Kamis, 30 Agustus 2012

Perjalanan Setahun Pertama

Waktu memang terkadang berlarian tak tentu, meninggalkan kita dalam keterperanjatan bahwa sepertinya tak cukup kencang kita mengikuti lajunya. Serasa belum lama aku menginjakkan kaki di Glasgow ini, tapi  ternyata sudah melewati perjalanan setahun pertama studiku.
Dan kemarin, baru saja kulewati ujian progress tahun pertama. Tidak terlalu baik, tapi juga tidak terlalu buruk. Ada poin fundamental yang membuatku sepertinya harus bekerja dan belajar ekstra keras agar mampu memenuhi timeline 3 tahun beasiswaku. Bila harus mengevaluasi diri sendiri, memang kinerjaku belum terlampau optimal sepertinya. Ada beberapa faktor x yang serasa membuat fokus pada riset kadang menjadi buyar. Stress di awal studi karena harus terbiasa masuk lab dari 9-5, plus harus mengerjakan tehnik-tehnik yang sebelumnya belum pernah kukerjakan. Penyesuaian-penyesuaian hidup dengan lingkungan baru, lalu kemudian saat sudah agak “nyaman”, eh harus pulang ke indo selama beberapa bulan. Semua yang sudah settle harus dipak semuanya lalu pergi. Pulang ke Indo, dan harus memulai hidup dari awal, mengerjakan riset yang sebagian besar masih belajar. Perjalanan risetku seperti melangkah dalam hutan rimba, menyibak jalan setapak demi setapak. Sering kali merasa sendirian. Studi doktoral lebih pada belajar sendiri, who’s care? Supervisor lebih kepada memberikan arahan saja. Teman-teman se-lab sayangnya berbeda topik semua dengan topik yang aku kerjakan. Kurang komunitas untuk berdiskusi menjadikanku seperti melangkah di jalan yang sepi.
Tapi tentu banyak yang didapat dari semua pembelajaran setahun ini. Seharusnya, inilah saat yang paling tepat untuk mengupgrade kemampuan semaksimal mungkin. Karena bila kembali lagi ke aktivitas rutin nantinya, waktu akan menjadi sedemikian sempitnya terasa. Maka, langkah ke depan harusnya berupa lebih banyak waktu untuk belajar, bekerja, membangun koneksi dan kolaborasi, menulis dan juga jalan-jalan.
Kembali diingatkan, atau setidaknya mengingatkan diri sendiri atas pertanyaan Kenapa melanjutkan kuliah ke luar negeri? Segala pilihan pastilah subjektif untuk setiap orang yang memilih. “The Why” inilah yang sebenarnya penting. Alasan atau mengapa kita memilih untuk melakukan sesuatu. Mungkin inilah saatnya mengingat kembali “The Why”ku. Alasan dan tujuan-tujuan inilah yang seharusnya bisa mengarahkan dan menstabilkan semangat untuk terus melangkah ke tapak tapak selanjutnya. Tidak ada yang menjamin itu akan mudah, tapi aku yakin bisa untuk dilakukan, selama diupayakan.
Terimakasih pada para sahabat yang selalu memberikan dukungan dan penghiburan, anak-anak mahasiswaku yang membantu selama proses di lapangan, dan tentu banyak lainnya yang tak bisa tersebut satu-satu. Dan juga kamu, yang kemarin setelah sidang berbincang denganku,
Kamu : Semangat itu mahal harganya, enggak boleh hilang
Aku    : Mahalan mana sama harga cabe?
Lalu ikon tertawa guling-guling itu muncul dari bulan kuning yahoo messengermu.
Kamu    : Mahalan harga bawang bombay
Lalu kita tertawa bersama tanpa suara, cukup memberi mandat pada ikon-ikon yahoo messenger itu untuk memberi tahu masing-masing kita, bahwa apapun keadaannya, tetap ada alasan untuk bisa tertawa. Dan walau perbincangan kita sepertinya selalu sulit untuk serius, tapi sungguh membuatku serius untuk bersemangat memasuki tahun kedua studi doktoralku..yeaaaah, cerumuts!!
 


