Thursday, 31 January 2013

Dejavu



Kota ini tak terlalu terik siang ini. Langkah kakiku satu demi satu dengan santai menyusuri jalanan kampus yang selalu membuat hatiku terasa nyaman. Rumah. Kampus ini seperti rumah untukku. Lintasan-lintasan pikiran di kepala memenuhi rongga kepalaku. Jadwal lab, kerja lapangan, pengen ikut acara bedah buku di togamas nanti sore dan kamu. Kamu, sepertinya selalu sibuk mondar mandir di pikirku.
Kemudian langkahku terhenti, mataku terantuk pandang pada sebuah tempat. Hatiku berdenyut, syaraf rinduku terkejut. Aku berhenti dan duduk di sana. Rasanya Dejavu.
Kuraba permukaan tempat duduk dari batu itu dengan tanganku, rasanya masih sama. Semilir angin berhembus menciumi ujung-ujung jilbabku,  membawakan kenang kembali segar.
Dulu dengan rok batik berwarna coklat dengan atasan senada. Kini dengan celana kain dan blouse hijau lumut bermotif, aku duduk di tempat yang sama. Kupandangi ke arah gedung itu, berharap kamu dengan langkah lebar-lebar muncul dari tingkungan gedung itu. Melangkah untuk menemui seseorang dan itu aku. Kali ini  juga kutoleh berkali kali jalanan itu walau tahu pasti tak akan ada kamu. Tak ada. Yang melangkah dengan senyum manis dari kejauhan.
Tapi tetap saja aku duduk beberapa saat, dan mengalihkan pandang berkali kali untuk mengamati jalanan itu. Kamu tak lagi ada disitu. Tapi tetap di hatiku.
Dejavu. Rasanya baru kemarin. Ah bukan, itu tahun lalu. Ah entah, aku dan waktu memang sering tak saling setuju.
Namun hatiku tahu, saat ini aku disergap rindu.


Jogya, 31 Januari 2013.

Wednesday, 30 January 2013

Special



Tidakkah kau menyadari bahwa kupandangi wajahmu lama-lama kemarin sore. Mengamati lekuk-lekuk wajahmu seperti layaknya akan terakhir kali memandangimu. Sedikitnya waktu jatah kita ternyata menjadikan rasa mengganda. Ketidakbersamaan dalam tempat dan waktu yang sama nampaknya juga berjasa menambahkan formulasi pelipatgandaan rasa saat bersama. Maka bersyukurlah pada jarak, yang menyediakan rentang pada kita untuk saling merindukan.
Aku, kamu, memang harus sering mengakrabi jarak, ruang dan waktu.
Aku ingin mengambil jatah waktu hari ini dan menambahkan pada waktu hari kemarin. Sayang waktu tak bergeming, ia tak suka menjadikan semenit lebih dari 60 detik.
Tapi walau waktu tetap patuh pada rumusnya, ia bermurah hati memberikan waktu untuk bersama.
Bersamamu.
            Soale ra ono sing liyo” candamu.
Tapi engkau tahu bahwa aku punya pilihan untuk bersama orang lain, tapi tetap memilih untuk bersamamu. 
spe·cial= being a particular one; particular, individual, or certain.
Apapun itu definisi kamus ataupun hasil google. Kamu spesial. Selalu.

Jogya lewat tengah malam. Di penghujung Januari 2013

Saturday, 26 January 2013

Catatan Launching Buku "Catatan Hati Sang Guru"


