Wednesday, 20 February 2013

Rectoverso- Sebuah Ramuan Lengkap Bagi Jiwa-




Membacai tulisan Dee itu membuatku sering menahan nafas, lalu disela-selanya sering ngedumel “ eghh keren banget, gilak!”. 
Lalu terburu-buru kembali menempatkan mataku untuk menelusuri barisan tulisannya lagi. Tulisan Dee selalu cerdas untuk membuat bertanya-tanya sampai akhir, walau mungkin terkadang yang tertinggal hanya pertanyaan itu sendiri. Ia tidak berjanji untuk memberikan ending dengan penyelesaian, ataupun dengan jawaban. Tapi dia dengan tidak sopannya selalu sangup membuat ending yang membuat rasa di hati saya “gleser-gleser” lalu mikir.
Membaca tulisannya seperti siap-siap dengan pijar kembang api, mengejutkan. Bukan hanya  kembang api, tapi juga bisa ledakan yang bikin kecanduan. Saya sungguh jatuh cinta dengan pilihan diksinya yang ajaib dan dalam. Seolah pilihan katanya itu sudah begitu cermat disusun, begitu cerdas mengusung makna yang hendak disampaikan. Butuh kedalaman pikir dan sederet pengalaman untuk bisa menciptakan tulisan seperti itu. Angka topi sekali lagi untuk Dee.
Kedalaman jiwanya untuk menyampaikan tema-tema universal makin ahli ia tuliskan. Kenapa hampir setiap cerita pendek dalam Rectoverso itu sangat berkesan dan langsung melekat pada pembacanya? Karena hampir semua cerita itu dialami oleh setiap manusia. Kisahnya terasa sedekat urat nadi pembacanya. Cinta terpendam pada sahabatnya sendiri mengawali buku ini dalam “ Curhat buat sahabat”. Tema universal yang banyak terjadi antar manusia. Siapapun yang membacanya, gampang sekali untuk merasuki kisah ini, karena kisah ini begitu” dekat” dalam hidup nyata. Entah itu kisah sendiri, kisah sahabat, saudara, tak pelak lagi ini cerita yang sangat universal.
Kisah seorang sahabat yang memendam rasa cinta pada sahabatnya sedemikian lama.

“Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih (Curhat Buat Sahabat).

Tahap “mengalami” inilah yang menyebabkan pembaca seperti merasakan pergulatan-pergulatan batin yang disuguhkan dalam setiap ceritanya. Ada gelenyar rasa, sebentuk pertanyaan, dan jawaban yang dituliskan dengan begitu cerdas dan elegan.
Tulisannya hampir tak pernah terlalu berbunga-bunga, tapi romantisnya terkadang luar biasa.
Bagi saya, kecerdasan tulisannya menyebabkan tulisannya sangat seksi bukan kepalang. Tulisan yang masih sangat langka di antara para penulis Indonesia. Hal inilah salah satunya menyebabkan karyanya tidak pernah membosankan untuk dibaca ulang. Kebanyakan buku sekali baca nasibnya nangkring di lemari buku dan entah kapan lagi dibaca lagi. Tapi bagi saya, untuk karya Dee seperti filosofi kopi, Madre, Rectoverso sangat nikmat untuk dibaca ulang lagi.
Terkadang “rasa” dan “pemahaman” saat membacai lagi pun mempunyai tingkatan rasa yang berbeda saat membacanya saat terakhir kali. Tulisannya itu seperti bertumbuh seiring dengan pertumbuhan diri pembacanya. Itulah ajaibnya karya seorang Dee.
Terutama bila kisah yang dituliskan sedang dialami atau dihadapi, rasanya sungguh sangat tidak sopan dalam mengacak-acak rasa. Tulisannya itu candu. Yang sering membuat saya iri setengah mati, bagaimana bisa mencipta karya cerdas dan seksi seperti itu. Iri yang positif tentu saja. Sebagaimana Tasaro GK yang belajar diksi dari tulisan-tulisan Dee.
Di buku Rectoverso ini nampak Dee sudah semakin bertumbuh dengan kedewasaan dan kecerdasan jiwanya dalam mengulas kisah kisah manusia. Di banding Madre, buku ini ramuannya terasa lebih komplit. Ada pula secuplik kisah cinta ibu pada anaknya yang tanpa batas di “Malaikat Juga Tahu”, cinta yang dipisahkan oleh kematian (Aku ada), rumitnya cinta poliamori (Grow a day older), pasangan dengan kadaluarsa rasa (Peluk) dan kisah-kisah lainnya yang tal kalah mengesankannya.
Kisah favorit saya umm..  Grow a day older, curhat buat sahabat, dan aku ada. Ah, Hampir semuanya saya suka.
Dan saya menunggu untuk menonton film layar lebarnya. Dan rasa saya bersiap-siap diombang ambingkan.***

Mereka yang tak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tak paham energi cinta kan meledakkannya dengan sia-sia (Malaikat Juga Tahu).

Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang sanggup ia miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tak sanggup saya miliki (Hanya Isyarat)

Di pantai itu kau tampak sendiri, Tak ada jejakku di sisimu. Namun saat kau rasa. Pasir yang kau pijak pergi. Aku adalah lautan. Memeluk pantaimu erat. (Aku Ada).

 Ndalem Pogung, Jogya-21 Feb 2013. 1.21. am

2 comments:

fardelynhacky said...

Tulisan-tulisan Dee memang selalu memikat. Pilihan diksinya keren ya :)

Siwi Mars Wijayanti said...

iyaaa mba...diksinya seksi, maknanya dalam, keseluruhannya elegan. sukaaaa banget :)

Post a Comment