Kamis, 23 Agustus 2012

Sebaris Doa Untuk Setanggi Timur



Sehabis shubuh ini aku mengintip tulisan di blogmu lagi. Sepertinya jemariku sudah mempunyai gerakan bawah sadar untuk membuka link itu di Hpku, dan segera membacai tulisanmu lagi. Terkadang  berharap kau menulis tentang aku lagi, walau tak pernah kau sebutkan sebuah nama, tapi aku tahu pasti sosok yang tengah kaubicarakan itu aku. Aku yang telah menjadi hantu-mu bertahun-tahun lamanya. Namun pada saat yang sama, ada harapan untuk tak lagi menemukan tulisan tentang aku dalam catatan dunia mayamu itu. Sungguh, walau harapan itu terkadang disertai desir perih dalam hati. Desir itu sepertinya berupa ketidakrelaan yang manusiawi.
Aku, yang selalu diam-diam masih sering menengoki hidupmu sejak 10 tahun terakhir ini. Terkadang hanya memastikan setelah berpisah denganku engkau baik-baik saja. Baik-baik saja, sesederhana itu sebenarnya. Tapi entah mengapa keadaan “baik-baik saja”mu itu tetap salah satu hal yang penting dalam hidupku. Entah, untuk yang satu ini aku tak pernah punya sebuah  penjelasan yang pasti.
Setanggi Timur, perempuan yang dulu kupanggil Anggi. Manis ya namamu, seperti juga parasmu itu. Hidup menciptakan sebuah perlintasan untuk kita agar pernah bertemu dalam sebuah harmoni. Kereta kita pernah melaju beberapa waktu, sampai rel kita terputus. Aku hilang dari duniamu. Kau juga menghilang dari duniaku.
Tapi kau tak pernah tahu bahwa aku sebenarnya tidak pernah benar-benar menghilang. Aku masih mengintipi duniamu. Masih melihat timeline jejaring sosialmu yang untungnya masih kau-set publik, hingga aku masih bisa menengokinya. Ada desir dalam hatiku saat melihat engkau bertumbuh menjadi perempuan yang sebegitu tangguhnya, dan manis tentunya. Desir itu bukan lagi desir keinginan untuk melajukan kereta kita berdua lagi, Anggi. Tapi desir kelegaan bahwa bahwa engkau hidup dalam kebaikan dan kemandirian, walau ada kehampaan yang sayangnya justru aku yang ciptakan.
Kau tahu berapa banyak orang yang mencintai dan akhirnya bisa bersama dengan pasangan yang dicintainya? Aku tidak tahu, tapi mungkin juga tidak terlalu banyak, dengan alasan yang aku tidak tahu kenapa. Tapi aku pernah mendengar bahwa kita akan bersama dengan orang yang lebih membutuhkan kita. Mungkin itu benar, Anggi. Mungkin memang benar bahwa perempuan yang bersamaku kini lebih membutuhkanku dibandingkan kamu. Dan kau mungkin juga lebih membutuhkan lelaki yang saat ini pelan-pelan berupaya menggantikan aku.
Desir di hatiku kembali muncul saat kata “menggantikan” menggema. Aku tak tahu pasti apa. Apakah kita berdua sebenarnya belum benar-benar saling rela? 
Entahlah, aku yang terbiasa menghantuimu, walau tahun-tahun kita sudah lewat. Walau kenangan yang berkarat itu masih juga kau simpan rapat-rapat. Tak tahu jua mengapa engkau masih menggengam erat aku yang walaupun tak kau pasti tahu kabar beritanya. Terkadang aku tak memahami jalan pikirmu. Tapi masih saja kujumpai hantuku yang hadir dalam tulisan-tulisanmu, dan tentu pula masih hadir dalam hatimu. Kau tahu rasanya sedih dan bahagia sekaligus, Anggi-ku? Seperti itu pula rasaku.
Tapi mungkin ini saatnya, hantu itu pelan-pelan menghilang. Biarkan aku mengamatimu dari jauh, dalam diamku yang tak pernah kau tahu. Juga sebaris doa di akhir sujudku yang terlantun juga untukmu selalu. Sebaris doa yang sungguh terbit dari dalam hatiku, entah sebagai apa. “Semoga engkau baik-baik saja, Anggiku-
Ah akhiran –ku itu seharusnya harus pelan-pelan kuhilangkan.
Semoga engkau baik-baik saja, Setanggi Timur.
Terkadang cinta bisa diwujudkan dalam doa. Semoga dengan doa ada ikatan benang antara dua manusia yang walau bagaimanapun takdirNya masih bisa saling menyapa. Saling menyapa dalam doa. 

(Sebuah Tulisan untuk Seorang Sahabat)

 


Rabu, 22 Agustus 2012

Kaca//Mata

Tanpa sadar kemana-mana dan dalam melihat apa saja kita memakai kacamata. Kacamatamu, kaca mata saya, kaca mata mereka, kalian, berbeda-beda. Terkadang kita takut berbenturan pandang, hingga lebih memilih bersikap netral. Tapi acap kali benturan terjadi. Hingga hidup bukan lagi sesederhana hitam dan putih. 
Ternyata dahsyat benar efek perbedaan kacamata yang mereka pakai itu dalam memandang sesuatu. Kaca//mata. Cara pandang kita akan sesuatu.
Kaca mata itulah yang selama ini bertahun tahun kita bawa kemana-mana, menjustifikasi sesuatu, memandang dan mensikapi peristiwa ataupun rasa. Kaca mata bentukan kita sendiri hasil dari sekian lama pertumbuhan diri. Mungkin hasil kontribusi dari orang tua, dari buku-buku yang kita baca, persentuhan pandangan dengan orang-orang yang kita kenal, kejadian ataupun lingkungan komunitas terdekat kita.
Masing-masing pribadi tentulah mempunyai kacamata sendiri. Tapi kadang kala kita tidak bisa mencegah kala ada benturan terjadi. Kadang, sering.
Kacamata yang kita kenakan itu prinsip dan nilai yang kita yakini, tentu mungkin berbeda dengan orang lainnya. Tapi masalah terjadi saat kita ingin mengubah kacamata orang lain dengan kacamata kita.
            “Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita (Dee)
Dan ternyata tidak mudah. Karena kacamata itu seperti indoktrinasi yang telah terjadi bertahun-tahun, berkarat dan telah menjelma menjadi sebuah “kebenaran” pribadi. Seorang sahabat tercintaku telah lama mendurja dengan kesahnya padaku, saat orang tua tercinta tak merestui hubungannya dengan lelaki yang ingin ia jadikan “rumah hati”nya karena restu orang tua tak jua datang. Sebuah status si lelaki-itu- yang membedakan kacamata sahabatku dan kacamata orangtuanya. Sungguh pelik ternyata.
            Pelan-pelan ditelateni, coba dikomunikasikan baik-baik.” Begitu salah satu kalimat penenangku kala itu. Walau ternyata manusia bisa punya seribu variasi dalam menanggapi sesuatu. Hingga reaksi yang terjadi bisa membuatku terbengong tanpa sanggup berkomentar banyak walau hanya untuk sekedar cara menenangkannya.
Ah, kacamata hidup. Sulit memang untuk menelusup mencari celah agar mungkin ada tolerasi dan kompromi untuk belajar memandang dengan kacamata yang lain. Setidaknya menerima perbedaan lensa dengan manusia lainnya. Mungkin sebenarnya bukan kebenaran yang dipentingkan, mungkin kacamata kita saja yang kita pentingkan dalam mensikapi apapun.
Aku, bisa saja menuliskan ribuan kalimat misalnya, tapi tetap tak punya kuasa untuk mengubah kacamata siapapun, kecuali manusia itu sendiri yang membiarkan kata-kataku menelusup membiarkan kacamatanya meluas, mencari celah pandang yang lain.
Ternyata kita tak punya cukup banyak kuasa. Tapi cukup banyak diberi kesempatan untuk berusaha. Mungkin bukan berusaha mengubah kacamata orang lain agar sepaham, atau sama kacamata dengan kita. Mustahil kiranya. Tapi mungkin sekedar berupaya melenturkan lensa, memperluas cakrawala, bahwa di luar sana setiap orang datang dengan kacamatanya masing-masing. Mungkin kita hanya butuh berusaha untuk memahami perbedaannya.
Mungkin.
Salam harmoni.

