Sunday, 21 July 2013

Monolog




Aku masih di sini. Iyah, masih terus di sini. Dengan pintu terbuka yang biasa kau masuki. Walau kau datang dan pergi seperti angin, aku tak pernah bisa menduga kapan kau akan datang atau pun akan pergi.
Tinggallah, kataku. Kamu membisu
Mungkin nanti.
Aku masih saja menjadi manusia nomad. Dengan rumah yang aku gendong kemanapun aku pergi. Rumahku itu dimana aku tinggal. Aku bergerak, menjelajahi tempat-tempat asing. Tapi sebenarnya aku tak kemana-mana. Aku masih di sini.
Dengan pintu yang masih saja terbuka kapan saja. Aku tidak kemana-mana bukan? Seberapapun jauh aku pergi, nyatanya aku tetap saja tinggal. Membukakan pintu tiap kali hatimu ingin singgah.
Melarikan diri sungguh gagasan yang salah. Kataku lagi.
Karena bahkan jarak makin mempererat. Jadi bagaimana aku bisa pergi?
Memang aku tak mau pergi. Hatiku bergumam
Tapi suatu saat mungkin engkau yang akan pergi, atau aku yang pergi. Atau kita memilih bersama-sama untuk tinggal.
Bila engkau pergi sekalipun, bukankah engkau tetap akan membawaku seumur hidupmu?
Dan bila aku yang pergipun, kamu sebenarnya pun takkan kemana-mana. Di hidupku.
Dulu aku takut suatu saat aku akan kalah,
Tapi aku tidak sedang berperang, aku sedang mencinta.
Kadang aku juga takut akan kehilangan, tapi
No one loses anyone, because no one owns anyone. That is the true experience of freedom: having the most important thing in the world without owning it (PC)
Malam sudah menua.
Aku pun tak kemana-mana. Menjagaimu dalam keterpisahan maupun kebersamaan.
Dan aku di sini. Tetap di sini.
Di hatimu.


Aku tidak pernah datang, dan tidak akan pernah pergi. Aku telah ada dan tertulis jauh sebelum kita tahu perjalanan ini akan terjadi (dari kamera kata-Catastrova Prima)


Lewat tengah malam, Glasgow 21 July 2013.




0 comments:

Post a Comment