In action ;p

Pokoknya ntar Januari, saya booking jadi pembicara bedah buku saya ya,” demikian todong ustadz Arian, November tahun lalu saat mengetahui saya akan pulang ke Indonesia untuk beberapa bulan.
Namanya Arian Sahidi, penulis sekaligus guru SMP Al Irsyad yang dulu pertama kali mengontak saya gara-gara mencari tahu tempat tes TOEFL di Purwokerto. Kemudian melalui kontak jejaring sosial barulah saya mengetahui bahwa dia itu seorang penulis juga. Karya-karyanya hampir semua saya sudah baca, karena alhamdulillah berkesempatan menjadi first reader-nya terlebih dahulu. Karya-karya yang selalu menyisipkan pesan-pesan religiusitas tanpa terlihat teoritis dan dogmatis menurut saya salah satu kelebihannya dalam berkarya.
Maka hari ini, 25 Januari 2013 dimulai pukul 07.30 saya menghadiri acara launching buku Catatan Hati Seorang Guru sekaligus rangkaian acara open house yang diadakan SMP Al Irsyad Purwokerto. Suasana saat saya datang sudah meriah dengan riuh rendah suara anak-anak. Saya selalu suka bertemu anak-anak, jadi saya begitu menikmati beberapa sajian seni dan baca puisi yang ditampilkan sebelum acara berlangsung. Melihat anak-anak negeri ini, saya selalu berkeyakinan, Indonesia pasti mampu untuk menjadi sebuah negeri yang hebat. Acara dimulai oleh moderator ustadzah Tantri yang cukup komunikatif dan mampu “meredam” kegaduhan anak-anak sesekali. Kemudian bincang-bincang dengan penulis berlangsung santai, diselingi riuh rendah tepuk tangan anak-anak, atau tawa lepas mereka. Beberapa hal menakjubkan pun saya temui di sini, seperti Nak Abror yang hobi membaca dan penulis favoritnya Paulo Coelho. Widiwww anak SMP bacaannya PC coba, mantep abis.
Nah setelah bincang-bincang dengan penulis, giliran saya tampil ke atas panggung. Tebar pesona, #eh maksudnya menjalankan tugas untuk untuk memberikan komentar terhadap buku CHSG ini. Buku CHSG ini memang tergolong simpel, tapi cukup inspiratif. Pesan moralnya tentang pendidikan karakter, kepedulian terhadap anak-anak dan selalu membiasakan hal-hal baik disampaikan dengan lugas oleh penulis. Bahasanya ringan, kadang diselingi dengan gurauan, tanpa banyak metafora, tapi cukup mudah dipahami pembacanya. Buku ini cocok untuk dibaca oleh siswa-siswa, rekan guru, wali murid ataupun kalangan umum. Isinya pun cukup variatif, mulai dari awal keputusan beliau untuk menjadi seorang guru, kebersamaan dengan anak-anak, serta kisah-kisah unik beberapa anak didiknya. Saya menjadi saksi mata pada acara tersebut, bahwa beberapa anak dengan kebutuhan khusus namun mempunyai potensi, kemampuan serta kemauan yang tak kalah dengan anak normal lainnya.
Banyak kisah-kisah kebersamaan dengan anak-anak baik di kelas ataupun di luar kelas yang menarik disimak, bukan hanya kisah ceritanya namun terutama siratan pembelajaran di dalamnya. Dan hari ini saya punya kesempatan langsung untuk bertatap muka dengan nama-nama yang disebutkan dalam buku. Bahkan foto bareng ehehe...
Acara pembagian doorprize-pun berlangsung meriah, sebuah doorprize buku koloni milanisti saya didapatkan oleh seorang anak berkebutuhan khusus, Nak Jihan yang dengan mantap walau terbata-bata menjawab “ Skot-lan-dia” saat ustadzah Tantri menanyakan dimana saya tengah menyelesaikan studi doktoral saya. Dia ikut mengacungkan jari tinggi-tinggi saat puluhan anak-anak lain berebut menjawab.
Usai acara, anak-anak berebut tanda tangan untuk buku saya, Koloni Milanisti yang saya titipkan di bazar bukunya. Semuanya nampak antusias menyebutkan nama, dan minta duluan untuk bukunya ditandatangani. Ada yang meminta alamat blog, no HP, ataupun foto bersama. Lama-lama saya berasa artis #somboooong ahaha.
Ini dia Nak Abror (paling kiri) yang hobi baca, dan penulis favoritnya itu Paulo Coelho
sok artis, tanda tangan di buku "Koloni Milanisti" ;p
            “ tulisannya dikasih kata-kata yang tadi dong, Miss” pinta seorang anak pada saya. Dan dengan senang hati saya menambahkan kata-kata motivasi di halaman depan buku saya tersebut. Kemudian ada salah seorang ustadzah yang ceritanya nge-fans sama saya #ups sama tulisan saya lebih tepatnya. Dengan malu-malu Ustazah Maya menghampiri saya dan minta foto bersama,
            “ saya senang baca tulisan-tulisan mba di blog, juga buku koloni milanisti-nya,” papar beliaunya. Hadeww selangit deh kalau ada orang yang suka baca tulisan saya ehehe.

Ini dia foto bersama Ustadzah Maya :)
Nah kalau ini foto dengan Faraj, didampingi penulis buku.
Kemudian ada Qois, seorang anak dengan kebutuhan khusus, setelah beberapa saat yang lalu meminta tanda tangan di buku Koloni Milanisti, kemudian beberapa saat kemudian dengan bersemangatnya menyodorkan halaman depan buku tulisnya untuk minta tanda tangan saya,
            “ Jangan tinggalin saya dong,” ungkapnya dengan polos. Saya tersenyum, Ah bagaimana saya tidak jatuh hati pada mereka semua. Lucu-lucu dan menyenangkan. Saya selalu menyukai melakukan sesuatu untuk anak-anak negeri ini, dan hari ini sungguh hari yang membahagiakan untuk saya. Misi saya untuk dunia pendidikan terus saya hidupi dengan tindakan nyata. Saya ingat pesan pak Anis Baswedan pada PPI Dunia beberapa saat lalu yang saya terima di milis
iuran terbesar untuk pendidikan itu bukan beasiswa, bukan buku, bukan fasilitas belajar tapi iuran kehadiran. Kehadiran anda sebagai inspirasi adalah iuran terbesar
Dan dengan apa yang saya lakukan, saya terus untuk mencoba membayar hutang kehadiran saya,

Foto bersama beberapa anak-anak murid SMP Al Irsyad 


*P.S : Danke, Mien Liebster yang selalu memberikan dukungan dengan telepon manisnya sebelum mengisi acara. Semoga bersama untuk saling membaikkan, menghebatkan.