*Harmoni #lagu kita..walau suaraku dan kamu yang menyanyikannya dengan nada berbeda. Harmoni mungkin tercipta karena berbeda tapi mempunyai daya selaras tingkat dewa ;p

 

Gerimis


 
 Musim penghujan hadir tanpa pesan 
 Bawa kenangan lama t'lah menghilang
 Saat yang indah dikau di pelukan
 Setiap nafasmu adalah milikku
(Gerimis, Kla Project)


Gerimis menyapu kota ini lagi, mengusir aura musim panas pergi. Rintik-rintiknya menyapu jalanan, menciumi dedaunan, memeluk hatiku. Kota ini, menawarkan ribuan gerimis. Bukan hanya gerimis, tapi hujan lebat sampai badai bila winter tiba. Kota ini, yang sebenarnya masih saja kutanyai, kenapa Glasgow? Menjadi titik petaku selanjutnya. Aku masih mencari jawab. Bukan masih terjebak dalam ketidakterimaan, tapi hanya mencari jawab, kenapa tiba-tiba muncul kota ini di belokan dan akhirnya menjadi titik petaku berikutnya.
Mungkin karena kota ini menawarkan gerimis padaku. Barangkali.
Aku pecinta gerimis untuk alasan yang sebenarnya tak pernah kutahu. Aku kembali menatap derai-derainya di luar jendela saat ini, untuk mencari-cari alasan aku menyukainya. Apa?
Gerimis itu romantis? Romantis kenapa?
Mungkin dengan adanya gerimis kita bisa berjalan sepayung berdua seperti kala itu. Barangkali.
Mungkin aku suka suaranya. Itu makanya setengah mati aku malas memakai mantel hujan, karena akan menganggu suaranya, ada timpaan-timpaan gesekan di mantel hujan yang akan mendistorsi suaranya. Kenapa dengan suara hujan? Entahlah, aku mencandui suaranya. Suaranya itu akan bermacam-macam tergantung ia menciumi apa atau siapa. Saat ia jatuh di genteng, menimpa dedaunan, tembok, mantel hujan ataupun hatiku.
Mungkin juga suka rasanya. Barangkali.
Rasa setengah dingin derai-derai yang jatuh satu-satu menimpaku itu, sepertinya menjatuhi hatiku. Bagaimana tak merasa candu?
Mungkin juga suka baunya. Bau yang diciptakan pada tanah basah yang bisa kuhirup, seperti menghirupi setiap kenanganmu.
Mungkin juga aku suka tantangannya. Agar bagaimanapun cuaca dan keadaannya, langkah kaki masih tetep ditapakkan untuk melaju ke depan. 
Barangkali.
Atau mungkin juga aku suka gerimis agar kamu bisa cerewet lagi “ Jangan lupa pakai mantel hujan, boleh hujan-hujanan tapi besok” #sigh..
Mungkin suatu saat aku akan bilang : “ aku tak suka memakai mantel hujan agar engkau leluasa menggerimisi hatiku” 

Aku memandangimu dari jauh yang sedang membacai tulisanku sambil senyum-senyum dan bilang #dasar ratu gembel-- dalam hatimu..
Siapa suruh menggerimisi hati penulis ;p
Ini gara-gara gerimis, sungguh!!



