Friday, 9 August 2013

Aku dan Saya, Suatu Kala..




Kami duduk berdua hari ini, aku dan saya. Hanya duduk diam tanpa bicara.. lama. Sepertinya bisu telah menjadi sekutu. Ada jarak yang membuat kami berdua begitu kaku. Lalu saya menoleh, memandangku tanpa bicara apapun. Matanya menatapi mataku.
Aku masih saja terdiam, tak juga tahu harus bicara apa.
            “ ada apakah?” tanya saya padaku. Walau sebenarnya aku tahu bahwa saya tahu apa yang sedang kurasakan.
Aku hanya menggeleng padanya. Tersenyum, entah senyum getir ataupun seperti senyuman  penuh penerimaan. Rasa kadang pada titik tertentu bercampur campur beraneka. Sulit kutemukan definisinya.
              I need time” kujawab begitu pada saya.
Lalu kulihat saya tersenyum. Senyumannya tak lagi sepolos dulu, tak lagi seputih dulu. Senyuman itu seperti lahir dari banyak getir, banyak liku, banyak kisah. Tapi dia masih bisa tersenyum.
            “ Maaf” hanya satu kata itu hanya bisa kukatakan pada saya.
Lalu saya kembali tersenyum, memegang tanganku perlahan. Hangat menelusur hatiku.
            “ Tidak apa.” Jawab saya padaku. Genggaman tangan saya padaku terasa semakin erat.
            “ Mungkin kau hanya butuh udara segar, jendela, secangkir kopi ataupun pantai.” Tambah saya, tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tanganku.
            “ Maaf ya” lagi-lagi hanya kata itu yang meluncur dariku. Ada hujan yang bersiap di pelupuk mataku.
            “ kau sudah makan? Makanlah. “ saya hanya mengucapkan kalimat itu.
Dan hujan tiba-tiba menderas.

---

6 comments:

Ila Rizky Nidiana said...

butuh me time mungkin ya, mba siwi :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha baca tulisan ini lagi kok mellow amat yaaa...hihi iya kali Ila, butuh refreshing sepertinya :)

Afa said...

bahkan, yang paling kuat pun pernah mengalami masa-masa paling rapuh._Nietzsche_ :)

Siwi Mars Wijayanti said...

@ Afa : ehehe so true :)

yustha tt said...

sering banget berdialog ah,,apa bermonolog ya, semacam itu...

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha iya mba titik, apalagi kalau lagi gulana hati. mantaplah itu...
*aku suka banget istilah "gulana hati"mu, semacam unik..nggak se-mainstream "galau"..sukaaaaa :))

Post a Comment