Monday, 14 January 2013

Habibie-Ainun : Semacam Review ;p




Jujur saja saya tidak terlalu maniak nonton film, jarang update nonton film-film terbaru. Tapi tetap penasaran dengan riuh rendah pemberitaan tentang film Habibie-Ainun yang katanya fenomenal itu. Maka demi mengobati rasa penasaran saya, saya akhirnya nonton film ini bersama sahabat baik saya di Ambarukmo Plaza, Jogya minggu lalu. Untuk mendapat tiketpun kami terpaksa mundur ke jam tayang 15.30 karena jam tayang 13.55 sudah penuh.  Yaah lumayanlah ditinggal minum di foodcourt sambil ngobrol dan mampir di Batik Keris, beli batik peta Indonesia. Niatnya tahun ini saya mau beli/buat sebuah rumah, dan sebuah rumah itu bisa diawali dengan menyicil hiasan dindingnya LOL #abaikan.
Sebelum nonton film ini, saya terpengaruh oleh komentar teman-teman yang telah menonton film ini, dengan pesan “hati-hati, mesti nangis-nangis deh,” begitu kata mereka.
Oke, saya bersiap-siap untuk sebuah film yang bakal penuh drama ehehe. Hingga  nonton sepanjang film sampai akhir film, lalu melangkah keluar gedung, saya masih mikir. Eh dimana nangis-nangisnya? Kok hambar ya.
            “ Mba, dimana nangis-nangisnya? Hayoo nangis po ra (nangis atau tidak)?” tanyaku pada mba nuk, teman yang mengajakku nonton itu. Pertanyaan klarifikasi, siapa tau syaraf romantis dan dramatisku konslet. Soalnya dari awal sampai akhir enggak nangis sama sekali.
            “ Sekali tok. Pas Habibie mengunjungi hanggar pesawat dan sudah sepi senyap. Sedihnya sebenarnya negeri ini mampu kok hebat, tapi nyatanya seperti itu,” jawabnya sambil melangkah menuju parkiran.
            Ah  sama, di bagian itu juga saya tersentuh, tapi enggak sampai mewek. Jadi kami berdua tersentuh bukan di bagian kisah cintanya Habibie-Ainun tapi di sisi nasionalismenya.
“Untungnya enggak mekso suamiku buat nonton bareng, lah wong biasa wae (untung enggak memaksa suaminya untuk nonton film ini karena ternyata biasa saja),” imbuhnya.
 Ah lega, ternyata saya enggak konslet-konslet amat. Karena menurut saya, ceritanya biasa, terkesan plain dan scene demi scene-nya enggak teramu sehingga mampu menimbulkan efek WOW. Bagi saya, film tersebut lebih terlihat seperti film sejarah yang dibungkus dengan baik, dibandingkan sebuah kisah cinta romantis. Beberapa scene memang lumayan mengesankan, seperti saat Habibie mengejek Ainun saat mereka masih sama-sama sekolah :
            “ Ainun, kamu gendut, item, jelek”
Atau saat Habibie melamar Ainun di becak. Itu lumayan okelah. Selebihnya saya lebih tertarik memperhatikan cerita sejarahnya dibandingkan cerita cintanya. Humm sejenis cerita cinta yang hampir dipunyai setiap orang, dan terlalu lurus, kurang romantika hingga terkesan plain, datar. Yah wajar saja, karena ini kisah nyata, jadi mungkin sulit bagi penulis skenarionya untuk memodifikasi cerita. Film ini seperti kisah happily ever after yang terlalu sempurna, malah jadinya datar. Untuk sisi sejarahnya, saya pun memaklumi kisah ini pun main aman dengan tidak terlalu banyak menyinggung isu-isu yang berbahaya. Padahal nyatanya cerita reformasi, mundurnya presiden soeharto pasti banyak untold storynya.
Film ini mengisahkan cerita seorang Habibie yang ingin mengabdikan dirinya untuk kemajuan negerinya, bahwa ada banyak cara untuk mencintai negeri ini. Bagi Habibie, cita-citanya bagi negeri ini yakni membuat pesawat terbang untuk menghubungkan wilayah Indonesia yang berpulau-pula. Dibumbui dengan kisah cintanya dengan Ainun yang terus setia mendampinginya sekolah di Jerman, menjadi menteri, wakil presiden dan akhirnya menjadi presiden, walau diakhiri dengan kisah sedih kematiannya akibat kanker. Reza Rahardian merupakan poin utama yang menjadikan film ini layak ditonton karena aktingnya yang boleh dinilai luar biasa. Ia sanggup memerankan Habibie dengan sangat baik, benar-benar melakukan studi detail bagaimana pak Habibie berbicara, berjalan, tertawa dan keseluruhan gerak geriknya berhasil diperankannya dengan jempolan. Sedangkan Bunga Citra Lestari lumayanlah memerankan Ainun. Sayangnya film ini banyak dijejali iklan-iklan produk #hadeeeeh...plus make up artis-nya yang kurang oke, misalnya saja BCL kayak muda terus, padahal anak-anaknya sudah dewasa. Enggak ada kerutan ataupun make-up yang menyesuaikan usianya. Hummm...
Tapi overall, enggak rugilah nonton film ini. Walau ternyata enggak sebagus yang diharapkan, pinter juga nih marketing filmnya ehehe bisa membuat orang-orang heboh nonton film ini. Kalau film 5 cm memang ke luar ruangan habis nonton berasa semriwing, tapi keluar nonton Habibie-Ainun efeknya biasa saja. Tapi bagaimanapun saya menghargai karya anak negeri.
Oh ya, satu lagi..original sountracknya saya suka.....