Pertanyaan Sakral



Tak lebih dari 2 jam yg nanya udah 3 orang #pertanyaan sakral

Begitu tertulis ditwit seorang sahabatku, ahaha...langsung saja aku kutahu apa yang dimaksudnya, dan langsung reply twittnya : “siapin daftar variasi jawaban aja” .ehehe..
Pertanyaan sakral baginya yang masih belum juga menikah, pasti “kapan menikah?” 100% tebakanku pasti benar. Pasti momen lebaran dan kumpul-kumpul keluarga, ketemu teman-teman lama lagi, pertanyaan-pertanyaan sakral bakal muncul.
Yang belum lulus kuliah, akan ditanya “kapan lu lulus kuliah?”.
Yang udah lulus kuliah, akan ditanya “udah dapet kerjaan belum?”
Yang udah matang dan dan cukup umur, akan ditanya “ kapan nikahnya?” atau “mana nih undangannya?” ;p
Yang baru menikah, akan ditanya : “gimana udah jadi belum (anak-red)?”
Hiyaaaah...topik tulisan ini sounds familiar? Iyalah, kayaknya semua orang pernah paling tidak mengalami satu dari beberapa pertanyaan sakral di atas.
Ada yang menanggapinya santai, ada yang serius, ada yang kesel, ada pula yang sebel. Aku pernah tersenyum melihat aktivitas di FB saat status seorang teman dimana temen-temennya ngeledek karena dia itu belum nikah-nikah. Eits, responnya serius oey..
            Bagi elu sih biasa, tapi enggak di posisi gue”
(semoga orangnya enggak baca blog ini hihi, ini cuman contoh lho..no offense). Di kampus ada pula kawan yang langsung ngamuk-ngamuk lewat BBM kalau lagi diresein temen-temen soal nikah ahaha. Atau dulupun seoarang sahabat dekat curhat-curhat stress kalau setiap ketemu orang ditanyain udah hamil belum setelah 1 tahunan dia menikah. Humm annoying nggak sih sebenarnya? Padahal yang nanya mungkin juga niatnya cuma nanya doang yah..atau menurutku sih karena hal itu yang terlintas pertama kali saat mau memulai obrolan. Normal aja kali ya, kecuali ada orang yang rese yang terkesan ofensif..ehehe..
Aku?
Hehe, kebetulan tahun ini pertanyaan sakralnya agak berubah, dari pertanyaan “kapan nikah?” jadi “ kapan pulang?” ahaha..;p
Tentu saja pernah mengalami fase bahwa itu cukup annoying, kalau ditanya kapan menikah, yang biasa kujawab hanya dengan senyum, dengan kalimat “doain aja yah segera”, sampai pada fase sekarang ini yang santaaaiii menanggapinya. Dijawab saja dengan “ iya nih, udah pengen hamil” plus ketawa ngakak setelahnya. Pasti dikirain becanda, padahal beneran LOL. Suka banget liat perempuan hamil trus pake baju yang kerut-kerut atau lipit-lipit di bagian depan..seksi perutnya ahaha, makanya kadang  suka nyari dan beli baju di bagian Moms ehehe stttt ;p
Jadi kaget pas ada temen yang takut hamil, untungnya sekarang sudah enggak lagi ;p
 Mungkin memang kita tidak bisa mengelak dari komunitas sosial masyarakat Indonesia yang begitu “perhatian” hihi, jadi siklus pertanyaan sakral itupun agar terus bergulir mulai dari lulus kuliah, kerja, menikah, punya anak, anaknya udah sukses belum, udah punya cucu belum bla bla bla. Aku sering menganggapnya sebagai bentuk perhatian mereka. Dulu kubilang pada kawan yang ngamuk-ngamuk pas keseringan diteror pertanyaan kapan nikah?
kalau elu jadinya bete dan itu jadi energi negatif, kan elu juga yang rugi”
So, anggap saja orang memang kekurangan bahan pertanyaan jadinya mengambil template pertanyaan yang dulu-dulu orang juga tanyakan pada mereka. Mungkin begitu..So santai saja..tunjukkan betapa berwarnanya hidupmu dan isilah dengan karya, siapa tahu pertanyaan sakralnya akan berubah segera ahaha cheers..
 







Senin, 20 Agustus 2012

Ayat-Ayat itu



            Sebentar dek, kalau ada tanda م bacanya berhenti dulu,” katamu di sela-sela bacaan Al Qur’anku. Aku menyimak keteranganmu, lalu membetulkan lagi bacaan-bacaanku. Malam senyap, hanya suara bacaanku yang lamat-lamat, dan waktu seakan berhenti sesaat, sementara engkau menyimak bacaanku lagi. 
            Besok ngajinya ditambah tiga halaman ya,” pintamu. Hatiku mengangguk, karena walau aku mengganggukpun kala itu engkau takkan bisa melihat. Suara angin sedikit terdengar, di ujung telpon. Bahkan anginpun ingin mencuri dengar suaramu yang berganti mengaji setelahku. Aku ingin mendengar lagi apa yang angin telah curi dengar itu. Sungguh! 
Walau selalu saja ada spasi, ada samudra, ada sebentangan jarak belahan dunia. Sungguh, ingin kudengar lagi ayat ayatNya yang kaubacai itu. Sungguh!

Lebaran dan Glasgow


Saling memaafkan takkan pernah bisa hanya selibat, tapi melibatkan dua pihak, dua pertautan hati, satu pihak bersedia memohon dan memberi maaf dan begitu pula pihak yang satunya…terlihat sederhana, tapi ada mekanisme luar biasa di baliknya. 

