Wednesday, 3 April 2013

The Change In Me


            “Kamu banyak berubah,” ujar sahabat saya. Saya dan sahabat saya ini hampir 6 tahun lebih tidak bersua. Bila kita bersama seseorang terus dan melaju bersama perubahan-perubahannya setiap hari, mungkin laju perubahan kadang tak disadari. Namun orang yang lama tak selintasan lagi dengan hidup kita, lalu kemudian bersua lagi, mungkin lebih bisa menilik sebuah perubahan. Akhir-akhir ini saya memikirkan perkataannya tersebut. Saya banyak berubah? Untungnya saya sadar kalau saya berubah ehehe. Lah kalau enggak sadar kan bahaya#jreng.
Dulu dia tak kan pernah bisa menemukan penampilan saya dengan rok bunga-bunga, sepatu perempuan flat, tas bertali dan pilihan-pilihan warna seperti oranye, merah marun, kuning seperti foto di atas. Kemana larinya celana jeans belel, kaus casual atau kemeja, dan tas punggung serta sepatu kets? Ahaha..Tenang, saya masih tetap memakai atribut tersebut, kadang-kadang. Namun tetap feminin kok #plak. 
Saya sendiri tidak begitu sadar semenjak kapan saya suka berpenampilan feminin dan sangat perempuan. Sebenarnya sadar, tapi tidak ingin membuat seseorang yang pasti kadang diam-diam membacai blog ini menjadi besar kepala # hehe ambil tisue tutup muka sambil malu-malu.
See...saya tidak akan menulis dengan gaya bicara seperti ini sebelum-sebelumnya.#hadooh!
Perubahan pertama, penampilan saya yang lebih perempuan. Entah mengapa saya sekarang menjadi suka memakai rok, dengan pilihan warna cerah, baju berlipit atau berenda. Plus sudah bisa make-up lumayanlah, cukup untuk modal ngursusin singkat sahabat-sahabat bala kurawa saya yang dari dulu sama-sama nggak terlalu perempuan. Mungkin kini sisi “perempuan” saya berhasil diaktifkan hihi. Semenjak lama saya lebih cenderung tampil maskulin, bukan hanya penampilan saja dalam pribadi saya juga maskulin. Sebagai anak pertama, dituntut harus mandiri, urat manja sudah putus lama, tomboy dan pas kecil hobi berkelahi dengan laki-laki. Sedangkan kini, sepertinya ibu saya tidak salah melahirkan anak perempuan, karena sekarang benar-benar terlihat seperti perempuan. #apa sih. Duh ibu saya sepertinya menanti cukup lama untuk yakin anaknya benar-benar anak perempuan ehehe.
Perubahan kedua saya yakni bagaimana cara saya berinteraksi dengan orang lain. Saya masih ingat sebuah perbincangan saya dulu saat masih kuliah S1 dengan teman-teman.
            “ Apa ya, pekerjaan yang nggak usah banyak ketemu sama orang?” tanya saya.
            “ Jadi pegawai perpus aja. Kamu kan suka buku tuh, trus nggak banyak ketemu banyak orang. Cocok deh pasti,” sahut teman saya dulu,
Saya dulu memang tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang lain. Sulit membangun komunikasi, menyampaikan ide, kaku, garing kecuali dengan orang-orang tertentu yang masih sudah biasa kontak dengan saya, misalnya sahabat-sahabat inner circle saya.
            “ kamu sekarang enggak jutek lagi. banyak senyum, ketawa. Lucu. “ saya ingat komentar sahabat yang baru ketemu saya lagi itu.
Saya sadar saya banyak sekali berubah dalam cara saya berinteraksi dengan orang lain. Sekarang saya senang berinteraksi dengan orang lain. Orang lain berarti sesuatu yang baru, cerita baru, pengalaman baru, pembelajaran baru. Saya berubah menjadi seorang “people observer” yang suka mengamati dan berinteraksi dengan orang. Saya juga terasa lebih nyaman untuk berkomunikasi dengan mereka semua. Saya banyak belajar dari orang lain. Perubahan-perubahan saya sedikit banyak bersumber dari picuan hasil berinteraksi dengan orang lain. Orang-orang yang beraneka ragam sifat, pemikiran, gaya hidup ataupun sisi spiritualitasnya. Saya merasa jauh merasa lebih “hidup” dengan berinteraksi dengan orang-orang.
Dan lucunya, sekarang saya seperti “keranjang sampah” yang orang-orang sepertinya gampang sekali untuk bercerita/curhat pada saya. Dan tanpa sadar saya belajar hidup dari cerita-cerita mereka semua. I’m so grateful for that.
Selain itu pemikiran-pemikiran saya tentang hidup juga berubah, humm bertumbuh lebih tepatnya. Nampaknya gen “sok filosofis” memang mendarah daging dalam diri saya. Dan kini makin menggila ahaha. Ada banyak perubahan lain dalam diri saya, dan saya menyadarinya. Tapi mungkin ada perubahan-perubahan lain yang tak saya sadari.
Trus apa yang memicu perubahan saya? Iya, memicu. Bukankah menurut saya tidak ada yang sanggup mengubah seseorang kecuali  diri orang itu sendiri? 
Hummm..bila ditelaah, tonggak perubahan saya mulai saat saya berhasil mewujudkan impian saya yang pertama. Dunia memperlihatkan pada saya banyak kejutan-kejutan yang membuat “otot hidup” saya semakin melentur. Ada banyak kejadian yang bagi saya masuk dalam kategori “luar biasa” yang otomatis mengubah saya. Bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang “berbeda” membuat syaraf-syaraf otak saya mengembang. Saya merasa setelah saat itu, saya mulai agak berubah.
Lalu, selain kejadian-kejadian luar biasa dalam hidup, perubahan saya juga dipicu buku-buku yang saya baca. Berapa lama orang hidup bila harus hanya belajar dari pengalaman dan pengetahuannya sendiri? Buku-buku yang saya baca mengajarkan saya banyak hal. Buku-buku itu ada di sepanjang perjalanan pertumbuhan diri saya.


