Monday, 17 September 2012

Wanna Grow Old With You


Cangkir teh di tanganku masih mengepul, tapi segera kubawa ke ruang tengah walaupun aku tahu nasibnya akan sama sebentar lagi. Nasib secangkir teh itu untuk menunggu beberapa saat agar tidak terlalu panas, untuk segera kau teguk. Selalu dan selalu begitu, nasib secangkir teh itu berpuluh tahun kusajikan padamu. Kalaupun aku menjadi secangkir teh itupun aku akan sama dengannya, menunggu beberapa saat, untukmu. 
Begitu hendak sampai ruang tengah, aku terheran..Uhmm kenapa suara ketikan di keyboard tak lagi terdengar, hening. Kulangkahkan kaki segera ke ruang tengah untuk segera membawakan secangkir teh untukmu. Untukmu, yang pasti sudah lelah seharian ini, dan harus menyelesaikan deadline laporan untuk esok hari.
Sampai di ruang tengah, kudapati layar laptop itu masih berkedip-kedip. Sementara engkau menelungkupkan tangan sebagai sandaran kepala, menggeletak dengan mata terpejam. Ah, kali ini secangkir teh nampaknya akan bernasib lain
Kuletakkan secangkir teh itu di meja, lalu aku mendudukkan diri di sofa hijau lumut dekat meja kerjamu. Memandangimu yang tengah tertidur, rasanya ingin ikut bersama mimpimu dalam setiap helaan nafasmu yang teratur.
Aku selalu suka memandangimu tertidur, diam-diam mengamati ekspresimu yang tengah pulas terlelap. Dulu kau pernah bilang,
            Kalau mas tidurnya ngorok bagaimana?” tanyamu menggodaiku.
            Nanti adek rekam, trus adek jadikan ringtone Hp” jawabku ringan. Lalu engkau tertawa, dengan udara yang menyambut tawamu dalam bahagia.
Dan kini aku memandangimu yang tengah terlelap, di antara tumpukan kertas kerja dan layar laptop yang masih berkedip. Pasti penat ragamu, lelah dengan segala aktivitasmu hari ini. Menatapimu tertidur, merasakan duniamu dekat dengan duniaku. Melihat kamu tanpa label-label beraneka rupa yang terkadang menjauhkan aku dan kamu. Hingga ingin rasanya berlama-lama memandangimu tertidur. Ikut bersama naik turun helaan nafasmu, mungkin bercerita tentang harmoni. Mungkin tentang impian yang masih kita yakini, mungkin tentang masa indah yang selalu kita ulangi. Lalu menghapali lagi detail raut mukamu, walau sudah kupandangi berkali-kali.
Teh di cangkir di meja itu sudah tak lagi panas, kuambil dan segera menyesapnya. Hangat, sepertimu yang menghangatkan duniaku.
Aku tahu dunia tak cuma berisi canda tawa, gurau, bahagia, tapi juga ada luka, masalah, mungkin juga derita. Tapi saat memandangimu tertidur, semuanya menjadi sama, damai terasa di dada. Dan aku ingin bisa memandangimu tertidur berpuluh puluh tahun lagi. Lalu kadang sehabis bangun, kita bicarakan tagihan rekening listrik, arisan, atau iuran sampah, tapi itulah percakapan paling romantis sedunia yang ingin kubagi denganmu.
Teh di cangkir sudah habis kusesap, dan engkau masih terlelap. Malam sudah menua, jarum jam sudah mencapai angka satu. Ku-sleep-kan layar laptopmu, lalu kuambil selimut untuk menyelimutimu yang masih tertidur dengan posisi yang tak biasa. Aku mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningmu, usapan ringan di rambutmu, lalu engkau bergerak sebentar, tersenyum dalam tidurmu. Mimpi apa sayang? kejar-kejaran sama kura-kura ya? lalu kembali lelap kau tertidur.
Detik berlalu, dan aku ingin terus memandangimu tertidur sampai aku ikut terpejam di sofa hijau lumut itu. Untuk nanti beberapa jam kemudian, dengan mata kriyip-kriyip dan  rambut kusut, berkata padamu.
            Bangun, shalat malam dulu, habis shalat, mas selesaikan kerjaannya, trus adek bobok lagi yaa.. ehehe.” Aku gemar mencadaimu selalu. Tapi nyatanya, aku segera ke dapur dan menyiapkan secangkir teh hangat untukmu. Cangkir berukuran sedang, satu sendok makan gula, dan teh celup vanilla yang cukup lima kali dicelup-celupkan agar tidak terlalu pekat.

-------

Dan aku memandangimu tertidur lagi kini, dengan rambut yang tak setebal dulu, tak lagi hitam legam seperti dulu, beberapa uban sudah menghiasi rambutmu. Tubuhmu  sedikit mengurus, kadang kau terbatuk, dengan nafas yang pendek-pendek.

Aku tetap mencintaimu, dan tetap selalu suka memandangimu tertidur.
I wanna grow old with you..

 
  
Glasgow, 17 Sept 2012.





4 comments:

fardelynhacky said...

Waaah..romantisnyaaaa...mendampingi sampai tua :D

Siwi Mars Wijayanti said...

hihi..belajaran romantis haiih..terimakasih sudah berkunjung baca mba :)

lupita said...

uhuuuukkk *keselek rombong bakso ;p

Siwi Mars Wijayanti said...

haghag aku mau baksonyaaaaa.....*cleguk :)

Post a Comment