Huaaa...tahun depan aku lebaran disana nih,jangan ditakut2in mba.hahaha..” begitu bales inbox Mitha, calon penghuni Glasgow yang akan datang September nanti saat aku bilang lebaran di Glasgow tak berasa. Udah panik aja dia.
Tapi begitulah, lebaran jauh dari tanah air tentu saja berbeda, banyak ritual yang biasanya dilakukan menjadi tak bisa dilakukan. Dan yang pasti, aura lebaran tak terasa di sini. Sehabis kumpul bersama di rumah mba Adrianti untuk makan bareng dan bersilaturahmi, masing-masing segera pulang. Ari harus segera mengedit esainya, Rora segera berkutat lagi dengan tugas akhirnya, yang lainnya pun harus kembali dengan urusan masing-masing, hingga kami segera pulang. Lalu dari Buchanan Bus Stasion, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke flat tapi jalan-jalan sebentar di City Center, muter-muter tak jelas ehehe. Orang lalu lalang, mana peduli hari ini lebaran kecuali warga muslim. Begitulah, jadi bukan menakut-nakuti suasana lebaran di sini begitu sepinya, tapi memang demikian adanya.
Tak ada suara takbir yang biasanya ramai berkumandang saat hari raya. Tapi entahlah rasanya kami semua menjalaninya biasa-biasa saja. Ada sedih, iya sedikit tapi selebihnya adalah rasa menerima bahwa beginilah memang kondisinya. Risiko dari sebuah pilihan yang telah dipilih. Kita tidak dapat mendapatkan semuanya, ada momen yang hilang, ada momen lain pula yang kita dapat.
Haru, sedikit..apalagi saat melihat ibu yang menangis sedih di malam takbiran saat ngobrol via skype. Ah ibuku, rasanya aku selalu saja membuatmu menangis. Makanya kutegarkan untuk tetap cerah ceria ngobrol seperti biasanya, untuk memastikan pada seluruh keluarga aku baik-baik saja, dan memang baik-baik saja. Hihi biarkan padamulah saja kalau aku sedang ingin mewek, walau seingatku takkan bisa mewek sepenuhnya. Diam-diam aku khawatir kalau kau suatu saat berhenti melucu, hingga tak bisa lagi kudengar komentar ajaibmu. Seperti saat aku mewek sedih karena harus pergi lagi, dan kau bilang,
            kenapa? Takut naik pesawat terbang yah?” ajaib benar komentarmu itu! Syarafku kebingungan untuk memilih melanjutkan menangis atau tertawa, dan akhirnya mereka memilih bersamaan. Alasan no 7 merindukanmu. Eh ngomongin lagi ;p
Begitulah lebaranku, biasa saja walau tak kehilangan makna. Bahwa semoga ke depan berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Lebaran yang penuh maaf, termasuk maaf pada diri sendiri. Mungkin banyak yang lupa, sudah mohon maaf pada orang tua, sanak saudara, teman-teman dan sahabat tapi diri sendiri dilupakan. Memaafkan diri sendiri, menerima apapun dan bersama-sama menjalani hidup ke depan.
Langit Glasgow sudah agak temaram, sudah jam 7. 30 sore (malem haha nggak jelas pokoknya). Agenda besok pagi adalah skypean bersama keluarga besar, menikmati suasana lebaran dengan bantuan tehnologi.
Eits, ingin iseng menunjuki foto hijaber ahaha, iseng pakai model kerudung yang tak biasa sebelum berangkat tadi.

tampak samping kanan
Tampak samping kiri
Tapi then...enggak pedeeeee...karena rasanya mukanya kelihatan isinya cuman pipiiiii ahaha so, ganti lagi model seperti biasa ;p

Kembali ke selera asal-nungguin bis di halte
Haha enggak penting juga ;p
Happy Eid Mubarak Everyone! Selamat merayakan dengan cara kalian masing-masing. Mohon maaf lahir dan Batin.
 

