Saturday, 11 May 2013

My Path



Miss you, Sahabat!

Sabtu pagi yang sepi, hanya bersama secangkir kopi dan data-data yang harus kuanalisis untuk presentasi lab meeting senin depan. Sesekali menengokimu dari jauh, sambil berharap astralku bisa melihatmu sejenak hari ini, aku rindu. Lalu jari-jariku seperti biasa asyik bergerak menjelajah di laptopku, dan entah mengapa ada rasa ingin mengunjungi blog sahabat lamaku yang sudah lama vacum, tidak ada update lagi tulisan-tulisannya semenjak dua tahun terakhir. Dan menemukan kembali tulisannya, tentangku. Postingannya sudah lama sekali, Selasa, 27 November 2007. Saat-saat terakhir akan meninggalkan Jogya dulu. Aku ingin me-reposting tulisannya di sini :

Saat Sahabat Pergi

Satu persatu sahabat pergi, mungkin karena memang telah tiba masanya, seperti halnya hari ini. Apakah memang mereka pergi? Kepergian hanya perubahan dimensi ruang, karena menurutku, senyatanya mereka tetap ada, hadir dan menempati penggalan ruang hidupku. Seperti hari ini, tidak bisa kubohongi hati kecilku, sedih tapi juga bahagia. Sedih karena secara dimensi ruang kita akan merenggang jarak. Bahagia karena dia akan menapaki episode kehidupan selanjutnya, merajut mimpi yang telah sekian lama dalam pelukan Tuhan. Kebersamaan dengannya memberikan warna baru bagiku, tentang perjuangan meraih mimpi. Biarkan mimpi tak selamanya menjadi mimpi. Belajar tentang bagaimana nrimo…..Belajar tentang berdamai dengan hati, berdamai dengan diri sendiri. Tapi kepergianmu dari dimensi ruangku saat ini menyeruakkan sepi.

Hari ini engkau pergi, sepi menghampiri pelukaan, karena tanpamu, tak ada lagi teriakan-teriakan di tengah malam saat-saat kita menjadi seteru karena jagoan kita bertanding. Milan! Forza Italia! Begitu slalu katamu, yang satu ini jelas-jelas kita berbeda, karena aku bilang Liverpool! England, The Three Lions! Meski di saat-saat akhir kemarin kita sepakat untuk menangis, karena Inggris tersisih dari Euro 2008. Tak ada Inggris di Euro 2008, ibarat makan nasi tanpa lauk! Hambar! Trus siapa yang kudukung nanti? Yang jelas aku tetap tak akan membelot ke Italia (hehehehe….).

Aku tak mau mengatakan ini perpisahan, karena perpisahan selalu menyakitkan, tentu engkau tahu khan? Duh, aku nggak tau mesti nulis apalagi, yang jelas, selamat jalan kawan……Raih mimpi ke negeri Azzuri…..Perugia menantimu…….

Our Togetherness!!..aih kami masih unyu-unyuuu...



Aku lupa entah kapan kali terakhir bertemu dengannya. Jarak, ruang, waktu dan jalur-jalur hidup yang berbeda terkadang menghilangkan kami. Tapi tentu saja aku sejatinya tak pernah lupa, aku masih kadang menengok jalur hidupnya melalui media sosial. Kadang bertukar komentar lalu hilang, mungkin memang kami susah kembali seperlintasan. Tapi jejak jejak masa lalu bersamanya memperkaya hidupku.
Dia, yang dengan berani membelokkan jalur hidupnya, dari seorang sarjana kimia, kemudian tersesat bekerja di sebuah bank, lalu melalui pencarian-pencarian hidup dan akhirnya berani memutuskan mengambil master di bidang psikologi sesuai dengan minatnya. Tidak banyak orang yang seberani itu, tentu saja aku belajar banyak darinya tentang keberanian. 
Dia, sepertinya orang pertama yang mengenalkanku akan betapa nikmatnya “bertukar kepala” atau kini istilahku “orgasme otak”. Dia, salah seorang yang dikirim Tuhan untuk memantik syaraf-syaraf kepalaku untuk berdenyut, mengembang sehingga dunia  nampak semakin luas dan berwarna.
Aku mengenangnya. Saat dulu aku leluasa meminjam koleksi buku-bukunya kala membeli buku dulu menjadi sesuatu yang masih “mahal” untukku. Buku Gede Prama, Andrea Hirata kulahap habis dan kemudian menjadi topik bertukar kelapa yang selalu menarik di antara kami. Dari dia pula, aku terpesona dengan yoga dan belajar autodidak walaupun sedikit.
Kami dulu sama-sama penggila kopi, hingga terakhir kudengar dia telah banyak menguranginya. Aku juga, dan sepertinya alasan kami berbuat itu sama. Mungkin karena hanya orang-orang tertentu yang mampu membuat kami yang keras kepala mau mendengarkan.
Aku merinduinya. Kini ia telah menjadi seorang ibu dari seorang gadis cilik yang cantik, bekerja di kementerian kesehatan dengan berbagai aktivitasnya. Aku menengok hidupmu dari jauh, Mba anik. Semoga suatu saat ada selintasan jalur hidup yang mempertemukan kita kembali. Terimakasih telah berbagi salah satu jalur hidup.
Apakah kita masing-masing pergi dan meninggalkan? tidak. Persis seperti katamu :
Apakah memang mereka pergi? Kepergian hanya perubahan dimensi ruang, karena menurutku, senyatanya mereka tetap ada, hadir dan menempati penggalan ruang hidup


My Path. Your Path. Our Path of life.
21 Hillhead street, Glasgow. 11 May 2013.

0 comments:

Post a Comment