Sunday, 30 June 2013

Glasgow = Home

Sinar mentari menelusup lewat jendela flatku-pagi yang mahal di Glasgow


Malam sudah cukup menua di Glasgow, sementara subuh mulai merayapi waktu Indonesia. Aku sudah semakin terbiasa dengan dua waktu ini. Dan kubiarkan diriku bersantai sejenak setelah hari ini submit second year report yang telah menguras pikirku beberapa minggu ini. Sedikit menyegarkan otak dengan jalan-jalan sore sendirian ke sekitar Byres Road dan mampir Tesco untuk membeli belanja mingguan. Glasgow benar-benar sudah terasa seperti rumah, telah kukenali aromanya, jalanannya. Jalan ke Byres Road itu seperti aku hendak ke arah kentungan di Jogya atau perempatan MM. Semakin lama hidup di Glasgow, rasanya semakin betah saja. Apalagi kini sedang musim semi menjelang musim panas hingga cuaca cukup menyenangkan. Pagi Glasgow biasanya diawali dengan cericit burung dan sinar mentari yang menyelusup masuk lewat gorden jendela flatku. Iyah, kurasa waktu pagi adalah waktu favoritku. Menikmati pagi cerah yang mahal dan secangkir kopi. Iyah mahal, karena pagi dengan mentari yang cerah bahkan untuk musim semi atau panas-pun termasuk hal yang langka. Ada teman yang menceritakan hal yang lucu tentang Glasgow. Dia bertanya pada seorang temannya yang orang Glasgow.
            Berapa lama musim panas berlangsung di Glasgow?”
            “ Umm...yah, sekitar dua mingu” begitu jawabnya.
Hahaha benar-benar deh Glasgow. Tapi cuacanya yang galau itupun semakin lama juga semakin biasa. Menjelang musim panas ini Glasgow cukup hangat. Di antara ke empat musimnya, mungkin musim yang paling menyenangkan untuk tinggal memang musim panas. Tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin, pas untuk manusia tropis sepertiku. Tapi setiap musim mempunyai kekhasannya sendiri, dan aku masih merasa Glasgow sungguh tempat yang sangat nyaman untuk tinggal.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di daratan Glasgow, ada semacam rasa bahwa kota ini serasa “akrab” di hati, maka hampir tak ada kesulitan berarti untuk beradaptasi. Kesulitan yang banyak kuhadapi lebih pada masalah studi doktoralku, namun tentang penyesuaian diri dengan Glasgow berjalan begitu mulus. Empat musimnya sudah kurasai, walau kurasa hanya ada satu musim di Glasgow : musim hujan ahaha...
Tapi benar, Glasgow sudah terasa rumah. Apalagi setelah mengunjungi beberapa kota seputar UK, aku merasai bahwa Glasgow memang kota yang “pas” untukku. Kadang ada kota-kota tertentu yang memang sesuai dengan karakteristik orang masing-masing. Ada yang suka metropolis, ada yang campuran, ada yang suka benar-benar pedesaan. Semua orang dengan pilihannya masing-masing tentu saja.
Glasgow, aku bersyukur bisa mempunyai kesempatan hidup di tanah ini. Penuh warna, penuh rasa, penuh cerita, dan aku bersiap merajut kisah-kisah berikutnya.
Glasgowku//rumahku.

Di penghujung bulan Juni, 2013. 11.45 pm.