Jumat, 17 Agustus 2012

Menjelang Lebaran di Negeri Seberang



Lebaran 2010-Minus Si bungsu (yg motret ehehe)
Bulan ramadhan sudah menginjak hari-hari terakhir, aroma lebaran sudah mendekat. Tapi aromanya hanya tercium samar dari sini. Tak ada cerita tentang arus mudik, tak ada cerita tentang saling mengantarkan parcel hantaran lebaran ke sanak saudara, tak ada persiapan kue-kue lebaran ataupun merencanakan masak apa nanti kala Hari Raya Idul Fitri tiba. Memang tak ada. Hari ini masih masuk lab seperti sedia kala, walau otak rasanya sudah enggan bekerja, maunya menikmati libur saja. Apalagi hujan menguyur Glasgow sedari tadi malam, enaknya santai di flat sambil nulis ehehe..
Timeline di jejaring sosial facebook penuh dengan status-status tentang mudik, kemacetan, bikin ketupat dan pernak pernik menjelang lebaran lainnya. Dan kini, saya menikmati pengalaman lain yakni mengalami lebaran di negeri orang. Ada yang hilang, tapi juga ada yang kita dapatkan. Saya kehilangan momen-momen bersama keluarga seperti biasanya saat lebaran, tapi di sisi lain saya juga mendapatkan pengalaman baru yang tak semua orang bisa rasai.
            Lagi buka puasa dengan anak yatim di rumahkah?” tanyaku via BBM saat melihat update status BBM adekku. Ah, saya melewatkan ikut sibuk bersama ibu di rumah untuk menyiapkan hidangan untuk berbuka anak-anak yatim. Memang biasanya hampir rutin setiap tahunnya keluarga kami mengundang seluruh anak-anak yatim di desa kami untuk berbuka puasa di rumah.
Rindukah saya? Ehehe..saya sudah lama mengakrabi rindu. Bila sudah terlampau sering bepergian, engkau harus menempatkan rindu di dekat hatimu. Terkadang ia disana, tidak kemana-mana, meski sudah pula ada persuaan. Karena kata pergi akan segera menghampiri lagi.
            Rindunya harus ditransformasi jadi semangat loh ya,” katamu suatu kali, eh beberapa kali. Karena kamu pun tahu seberapa lama dan seberapa sering saya harus mengakrabi dan merasai kata itu.
Apa yang paling saya rindukan dari lebaran? Ketupatnya? Opor ayam dan kue-kue lebaran? Tentu bukan. Saya rindu kebersamaan saat lebaran dan juga rindu aura lebaran. Kebersamaan bersama keluarga sekarang ini menjadi sesuatu yang langka. Untuk bisa berkumpul utuh satu keluarga saja terkadang sudah sulit, dan momen lebaran merupakan saat yang pas untuk berbagi kebersamaan. Saya rindu memasak untuk hidangan di Hari Raya, rindu menyiapkan keperluan-keperluan lebaran di malam takbiran—menyetrika baju yang akan dipakai shalat ied, menata kue-kue di meja dan beres-beres--. Rindu juga suara bedug dan takbir yang membahana dari corong masjid di dekat rumah. Paduan suara bedug dan takbir itu menyelusupkan rasa yang terkadang sulit untuk dimaknai tapi menggetarkan untuk dirasai. Biasanya di malam takbiran, ada anak-anak kecil yang melakukan takbir keliling desa, berbaris beriring menambuh bedug dan mengumandangkan takbir melewati jalan-jalan berkeliling desa memeriahkan suasana, berbahagia menyambut hari raya.
Rindu berangkat untuk shalai Ied di masjid bersama-sama para warga lainnya kemudian bersalam-salam. Tak bisa pula sungkem pada bapak ibu untuk meminta maaf secara langsung, hingga lebaran kali ini nampaknya harus pake jendela ajaib Skype ehehe. Rindu repotnya membantu menyiapkan minum untuk para tamu dan saudara yang bersilaturahmi ke rumah. Warga desa saya masih memelihara tradisi “mider” yakni mengunjungi rumah satu per satu untuk meminta maaf. Jadi dipastikan hari pertama, akan sibuk dengan para tamu sampai sore. Sibuk pula cuci-cuci gelas dan piringnya ehehe ;p

Silaturahim bersama saudara-Lebaran 2010
Hayuk mari siapa mauuuu...(Lebaran 2011)
Togetherness with relatives (lebaran 2010)
Makan bersama-sama *menu gurameh dari kolam samping rumah (lebaran 2011)

Hari kedua dipastikan sibuk dengan memasak besar, karena akan ada silaturahmi keluarga besar Jayanangga yang jumlahnya akan berkali-kali lipat dari bila kegiatan kumpul biasanya tiap bulan. Karena satu keluarga biasanya sudah mengganda bila sudah mempunyai menantu ataupun cucu, dan semuanya berkumpul saat lebaran tiba. Begitulah ritual lebaran keluarga kami. Baru lebaran hari ketiga, bisa mengunjungi sahabat-sahabatku yang tingal di sekitaran kebumen. Berjumpa dengan mereka selalu saja sebuah pengalaman rasa yang menyenangkan. Dan rindu aura lebaran. Lihatlah wajah masing-masing orang, begitu antusias dengan binar menyambut lebaran. Binar-binar itu menciptakan satu frekuensi yang sama dengan jumlah yang begitu banyaknya. Sadarkah kalian akan hal itu? Cobalah perhatikan saja.
Di sini tentu saja berbeda, manusia-manusia lain masih sibuk dengan eksperimen lab, dengan rusaknya Cold Room, dengan konferensi. Tak ada lebaran bagi mereka. Hanya bisa kusaksi binar itu bila menjumpai kawan-kawan malaysia bila  berjumpa, dan teman-teman Indonesia tentu saja.
Walaupun begitu  Alhamdulillah, supervisor mengijinkan libur dua hari, senin dan selasa minggu depan..jadi lumayanlah total break 4 hari semenjak esok hari. Semoga bisa merayakannya bersama teman-teman PPI Glasgow walaupun sampai detik ini belum ada rencana kumpul-kumpul lebaran sekalipun. Setidaknya sudah ada kue kastengel, ada kacang telor dari Bali, dan masih ada emping yang besok akan kugoreng. Dan mungkin akan memasak sesuatu yang spesial saat lebaran nanti.
Menjelang lebaran kali ini, biarkan aku merasai perbedaan rasa yang mungkin jarang kurasai. Walau jauh dari keluarga, kamu dan sahabat-sahabat tercinta. Tapi bila kalian semua selalu kubawa dalam hatiku, apalah artinya jarak dan perbedaan waktu?
Selamat mudik dan berkumpul dengan keluarga, sahabat sekalian. Nikmati kebersamaan dengan orang-orang terkasih masing-masing, dan biarkan saya pula mendefinisikan arti kebersamaan menurut versi saya sendiri.
            Pasti akan berbeda, jauh dari mana-mana” kataku di chat saat terakhir kali kita sebelum lebaran.
            Siapa bilang begitu.., ada ***, ada keluarga dan sahabat-sahabat terkasih yang selalu bersamamu” ucapmu. Dan saya percaya itu.
Selamat mempersiapkan lebaran dengan “rasa” kalian masing-masing.

