Wednesday, 11 June 2014

Edensor, Menjamahi Mimpi-Mimpi



Mobil yang kami tumpangi menembus jalan-jalan kecil yang di samping kanan kirinya berupa hamparan hijau padang rumput dan domba-domba yang merumput. Kami tengah dalam perjalanan menuju Edensor, seusai penutupan acara KIBAR Gathering di Markfield. Namun cuaca yang tadinya cerah dan langit biru sore itu berganti menjadi hujan deras tatkala kami sampai di daerah Derbyshire. Hatiku sedikit gundah, ah padahal tadinya saya membayangkan Edensor dengan langitnya yang cerah, dengan hijaunya perbukitan dan domba-domba yang lucu itu. Cuaca memang terkadang mempengaruhi saat kita jalan-jalan, seperti kala saya jalan-jalan ke Oxford dan Cambridge tahun lalu. Rasanya saya tidak terlalu mengingat kemana saja di kota itu karena hujan deras tak henti-henti mengguyur kota. Berjalan kaki kala hujan, langit gelap huhu mana bagus buat foto-fotoan dan tentu saja mobilitas sangat terbatas. Karena itu, kali ini saya ingin sekali melihat Edensor dalam pesona terbaiknya soalnya tempat itu sudah lama sekali menjadi list saya untuk dikunjungi. Tentu saja gara-gara membacai buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata itu. Edensor merupakan  desa impian Andrea Hirata karena membacai buku If Only They Could Talk karya James Herriot.
Mas Basid terus melajukan mobilnya menuju Bakewell di tengah hujan yang masih saja mengguyur langit England kala itu. Hati saya ciut mendapati belum ada tanda-tanda hujan mereda. Namun sepersekian detik kemudian sepertinya ada terdengar suara :  Sepertinya kau meminta terlalu banyak. Mungkin itu suara dari dalam diriku sendiri, lalu kemudian menyadari, ah mungkin saja begitu. Saya sedang menuju ke tempat yang saya impikan sejak dulu, dengan segala kemudahanNya, kesehatan, beserta sahabat-sahabat. Bukankah kau seharusnya bersyukur? Suara itu terdengar lagi. Jleb. Tiba-tiba saya malu pada Tuhan.
Ah, saya pada akhirnya tiba pada kebersyukuran pada semua berkahNya. Entah hujan, entah berawan, entah cerah..saya akan menyambut Edensor sesuai dengan apapun jatah Tuhan yang diberikan pada saya. Setelah itu hati saya berubah tenang dan menikmati tetesan hujan di luar jendela mobil kami yang terus melaju. Hujan kemudian berangsur berubah menjadi gerimis rinai-rinai kala kami sampai di Bakewell. Rencananya kami ingin melihat Haddon Hall (Rumah/istana bergaya English milik Duke of Rutland) di River Wye, Bakewell, Derbyshire karena tempat itu sejalan menuju Edensor. Namun sayangnya tempat parkir dan Haddon Hallnya sudah tutup sehingga kami urung masuk. Coba tempat parkirnya masih bisa, kan bisa jalan-jalan ke padang menghijau dengan domba-domba lucu itu. Namun ternyata memang tidak bisa sembarangan parkir mobil di UK ini. Eit, tapi bukan saya kalau nggak bisa mencuri narsis sejenak di tempat itu eheh.
Hamparan padang rumput di belakang itu selalu saja mempesona

Paling betah memandangi yang begini begini
Lalu kemudian kami memutuskan untuk langsung ke Edensor. Kadang kami melewati jalan sempit seperti di tengah hutan, lengang. Uwooo kami benar-benar masuk pedesaan tipikal England. Tentu saja nuansanya terasa berbeda dibandingkan saat jalan-jalan di kota besarnya. Kami terus memecah sepi, melajukan mobil menyusuri jalan-jalan sempit yang berkelok kelok sembari menikmati hijau dan damainya pemandangan di luar jendela.