 cinta kita melukiskan sejarah
 Menggelarkan cerita penuh suka cita
 Sehingga siapa pun insan Tuhan
 Pasti tahu cinta kita sejati

Bikin berasa...dudududu...#abaikan ahaha

Purwokerto, 14 Januari 2013. 22.58 dengan badan yang sudah lumayan enakan setelah dipekso2 mandi air anget. Nampaknya saya dan hujan sudah mulai tak berjodoh #nggreges. Malah curcol LOL.#abaikan.

Surga Tersembunyi di Pantai Menganti

Berlatar belakang perbukitan jalan menuju Pantai Menganti



Pantai Menganti, namanya memang tak seterkenal Pantai Logending (Pantai Ayah) di deretan wisata Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Namun setelah pada akhirnya mengunjungi tempat ini, saya benar-benar terpesona dan langsung merekomendasikan siapapun untuk mengunjungi tempat ini. Pantai dengan rating 8,5 dari skor maksimal 10 deh. Sebuah surga tersembunyi di Pantai Menganti.
Tersembunyi, iyap karena untuk menjangkau pantai ini rutenya memang tidak mudah. Pantai ini berjarak 7 kilometer dengan jalan mendaki dari Pantai Logending. Untuk mencapainya, kita bisa menggunakan sepeda motor (usahakan dalam kondisi yang bagus) karena jalanannya sunggup mantap, mendaki dengan sudut-sudut yang lumayan ekstrim. Tapi jalanannya sudah beraspal bagus kok, jadi walau medannya agak susah, namun sekarang lebih mudah dijangkau dibandingkan bertahun-tahun lalu saat kondisi jalannya belum beraspal. Jalannya yang sempit dan naik turun dengan esktrim menyebabkan Pantai Menganti ini masih sulit untuk dijangkau menggunakan mobil.
Begitu mulai menyusuri jalan mendaki dan mulai melihat bentangan pantai dari atas, bersiap-siaplah untuk terpesona. Saat mengunjunginya beberapa saat lalu, entah berapa kali aku turun dari sepeda motor dan menikmati pemandangan pantai dari atas plus foto-foto narsis tentu saja. Kalian bisa duduk-duduk sambil memandangi bentangan pantai maha luas di bawah sana sepuas-puasnya. Ah, betah pokoknya dengan pemandangan super indah seperti yang ditawarkan menuju Pantai Menganti.

Nih pantainya, kalau diintip dari atas
Siapa yang nggak betah mandangin lama-lama coba? pantainya maksudnya ;p
Jalan menuju pantai tak terlalu lebar
Aku, Ilalang dan bentangan pantai
Tuh...ciuman ombaknya ke batu karang dahsyat euy

