan orang lain adalah pakem yg niscaya. Hatinya tenteram dan nyaman di sana, dan kenekadan untuk lepas dari rantai kemelaratan itu justru akan membawa celaka: dia akan merasa asing dan gamang di kota yg bergelimang kemewahan tapi congkak dan profan.
 Di sini saya memandang pentingnya PENDIDIKAN yg mencerahkan akal budi, membuka wawasan dan imajinasi manusia, menyalakan bara api harapan dan hasrat untuk memerangi belenggu nestapa. Walaupun ini bukan Hardiknas atau hari guru, ijinkan saya mengucap terimakasih pada semua guru, ustad dan dosen saya di masa lalu, juga hormat, salam takzim saya bagi semua kolega, dan para mantan mahasiswa yg kini tersebar di desa-desa, di balik kabut pegunungan, di pesisir, di rimba Kalimantan, Sumatra, Sumba, Papua, di mana saja. Jasamu sungguh tak terperikan: membuka mata hati dan pikiran anak bangsa menuju kehidupan yang lebih beradab sebagai manusia.

Dan siapapun yang membacai tulisanku ini, kita bisa berkontribusi bersama-sama, sesuai peran kita masing-masing untuk membuka mata hati dan pikiran anak bangsa untuk berani bermimpi dan mewujudkannya, untuk sebuah kehidupan yang lebih beradab sebagai manusia..***

#Tulisan yang lahir dari ingatan akan sambel terasi bakar itu...sebuah potret peradaban manusia yang masih jauh dari layak, tapi kita bisa berbuat sesuatu untuk sebuah hidup yang lebih baik.


--Your achivement is your contribution
Desaku, 18 March 2012. 23.11.

4 comments:

Suryati Arifatul Laili said...

Aiiiiiiiiiiiiih dalem...bedanya aku tinggal di kota, meski kota kecil, jadi tak merasakan yg kau rasai itu. Pengalamanku menjadi yatim piatu-lah yang membuatku seperti sekarang, makanya aku selalu menyemangati subordinate-ku untuk berani bermimpi, terus belajar dan mengembangkan diri agar bisa menantang dunia :)

nor basid a prasetya said...

terima kasih atas tulisan yang membuka pikiran ku..dan semua pembaca setia blog ini...akupun sama spt budhe sur...sejak kecil hidup d kota..semua serba tercukupi..dan kadang berlebih...namun...apapun keadaannya...memang mimpi lah yg membuat manusia berupaya sekuat tenaga...sebagai salah satu tenaga pendidik...akupun harus turut aktif membuka cakrawala para mahasiswa dan sekelilingku...terima kasih atas tulisannya yg selalu bisa menyemangatiku....mari berjuang bersama :)

Siwi Mars Wijayanti said...

@mba suryati : ehehe begitulah..terkadang latar belakang kita akan mencipta sebuah misi yang harus terus dihidupi..semangaaat..#prinsip inuyasa ahahaha :D

Siwi Mars Wijayanti said...

@mas nor basid --gleek--: yuhuuuu greaaat!! terimakasih..mari berjuang bersama-sama..untuk anak bangsa..wink..wink..ehehe..

Post a Comment