Rabu, 15 Agustus 2012

Sekilas Pandang, Mengundang Kenang



Aku tunggu di depan perpustakaan yah, kamu keluar sebentar.  Aku tunggu.” pesan singkatku waktu itu.
Dengan rok batik lebar berwarna coklat kutunggu engkau di depan perpustakaan di sebuah Universitas ternama di kota kita itu.
Tik tok, tik tok. Menunggu.
Tak lama engkau pun muncul dari belokan jalan itu, dengan langkah lebar-lebar itu. Bergegas menghampiriku. Tersenyum melihatku. Dan apakah kau tak sadar bahwa senyummu itu lebih terlihat berbinar kalau bertemu denganku? Tanyakan pada bangku batu di depan perpustakan yang mencuri pandang padamu itu.
Lalu segera berpindahtanganlah kunci yang ada di tanganmu, ke tanganku. Kenapa baru sekarang kau berikan kunci hatimu cuma-cuma? Setelah diam-diam kucuri. Eh hatiku dulu yang kau curi? Atau hatimu dulu yang kucuri? Atau kita sebenarnya melakukan pencurian secara bersama-sama? Mungkin kita tanya saja pada ibu kantin waktu itu, mungkin dia tahu siapa yang terlebih dahulu. Tapi pentingkah untuk kita persoalkan? Mungkin penting untuk kita “pura-pura” persoalkan, agar kita menambah lagi daftar perdebatan seru kita, yang masing-masing tak pernah mau pura-pura kalah. Agar bertambah lagi alasan untuk merindumu, itupun bila pun kata “rindu” tiba-tiba mengharuskan posisinya membutuhkan alasan. Siapa yang mengharuskan? Mungkin kamu, yang selalu pura-pura bertanya : “kenapa rindu?”
Aku kan suka bertanya, sudahlah jawab saja. Katamu suatu kali. Kujawab dengan seulas senyum, senyumku yang kuharap mampu kau terjemahi dengan cukup benar. Karena kadang kau terlalu mengeneralisasikannya dengan satu makna, manis! Katamu.
Manis banget!
Masih ada tambahan di belakangnya ternyata.
Kunci itu segera kugenggam dan kusimpan. Tapi hatimulah yang sebenarnya telah kugenggami.
            Sudah ya, aku pergi dulu.” Katamu lagi, sambil masih tetep berdiri. Ah, terkadang kita memang tak pernah punya cukup waktu untuk duduk berdua saja, memperturutkan lontaran kata yang saling kita tukar, entah kenapa tak pernah merasa bosan walau waktu sudah menua.
Aku mengangguk, walau selalu tak menyenangkan melihat punggungmu pergi. Tapi kunci di tanganku menghangat, hatimu juga pasti. Hatiku apalagi.
Lalu bergegas engkau membalikkan badan, membiarkan punggungmu kupandangi. Setapak demi setapak kuiringi dengan tatap mata yang melekat pada punggungmu. Masih tetap saja aku berdiri dengan rok batik coklat dan kuncimu di tanganku. Memandangimu pergi.
Satu..dua..tiga..engkau membalikkan badan dan menoleh padaku, padaku yang masih berdiri mematung di depan pelataran perpustakan.
Kita juga tak perlu menghitung..satu..dua..tiga, agar kita berdua serempak sama-sama tersenyum dari jauh. Kau duluan? Atau aku duluan? Kau duluan beberapa detik pasti!! Yang pasti bila kaudengar akan kau protes segera, protes yang selalu kutunggu sebenarnya.  Agar memasukkan lagi dalam daftar 77 alasan merinduimu.

Harusnya bisa kukumpulkan lebih dari itu, agar setiap kali kau tanya,
“kenapa rindu?”.
Bisa kusiapkan untuk menjawab pertanyaanmu itu, daripada engkau harus berupaya menjemahkan dalam setiap jawab senyumku.
Beberapa langkah, dengan sengajapun engkau menengok lagi. Aku masih semanis dulu, apalagi yang kau perlu kau pastikan?
Tapi kita masih serempak tersenyum, senyum malu-malu seperti pelajar SMA yang tertangkap saling mencuri pandang.
Satu..dua..tiga, kenapa engkau menengok ke belakang lagi? Dan mengapa pula aku masih melempar senyum paling manisku padamu yang hampir sampai di belokan. Sepersekian detik hilang dari pandang.
Mungkin kau hanya ingin pastikan bahwa ternyata adegan-adegan film romantis itu memang bukan khayalan. Benar!

** Glasgow, 15 August 2012. Hanya sekedar tulisan iseng sekali duduk, hasil ide dari komentar di sebuah status seorang sahabat di sebuah situs jejaring sosial. Bila ada yang merasa ada kejadian yang hampir serupa, pastilah saya sengaja. Ahaha..;p




