Thursday, 15 August 2013

Beranda




Ada yang istimewa dari beranda. Karena ada hidup yang terbuka, karena semestinya tak pernah ada sebuah beranda yang tertutup bukan? Beranda menawarkan udara seluas-luasnya agar alveoli bekerja sempurna. Beranda menyedia ruang yang cukup lapang agar engkau bisa duduk tenang tanpa sekat-sekat yang mengekang. Pernah kalian pikir, kenapa manusia dalam kelajuan peradabannya memikirkan untuk mencipta beranda saat mereka membuat rumah? 
Mungkin karena kadang manusia butuh ruang-ruang tak bersekat. Semacam naungan teduh, tapi tetap menyediakan cukup udara untuk bernafas. Nafas hidup terkadang membutuhkan sebuah beranda, untuk mengisi stok tangki udara. Udara hidup yang sanggup menghidupi hidupnya.
Bila rumah seperti diri, maka beranda bisa menyerupa ruang sosialisasi. Agar kepenuhan yang ada pada kita bisa dibagi. Diri yang tersekat sekat dalam ruang kadang terlalu pengap, lalu pelan-pelan udara yang ada yang lingkarannya menjadi jenuh.
Lalu sejenak marilah kita duduk di beranda, berbincang mungkin tentang cuaca, soal menu makan malam kita, tentang buku atau tempat tempat yang ingin kita kunjungi berikutnya.
Atau tentang sesederhana secangkir teh atau kopi yang menemani kita di beranda.
            “ Sekarang aku bisa lho minum teh panas banget, masih mengepul-ngepul,” begitu ceritamu memulai bicara. 
Aku mendongak, meneliti wajahmu bilakah engkau bercanda atau berkata memang begitu adanya. Karena kadang kala aku susah membedanya. Sungguh. 
            Seriously?” tanyaku sambil memandangmu lekat-lekat. Biasanya kau akan menunggu beberapa saat agar kadar panas di cangkirmu itu menurun.
            “ He-eh, jadi kalau minum pakai sedotan bisa melepuh lepuh tuh,” begitu ujarmu. Dan sedetik kemudian aku harus menebak-nebak lagi antara kau becanda atau bilang sebenarnya. Tapi kadang itu menjadi tak terlalu penting.
            “ Yeih, masa minum panas pakai sedotan. Kalau minum panas itu tepi cangkirnya harus nempel di bibir, untuk mendeteksi seberapa kadar panasnya.” Begitu kilahku. Dan memang menurutku begitu. Aku sama sekali tak pernah, sungguh..sama sekali tak pernah sekalipun minum panas menggunakan sedotan.
            “Memangnya harus gitu ya? Ribet amat?” begitu protesmu. Tapi aku tak heran karena kau selalu mencereweti apa saja yang kulakukan.  
Dan marilah kita berbincang di beranda, dengan secangkir teh hangat manis atau kopi. Dengan sejenak hidup tanpa bersekat-sekat agar sirkulasi udara hidup kita tetap sehat. Bilapun kita berdua seperti sebuah rumah, mari ciptalah beranda sejuk untuk berbagi dengan orang-orang lain di sekitar kita. Mungkin suatu saat kita undang sahabat, kerabat atau teman dekat. Kita sajikan minuman hangat dan camilan buatanku. Karena hidup akan tersekat dan pengap bila hidup harus selalu hanya tentang kita berdua. Kita pun harus bersirkulasi, kita bisa bergerak bila cukup berjarak. Seperti posisi duduk kita di beranda, kadang kala berjarak dan kadang pula kita saling mendekat. 

                 Communication is the air that relationship breathes.--Chopra—

Ruangan student, CVR. Setelah kata beranda terlintas, dan jadilan tulisan ini, Voila!


8 comments:

Afa said...

Karena dalam kata 'kehidupan', tidak hanya ada huruf 'A' (aku). Satu isyarat bahwa hidup tak dapat dilalui sendiri, meski setengah jiwa yang dulu terpisah, kini menyatu : menjadi sepasang terikat janji.

*eh eh, ada pilem lanjutan before sunrise loh...judulnyah before midnight. :D

Siwi Mars Wijayanti said...

hehe iya trilogi, before sunrise, before sunset dan before midnight. tapi yang before midnight saya belum nonton.

Afa said...

r u ok there? :)

Siwi Mars Wijayanti said...

yup

Astuti said...

mbak, kunjungi blog ku dong..and masukin ke blogroll list hehe..biar akunya aktif nulis..
blog lama yang tdk pernah dijamah #malas maksutnya hehehe
http://astutisharing.blogspot.co.uk/

Siwi Mars Wijayanti said...

ealaaah ternyata ngeblog jugaaaa...siaaap laksanakan mba! dan dengan senang hati mampir2 ke rumahmuu--ini langsung berkunjung
*ayo sering2 dijamah lagii hihi..

shofwah ulil aidi said...

memang banyak hal kecil yang bermakna besar :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe iyaah, kadang terlewatkan bila tak dipedulikan :)

Post a Comment