Friday, 3 August 2012

Memeluk Waktu




Pukul 01.30 kini dan aku masih saja terjaga, menanti waktu sahur yang jaraknya berdekatan dengan buka puasa. Kami di sini memulakan puasa pada pukul 03.00 pagi dan berbuka puasa pada pukul 09.30an malam (eh magrib). Semula di tanah air, waktu sepertinya tak pernah kuindahkan, siang dan malam begitu runtut berjalan masing-masing adil 12 jam. Pergantiannya seringkali terabaikan, karena berpikir memang begitulah semestinya mereka berjalan dalam detik dan menitnya. Mereka berlalu, tanpa banyak orang tahu ataupun mau tahu.
Ah waktu, kau kini seringkali meminta perhatianku. Sejak kali pertama datang ke daratan Britania Raya ini september lalu, aku diberinya waktu malam yang lebih panjang, hingga jam 8 pagi masih serasa jam 5 pagi di Indonesia. Lalu kini saat aku datang lagi, aku diberinya waktu siang yang begitu panjang, hingga jam 9 (malam?) langit baru terlihat agak menggelap. 
Dulu, tidur malam begitu runtutnya dengan jadwal yang tertata rapi (kecuali lembur kerjaan, nonton bola ehehe, atau digangguin telpon orang ituh hihi). Seakan waktu itu membagi menjadi dua kegiatan, siang untuk beraktivitas dan malam untuk beristirahat. Teratur benar sepertinya jadwal hidup di bumi pertiwi kupikir. Tapi kini, humm...waktu seakan begitu menggemaskannya hingga ia selalu saja meminta perhatian. Waktu shalatpun harus diikuti karena ia terus bergerak-gerak, terus berbeda-beda tiap waktunya. Prayer time table untuk tiap bulannya kudownload agar aku dan waktu saling mengingatkan akan waktunya bicara padaNya.
Aku dan waktu kini terasa saling berhubungan, karena ia selalu saja menarik perhatian, meminta perhatian, mungkin karena sekian lama kuacuhkan. Dulu, mungkin aku hanya peduli pada pagi yang merekah merona, atau pada senja yang manja. Pagi atau senja yang waktunya sebentar saja tapi rentang waktu yang entah kenapa waktu yang kusuka. Kini? Pagi, siang, senja, malam? Ah...waktu kini benar-benar mempermainkanku.
Apalagi saat masih saja menengok waktu Indonesiamu, ada ngilu, ada rindu, terasa ada jeda jarak di situ.
            “ Jam berapa disitu? Kapan buka puasa?” begitu tanya yang sering menggema dari orang-orang di daratan Indonesia.
Ah waktu, bukankah kamu satu? Tapi kau bisa membelah diri, membagi kami-kami di berbagai belahan dunia dengan jatah sendiri-sendiri.
Baiklah, mungkin kini aku harus berdamai denganmu. Bukankah kau juga pernah kupersalahkan? Atau pernah juga kukejar-kejar saat rasanya engkau berlari terlalu cepat. Mari berdamai saja, biar kupeluk engkau erat-erat. Kupeluk engkau entah di daratan manapun aku bergerak, biar aku tidak terlambat, biar aku selalu memperhatikanmu, waktu.
Walaupun terkadang kau curang, kenapa engkau serasa mempercepat 1 jam menjadi hanya beberapa menit kala aku bersamanya? Mungkin engkau sejenis makhluk pencemburu ahaha.
Ah sudahlah, mari kupeluk..entah dini hari seperti kala ini, entah pagi, entah siang, senja atau malam, kau beri tahu saja, aku akan terus berjalan bersamamu.
Di sela-sela menulis tulisan ini, tiba-tiba Hpku berbunyi, sebuah sms dari bumi Indonesia : “ ayoo banguuuuun..saatnya sahuuuur, biar ada cukup energi untuk menantang hari ini, *********** (selanjutnya terkena sensor).
Ah, ternyata bukan hanya aku yang mempunyai dua waktu.
Dan kini aku menunggui datangnya subuhmu, yang pernah kuprotes : “kenapa engkau mendatangkan subuh terlampau pagi?”
Lalu waktu bilang : “Sudah, diam saja, tak usah banyak protes. Peluk saja aku.”



Glasgow, 3 August 2012 saat menanti subuhmu.

3 comments:

JUST.ICA said...

ihhh bagussssssss,,,,,,tulisan2 ibu obat kangen yang mujarab,,hhehehhe

Suryati Arifatul Laili said...

Waktuku susah dipeluk Mars, semakin kudekap semakin meronta dia :(

Siwi Mars Wijayanti said...

@ica : hehe makasih caaa.....ihiy ada yg kangen sayaa...horaaay
@jeng laili : berarti perlu pendekatan lebih hangat agar dia mau dipeluk #eh

Post a Comment