Takjub benar dengan keindahan tersembunyi yang belum banyak dikenal orang ini. Keindahannya berani diadu dengan cantiknya pantai-pantai di Bali deh. Begitu sampai ke Pantainya, kalian bisa menikmati keindahan pantai yang masih perawan ini. Ombaknya berdebur menciumi batu-batu karang dengan begitu dahsyat mesranya #eh. Gelombang ombaknya yang dahsyat bergelora ini membuat pantai ini pernah digunakan untuk lomba selancar. Pasirnya putihnya masih bersih, bisa dijejaki dengan kaki-kaki telanjang menyusuri pantai. Perahu-perahu nelayan berjajar di bibir pantai, menambah nuansa pantai yang eksotis.
Pokoknya dijamin betah untuk berlama-lama menikmati keindahan pantai ini. Saya sendiripun masih belum puas menjelajahi pantai ini, karena berkali-kali berhenti  di sepanjang jalan sehingga sudah menjelang magrib tiba di pantai. Mungkin sunset dari bibir pantai juga menakjubkan, namun masih mikir juga bagaimana pulang sehabis magrib karena medan jalannya yang lumayan dahsyat itu.
Jadi, mungkin tertarik untuk mengunjungi surga tersembunyi ini? Mari.
 



Thursday, 10 January 2013

Jogya//Cinta



Cinta selalu mempunyai bahasanya sendiri yang terkadang hanya bisa dikenali hati. Entah berapa kali kalimat ini kulontarkan. Biar saja. Toh apa salahnya?
Saya kembali menyadari hal itu ketika dalam sekejab memutuskan untuk tinggal di Jogya lebih lama lagi, sampai sebelum saya balik ke Glasgow lagi. Padahal saya baru tinggal di Jogya beberapa hari ini, dan langsung betah...pakai banget ehehe.
Hanya cukup beberapa hari untuk memutuskan terus berada di sini, selama mungkin. Kapan lagi? saya berpikir bila nanti selesai studi dan kembali bekerja, kapan ada kesempatan menjadi penghuni jogya? Paling hanya beberapa hari, dan kembali ke rutinitas lama. Jadi, kenapa tak menggengam kesempatan ini dan mewujudkannya? Hatiku langsung mantap.
Kadang sulit untuk dijelaskan mengapa, padahal aku di sini sudah tak lagi punya komunitas yang bisa diajak nongkrong bareng, jalan-jalan. Hanya beberapa sahabat saja yang sesekali bisa bisa kuajak pergi, atau sekedar makan bersama. Tapi hanya dengan makan di daerah deket kos (daerah pogung lor), saya tak pernah merasa sendirian. Aneh. Saya suka makan di tempat (tidak dibungkus/bawa pulang) walau sendirian, mendengarkan orang-orang bicara dengan dialek bahasa jawa jogya, dan berinteraksi dengan penjual makanannya. Hati saya mengenali rasa itu. Cinta. Saya cinta, itu saja. Entah kenapa kadang sulit untuk dijelaskan dengan kata. 
            “ Ayo dong ngomong ngapak-ngapak, pengen denger” beberapa orang meminta saya untuk bicara dengan logat ngapak.
Hehe saya seringkali menolak, selain susah  bicara ngapak tanpa  partner, juga saya lebih suka menggunakan bahasa jawa biasa. Bukan saya tidak suka atau malu berbahasa ngapak. Sungguh ini hanya masalah preferensi hati.
Telinga saya suka mendengar logat bahasa jawa ala jogya, mata saya suka memandangi kota yang sudah sering macet ini. Apalagi sebenarnya? Kenapa saya cinta? sebenarnya saya sambil menulis tulisan ini juga tengah kembali mengeja alasan saya mengapa cinta pada tempat ini. Tidak tahu, sungguh kadang tidak tahu.
Hanya saja hati saya sanggup merasainya. Saya cinta dan ingin tinggal lebih lama.
Saya tinggal di Ndalem Pogung, daeah Pogung Lor, tempat saya betah lama-lama ber”semedi” di sini. Semuanya serba bernuansa jawa, jadi memang aura-nya sangat cocok dengan saya hehe, betah deh pokoknya. Memang sewa kamarnya terhitung mahal, tapi memang cocok dengan fasilitas yang diberikan yakni sebuah kamar luas, big size bed, meja belajar, kursi, lemari pakaian, kamar mandi dalam dengan air hangat, kulkas, LCD TV dan AC. 
            “ Memang berapa dek sewa sebulannya?” tanyamu,
            “ hummm” aku cuma tersenyum enggan menjawab. Walau akhirnya saya menjawab biaya sewa kos-nya, dan saya merasa seperti istri yang menghabiskan belanja bulanan terlalu banyak LOL. Tapi apa yang mahal untuk cinta? tidak ada.
Maka saya tengah menikmati menjadi penghuni jogya lagi, mengerjakan riset, menulis, sambil sesekali jalan-jalan menyusuri sudut-sudut Jogya. Membiarkan hati saya merasai cinta. ***

Ndalem Pogung, 10 Januari 2013. 14.52.




