Wednesday, 17 April 2013

The Woman I Love



Kupandangi dia dari jauh, mengenakan rok motif bunga-bunga warna merah marun, dipadu padan dengan atasan casual namun tak menghilangkan kesan femininnya. Raut mukanya nampak serius membacai buku yang dipegangnya, seperti takut ada yang terlewatkan barang sebarispun. Angin senja menerbangkan pelan ujung-ujung jilbab meran marunnya. Rasanya mataku ingin merekam semuanya pelan-pelan, agar tak satupun adegan yang terlewatkan. Walau bila tengah begitu, aku, lelakinya, seperti tak pernah ada dalam dunianya. Asing.
Dia, perempuanku dan buku di tangannya. Dia sudah terbang kemana-mana, bersama kata-kata, spasi, deksripsi, prosa atau puisi. Sementara aku memandanginya, tak paham dengan itu semua. Dan entah kenapa aku selalu ingin mengusili untuk menyelip memasuki dunia abstraknya. Menjadi pengacau paling mempesona dalam hidupya. Lalu benar saja, raut muka seriusnya itupun akan bersungut-sungut, marahnya padaku yang selalu pura-pura. Aku tergelak, dan dia tersenyum merona, campuran pura-pura marahnya dan bahagia hatinya. 

Maybe I annoy you with my choices
Well, you annoy me sometimes too with your voice
But that ain't enough for me
To move out and move on
I'm just gonna love you like the woman I love

Dia, yang berlari-lari dalam dunianya. Aku kadang tersuruk-suruk mendampinginya. Spontanitasnya yang meledak-ledak seperti bunga api. Nekad dan tidak rapinya membuatku sering menggelengkan kepala. Hidupnya seperti merambah hutan belantara, entah perampok, entah mahaguru yang ditemuinya, tak pernah terduga. Tapi apapun, hanya padaku ia selalu mempercayakan keluh kesahnya. Sedangkan aku, pun berlarian, sering hilang ditelan ritme lariku yang membuat hidupku seperti tanpa jeda. Dan dia lah yang menjadi jedaku, spasiku. Perempuanku.

We don't have to hurry
You can take as long as you want
I'm holdin' steady, My heart's at home
With my hand behind you
I will catch you if you fall
Yeah I'm gonna love you like the woman I love

Dari jauhpun aku bisa mengenalinya. Aromanya vanilla. Sepertinya aroma memang lebih digdaya dibandingkan mata. Kadang angin membawanya serta, memberi sedikit kemurahan pada keangkuhan jarak. Aroma vanillanya kadang tiba-tiba menyeruak seperti hadirnya yang tiba-tiba.
Aku tak perlu menghapal, namun selalu tahu ia selalu meletakkan ikat rambutnya di bawah bantal, lalu dia uring-uringan mencarinya kemana-mana. Dia, yang masih mencuri-curi minum kopi walau aku pernah bilang untuk menguranginya. Dia, yang mengaku-ngaku memakai mantel hujan, namun nyatanya membiarkan hujan kecintaannya itu menciumi tubuhnya. Aku cemburu setengah gila. Dia, perempuanku, dengan segala tingkah menyebalkannya. Tapi hidupku berwarna karenanya.

Sometimes the world can make you feel
You're not welcome anymore
And you beat yourself up
You let yourself get mad, And in those times when you stop lovin'
That woman I adore
You can relax, Because, babe, I got your back
Uh, I got you, Uh, Yeah

Lalu apa yang membuatmu tak nyaman? Yang menyebalkan? Tanyanya suatu kala. I don’t wish to change you, kataku. Cinta mungkin juga tentang hal-hal menyebalkan yang entah mengapa terasa menyenangkan. Tentang kesalahan-kesalahan yang entah mengapa terasa termaafkan. Tentang kesalahpahaman yang selalu bisa diluruskan. Tentang kemarahan yang bisa diredakan.
Genduuuuuut, maafin adek ya, rajuknya suatu ketika. Dan semua baik-baik, saja.

I don't wish to change you, You've got it under control
You wake up each day different
Another reason for me to keep holdin' on
I'm not attached to any way you're showing up
I'm just gonna love you like the woman I love
Oh, Yeah I'm gonna love you
'Cause you're the woman I love

Lalu kupandangi dia kini, dengan bilah-bilah uban yang semakin banyak menghiasi rambut panjang hitam legamnya. Dulu, dia selalu memintaku mencabuti ubannya saat muda. Tapi bersama kami belajar sedikit-sedikit mengenai aturanNya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” 

Perempuanku, engkau tetap mempesona dengan uban-ubanmu, dengan pipimu yang kini tak sebakpia dulu.
Dia, masih tekun membacai buku-buku di rak buku rumah kami yang hampir kekurangan tempat. Dia, yang masih saja tenggelam dalam dunianya,  di antara kata-kata, prosa, dan puisi yang ditulisnya. Tapi dia masih saja duniaku. Perempuanku. 


