Sunday, 1 September 2013

Secangkir kopi dan Laki-laki


          


           “Pagiiii...(lalu di belakangnya ada ikon skype dengan gambar secangkir minuman panas),” sapa sahabatku via chat  skype.
            “ini lagi ngopi. Lagi nyobain kopi baru...enaaaak bangeet,” sambutku dengan membalas chatnya. Kubalas begitu karena melihat ikon minuman hangat mengepul itu langsung kuasumsikan dengan secangkir kopi. 
            “ Aku cukup teh atau coklat panas saja” katanya. Dan baru kusadari setelah sekian lama, ternyata memang dia tak pernah minum kopi. 
            “ Kau tahu? Kopi itu identik dengan laki-laki. Jadi aku masih merasa aneh kalau perempuan suka ngopi.” Begitu paparnya.
Dan jawaban tadi sungguh tak terduga. What? Jadi kopi itu menurutnya sejenis minuman bergender?hihihi..unik dan lucu menurutku. Sama sekali tak pernah terlintas di pikiranku ada orang yang berpersepsi begitu. Dan yang baru saja mengatakan itu sahabat yang hampir tiap hari kuajak ngobrol tentang apa saja, lebih dari 10 tahun lamanya. Dan baru saja dia bilang hal yang tak pernah kuketahui tentang persepsinya tentang kopi. Sungguh aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. 
            “Kalau kopi hitam mungkin identik dengan laki-laki, tapi aku minum kopi ditambah susu.” Aku melontarkan jawabanku.
            “ Tapi tetap saja itu kopi. Kopi itu identik dengan laki-laki. Itu opiniku sejak kecil, ” dengan polosnya dia menjawab begitu. 
Iyah persepsi tiap orang sungguh unik. Aku tak pernah terbayang ada orang yang berpikiran demikian. Aku tidak sedang bilang itu aneh, salah atau benar, ini masalah persepsi. Tiap orang bebas mempunyai persepsinya sendiri.
Tapi aku  jadi berpikir, kenapa kopi identik dengan laki-laki? Apa karena ia pahit? Atau karena warnanya yang hitam? Mungkin rasa pahit dan warna hitam inilah yang menurutnya identik dengan laki-laki. Mungkin ada simbolisme kejantanan dan kelelakian yang digambarkan dari kopi. Sedangkan perempuan lebih pas dengan minuman yang lebih “ringan” seperti teh, susu, coklat atau minuman yang lebih centil seperti cocktail. Ah persepsi memang menyimpan keunikannya tersendiri. 
Sedangkan bagiku kopi itu sejenis minuman universal yang diminum siapa saja, tidak ada preferensi gender. Lelakiku bukan penggila kopi, setauku dia minum apa saja. Teh, susu, bahkan bila makan di luar dia lebih tertarik untuk mencobai minuman-minuman yang namanya aneh dan belum pernah dicobanya. Sementara bapakku penggila kopi, lebih sering kopi hitam.
            “ Bapakku peminum kopi, sedangkan aku mirip sekali dengan bapakku, mungkin itu kenapa aku suka kopi” terangku.
            “ Hihi aneh juga ya, bapakku tak suka kopi. Sukanya teh pekat, dan akupun tak suka teh yang manis” jelas sahabatku. 
Wiw teori apalagi ini, apa kopi juga sejenis minuman yang diturunkan secara genetis? Ahaha tentu saja tidak. Mungkin hanya soal kebiasaan. Kita masing-masing ditumbuhkan dengan lingkungan sendiri-sendiri, dan ini pula yang terbawa sampai pada titik saat ini, mungkin kadang kita saja yang tidak menyadari.
Percakapan kecil tentang secangkir kopi ini menyadarkanku tentang persepsi. Tiap diri mewakili persepsi sendiri-sendiri. Banyak debat-debat di media dan dimana-mana tentang banyak hal yang sebenarnya semacam debat tak perlu karena berinti pada mendebat persepsi. Sedangkan persepsi lebih sering bersifat pribadi, namun orang kadang membuta menghakimi. Seperti halnya secangkir kopi yang identik dengan laki-laki milik persepsi sahabatku itu, bukan untuk didebat tapi untuk dimengerti. Dan satu hal lagi, percakapan tentang secangkir kopi dan laki-laki tadi kembali membuatku menyadari bahwa hubungan dengan orang lain sungguh bergerak dalam sebuah dinamika yang ajaib. Aku bersahabat dengannya sudah sekian lama, bahkan saat membuat CV untuk “keperluan khusus”pun, dia bilang,
            “ Kau sajalah yang buat, apa sih yang kau tak tahu dariku” dia dengan gampangnya bilang begitu.
Tapi nyatanya persepsi dia tentang kopi saja setelah lebih dari 10 tahun bersahabat baru aku tahu pagi tadi. Dan itulah yang aku sukai dari sebuah hubungan, baik dengan sahabat, orang lain ataupun dengan pasangan, ajaib!. Kita tidak pernah sampai pada titik “benar-benar tahu dan paham sepenuhnya dan seluruhnya”, karena tiap saat manusia selalu baru. Selalu bergerak, bertumbuh, ada laju masing-masing yang mencipta kebaruan. Dan aku merasa komunikasi antara dua manusia itu serupa keajaiban. Diri manusia juga keajaiban, karena ada yang terucap dan terungkap, tapi ada pula yang tak terucap dan mengendap. Dan komunikasi itu semacam jembatan untuk menghubungkan dua manusia.
Secangkir kopi bagiku juga keajaiban, karena ada kombinasi pahit dan manis dalam setiap sesapan. 

Glasgow, Dini hari di awal september, sudah hampir menjelang pagi...

4 comments:

Arian Sahidi said...

saya malah nggak suka kopi, nggak suka teh, dan hanya sedikit suka susu haha. air putih adalah minuman paling mewah bagi saya. haha

Siwi Mars Wijayanti said...

irit dong..baguuuuus hehe :)

Suryati Arifatul Laili said...

saya suka kopi :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe toss mba!! *tossnya pake secangkir kopi :)

Post a Comment