Tuesday, 8 January 2013

Uban




Uban,
Bilah-bilah rambut putih itu, seringkali mungkin menakutkan bagi banyak orang. Aku tua. Aku  mulai menua, mungkin begitu pikir manusia.
Tua, menua, hanya soal formalitas hubungan manusia dengan waktu saja.
Mungkin uban hanya sebagai pertanda bahwa umur seseorang tak lagi muda. Tapi bukankah jiwa tetap saja bisa meremaja setiap harinya.
Seperti juga cinta, masih terus bisa meremaja, agar tak pernah ada batas kadaluarsa.
Walau uban di rambutku mungkin akan mulai muncul satu per satu,
Hari ini muncul  satu ubanku, suatu saat nanti bila uban demi uban makin menghiasi rambutku, biarkan saja bilah-bilah itu di situ. Mungkin kau bisa mencipta konversi cintaku dan waktu.
Wanna grow old with you,

I have died everyday, waiting for you
Darlin' don't be afraid, I have loved you for a Thousand years
I'll love you for a Thousand more
(A Thousand Years-Christina Perry)
 
Ndalem Pogung 9 January 2013. 22.56

Friday, 4 January 2013

And I Luv you more...and more




Malam sudah terlalu tua. Tapi ingatku masih padamu jua. Yang kuberi nama cinta. 
Memang bukan kisah penuh berbunga, bukan pula seperti kisah cinderella. Tak sempurna.
Kadang berisi cerita pagi ke pagi lagi, silih berganti, dengan cerita yang masih kita bagi.
Kesahmu, semangatmu, candamu, pura-pura keluhmu atau setangkup rindu. Cinta masih di situ.
Mengakrabi kurangmu, dan menemukan diriku masih bertahan di situ.
Tunjukkan sisiku, baik setan, manusia atau malaikatku. Dan kau masih sabar di situ.
Melewati jembatan demi jembatan dengan bergerak bersama, walau nampak putus di kejauhan mata. 
Tapi entah kenapa kita masih terus memandang harapan yang sama.
Terluka, tersingkir, tersanjung sering merotasi, bergerak dari sisi ke sisi 
Dan menemukan diriku, hatiku, masih berdiri dan tetap untukmu.
Hingga doa-doa yang terus mengada.
Malam kini sudah semakin menua. Tak ada suara. Hingga tak perlu kuulang kata :
Luv you more and more...

Ndalem Pogung-Jogya 5 Januari 2013 1.32 am

Mari Merambah ke Pantai Ayah


Mengeja senja di Pantai Ayah
Pantai Ayah? Dimana tuh? mungkin begitu saat orang menyebut nama Pantai Ayah. Mungkin karena nama pantai ini masih asing di telinga para traveller. Bila menyebut pantai-pantai di Jawa Tengah, mungkin karimun jawa atau barisan pantai gunung kidul masih menjadi jawara. Tapi bila kalian mengunjungi Kabupaten Kebumen, jangan lewatkan untuk mampir menikmati keindahan Pantai Ayah (Logending). Terkadang orang menyebut pantai ini dengan nama Pantai Ayah (karena terletak di Pantai Ayah, Kabupaten Kebumen), ataupun kadang disebut dengan Pantai Logending. Sebutan nama Logending ini berasal dari kata Lo yakni nama pohon yang bisa dibuat menjadi alat musik jawa, dan Gending. 
Untuk mencapai pantai ini, bisa diakses dengan kendaraan pribadi baik motor ataupun mobil karena jalan menuju pantai sudah mudah diakses. Kalau dari rumah saya, paling-paling 20 menitan ditempuh dengan mobil atau motor dengan kecepatan rata-rata (kalo mbalap lebih cepet). Pantai yang terletak 53 km dari kota Kebumen ini menawarkan beberapa pilihan wisata. Kawasan pantai ini terdapat bumi perkemahan logending dan hutan wisata, wisata kuliner makanan laut dan tentu saja hotspotnya pemandangan pantainya.

Jembatan sepanjang 554 m menuju pantai

Maknyusnya makan di Warung Bu Nanang
Kalian bisa menuju pantai melalui jembatan di atas air sepanjang 554 m yang bisa dilewati sambil menikmati semilirnya angin pantai. Atau bila ingin berwisata perahu menyeberang menuju daratan di seberang pantai juga terdapat perahu-perahu wisata yang siap membawa kalian menyeberang. Baru-baru ini, pengunjung juga bisa menyewa kuda untuk mengelilingi pantai, ataupun bila ingin yang lebih ekstrim, bisa menyewa kendaraan offroad menderu pasir-pasir pantai logending.
Kalau lapar, nah kalian bisa mencobai masakan serba laut. Coba saja singgah di warung Bu Nanang, mungkin ingin mencobai bawal putih bakar, cumi-cumi asam manis, udang goreng tepung plus sambelnya yang sungguh maknyus. Seperti kemaren saat saya bersama ex-mahasiswa-mahasiswa saya yang datang ke rumah di akhir tahun lalu dan menggarap piring-piring yang tersaji ehehe.



