Monday, 13 May 2013

The Valiant



Di sela-sela menyiapkan slide powerpoint untuk presentasi esok, Kemarin saya menelpon rumah. Kebetulan masih ada gratisan 1 jam dari Vodafone, jadi lumayan untuk dimanfaatkan. Biasanya kami kontak menggunakan skype namun perlu adik saya standby untuk bisa mengoperasikannya. Kali ini saya menelpon hanya sekedar ingin mendengar suara dan kabar orang tua saya. Sambungan telpon diangkat, suara ibu saya yang menentramkan terdengar. Lalu kami memulai pembicaraan yang normal, dari menanyakan kabar kesehatan, studi dan keadaan rumah. Kata ibu saya, mereka sedang di teras rumah. Saya menelpon waktu selepas magrib di Indonesia. Lalu saya jadi teringat saya hobi sekali ada di halaman rumah saat malam.
            Bukannya langitnya tetap sama?” begitu komentar bapak saat kali terakhir dilihatnya saya kembali asik sendirian di halaman rumah dan memandang-mandang ke atas langit. Bulan lalu sepertinya. Saya hanya tersenyum. Bapak ataupun ibu saya sudah hapal kebiasaan saya untuk menatapi langit seperti tak pernah merasa bosan. Dan memang tak pernah terasa bosan. Saya masih ingat rasanya berada di sebelah jendela bis zena yang lebar membentang, saat malam sudah menua. Kala melintasi kawasan seperti padang, dan yang terlihat hanyalah bentangan langit malam dengan kerlipan bintang-bintang. Beberapa menit lalu, saya kembali menggerakkan jemari mencari tweet saya kala itu. Ah ini dia, 11 April 2013 dinihari.

Bunyi deru laju bis, kerlip gemintang di luar jendela dan perjalanan ke arah timur. Ah, menuju hatimu. Mungkin           
Beberapa orang meretweet-nya, beberapa juga mereplynya. Saya memang selalu merasa terkoneksi dengan bintang-bintang di atas sana itu. Kerlipnya tak pernah gagal mempesona saya semenjak kecil. Dulu saat saya kecil sudah terpesona oleh rasi orion yang dulu saya kira bentuknya seperti boneka di atas langit. Ada kepalanya, dua tangan dan kaki, dan ia mengikutiku terus kemanapun aku berjalan. Bagi saya itu nampak sangat menakjubkan. Lalu berganti tahun saya sangat maniak pada astronomi, sampai tergerak keinginan untuk mengambil kuliah jurusan astronomi kala itu. Saya sering dengan kertas berisi peta bintang dan kemudian menggunakan senter mencocokkan dengan posisi rasi di atas langit. Menunduk dan menengadah, begitu tanpa lelah. Orang-orang desa yang kebetulan lewat sampai mengira saya mencari barang hilang. Sampai saya SMApun, saya masih terkadang belajar di halaman rumah. Di dekat gardu pagar dekat lampunya yang terang dan ada teras kecil untuk duduk. Belajar bernaungkan jutaan kerlip bintang itu masih membekas dalam kenangan.
            Saya punya nama-nama sendiri untuk beberapa bintang, dan saya juga punya bintang yang saya namai dengan nama saya sendiri. “Mars The Valiant” (Mars si Pemberani) di antara rasi Orion yang gagah itu. Saya suka dengan The valiant, si pemberani. Mungkin ingin berani menjelajah, berpetualang ke tanah-tanah yang jauh, dan terlebih lagi berani menjelajah dan melakukan perjalanan ke dalam diri. Semua itu butuh keberanian bukan? Saya ingin berani mengambil risiko, berani mengakui salah saya, mengakui kekurangan, dan berani terus melaju. Ah, pemberani terkadang adalah merasai takut dan cemas tapi tetap meneruskan untuk tetap melangkah.
            Akhir Minggu depan akan ke Maroko,” kataku pada bapak di ujung telepon.
            “ Maroko? dimana itu?” Bagi orang tua saya yang belum pernah sekalipun naik pesawat, Maroko nampaknya jauh dari imaginasi mereka.
            Afrika, umm Afrika Utara” jelasku. Tentu saja masih tak terbayang. Mungkin yang terbayang oleh bapak saya adalah anak perempuannya akan menginjakkan kaki lagi ke tanah antah berantah yang jauh dari daya khayalinya.
Saya kemudian bercerita bahwa ke sana tak butuh visa, dan menjelaskan dengan siapa saya ke sana agar menghilangkan sedikit kekhawatiran mereka. Namun saya tidak tahu pasti apa yang ada di benak mereka. Selama ini saya kemana-mana, dengan hidup nomaden saya mereka tak pernah terlalu rewel dengan berbagai macam detail.
Telpon kemudian ditutup dengan suara parau milik ibu saya. Beliau tak pernah cerewet mereweli saya harus begini begitu, tidak seperti kamu, yang akan memberikan closing yang sudah ratusan kali kudengar.
            “ Baik-baik ya dek,  jangan lupa maemnya, sholatnya, istirahatnya. Sehat ya, ndut ya...bla blaa..” dan anehnya saya ingin mendengar itu beratus-ratus kali lagi.
Tapi ibu saya, hanya berpesan singkat saja, komunikasi kami memang selama ini tidak terbiasa dengan komunikasi verbal yang madu berbunga-bunga. Namun kali ini suaranya parau, menahan tangis.
Dan kalau sudah begitu saya harus menyetel nada suara yang baik-baik saja, Suara yang meyakinkan orang tua yang berjarak lebih dari 7600 miles dari saya percaya bahwa saya baik-baik saja.  Beberapa waktu saat saya masih di Indonesia, terkadang ibu saya menelpon kemudian diam tanpa bicara. Lalu kemudian hanya sms yang terkirim. Kedua orang tua saya sekarang ini rasanya bertambah mellow saja. Dan untuk itu saya harus memastikan bahwa saya baik-baik saja. Bahagia dengan pilihan yang saya ambil, memang ada beban-beban di pundak, tapi harus ditanggung dan akan kutaruh sejenak, dan kemudian akan saya pikul lagi.
Saya akan tetap menjadi Mars, The Valiant mereka. Si pemberani itu. Semoga.

Menulis terkadang upaya saya merapikan kenangan, dan menangkal lupa. Dan tulisan ini salah satunya.
CVR. Glasgow 14 May 2013.

4 comments:

elamenulis said...

Asyyikkk,,,ke Maroko. Ngapain, mbak? oleh-oleh ceritanya, yaaa,,,^_^

R@hmi said...
This comment has been removed by the author.
R@hmi said...

Itulah sejatinya Mars...sering membuatku harus angkat topi dan kemudian berani bermimpi lagi...#jangan geer hehe..

Siwi Mars Wijayanti said...

@ela menulis : ehehe berkelana. oke siaap :)
@Mba Rahmi : ahaha sekali kali GR ah..;p

Post a Comment