Thursday, 26 July 2012

Menikah atau Bekerja??


Entah mengapa tertarik menulis tentang ini, mungkin karena beberapa waktu lalu, seorang sahabat menceritakan kegundahan hatinya padaku. Tentang pinangan seseorang namun mengharuskannya berhenti bekerja,
            “ Aku sudah berupaya sejauh ini, di titik ini. I am such a hardworking person. Masa harus melepas semua ini.” tuturnya kala itu.
Oh yeah, dia dengan posisinya yang sudah cemerlang di perusahannya itu dan mengingat perjalanan yang harus ditempuhnya, merasa sayang bila harus berhenti dari pekerjaannya itu. Ia gamang.
Kau, kalian? Memilih bagaimana?
Aku? Ahaha tanya padaku ;p
Jeleknya adalah terkadang saya terlalu spontanitas, terlalu main tabrak, tanpa terlalu banyak pertimbangan. Berbanding terbalik dengan sahabat saya ini yang banyak pertimbangan sebelum melangkah. Risiko, kecemasan sudah dipikirkannya jauh hari.
            ahaha gitulah, makanya aku kadang jadi stress duluan” ungkapnya.
Memilih pilihan, sungguh sangat subjektif. Karena “the why” orang toh berbeda-beda yang cukup untuk menjustifikasi segala macam apapun pilihannya tak bisa didebat orang lain. Kenapa? Eh apakah selalu harus ada “the why” dalam setiap pilihan apapun? Milih menjatuhkan cinta pada siapa? Sepertinya tidak ehehe...
Tentang pertanyaan di atas, pernah terlintas dalam pikiran saya tentu saja, dan pasti ada di pikiran banyak perempuan lainnya. Seorang sahabat yang tahun lalu menikahpun harus meninggalkan pekerjaan yang telah digelutinya selama bertahun-tahun untuk pindah bersama suaminya.
            tuh kan, akhir-akhirnya begitu juga” cemas sahabatku itu, setelah beberapa contoh-contoh nyata di sekitar kami tentang hal tersebut.
            Sepertinya aku ndak siap” katanya lagi.
Aku bisa memahami itu, sungguh-sungguh memahami itu. Tapi bila aku dihadapkan dengan pertanyaan itu, dan aku pun pernah mengajukan pertanyaan itu pada diri saya sendiri, jawabku sangat sederhana,
            I will trade everything just to be with him ” kataku pada sahabatku tadi itu. Lalu dia spontan tergelak,
            “ Huaaah so sweeet...gombaaal tapiii” diakhiri kalimatnya dengan tawa kami berdua. Kok gombal sih?
Seperti kataku tadi, saya termasuk dalam golongan orang yang nabrak-nabrak. Otak saya sering nakal untuk bilang ‘
            “ ntar pasti dikasih jalannya kok; ntar pasti terselesaikan kok; kan bisa dikompromikan kok, ah pasti ntar ada kejaiban kok; ntar Tuhan pasti bisa menjadikannya jadi mudah kok.” Ahaha parah emang.
I will trade everything just to be with you,
Pasti jawabanku ini mengejutkan bagi beberapa orang yang menyebutku carier minded—(karir dalam artian mereka adalah pekerjan—baca deh bukunya Rene Suhardono, Your job is not your carier haha promosi malah). You totally wrong about me, guys ehehe. Banyak yang mengira saya menunda menikah karena terlalu fokus pada pekerjaan, padahal..padahal...ahaha..;p
Perempuan bisa berkarya di mana saja, kapan saja, entah itu bekerja atau ibu rumah tangga. Apalagi karir adalah sesuatu within me, yang tak pernah bisa lepas walau “pekerjaan/job” mungkin terlepas. So why should worry?
Nah jeleknya, ntar di kalau sudah jalan, pasti sering terjadi hidup ala roaler coster, eh kok jadi begini yah? Haduh gimana inih? Ahaha...
Mungkin saya harus belajar lagi untuk lebih banyak mempertimbangkan sesuatu sebelum melangkah, tapi nggak mau juga terlalu banyak pertimbangan, ntar kapan jalannya dong.
Nah kalau nabrak, trus jadi jungkir balik (kata anak muda : galauuuu), mungkin jurusnya tinggal DOA,
Seperti kata Fadh Djibran
“Doa adalah cahaya bagi ketidakmengertian kita. Kata ayah, di tengah dunia yang gelap, malaikat pembawa rahmat hanya dapat melihat mereka yang menyalakan cahaya. Mereka yang berdoa adalah mereka yang sedang menyalakan cahaya dirinya dan memberi tahu para malaikat bahwa mereka masih mengingat Tuhan di dunia—meski tidak selalu mengerti. Mungkin, doa juga merupakan cara kita untuk belajar mengerti’


Termasuk itu pula satu-satunya jurus terakhir yang bisa saya lakukan saat ini, ahaha berdoa, pengakuan terhadap ketidakmengertian, tapi tetap menyalakan cahaya agar berjalan menuju pengertian-pengertian yang dimaksudkanNya. 
Maka, dalam pilihan apapun, berdoalah dan nyalakan cahaya hatimu, agar siapa tahu mendapat petunjuk pemberianNya.
Worry Less, Do More Sis !!

(untuk sahabatku yang tengah menggalau dengan pilihannya, nyalakan saja cahaya di hatimu, Tuhan akan menuntun dan mempermudah segalanya bagimu).

*Glasgow, 26 July 2012. 08.45 harusnya sudah mau berangkat, tapi yang menyebalkan mood nulis dateng di saat-saat yang tidak tepat. Langsung kabur mandiiiii ;p)

5 comments:

Arian Sahidi said...

Banyak yang mengira saya menunda menikah karena terlalu fokus pada pekerjaan, padahal..padahal...ahaha..;p
#menunggu lanjutan padahal2nya itu haha

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha...itu sesuatu yang sulit dituliskan di publik, pak guruuu :DD

Suryati Arifatul Laili said...

ehmmmmmmmmm.... saya hadir ^^

Siwi Mars Wijayanti said...

wakakak..yang diomongin dateeeeeng...aku kabuuurr ahaha :DD

Suryati Arifatul Laili said...

emang yg diomongin aku ya ^^

Post a Comment