Thursday, 8 May 2014

Lelaki Penerjang Badai itu





Rasanya badai makin kencang, sayang
Iyah, tapi bukan berarti tak ada jalan terang,
Langkahku kadang mulai lelah
Istirahatlah sejenak, lalu mari bersama kita kembali melangkah
Jalan makin terjal,
Tak apa, karena itulah kita harus makin pejal
Maafkan, bila terkadang aku mulai merapuh
Tak perlu, bukankah kita berdua bersama untuk saling memberi suluh?

Ah lelaki penerjang badai itu,
Lelakiku,


1 comments:

Alfaridzy Al Jawi said...

Lelah

Engkau tahu, yang paling menyebalkan ketika badai itu datang?
Pikiranku selalu berjalan sendiri tanpa ku suruh
Ketika tersadar, lebih sering aku telah tersesat dalam
Sayang, pada siapakah aku bertanya?

Pengetahuan tanpa kasih Tuhan,
Hanya akan menjadi pembatas kebijaksanaan
Takut melangkah, ragu mengambil keputusan
Menambah kegelapan pikiranku menuju jalan buntu

Engkau bilang : Keterpurukan bukanlah suatu keburukan, sayang
Dan kau tak akan menjadi buruk karena itu
Apakah aku terlalu kecil untuk mimpi-mimpimu?
Kau bilang : Maka, besarkanlah jiwamu agar aku,
Dan orang-orang yang kau jaga,
Mampu bersandar bersama di balik punggungmu

Rasanya begitu lelah
Menanti pertolongan sang Tuhan
Ketika penantian itu tak kunjung datang,
Pikiranku mulai berjalan mabuk sendirian

Ia menggumam : Jika Tuhan tak menolongmu, maka tenangkan dirimu
Jangan berpikir, lalu,
Pelang-pelan kita tolong diri kita sendiri
Karena selalu,
Yang mampu kau lakukan adalah mengendalikan dirimu sendiri
Bukan dunia
Bukan kehidupan
Bahkan rasa lelah yang datang tanpa diundang

Post a Comment