Pemandangan di luar jendela
Dan ajaibnya, gerimis rinai-rinai berhenti dan langit mulai membiru cerah kembali begitu mobil kami mencapai Edensor. Matahari mulai bersinar kembali, hatiku pun bersinar-sinar seketika. Tuhan itu kadangkala memang suka becanda, kala saya sudah berserah (bukan menyerah lho), seringkali Dia kemudian memberikan apa yang saya pinta. Alhamdulillah, Tuhan selalu Maha Baik.
Oh yeah, finnaly kita sampai. Begitu kata saya pada diri sendiri. Alhamdulillah, rasa syukur saya terasa berlimpah-limpah pada pemberi kehidupan yang menakjubkan ini.
“ Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, menciut dicengkeram angin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup!” (EDENSOR-Andrea Hirata)
Kutipan-kutipan dalam buku Edensor itu kembali melintas di kepala saya. Dulu entah sampai berapa kali saya membacai buku itu. Buku tetralogi (paling suka sampai buku ketiga sih, Maryamah Karpov-nya kurang suka)itu memang seperti buku yang bisa mencharger semangat yang kadang kala menciut dulu saat saya mulai menata langkah melanjutkan studi ke luar negeri. Dan karena itulah buku itu dan tentu saja Edensor membekas di hati saya.

Padang rumput dan domba-domba yang asyik merumput
Puncak menara dari bangunan gereja St Peter sudah nampak dari kejauhan. Oh, itu pasti tempat dimana banyak pengelana berfoto saat mengunjungi Edensor. Sepertinya menara itu menjadi penanda khas  lanskap desa edensor. Setelah memarkir mobil di belakang gereja St. Peter kami mulai berjalan-jalan. Humm akhirnya menghirup udara segar Edensor seusai hujan, bisa menyalangkan mata menikmati sekelilingnya. Oh yeaah I’m HERE! Ada yang mendesak-desak gembira di hati saya. Bagi saya, mewujudkan apa yang saya inginkan adalah urusan saya membuktikan pada diri sendiri bahwa saya akhirnya bisa mencapainya. Dan saya dengan gembira bisa membincangi diri saya sendiri “ Ah, diriku. Kita sampai di tempat ini. Tempat yang dulu sering kau bacai itu. Hidup selalu ajaib!
Kami kemudian masuk ke dalam gereja, menikmati setiap sudutnya, mengambil postcard gratis yang disediakan dan seperti biasa, dan juga tentu saja  berfoto-foto.

Interior dalam gereja St. Peter Edensor

Saya setelah di sini, baru tahu kalau Edensor dibaca dengan lafal “Ensor” seperti juga Edinburgh diucapkan dengan lafal “Edinbra”. Awalnya terasa janggal di lidah, karena terbiasa mengucapkan namanya dengan sebutan Edensor.
Edensor. Saya tak harus berbusa-busa untuk mengatakan bahwa Edensor itu sungguh indah. Karena bila dibandingkan dengan tempat lain di UK, desa kecil di Derbyshire ini memang tidak menonjol, tidak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi bahkan informasi travellingnya juga sangat terbatas. Tapi bukankah terkadang rasa spesial itu tak hanya melulu soal fisik, tapi lebih pada keterikatan hati #halah. Berapa harga yang bisa membeli rasa rindu, cinta, suka? Priceless.
Tapi memang harus diakui, selain karena adanya keterikatan dengan tempat ini, ternyata saya suka tempat ini. Walaupun memang Edensor terlihat sepi, tak terlihat banyak orang-orang yang lalu lalang tapi saya suka hijaunya, damai dan segarnya udara tempat ini. Hamparan padang rumput menghijau kemanapun mata memandang, domba domba yang asyik merumput, rumah-rumah mungil yang tertata rapi, udaranya yang segar dan damainya suasana. Duke of Devonshire ke-6 saja pindah lho ke desa ini karena terpesona dengan pemandangan dan kedamaian tempat ini.
            “ Kalau disuruh tinggal di daerah seperti ini mau nggak? Makan dan tempat tinggal dijamin, walaupun internetnya susah? “ tanya Uti, salah satu anggota rombongan kami.
          “Wah kalau nggak ada, internet nggak sanggup deh,” jawab Sani, suaminya yang bergelut di bidang IT dan nampaknya susah hidup tanpa internet.
          “Kalau aku, tergantung sama siapa sih,” jawab saya yang disambut koor kata “halaaaah” hampir serempak dari rombongan semobil, diiringi tawa kami semua. Kami bepergian berlima untuk mengikuti acara KSG (Kibar Summer Gathering di Markfield.
Hihi, baiklah saya memang gombal. Daripada gombal terus, baiklah kita lanjutkan menyelusuri gereja St.Peter. Tentu saja kesempatan untuk berfoto ria tidak saya lewatkan, dengan mengeksplore sudut dan sisi yang menarik untuk dijadikan latar berfoto. Saya paling suka mengeksplor sudut yang tak biasa ditemukan orang tapi hasilnya (menurut saya) sih bagus. Kali ini saya jalan-jalan dengan si tukang jepret andalan saya *halaaah, jadilah saya puas berfoto-foto.