itu, saya suka duduk di tepian pantai menjelang senja, bisa pesan secangkir kopi ke penjual-penjual di tepian pantai dan menikmatinya sambil menunggu mentari angslup dengan meninggalkan pendar-pendar kemerahan. Menenangkan, mendamaikan dan menyegarkan jiwa. Mengunjungi pantai itu entah kenapa selalu sanggup mendaurulang kepenatan-kepenatan hidup lalu melabuhkannya pada ombak-ombak laut lalu dibawanya pergi. Ombak-ombak itu bergulung dan menukarnya menjadi semangat-semangat baru dengan membawanya ke tepian pantai, padaku. Pantai juga memberikan jarak pandang yang jauh lebih luas, menghipnotis pikiran bahwa ada bentang harapan maha luas yang seperti ingin berkata “ semua baik baik saja”.
Itulah mengapa saya pecinta pantai. Menjelajah dari pantai ke pantai. Menemukan perjalanan diri saya kembali, setelah sering hilang saat berlarian dalam hidup. Pantai, sering menolong saya untuk menemukan diri kembali.
  
 
 Ndalem Pogung-Jogya, 4 Januari 2013. 22.41

Wednesday, 2 January 2013

Dua Perempuan (2)




It’s over now, Re..dia bilang padaku jangan baik-baikin aku lagi, just let me go and find some one,” kalimat itu meluncur dari mulutnya, dengan guratan pedih yang masih sisa di wajahnya. Kami bertemu lagi, seperti biasa..di tempat yang sama. Sofa pojok sebelah kanan di Rumah Kopi, dengan pesanan kopi yang hampir selalu sama, secangkir kopi lumbung vanilla. Kali ini aku memesan pisang bakar keju, sedangkan Ocha dengan sepiring nasi gorengnya.
            “ Aku kan sudah tidak makan nasi goreng lagi, Cha. Aku hanya makan nasi goreng hanya bila bersamanya,” kilahku saat Ocha menawariku nasi goreng. Ocha hanya tersenyum mendengarkan penjelasanku, yang maknanya jelas terbaca seperti spanduk di mukanya tertulis : dasar sinting seperti biasa.
Aku memandangi wajahnya, di balik cerianya, ada perubahan-perubahan yang tak bisa disembunyikan dari gurat wajahnya itu. Cinta surut dari matanya.
            “ Cintanya padaku sudah kadaluarsa,” tambahnya lagi. Perih masih mengintip di balik matanya.
Aku menyesap secangkir kopi lumbung vanillaku, sambil memikirkan kata-kata penghiburan macam apa yang bisa sedikit menyembuhkan luka hatinya. Pending, otakku tak menemukan ide satupun. Mungkin seorang Ocha hanya perlu didengarkan, bukan penghiburan. Tenyata setelah masa “menggantung” sedemikian lama, akhirnya kata “let me go, and find someone” yang harus diterima Ocha.
            “ Perih Re, sakit banget rasanya, tapi entah kenapa aku tetep pengen lihat dia bahagia,” lanjutnya. Matanya terlihat menerawang. Mungkin teringat pada Randhiko, mantan pacarnya dulu yang kemudian mereka menjalani masa friendzone yang abu-abu. Mungkin masih berkelebatan di pikirnya saat Randhiko masih menjadi bagian dari hari-harinya. Seingatku mata Ocha selalu berbinar-binar saat menyebut nama Randhiko.
Aku masih terdiam memandanginya. Kalimat seperti “pasti akan ada yang lebih baik dari Randhiko yang akan segera datang untukmu”pun tak sanggup untuk kuucap. Tak perlu. Dia tahu, dan akupun tahu, tapi tidak ingin mengatakan itu. Sia-sia, hatinya masih penuh nama Randhiko. Lelaki yang sudah sejak sama SMA keluar masuk dalam kehidupan cintanya, hingga kini saat usianya beranjak menjadi perempuan dewasa.
Aku tersenyum, menopang dagu dan mengamatinya baik-baik. Apa yang direncanakan Tuhan untuknya? Sekilas begitu yang ada dalam pikirku.
            “ Apa aku harus melepasnya ikhlas? Aku berpikir mungkin dengan melepas, justru suatu saat Tuhan akan memberikannya padaku lagi.” tangannya sibuk mengaduk-aduk nasi gorengnya, namun hanya beberapa suap yang masuk dalam mulutnya.
Bolehkah ikhlas dengan mengharap? Seperti juga ikhlas melepas dengan terpaksa? Apakah ada ikhlas yang terpaksa? Ah, biarkan itu menjadi rahasia hati manusia dan TuhanNya.
            “ Hidup saja dengan dengan baik Cha, Kalau enggak mau mikirin itu, jangan pikirin itu dulu. Fokusin aja ke hal-hal yang lain. “ ucapku. Jiaaah..nasehat atau kata penghiburan macam apa itu.
            “ahaha pragmatis amat elu sekarang Re? Nggak mbulet omongan elu kayak dulu,” ledek Ocha sambil tertawa. Barisan giginya yang rapi, gurat tertawanya, itu masih Ocha yang dulu.
            “ Habisnya, kata-kata penghiburan super canggihpun kagak guna Cha sekarang buat elu. Mau bilang come on, dear...you deserved better, hati elu sekarang bilang, Randhiko itu yang terbaik. Mau gue bilang, udahlah move on..emangnya lelaki cuma Randhiko aja. Pasti hati elu bilang, iyah gampang bilang move on ..kamu nggak ngerasain sih..ahaha ya kan?” jelasku, setengah becanda.
Ocha tertawa lagi. Kami sering seperti ini, ngobrol tak jelas berjam-jam tanpa simpulan. Perempuan mungkin memang senang untuk didengarkan.
            “Hiduplah dengan baik Cha, orang bilang balas dendam terbaik adalah hidup dengan baik. Kamu bersinar dan berkarya, dengannya ataupun tanpanya. Tuhan maha baik.” Sambungku.
            “ Tuhan yang Maha Baik, aku ingin bersinar dan berkarya dengannya, please...yaaa, kabulkan doaku,” begitu doa Ocha, sambil menangkupkan kedua tangan di depan sepiring nasi goreng dan secangkir kopi lumbung vanilla. Aku hanya nyengir melihatnya.***