Sunday, 23 June 2013

Who Judge More, Know Less




Secangkir kopi susu, lagu-lagu di youtube dan report yang menanti direvisi. Tapi seperti biasa, ada sesuatu dalam otakku yang ingin dikeluarkan. Kadang lebih baik menuliskannya dulu daripada membiarkannya menyumbat isi kepala. Aku memang biasanya begitu, walau entah apa yang ada dalam pikiranku sebenarnya. Tak ada atau terlalu banyak? Ehehe.
Pernahkah kalian, bergerak ke pinggir sejenak dan mengamati.
Mengamati orang-orang di sekitarmu, ternyata otomatis menjadi sebuah refleksi diri, mengamati diri sendiri. Hidup sekarang lebih banyak terdistraksi oleh banyak hal. Begitu membuka timeline twitter, facebook ataupun BBM. Semua orang bergerak, pun dengan pemikirannya masing-masing, bising. Terkadang bising, apalagi aku turut bergerak. Mereka menyuarakan apa yang menurut mereka benar, baik, membuat bahagia atau banyak hal lainnya. Akupun ternyata demikian, aku mengamati diriku sendiri. Aku bergerak menyuarakan apa yang kuyakini, apa yang menjadi benih pikirku.
Namun kadang, bergerak ke pinggir dan mengamati dari kejauhan ternyata bisa lebih memandang semuanya jauh lebih jelas. Memandang diri sendiri juga menjadi lebih dalam.
Ada banyak kata-kata defending, penjelasan atas  kalimat atau perkataan yang mungkin menggangu hidup mereka. Aku banyak membacainya, mengamatinya. Pun pernah melakukan itu. Misalnya saja agak terganggu dengan teman yang tiap kali mengajak ngobrol, tema favoritnya adalah : kapan nikah? Jangan lama-lama menikmati kesendirian dan bla bla. Bila sekali dua kali, cukuplah kujawab dengan senyuman, atau candaan, atau jawaban “doakan saja”, sebuah kalimat formalitas yang pasti dipakai banyak orang lainnya. Tapi bila berkali-kali, tentu saja jujur itu menganggu. Tak adakah topik menarik yang lainnya untuk diperbincangkan? Basa basi atau perhatian ala kultur masyarakat Indonesia memang kadangkala wagu.
            Kalau belum nikah, ditanya kapan nikah? Kalau udah nikah, ditanya kapan punya anak. Tapi kalau habis melayat, nggak ada ya yang nanya kapan nyusul?” jawabku. Tak biasanya aku bereaksi seperti itu. Masalahnya aku lupa menghitung berapa kali temanku menanyakan itu-itu lagi, walau dengan variasi pertanyaan. Kadang antara perhatian dengan membuat jengah bedanya tipis dan subjektif.
            Ih, kamu kok ngomongnya begitu” balasnya sedikit tak menduga balasanku.
            Bukankah rejeki, jodoh, keturunan dan mati itu takdir Tuhan? Secara logika sama dong. Kita nggak tahu kapan kita mati, nggak tau kapan dianugerahi anak, begitupula jodoh”.
Tik Tok Tik Tok, Diam.
Lalu temanku tadi mengalihkan pembicaraan.  Ahaha aku nggak segitunya kok kalau cuman ditanya sesekali. Sangat maklum dengan pertanyaan macam begitu. Hanya kadang bila berlebihan, sepertinya patut untuk memberikan lawan bicara signal bahwa aku tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan tertentu yang menyudutkan.
            “Kamu nyari yang kayak apa lagi sih? Jangan nyari orang yang sempurna, nggak ada orang yang sempurna. Kamu itu apa susahnya sih, tinggal tunjuk aja siapapun mau kok. Jangan karir terus yang dipikir, jodoh juga dong. Karir setinggi langitpun dikejar nggak ada habisnya, mikir umur juga lah”. Dan banyak lagi yang lain, bila dikumpulkan pasti bisa berlembar-lembar hehe.
Aku sensi? Nggak juga. Ada banyak teman-teman yang bereaksi lebih keras dari aku. Biasanya aku jarang bereaksi bila memang orang itu tidak berlebihan. Oke fine, itu memang kultur dari basa basi, atau anggap saja sebagai sebentuk perhatian.
Seorang teman yang mungkin sering menghadapi “soft bullying” ini sampai menulis di statusnya :
kalo orang tanya "kamu kapan nikah?" itu ibarat kita nengok org sakit trus tanya "kamu kapan mati?"  kami yg belum nikah ato mereka yg sakit pasti sudah ato sedang berusaha "keluar" dari kondisi itu. it's the matter of time. and you never know how hard we've tried.
Dan di statusnya itu masih saja masih ada juga yang komen nyelekit juga huaaahahaha...ahaha yeah right, stop to please everybody!
Kadang orang tersebut tak sengaja untuk membuat kita tidak nyaman. Tapi tentu saja, bila kita sampai dalam posisi tidak nyaman, mengkomunikasikan dengan kata dan cara yang tepat sepertinya melatih kita seni berkomunikasi dengan dewasa.
Biasanya orang yang judge more, know less. Biasanya orang-orang terdekat yang tahu kita justru jarang yang kepo macam-macam. Mungkin karena mereka tahu aku sebenarnya lebih tertarik menyiapkan sarapan pagi untuk suami daripada berurusan dengan sel-sel di laboratorium #ahaha. Bahwa ada kumpulan resep masakan di folder bersebelahan dengan folder riset doktoralku#ups. Dan si Mita ngakak melihat koleksi cerita anak-anak di rak flatku#eh. Tapi kepanjangan kan kalau harus menjelaskan? Hihi..
Hal di atas hanya contoh kecil dari judgement yang gampang dilontarkan orang. Mungkin aku juga pernah menjudge orang lain. Tapi menurutku, setiap orang hidup dengan pertarungannya sendiri-sendiri, dengan jatah ceritanya sendiri-sendiri. Dengan hal yang membuatnya bahagia masing-masing.
Aku dengan pertarunganku sendiri, dengan mewakili rasaku sendiri. Kamu juga, kalian juga. Semakin banyak aku mendengarkan sahabat yang bercerita padaku, semakin yakin aku dengan pernyataan itu. Setiap manusia menghadapi pertarungannya masing-masing.
Kadang-kadang perlu bilang dalam hati “Mind your own bussiness” urusin saja urusanmu sendiri. Kadang memberikan benteng dari energi-energi negatif lebih membuat hidup menjadi lebih positif. Jadi mari belajar memfokuskan pada hal-hal yang positif.
Aku tak perlu mencontek apa yang membuatmu, membuatnya atau membuat kalian bahagia. Aku bahagia dengan secangkir kopi susu atau teh manis, senja yang lembut, laut, puisi, senyummu, candamu, hadirmu..eh eh kebanyakan kamunya ahahaha. Tapi mungkin kalian bahagia dengan belanja di mall, merajut, bekerja, atau gitaran barangkali..berbeda masing-masing manusia.
Kita adalah rasa yang kita wakili sendiri-sendiri.
Selamat menghadapi pertarungan kita masing-masing dengan berani.