Jumat, 10 Agustus 2012

We Grow Up and They Grow Old




Pulang dari lab kemarin, segera kulihat HP Nokiaku yang tertinggal di Flat, dan hanya BB saja yang terbawa. Ada satu pesan masuk, lalu kubuka, isinya singkat saja, hanya menanyakan “Masih di London apa sudah pulang?” sms dari bapak.
Lalu aku melihat jam di tanganku, pasti di Indo sudah hampir tengah malam, hingga kuurungkan niat membalas sms beliau, dan berniat membalasnya pada sahur nanti. Biasanya waktu Indonesia sedang bersantap sahur, sedang di Glasgow sedang berbuka puasa. Ah tumben bapak sms. Nomer simpatiku memang masih aktif selama aku di Glasgow, karena memang sengaja untuk tetap aktif. Biasanya aku ngobrol dengan keluarga saat weekend lewat skype. Minggu lalu sudah kubilang akan ke London weekend ini, mungkin bapak lupa kapan aku ke London. Atau entah kenapa..Kangen? ahhaa ;p
            mba, kemarin beli tahu petis kesukaanmu, wah seret maem-e” begitu cerita ibuku saat skype-an. Pasti bukan kalimat yang asing di telinga kalian, pastilah kalian sering mendengar kalimat sejenis ini dari orang tua kalian.
Humm, orang tua di dunia ini sepertinya semua hampir sama, menyayangi buah hatinya. Lihatlah saja, bila pasangan yang baru saja mempunyai anak, pasti profil pic di FBnya akan berganti rupa menjadi bayi, atau timeline-nya penuh dengan foto-foto buah hatinya tersebut. Tapi bayi itu, akan terus tumbuh dan suatu saat akan meninggalkan mereka.
When your kids go to university, live in a different place, you know that some day -next week, next month, wherever, sooner or later, they will COME HOME. But when they leave home to start their independent lives, you become uncertain WHEN they will see you. They will define 'home' on their own wills, not home as you belong to, not anymore (Bu Atik)
Kalimat di atas adalah status Fb bu Atik (dosen biologiku dulu), membuat aku berpikir sejenak bahwa lontaran perasaannya itu pastilah mewakili banyak perasaan para orang tua.
Semenjak kuliah, aku sudah mulai hidup terpisah dengan tinggal di kos-an, walaupun jarak kota yang kutinggali (Purwokerto) dengan rumah (Kebumen) tidak terlampau jauh. Hampir setiap minggu saat weekend, bila tak ada kegiatan laboratorium atau praktikum pasti pulang ke rumah. Sekitar 4 tahun menyelesaikan kuliah 1, dan kemudian hidup beralih ke Kota Yogyakarta selama 2 tahun. Kemudian setelah itu kembali lagi ke Purwokerto saat aku mendapat pekerjaan sebagai dosen di almamaterku. Lalu pernah terbang ke Italia selama tiga bulan, lalu kini ada di Glasgow, UK saat menempuh studi doktoralku. Semenjak kuliah, aku hampir jarang berada dalam waktu yang lama di rumah.
Pulang, kini menjadi bermakna kata tak lagi sama. They will define 'home' on their own wills, not home as you belong to, not anymore. Iyaps, dengan kondisiku yang nomaden sekarang, definisi pulang, sudah bukan “hanya”makna tunggal, yakni pulang ke rumah asal. Karena sering kali jauh dari rumah, untuk mengeliminir rasa sedih bila akan pergi, maka kata “pergi” kuubah menjadi kata “pulang” karena kata pulang lebih membawa kesan menyenangkan dan menentramkan. Jadi saya bisa pulang ke Glasgow, ke Kebumen, Ke Purwokerto atau ke Jogyakarta. Saya sudah mempunyai definisi pulang tersendiri yang mungkin tak lagi melulu pulang ke rumah orang tua tercinta.
Kita sibuk sendiri dengan urusan masing-masing, hidup terasa melesat-lesat saat tengah mengejar mimpi-mimpi. Tapi mungkin sering kali terlupa pada sosok yang senantiasa ada, mendukung dan mendoakan kita walau dari jauh sekalipun. Bahwa waktu-pun “bekerja” pada mereka, hingga merekapun beranjak menua.
We grow up, and They grow old.
Saya terus bertumbuh, pergi ke berbagai daratanNya, bertemu dengan orang-orang dengan berbagai macam latar belakang, mencintai, dicintai, dan juga mempunyai sahabat dekat yang kinipun telah terpencar-pencar oleh jarak. Kita bertumbuh dewasa, tapi seringkali tak sadar bahwa orangtua kita juga bertumbuh tua. Rambut mereka sudah mulai beruban, gigi sudah mulai tanggal dan harus memakai gigi palsu, kesehatan mereka juga tak sebaik dahulu. Bahkan cara berpikir dan bersikap mungkin juga berubah. Ah, semoga laju perubahan itu terus bisa kudeteksi. Karena waktu, kadang melena, kadang melupa.
            They will miss you” isi BBM seorang kawan saat saya akan “pulang” lagi ke Glasgow bulan lalu. Kubales dengan ikon tertawa,
            Why you laugh?” tanyanya heran (mungkin)
            Aku sudah biasa pergi” jawabku. Kata—rindu,jarak,jauh—telah menjadi akrab di telinga dan juga dirasaku.
Ah, waktu. Semoga engkau masih memberi banyak kesempatan untuk menunjukkan betapa besar cinta saya pada mereka.
Beberapa saat lalu, saya melihat di timeline FB, percakapan seorang bapak (dosen/trainer saya dulu) dengan anak-nya yang tengah berada di luar negeri untuk magang kerja.
Adik mau awan mulih jam 11, tak jemput. Tekan Gang 1 deweke omong, "aku wis kangen temen karo kakak." Tak takoni, yen ketemu kakak kowe arep ngopo? "Arep tak peluk suwiii ora tak culke, terus aku njaluk digendong.
Begitulah, keluarga selalu menjadi tempat yang hangat untuk pulang. Walau sekarang ini, falsafah “mangan ora mangan ngumpul” di masyarakat sudah banyak bergeser, dan kata “kumpul” pun bisa diciptakan dengan berbagai macam cara. Tapi setidaknya, mari luangkan waktu untuk mereka. Yang telah menyayangi kita dengan segenap jiwa.


Glasgow, 9 August 2012. 7 pm, sebelum memasak untuk buka puasa.