Inspired by “The Woman I Love” Jason Mraz. *kapan saya dinyanyiin lagu ini? #eh

Ndalem Pogung kala senja, dan gerimis rintis di luar jendela. 17 Apr 2013. 17.30. 

8 comments:

R@hmi said...

Kupu-kupunya cantik. Gak nyangka dia adalah hasil dari perjuangan panjang dan kadang menyakitkan melalui proses metamorfosis (atau transformasi??) dari ulat kecil yang kadang berbisa (tapi tetap cantik) menjadi kupu-kupu yang cantik dan anggun. Membanggakan.....
(komen yang aneh ya hehehe..)

Siwi Mars Wijayanti said...

ah ah ah, tapi sepertinya daku mengerti makna komenmu mba #cekakak :D

R@hmi said...

Jangan sok tau deh hehe...tapi jujur penasaran kok mba yang satu ini sadar atau tidak banyak menampilkan simbol kupu-kupu, maknanya apa ya?

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe tau dong ah..
*wah iya yaah..saya nggak sadar. saya memang suka banget kupu2, sampai gelangpun kupu2 ahaha. Mungkin suka makna metamorfosisnya itu selain memang bentuknya kupu-kupu itu cantik. Makna metamorfosis mengarah pada perubahan menjadi lebih baik. Kupu-kupu mungkin tentang proses, tentang perjalanan, tentang perubahan. Bagaimana ia dengan sabar dan anggun melewati tahap demi tahap kehidupannya. Ia selalu bisa bercumbu dengan waktu begitu mesranya #aih jawabnya saya sok dalem ahaha ;p

R@hmi said...

Dalem...
Tetapi terkadang kupu-kupu itu lupa bahwa kecantikannya dapat membawanya kepada kesulitan. Ketika seorang gadis kecil melihat kupu-kupu cantik, dia akan berusaha menagkap hanya untuk disimpan dalam toples kaca. Warna-warninya akan menarik para kolektor untuk mengoleksinya dan berakhir di kotak kaca sebagai pajangan. Keindahan warna itu juga akan membuat predator akan sangat mudah mengenalinya sekaligus memburunya..
Namun ada satu hal yang paling berbahaya ketika kemudian si kupu-kupu faham bahwa dirinya menjadi magnet lalu kemudian dia bangga dan senang memamerkan kecantikannya kepada dunia dan akhirnya hal tragis di atas menjadi kenyataan.
#monggo diterka apa artinya hahaha..

Siwi Mars Wijayanti said...

lah trus apa yang terjadi kira-kira bila kupu2 itu berubah menjadi bunglon? ehehe atau merubah sayap2nya biar tidak cantik karena ketakutan-ketakutan tadi? bukankah semesta yang rugi? saya kira penciptaan memang dibekali dengan kodratinya sendiri-sendiri. Semua ada risikonya masing-masing. Kupu-kupu hidup berani dengan warna-warni cantiknya, bukan bersembunyi. #aish ini komen2an makin tak jelas hihi..

R@hmi said...

Wuih...canggih..
Jadi mikir juga gimana kalo metamorfosis hanya sampai pada kepompong karena dia sudah tidak berani menghadapi dunia. Iya kalo kepompong ulat sutra atau ulat jambu monyet (pernah lihat golden silk?), harganya mahal, tapi kalo ulat bulu yang item menjijikkan trus bikin gatal gimana ?
Kupu-kupu harus tetap jadi kupu-kupu walaupun terkadang harus berevolusi dengan mengurangi gradasi kecantikannya demi kelangsungan hidupnya agar tetap menghiasi dunia dan tetap diminati anak kecil, kolektor dan predator. Asal jangan berevolusi menjadi kupu-kupu yang lebih cantik tetapi mempersenjatai dirinya dengan bisa yang mematikan.
#request : sekali-sekali bikin tulisan tentang makhluk-makhluk Allah yang kelihatan remeh tapi ternyata mempunyai filosofi yang dalam. Masak kalah sama Filosofi Kopi-nya Dee hehehee...

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha requestnya menantang. Hihihii nggak mudah..humm tapi bukan berarti enggak bisa. Lagi belajar analoginya dari tulisannya Dee, Tasaro..nanti insyaAllah saya bikin tulisan kayak gitu2 deh.

Post a Comment