#ini tulisan random amat yaaa ahaha...mari kembali ke report.

Mingu yang penuh rindu. Glasgow, 23 June 2013. Menanti Maghrib.

Pulangmu




Aku suka laut. Mungkin itu mengapa dulu aku berkata “ Temani aku ke pantai bila aku sudah bisa berjalan lagi
Karena itu aku makan banyak-banyak, kutelan obat-obatan itu, bahkan sakit luka-lukaku kadang tak terlalu kurasa. Dan aku memaksa berusaha keras untuk belajar berjalan lagi. Hanya beberapa hari saja aku dipapah kemana-mana. Setelah itu, aku belajar berjalan dengan tongkat, walau rasanya sakit setiap kali tongkat itu diayunkan. Tapi aku harus bisa berjalan lagi.
Aku mengingat saat itu. Serasa baru kemarin. Kamu tahu rasanya berada antara batas hidup dan mati? Seperti merasa mendadak hanya ada beberapa orang saja yang tersisa dalam pikirku.
            “ Ayo berjalanlah, agar nanti kau bisa berlari lagi”
Kadang ada orang yang sanggup membuatmu bersinar-sinar ataupun meredup seketika.
Kadang ada orang yang sanggup membuatmu tersenyum berbinar yang tak mungkin dibagi bersama orang lain lagi.
Aku kini sudah bisa berlari lagi, walau bekas-bekas luka itu sepertinya tak pernah bisa hilang dari hidupku. 
            Sakitkah?” tanyamu suatu waktu.
Aku menggelengkan kepala. Kadang ada orang yang mampu menyembuhkan sakit ragamu, entah mantra apa yang diberikan Tuhan padanya.
Aku sekarang masih suka laut.
Laut itu bersahaja dan menerima. Ia menjadi tempat pulang air yang entah darimana arahnya, tak pernah mengeluh, ia menerima. Laut menjadi tempat pulang yang menentramkan. Air yang datang padanya mungkin berteriak “ Eropa sungguh cantik! Kalimantan seksinya misterius! Sukses itu penting! Atau berteriak : kita harus terus bersemangat!
Apapun, bagaimanapun, dari manapun, air itu mengalir pulang ke laut. Laut memelukinya dengan penerimaan. Air selalu merindu laut untuk pulang.
Aku suka laut.
Dan akupun ingin selalu menjadi pulangmu.