Terlihat atap-atap rumah yang lucu. Konon bangunan-bangunan di Edensor dibangun dengan desain yang tiap-tiap bangunannya berbeda. Seru juga.


Berlatar hijaunya Edensor

Sensasi mencari sudut berfoto yang tak biasa

Suka banget foto ini, terimakasih yaaa si tukang jepret ;p
Tipikal foto orang Indonesia kalau jalan-jalan itu biasanya cari papan nama yang menyebutkan nama tempat itu ahaha, dan saya juga. Biar nggak bilang hoax hihi akhirnya saya dan teman-temanpun berfoto di halaman depan gereja St Peter yang ada penanda tempat yang ada kata edensornya




ini group band apaan? ahaha

Cheeers..Kami dalam formasi lengkap. Terimakasih sudah menemani saya ke sini
Kemudian setelah puas di gereja St Peter, dan tea cottage-nya, kami berencana ingin melihat Chatsworth House yang super cantik itu. Kami sudah sempat melihat bangunan yang mirip istana di negeri dongeng itu saat melintas menuju ke gereja St.Peter. Kami mencari jalan menuju ke sana, namun sayang setelah beberapa kali mencoba rute jalan ke sana, sepertinya memang hanya satu satu akses jalan kesana yang restricted. Entah karena ada peraturan jam sekian sudah tidak bisa akses lagi, atau kenapa hingga jalan itu tidak bisa kami lewati saya kurang mengerti. Saat itu sudah hampir jam 7 pm, mungkin jalan itu hanya dibuka sampai jam tertentu, entahlah. Kami tak berani menerabas masuk, karena mungkin saja sesampainya di Glasgow bisa-bisa kami mendapat surat cinta denda berpounds-pounds. Akhirnya, kami harus legowo dengan hanya menyaksi bangunan indah itu dari jauh, dan saya sempat mengabadikan bangunan nan cantik itu dengan jepretan kamera saya dari jendela mobil.


Indahnya Chatsworth House dari kejauhan
Sebenarnya bisa saja kalau mau, jalan kaki dari gereja St. Peter menuju ke Chatsworth House karena saya lihat tempatnya masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Namun sayangnya waktu kami terbatas, masih ada perjalanan ke Glasgow yang masih jauh ditempuh. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sheffield dan kemudian pulang ke Glasgow.
Walau singkat, namun mengunjungi Edensor rasanya seperti menjamahi mimpi-mimpi. Terkadang kebahagiaan ada pada penaklukan, menaklukan impian sendiri karena pada akhirnya bisa mewujud. Itu hanya soal waktu. Tuhan selalu sempurna mengatur kapan waktu yang tepat impian-impian itu mewujud. Hati saya tersenyum saat meninggalkan Edensor. Terimakasih Tuhan, cintaMu selalu berlimpah, semoga hambaMu ini pintar bersyukur.

Glasgow,11 June 2014 dengan langitnya yang tengah mendurja, namun hati tetap berbunga halah :D

7 comments:

Yosfiqar Iqbal said...

Keren bingit....envy euy...

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe thanks :)

Bidang said...

Bu Siwi..
Masya Allah... Bagus banget.
Suka sekali dengan pernyataan ibu yg ini "Tuhan selalu sempurna mengatur kapan waktu yang tepat impian-impian itu mewujud" :)

Dwi Nurwahyuni said...

Mohon maaf tadi masih pakai account bidang, hehehe..

Bu Siwi..
Masya Allah... Bagus banget.
Suka sekali dengan pernyataan ibu yg ini "Tuhan selalu sempurna mengatur kapan waktu yang tepat impian-impian itu mewujud" :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe hai Dwi, makasih sudah mampir baca. Iyaaaah Edensor indah bangetttt ehehe..pengen ke sana lagi :)
Iyah insyaAllah Tuhan sudah mengaturnya, tugas kita berupaya dan berdoa. Salam semangat :)

Lalalalaaa, said...

Huaaa, iri banget sama mbak Siwi.
Salam kenal ya mbak, -Nurul, pembaca setia - :p

Siwi Mars Wijayanti said...

Hai lala...ehehe irinya harusnya iri positif dong yaa biar bisa ke tempat yang kamu inginkan juga.
Salam kenal juga yaa...waaa makasih lho sudah jadi pembaca setia ehehe *langsung GR :D

Post a Comment