Monday, 9 September 2013

Tentang Cemas



Glasgow sudah lewat tengah malam, namun mata belum juga bisa terpejam.  Jam meja berdetak perlahan.
Senyap. Dini hari membekukan Glasgow yang sudah memasuki musim gugur. Dingin sudah menyelusup tulang. Aku tiba-tiba memikirkan tentang rasa cemas. Sejenis rasa cemas yang baru, dan itupun bila beberapa tahun bisa dianggap baru.
Kau tahu seperti apa mencemaskan?
Pasti semua manusia mengalami dan merasai kecemasan-kecemasan. Karena cemas juga mungkin sama saja seperti katalog rasa lainnya. Ia datang dan pergi
Iya, datang dan pergi
Ah, mungkin aku hanya harus memeluki cemas dengan lebih mesra
Lalu kenapa cemas? Apakah karena takut hal buruk yang akan terjadi? ataukah takut akan kehilangan? Atau memang cemas itu rasa manusiawi yang menyelusup di hati tiap manusia.
Ini bukan semacam cemas yang berlebihan. Ini hanya sejenis rasa yang sekelebat datang dan pergi. Manusiawi saja.
Kini, kucoba dekapi cemas dengan tak terlalu erat. Menyisakan ruang agar ia tak sepenuhnya hilang.
Karena mungkin cemas berguna untuk membuat kita waspada.
Dalam hidup, manusia tentu saja harus berhadapan dengan kecemasan-kecemasan.
Mungkin sepertiku, yang tak bisa terpejam saat kau menyetir.
Mungkin sepertiku, yang gulana sejenak bila kau dalam perjalanan.
Mungkin rasa campur aduk milikku, melihatmu di ruangan itu, berjuang untuk mimpi-mimpimu. Sedang aku berada dalam radius yang bisa melihatmu dengan jelas, hanya bisa membantumu dalam doa.
Mungkin suatu saat,
Iyah suatu saat nanti, rasa cemas pun akan berganti-ganti.
Cemas sejenis tanggal melahirkan yang diperkirakan dokter akan semakin mendekat,
Sejenis menyapih anakku yang pertama,
Semacam menantimu pulang dari dinas luar,
Serupa cemas saat anak-anak kita ataupun engkau sakit,
Atau mungkin cemas akan kematian,
Dan mungkin juga kecemasan-kemasan lainnya.
Mungkin aku harus terus belajar memeluki rasa cemas dengan lebih mesra, lebih lembut.
Karena cemas bukan dihindari, bukan diusir-usir pergi, bukan dihadapi dengan penolakan.
Ia, seperti juga rasa-rasa lainnya,
Mungkin belajar kupeluki cemas dengan doa, dengan sujud.
Karena terpikir bahwa,
Mungkin Tuhan mencipta cemas agar manusia merasai tentang keMaha KuasaanNya.

Glasgow, 9 Sept. Hampir jam 2 pagi.

2 comments:

Petrus Andre said...

Keep writing, salam ketik-ketik :3
Andre, Member warung blogger :
http://andre-freelife.blogspot.com/

Siwi Mars Wijayanti said...

yupie salam ketik ketik jugaa...tengkiu udah mampir baca :))

Post a Comment