Malam yang terlalu larut di Glasgow, pagimu. Dini hariku. 23 June 2013.

 

Friday, 21 June 2013

Seni Menerima Hidup ala Penderita Ambigu Genetalia


Tak sengaja, mataku tak melepaskan pandangan dari  seorang perempuan yang baru saja keluar dari Fraser Building, gedung untuk internasional student University of Glasgow. Mungkin riasan mukanya yang agak menor itu yang membuatku agaerhatikannya lama. Humm sepertinya bukan hanya itu saja, tapi apa..aku masih belum bisa mengidentifikasinya. Kemudian saat perempuan itu berjalan melewatiku menuju University avenue, baru kusadari suatu hal. Aku memperhatikan tubuhnya dari belakang, ummm memang ada yang aneh. Aku sedikit terperanjat, tubuhnya seperti laki-laki.
            Kamu perhatikan deh, kalau perempuan jalan, walau perempuan tomboy sekalipun tetap saja pinggulnya bergoyang. Maksudnya memang secara natural gitu, enggak dibuat-buat. Atau at least cara jalannya berbeda dengan cara laki-laki bila berjalan,” aku teringat paparan mba anas beberapa waktu lalu.
Hummm mungkin seperti ini contohnya. Aku agak melongo. Badan dan cara jalannya persis laki-laki, payudaranya tak terlalu berkembang dan wajahnya ambigu. Aku pikir tadi dia itu  seorang perempuan karena dia berambut panjang dan memakai make-up yang menor. Ah, mungkin dia itu salah satu contoh kasus ambigu genetalia yang dituturkan mba annas.
Kalian tau apa itu ambigu genetalia? Ehehe pada saat saya mendengarnya pertama kali saya pun mengerutkan dahi, nggak begitu mengerti. 
Ambiguous genitalia is a birth defect where the outer genitals do not have the typical appearance of either a boy or a girl
Cerita penelitian mba annas  tentang penyakit ambigu genetalia di Indonesia sungguh menarik untuk kusimak. Mba annas itu Dosen psikologi Undip yang tengah studi tahun terakhir di Uni of Rotterdam  menginap di flatku selama 3 hari utuk konferensi tentang ambigu genetalia yang diadakan University of Glasgow. Mungkin ini seperti berita-berita di tivi tentang operasi ganti kelamin itu. Terjadi fenomena gunung es, banyak kasusnya namun jarang terekspos media atau jarang pula yang mau mencari pengobatan/konsultasi sehingga angka kasusnya yang sebenarnya sulit untuk diperkirakan.
Pernahkan kalian pikirkan, bahwa bagaimana rasanya kamu mengalami ketidakjelasan jenis kelaminmu? Dan kelainan ini tidak bisa disembuhkan. Upaya satu-satunya hanya untuk meningkatkan kualitas hidup si penderita tersebut. Mba annas di semarang bekerja sebagai konsultan penyakit tersebut dan menghadapi banyak cerita tentang pasien-pasien yang mengalami kelainan tersebut.
            “ Ada yang ngeluh “itunya” kecil banget karena memang tidak berkembang. Ada yang mengalami kesakitan teramat sangat saat berhubungan dengan pasangan, ada yang mengalami depresi karena tidak percaya diri, ada lelaki yang risih dengan payudaranya seperti merasa itu bukan bagian dari tubuhnya” gitu cerita mba annas.
Semenjak dulu, kelainan seperti itu jarang kutemui ataupun kulihat di lingkungan sekitarku. Paling hanya melihat sesekali berita di tivi dan itupun masih have no idea apa yang sebenarnya terjadi. Cerita mba annas banyak membukaan mataku bahwa ada kelainan macam itu.