Kemudian, perubahan itu juga semenjak saya bertemu orang yang sanggup memicu sifat-sifat saya yang selama ini ter-nonaktifkan. Kamu #uhuk..barangkali ;p
Saya menemukan apa yang tidak ada pada saya, ada padamu. Ada transformasi bawah sadar yang pelan-pelan membawa laju saya untuk semakin bertumbuh. Saya yang dulu hanya mempunyai percaya diri yang minim, dan saya temukan itu padamu, walau kadang berlebih #glek!
Dan kini saya curi (biar keliatan usaha) ilmu itu sedikit demi sedikit. Ada beberapa kemajuan bila saya jujur merefleksikan pertumbuhan saya. Kadang seseorang hanya perlu diyakinkan untuk bisa melakukan sesuatu, dan bagi saya itu kamu. Perlu upaya membangun percaya diri yang luar biasa bagi saya yang tak biasa berbicara di depan publik, di panggung, menjadi pembicara di acara dengan peserta yang cukup banyak. Sejarah hidup saya sedikit sekali mengajarkan itu. Tapi saya mau nekad mencobanya, dan ternyata saya bisa.
            “ Maju. Bukan hanya melangkah. Melangkah itu bisa saja mundur. Maju” katamu waktu itu. Trus kenapa pula saya mau-mau saja? Ahaaha #garuk-garuk
Pun saat saya  mantap untuk memilih dunia kepenulisan sebagai dunia saya, bukan lagi sebagai hobi. Dulu dengan tameng alasan sebagai hobi, menjadikan saya kurang berani berkarya, kadang malas karena sudah terbunuh rutinitas pekerjaan. Saya belum cukup mempunyai keyakinan untuk mengambil langkah.
Tapi, lihatlah tahun-tahun belakangan ini. Saya kini yakin untuk menghidupi dan berjalan di dunia kepenulisan saya. Saya penulis, dan untuk itu saya harus buktikan dengan karya-karya saya. Passion without creation is NOTHING!
Saya berani akhirnya menerbitkan buku walau baru self publishing, berani bicara dalam launching, menjadi pembedah buku. Kemudian menerbitkan beberapa antologi setelahnya. Saya merasakan pertumbuhan dalam kepenulisan saya. Kamu, membuat saya tidak pernah takut lagi bermimpi #ayayay gedubraks!
Kebersamaan dengan seseorang mampu membuat kita semakin bertumbuh. Karena kita berbagi hidup, bukan hanya berbagi keseharian dan rutinitas. 
Tidakkah semakin hari semakin kau lihat, dirimu ada dalam diriku? Kau kini bisa melihat jejak-jejak dirimu ada padaku.
You’ve downloaded in me. Malam ini saya memeluk diri saya sendiri
Bau kamu !



Sejenis tulisan gombal ahaha. Ndalem Pogung, Jogya. 4 April 2013. 0.14 am




2 comments:

lupita said...

cieeeeeeee yg "udah" jd perempuan :p

#aku "blm mau" jd perempuan :D

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha, suatu saat kau juga akan sampai ke titik "jadi perempuan" kok lupi. when the time is ripe :)

Post a Comment