Saturday, 29 September 2012

The Martian and Venusian

Perempuan itu seperti gelombang, mengarak berbagai perasaannya yang datang silih berganti.

Saya runtut mendengarkan (membaca lewat chat-lebih tepatnya) gelombang perubahan perasaan seorang sahabat dekat yang tengah terkena “penyakit cinta”. Pagi hari ini dia bisa berbunga-bunga seperti dunia semuanya penuh semerbak cinta yang hanya miliknya, siang hari ia bisa tiba-tiba merasa tak dipedulikan, sore hari ia merasa lelah, mempertanyakan apakah yang tengah dinantinya layak untuk diperjuangkan. Malam harinya bisa saja ia merasa melonjak-lonjak dalam kebahagiaan paling tinggi yang pernah dirasakan, hanya karena hal yang  sangat sederhana. Bila saya membuat grafik pasti saya bisa memprediksi betapa grafik itu naik turun tak pasti, seperti gelombang menjelang tepi pantai. Begitulah perempuan. Dunia para venusian memang dunia yang terkadang sulit dimengerti, seperti juga dunia para Martian (laki-laki). Kita bicara dengan bahasa yang berbeda, merasa dengan cara berbeda, kebutuhan akan kebahagiaan yang berbeda serta mengendalikan perasaan/emosi/masalah dengan cara yang berbeda juga.

ahaha maaf aku menyebalkan, aku banyak sekali bercerita” katanya pada akhirnya, setelah ia merasa sudah terlalu panjang lebar bercerita.

Aku tersenyum. Wahai perempuan, memang begitulah caramu “coping emotion”. Mereka akan mencari seseorang terdekat untuk mendengarkannya. Cukup dengan didengarkan, ditimpali, diperhatikan, perasaannya akan kembali membaik.

Tapi jangan mengharap terlalu banyak bahwa laki-laki akan melakukannya. Mereka sebaliknya akan menghabiskan waktu main futsal, sepakbola, baca berita, atau main game. Mereka menghadapi masalah dengan terkadang mencari aktivitas untuk melupakan sejenak, untuk merefreshkan pikiran mereka dan menyelesaikannya. Itulah cara mereka ngumpet dalam “gua”mereka untuk sementara. Sedangkan bagi si perempuan, aksi si laki-laki yang tengah menarik diri, mencari ruang sementara dianggap sebuah pengacuhan dan ketidakpedulian. Martian dan Venusian benar-benar dua makhluk dari dunia yang berbeda, masing-masing ciptaan Tuhan yang menakjubkan. Terkadang yang dibutuhkan dalam perbedaan adalah mengerti.

Saya menyimak perbedaan emosi dan cara mereka mengendalikan emosi yang ada pada dua sahabat saya, yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Baiklah, hehe dua-duanya mempunyai masalah percintaan yang berbeda. Pada saat mereka ngobrol (sesi curhat) dengan saya, si sahabat perempuan cenderung sangat terbuka, menceritakan dengan detail emosi perasaannya. Panjang lebar mengenai perasaan hatinya, terkadang menanyakan pendapatku, atau kadang berkeluh kesah sendiri. 

            Aku gemes..kenapa laki-laki begitu. Aku uring-uringan mikiran dia, dia-nya nggak peduli. Kenapa sih laki-laki itu nggak menampakkan emosi mereka? kenapa mereka terlihat sangat terkendali? Eghh ” protes si sahabat perempuanku itu.

Lalu saya menimpali, dia bercerita lagi, dan pada akhirnya perasaannya akan kembali membaik. Perempuan cukup didengarkan, merasa diperhatikan, maka dunia akan nampak baik-baik saja bagi mereka.

Yeap, kita sering menginginkan si mahluk planet lain itu bertindak seperti yang kita mau, dan merasa seperti cara kita merasa. Padahal perempuan dan laki-laki memang berbeda, yeap we are different..

Sedangkan pada saat saya sedang ngobrol dengan sahabat laki-laki saya tentang masalahnya, cara berceritanya saja sudah berbeda. Dia hanya bercerita inti masalahnya saja, saya tidak tahu dan tidak diberi tahu “siapa” si X yang dimaksud, (walaupun saya bertanya penasaran ahaha) tapi dia tidak menceritakan detail-detail lainnya. Dia hanya bercerita tentang kondisinya saja dan sangat sedikit informasi yang diberikan. Lalu saat saya menanggapi ceritanya tersebut,  saya dengan tidak sadar memasukkan pendapat-pendapat saya pada saat dia bercerita. Kemudian serta merta dia berkata :

            “ Tenang Siw, I know what I’m doing” begitu dia bilang.

Ahaha...glek, saya lupa dengan siapa saya bicara..hey makhluk bernama laki-laki ternyata. Tepok jidat saya..lalu menambahkan,

            yeah, I believe in you” segera saya menanggapinya demikian. Man need trust, not advice ehehe..