Purwokerto yang terus saja gerimis, 2 Januari 2013.22.22


(Bukan) Resolusi Awal Tahun



Tahun lalu, di bawah kilatan bunga api perayaan Hogmanay (tahun baru) di atas langit Edinburgh saya berdoa untuk hidup baru di awal tahun 2012 lalu. Di depan kastil Edinburgh dengan suhu minus, saya dan teman-teman dari Glasgow merayakan pergantian tahun baru. Tahun ini, karena posisi sedang di Indonesia maka saya melewati pergantian tahun bersama keluarga tercinta. Detik detik pergantian tahun baru saja berlalu, tahun berganti, dan berhamburan harapan-harapan banyak orang menghadapi tahun baru 2013 ini.
Hidup tersusun dari keping-keping masa lalu, kekinian dan berlapis harapan masa depan. Tahun 2012 telah mengabadi menjadi keping masa lalu. Menilik resolusi tahun lalu, ada banyak evaluasi, refleksi, namun tentu saja ada pula apresiasi. Harapan-harapan yang saya panjatkan di awal tahun, beberapa berwujud, beberapa masih tertunda. Puji syukur tentu saja saya haturkan pada Tuhan yang senantiasa memberikan banyak berkah dalam hidup. Tuhan selalu Maha Baik.
Saya masih terus berkarya dengan menerbitkan buku tunggal, dan beberapa buku gabungan di Tahun 2012. Tahun itu serasa tonggak resmi saya menjadi penulis”beneran”dan semoga akan berlanjut dengan karya-karya berikutnya yang terus ingin saya cipta.
Tentang misi kontribusipun terus saya hidupi walau masih sebatas kontribusi yang saya mampu. Saya masih menjadi anggota Indonesia Penyala, Indonesia Berkibar, Indonesia Pengajar dan suporter dana bulanan sekaligus anggota Green Peace Indonesia, sebagai kesinambungan misi saya di bidang pendidikan dan kesehatan/lingkungan.  Semoga di tahun ini, lebih banyak lagi kontribusi yang bisa saya lakukan.
Hidup terkadang adalah perjalanan demi perjalanan. Keterpurukan, kebangkitan, pembelajaran, pemaafan. Semuanya komplit di tahun 2012 lalu.
Dan saya masih terus berjalan. Kadang berhenti, mengambil jeda, melangkah lagi, berlari, dan terus melangkah lagi.
Tekad saya masih terus sama, bahwa kebermaknaan hidup ada dalam kontribusi untuk sesama. Terus menghidupi passion dengan tindakan dan karya. Bahwa passion menjadi nyala bila dihidupi dengan karya, bila tanpa itu, sia-sia.
Selamat mengabadi menjadi jejak masa lalu, 2012. Terimakasih atas segala warna dan pembelajaran. Dan selamat datang 2013, saya siap dan mengijinkan keajaiban-keajaiban Tuhan untuk terjadi dalam hidup saya.
Semoga terus saling menghebatkan dan membaikkan.

1 Januari 2013.00.15