Banyak kita mengeluh tentang apa saja. Aku sendiri juga. Orang mengeluh tentang kenaikan BBM,  tentang kemacetan. Saya mengeluh tentang riset, tentang writing English saya yang acak adul ahaha. Pun keluhan-keluhan orang yang membanjiri semesta ini. Keluhan yang mampu yang diminimalisir sebenarnya. Masih ada harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Lihatkan pasien dengan kelainan ambigu genetalia, yang bahkan tidak punya kejelasan tentang apa jenis kelaminnya. Kemudian setelah mengetahui kelainannya itu bahkan tak ada treatment yang bisa menyembuhkannya. Lalu apa? Bagaimana seni belajar menerima adalah pertarungan bagi mereka seumur hidup.
Kita mungkin menerima bahwa saya seorang perempuan, kamu laki-laki sebagai sebuah hal yang take it for granted, sesuatu yang wajar. Nyatanya tidak begitu, itu adalah anugerah. Karena tak terbayangkan bila kita menjadi salah satu penderita kelainan tersebut bukan?
 Ah, sebenarnya ada terlalu banyak hal yang layak untuk kita syukuri daripada membanj
iri hidup dengan keluhan.  Tersenyumlah, Tuhan memberimu lebih dari yang kamu perlu. Cheers

21 Juni 2013. The longest day of the year.16 hours 40 minutes of daylight.
  


Thursday, 20 June 2013

Beautiful Scotland!



Yuhuuu  my travelling partners
           
           “ Kayaknya scotland lebih cantik daripada England ya” lontarku pada dua sahabatku. Sambil duduk duduk di antara rerumputan hijau dana makan bekal piknik kami. Iyaaah kami piknik bertiga di pinggiran Glasgow, di Dumbarton Castle.
            “ Emang banyak kali mba yang bilang gitu. Dan emang bener sih” balas Mita sambil mengunyah bakwan bikinanku. 
            “ He-eh sih, tapi tergantung definisi cantiknya. Masing-masing orang mungkin beda. Scotland lebih hijau eksotis, England lebih modern” begitu satu lagi pendapat Jeng tika.
            “ Si media kemaren juga bilang gitu lho, jatuh cinta sama Scotland. Lebih indah katanya.” Lanjutnya. Iyap, Media bersama keluarga dan mba Tri Yumarni dari Manchester beberapa saat lalu menjelajah Scotland, sempat mampir juga ke Glasgow dari aku sempat menemani jalan-jalan di kampus UoG.