    “Laki-laki itu seperti nahkoda yang sudah tahu arah kompas, kemana yang akan dituju        

Katanyaaa (biar nggak terkesan saya sok tahuuu ehehe soalnya masih belajaran juga), jangan terlalu banyak kasih laki-laki saran, nasihat-nasihat apalagi petuah hihi. Bagi perempuan, terkadang hal tersebut merupakan salah satu ekspresi kasih sayang mereka, tapi bagi laki-laki kadang bisa merupakan hal yang intimidatif, merasa “untrust”.

Kalau misalnya setelah berjalan dengan arah kompasnya itu, kemudian ternyata si laki-laki salah arah? Atau tidak berjalan sesuai harapan ataupun gagal? Ahaha aturannya, menurut “kitab”, jangan menyalahkan makhluk Martian itu. Cukup pahami saja, terus beri saja dukungan yang cukup, itu sudah lebih dari cukup bagi mahkluk Martian. Karena dengan menyalahkan akan menghujam-hujam sisi kelelakiannya. Being trusted is his primary need, not being cared for, berbeda dengan perempuan yang kebutuhan utamanya adalah diperhatikan/caring.

“When a woman's attitude expresses trust, acceptance, appreciation, admiration, and approval it encourages a man to be all that he can be”(JG)

Hihi ajaib ya ciptaan Tuhan.

Saya jadi ingat sebuah kejadian, sebuah percakapan yang sudah begitu lama, namun teringat saat saya menuliskan tulisan ini. 

            Aku mau ngomong sesuatu,” katanya suatu saat, beberapa tahun lalu. Dalam hati sudah berpikir, apa yang akan dibicarakannya.
            Apaan” kataku, mencoba agar suaraku terdengar olehnya, mengalahkan suara deru sepeda motor yang kami tumpangi.
            Kemarin rasanya bersalah, aku memandangi punggungmu sampai hilang di kelokan, andai saja aku bisa mengantarmu pulang ke kosan, sayangnya aku nggak bawa mantel, nanti malah kehujanan.” Begitu katamu, seakan dengan begitu hati-hati mengatakan hal itu padaku. Seperti baru saja mengatakan hal yang sangat penting. Hualaaah gubrak, sungguh lebay kalimatnya, padahal tempat saya meninggalkannya untuk pulang ke kosan hanya beberapa blok saja. Saya bukan tipikal perempuan manja yang harus diantar kemana-mana, saya bisa sendiri, begitu pikirku. Tapi hal tersebut ternyata penting bagi laki-laki.
Atau sebuah kejadian di suatu ketika, saat di perjalanan lalu sepeda motor yang kami tumpangi ternyata harus segera dibalikin, serta merta kubilang :
            aku turun sini aja, trus naik angkot ke kosan. Gampang kok, trus kamu balikin sepeda motornya,” begitu kataku, dan menganggap itu sebuah solusi yang tepat.
Lalu terdengarlah responnya,
            ih..memangnya kamu anggap aku laki-laki seperti apa, tadi kujemput di kosan ya harus dianter balik lagi ke kosan.”  hahaha gubraks,
lucu ya makhluk Venusian dan Martian itu.

Deep inside every man there is a hero or a knight in shining armor, men are motivated when they feel needed. Sifat seperti itu tumbuh natural dalam diri seorang laki-laki. Saya saja yang tidak tahu ahaha ;p

Perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda. Terkadang perbedaan inilah yang menimbulkan friksi, ataupun salah mengerti. Kita melakukan sesuatu dengan niatan untuk menyayangi, ataupun memperhatikan, bisa saja diterjemahkan sebagai bentuk ketidakpercayaan akan kemampuan laki-laki. We speak with different language, and need different fulfillment. Kita membutuhkan primarily needs yang berbeda :

  She Needs Caring and He Needs Trust
  She Needs Understanding and He Needs Acceptance
  She Needs Respect and He Needs Appreciation
  She Needs Devotion and He Needs Admiration
  She Needs Validation and He Needs Approval
   She Needs Reassurance and He Needs Encouragement

 Without an awareness of what is important for the opposite sex, men and women don't realize how much they may be hurting their partners (JG)

Hihi apaan coba posting tulisan ini ahahaha saya kesambet ;p

Love is magical, and it can last, if we remember our differences (JG)

 (Just wanna say, I feel blessed to know you and **** you, makhluk Martianku. My name is Mars, but now Mars is Venusian).

Glasgow, 30 September 2012. 10.30 pm.

2 comments:

fitrimelinda said...

suka deh ama postingannya mbak.. :)

Siwi Mars Wijayanti said...

terimakasih kunjungannya fitri :) nanti aku kunjung balik..

Post a Comment