Monday, 9 September 2013

Tentang Kenapa




Di antara pertanyaan seperti  : apa? Dimana? Siapa? Bagaimana? Mengapa? Kenapa? Saya punya kesan tersendiri pada pertanyaan : kenapa?
Ada beberapa momen yang masih saja kuingat saat seseorang menanyakan hal tersebut pada saya.
Kenapa?
Kenapa itu seperti dua tangan yang terbuka menyambutku dengan segenap waktu dan  perhatiannya. Kenapa itu seperti genggaman di tanganku yang memberikan kekuatan. Kenapa itu seperti pemadatan dari ribuan kalimat yang ingin mengatakan “ada aku, kamu tidak sendirian”.
Kenapa itu seperti orang yang duduk di sampingmu, siap mendengarkanmu. Kadang mendengarkan saja, tanpa pretensi, tanpa menghakimi, tanpa pula berusaha setengah mati memberikan solusi. Karena sebenarnya kesediaan mendengarkan itupun merupakan sebagian solusi itu sendiri.
Saat hidup tengah penat, ataupun tengah ditumpuk segudang aktivitas, ataupun ada kejadian-kejadian yang membuat hari terasa berat. Saat ada yang datang padamu, dengan sapaan sederhana. Kenapa? Atau ada apakah? –bahkan bila itupun serupa text-text digital yang terbaca di layar HP, di layar laptop ataupun komentar. Rasanya saya ingin memeluki text itu, karena hangat menjalar tiba-tiba. Serasa beban terangkat serta merta.
Mungkin karena di balik kata kenapa, tersimpan perhatian, kasih sayang, ataupun juga cinta. Mungkin juga ada peduli, ada simpati. Ingat-ingatlah kapan terakhir kali kamu saat bermuka masam, ataupun saat harimu terasa berat. Lalu kemudian ada seseorang yang menanyaimu, kenapa? Dengan sepenuh-penuhnya perhatiannya. Mungkin saatnya kamu mengingat seseorang itu, karena tidak banyak yang menyayangi dengan cara yang seperti itu. Karena tidak banyak orang yang datang dengan pertanyaan kenapa tadi itu mampu mengubah harimu yang kelabu kembali jadi semanis madu. Meringankan bebanmu dan menerbitkan lagi senyummu.
Ingat-ingatlah, ah dan sepertinya memang engkau akan susah melupakannya. Jadi selamat ingat.

---
Terimakasih untuk kenapa-mu.


0 comments:

Post a Comment