Iya sih, tiap orang punya preferensi masing-masing. Dan aku nyatanya jatuh cinta dengan keindahan Scotland. Apalagi bila berkunjung ke tempat asing, tak terlalu terkenal tapi indahnya memukau. Breath taking scenery kubilang!
Scotland, bagiku seperti tempat misterius yang dulu tak pernah terbayang bagaimana rupanya. Tentu saja pengalamanku berbeda dengan saat ke Italia dulu. Aku dulu sudah punya template gambaran seperti apa tanah-tanah yang akan kukunjungi di Itali. Bahkan gambar tempat-tempat yang ingin dan berhasil kukunjungi itu sudah hapal detailnya. Kutempel di dinding kamar, kugambar dengan pensil, dan sudah berkarat di otakku sekian tahun. Kelanaku di Italia adalah seperti mencocokkan apa yang aku bayangkan dengan gambaran nyatanya. Tapi Scotland kali ini menyajikan sensasi baru. Datang ke sini dengan no idea seperti apa rupanya. Kecuali kota Edinburgh yang entah kenapa dari dulu ingin kesana, selebihnya tak ada  gambaran sama sekali. Glasgow adalah tempat out of the blue yang tiba-tiba muncul di peta hidup menjadi tempat yang aku tuju. Butuh beberapa hari “semedi” untuk akhirnya mengatakan “I do” pada Glasgow. Tapi setelah tahun kedua di sini, fall in love with Scotland!!! Ayayyaay ehehe..
Tempatnya tenang, udaranya bersih, nggak ada macet, dan hijaaaauuu. Perpaduan kota-kota tua, bangunan klasik jaman dulu dan modernisitas yang tak terlalu kental. Pas untukku yang tidak terlalu suka kota-kota metropolis. Setelah mengunjungi beberapa kota di England seperti London atau Manchester, dibanding dengan menyelusup mencicipi tempat antah berantah yang jarang dikenal orang seperti Dumbarton Castle ini, entah kenapa hati saya lebih jatuh cinta dengan tempat macam ini.
Kami melakukan piknik sederhana ke Dumbaton castle dan pinggir danau Loch Lomond. Piknik bertiga terakhir sebelum Jeng Tika balik ke Indonesia untuk risetnya. Ehehe kami bertiga itu the gank jalan-jalan, kemana-mana cuma beda template doang, isinya ya kami bertiga. Kadang partner jalan-jalan memang butuh “chemisty”, sama seperti hukum persahabatan ataupun hukum berpasangan. Rasanya nge”klik” aja dan kemanapun dan bagaimanapun kondisinya, selalu saja ramai dan menyenangkan bersama mereka.
Nah, piknik kami sederhana saja. Potluck, begitu istilahnya di sini. Jadi masing-masing kami membawa makanan sendiri-sendiri lalu dimakan bersama-sama. Aku bikin bakwan goreng dan kerupuk, Mita bawa sushi dan mendoan sementara jeng tika bagian jus buah dan buah. Lalu berkelanalah kami ke Dumbarton Castle yang sepi. Hanya sekitar 1 jam dari Glasgow kota lalu kami sampai ke lokasi. Sepi, iyaap karena memang tidak terlalu terkenal, tidak seperti Stirling Castle atau Edinburgh Castle. Kami masuk dengan gratis karena kami member Historic Scotland..asik..asikk.
Dan kami mulai menjelajahi castle yang nampak misterius itu. Jalanannya cukup menanjak dan curam, jadi harus lumayan hati-hati. Tapi pemandangannya aw..awaaw..sebulah kastil di pinggir danau. Siapa yang tak jatuh cinta coba? Aku memang paling betah dengan wisata macam beginian ehehe..



Suasananya tenang, hijaau dan berada di kastil kuno bersama sahabat-sahabat yang menyenangkan itu rasanya..bahagiaaaa..ehehe. Kami piknik, makan-makan dan foto-foto. Dan menjumpai pemandangan yang bikin kami narsis foto-fotoan..

Gadis desa merambah scotlandia ahaha ;p
What a beautiful scotland!

Menghijau dimana-mana


Hihiiii...luv this pic :)

Kastil, danau dan asrinya scotland..
Indah..bikin betah
Selalu pose yang bikin si Mita memotret dengan cemas : awas mbaaa....:D



Scotland, definitely simply beautiful..
Akan kujelajahi lagi pesonamu, Tunggu ! #ngancem


Posting sambil menunggu waktu subuh, Glasgow 20 Juni 2013. 1.45 pm




Monday, 10 June 2013

Sunny Day in UK




Matahari bagi tanah air yang menumbuhkanku adalah biasa. Indonesia dan matahari adalah teman akrab, yang kadang dipuji, kadang dibenci, atau lebih banyak tak dipeduli. Keberadaan matahari bagi sebagian besar orang Indonesia adalah suatu yang biasa, sebuah hal “take it for granted” yang jarang dimaknai, jarang disyukuri. 
Aku, perempuan negeri tropis yang dibesarkan matahari kini mengerti mengapa orang-orang di negara 4 musim ini begitu candu matahari. Karena telah merasai membekunya musim dingin, “semilir dahsyat”nya angin yang sanggup menerbangkanku bila tengah berjalan. Apalagi aku tinggal di Glasgow, bagian UK sebelah utara yang lebih dingin dibandingkan daerah England. Bahkan musim semi ataupun musim panaspun, tetap saja terkadang matahari hanya tempelan di langit, dan segera terusir pergi. Hujan dan Glasgow adalah sahabat karib, karena hujan seringkali datang dan pergi sesuka hatinya tanpa peduli tengah musim apa di Glasgow.
            Day without rain in Glasgow is impossible” kata seorang kasir sebuah minimarket di Glasgow pada customernya. Aku mendengarnya dan tersenyum. Begitulah Glasgow. Tapi bagaimanapun juga aku mencintai kota ini.
Tapi seminggu kemarin, ternyata matahari berbaik hati mau bekerja keras untuk tersenyum sepanjang hari. Bahkan hari jumat kemarin tercatat sebagai The hottest day in UK. Dan cuaca dan mood kadang saling mempengaruhi. Bila matahari mulai bersinar terang, sepertinya semua orang di kota ini ingin keluar dan menikmati sinar matahari yang langka itu menimpa tubuh mereka. Kota mendadak ramai dengan orang-orang yang duduk-duduk minum kopi di cafe. Biasanya seringkali cafe menyediakan tempat duduk di dalam ruangan karena faktor cuaca yang tak memungkinkan. Kini tempat duduknya diletakkan di luar cafe, atau bahkan ada yang sengaja membuat tempat makan yang outdoor agar customernya menikmati sajian makanan sambil “berjemur” matahari.
            Taman-taman kebanjiran orang yang bergembira ria akan senyum cerah matahari. Kadang ada yang duduk-duduk membaca buku, piknik, berkumpul-kumpul atau sekedar berjemur menikmati matahari. Aku kini bisa merasai mengapa mereka begitu menghargai kesempatan nan langka ini, tak sering cuaca bermurah hati pada mereka. Untuk itu harusnya negeri tropis Indonesiaku banyak bersyukur atas limpahan sinar matahari yang hampir sepanjang tahun.
            Namun ajaibnya manusia tropis terobsesi bulir-bulir salju, sedangkan manusia empat musim terobsesi matahari! Ehehe sebuah anomali yang banyak ditemui kan? Nah, kami pun turut merayakan cerahnya matahari dengan mengadakan pengajian plus barbeque-an di Loch Lomond. Biasanya kami, warga Indonesia di Glasgow mengadakan pengajian rutin bulanan. Nah karena cuaca mendukung maka kami mengadakannya di outdoor sambil piknik, sekalian pengajian. Acaranya sederhana, barbeque-an dengan bakar sate ayam, ayam, sosis dan dendeng lalu makan bersama kemudian diteruskan dengan kajian. Aih mulut rasanya tak ingin berhenti mengunyah, atau bertindak multitasking, yakni sambil membolak balik sosis yang dibakar sambil memasukkan ke dalam mulut hasil bakaran yang sudah matang haha.


Kebersamaan dengan warga Indonesia tentu saja selalu menyenangkan bagi kami yang tinggal di luar negeri. Sejenak rehat dari aktivitas harian, tugas-tugas, jadwal lab ataupun report. Bisa berkumpul dan bersendau gurau sekaligus menimba ilmu dari kajian tentu saja hal yang tak ingin aku lewatkan. Kali ini kajiannya tentang persiapan menghadapi Ramadhan yang sebentar lagi datang. Untuk kali keduanya, aku akan melaksanakan ibadah puasa di sini dengan jadwalnya yang aduhai. Saat mengetik tulisan ini, aku tengah menunggu maghrib yang kini datangnya sekitar pukul 10.08 pm, sedangkan subuhnya sekitar jam 2-3 pagi jadi bisa dibayangkan nanti saat puasa jarak magrib dan imsaknya akan sangat pendek. Ah nikmati sajalah, bukankah salah satu pengalaman yang langka menikmati ramadhan di luar negeri seperti ini? 
Hari ini matahari sudah nampak malu-malu lagi, tapi masih berharap matahari akan sering tersenyum di hari-hari mendatang. Biar agak pantas dong dibilang sedang musim panas di Glasgow ahaha. Have a nice sunny day!!

21 Hillhead Street, Glasgow. 09. 30 pm. 10 June 2013