Monday, 23 March 2015

Sarapan Pagi

source pic here

Terkadang hidup ingin terus seperti ini
Diawali menyiapkan secangkir teh manis dan sarapan pagi
Bukankah terasa sederhana dan menyejukkan hati
Lalu ingin rasanya kupaksa waktu terhenti
Atau ingin ia mereplikasi diri sama setiap hari

Tapi mari biarkan perubahan hadir lagi dan lagi
Karena detik waktu tak kan pernah datang sama lagi
Tapi bukankah kenang terus tersimpan dalam hati?

Tak perlu melawan perubahan, sayang
Mari kita melaju bersama perubahan,
Agar terus kita kenang menu sarapan pagi yang berganti
Di antara toaster, selai, dan setangkup roti
Atau nasi goreng, sampai sambel terasi

Walau begitu, tiap awal hari ingin selalu kusajikan untukmu :

Secangkir teh manis, sarapan pagi dan senyuman sepenuh hati

Tuesday, 17 March 2015

Tentang Glasgow : Yang Membuat Hati Saya Lumer

Uni of Glasgow terlihat dari jauh-foto : koleksi pribadi


Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun terakhir saya tinggal di Glasgow. Kadang-kadang ada rasa rindu sebelum pergi meninggalkannya. Kota yang telah saya tinggali lebih dari tiga tahun ini memang telah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kota yang sebelumnya tidak ada dalam “peta” rencana hidup saya. Dan sekarang, rasanya sudah terbiasa dengan kota ini. Nggak lagi berasa tinggal di luar negeri, rasanya seperti berada di kota yang perlu sekitar sehari perjalanan untuk pulang ke rumah, itu saja. Hanya soal jarak dan ketidakbisaan untuk dengan mudah bertemu dengan keluarga. Namun nyatanya tehnologi seperti skype dan facetime membuat segalanya terasa dekat.
Setelah sekian lama tinggal di kota ini, ada beberapa hal yang membuat hati saya lumer. Tentu saja kali ini saya tidak sedang membicarakan keindahan”raga” kotanya. Namun lebih pada “jiwa” kota terbesar kedua di Skotlandia ini. Apa sih yang membuat saya lumer, hal-hal yang sederhana saja kok,
1. Sapaan supir bus.
Sejak pindah lab ke daerah Garscube, saya pergi ke lab dengan menggunakan bis setiap hari. Entah pagi-pagi selagi mood masih belum bangun ataupun pulang dengan letih. Namun ketika mengulurkan bus pass ticket 10 weeks saya ke supir bisnya, seringkali responnya sungguh tak terduga,
            “Thanks love”-“thank you, darling”. Ataupun sebutan lain dengan muka yang ramah.
Aduh, lumer seketika. Tubuh yang penat atau mood yang agak mendung bisa membaik seketika rasanya. Saya bisa merasakan kalau sapaan-sapaan ramah mereka itu natural, bukan senyum sintetik. Itulah mengapa sapaan ramah mereka terasa dalam hati saya. Kadang-kadang saya juga penasaran, kenapa ya mereka nampak begitu menikmati pekerjaannya? Mungkin karena mereka gajinya cukup, nggak dikejar setoran, nggak peduli berapapun penumpang, gaji mereka tetap sama. Mereka pun nampaknya bekerja dalam waktu yang ditentukan tiap harinya (nggak kelebihan beban kerja). Pernah teman saya bilang saat dia naik bis trus pada saat bus sampai ke bus stop tempat pergantian supir, dan supir penggantinya ternyata tidak datang. Si supir itu tetap meninggalkan bis, dan para penumpang berganti ke bis yang berikutnya. Mungkin karena kesejahteraan mereka yang terjamin itu yang membuat mereka nampak menikmati pekerjaannya itu. Entahlah, yang jelas hati saya terasa “nyes” kala mendapat sapaan ramah mereka. Terimakasih
2. Sapaan orang tak dikenal
Di Glasgow, mudah sekali mendapat sapaan ramah dari orang-orang yang tidak kita kenal. Ataupun sekedar saling senyum saat berpapasan jalan. Sering pula diajak ngobrol ringan kala menunggu bus di bus stop. Tertawa bersama kala angin Glasgow yang terkenal dahsyat hampir menerbangkan tubuh sehingga beberapa orang harus memegang tiang bus stop.
            “ It was terrible outside,” tiba-tiba saja orang tak dikenal itu mengajak ngobrol setelah kami naik ke bus.
Hal-hal seperti itu kadang-kadang bikin hati lumer. Terasa hidup di daerah yang nyaman dan damai. Walaupun menurut UK peace Index yang ditetapkan oleh Institute for Economics and Peace bahwa Glasgow merupakan kota dengan peace index yang rendah dan tinggi kriminalitasnya di UK, namun so far kenyataannya saya merasa damai bahagia sejahtera di kota ini.
3. Kebaikan dan keramahan ada dimana-mana
Entahlah, tapi kebaikan itu akan menyebar dan menular, itu yang saya percayai. Janganlah berhenti berbuat kebaikan, demi diri kita sendiri. Di kota ini juga mudah sekali menemukan kebaikan-kebaikan. Mungkin bisa dirasakan dari perlakuan-perlakuan kecil yang membuat hati lumer. Kalau mau naik bis, bukannya pada berebut mau naik, tapi malah saling mempersilahkan naik duluan. Kalau jalan berbanyak orang, misalnya melewati pintu maka orang yang membuka pintu akan menahan pintu itu sampai orang orang di belakangnya memegang pintu tersebut. Kebaikan dan keramah tamahan bisa ditemukan dimana-mana. Kasir supermarket, orang di jalan, petugas loket subway dan sebagainya. Atau coba deh jalan-jalan, pasti banyak disenyumin orang. Kalau jalan-jalan sore, orang-orang yang jalan dengan anjingnya gemar sekali mengumbar senyum, sepertinya hidup terasa bahagia. Dan yang jelas bahagia itu juga menular. Bahagia terasa hati saya.
Itu beberapa hal yang membuat hati saya lumer selama tinggal di Glasgow, terutama tentang perilaku orang-orangnya sih. Aih, iya..saya memang betah tinggal di sini dan tengah memanfaatkan waktu yang masih ada untuk menciptakan kenangan sebaik baiknya.

Salam dari kota yang saya cintai


Thursday, 12 March 2015

Ayo Fokus, Jangan Rakus


source pic here

Sembari membalas satu-satu ucapan selamat ulang tahun di wall Facebook yang saya terima tanggal 10 maret lalu, ada ucapan dari sahabat lama saya di Jogya dulu. Saya membalasnya sekaligus mengucapkan selamat atas terbitnya buku yang ditulisnya bersama sang suami. Akhirnya kami mengobrol via message setelah lama sekali nggak kontak, mungkin lebih dari setahun lamanya. Namun kadang ajaibnya, ada sahabat yang  walau sudah lama nggak kontak, namun saat ngobrol terasa baru kemarin ngobrol. Dan ngobrolnya langsung “berat” walaupun bahasanya sambil ngakak-ngakak,
            “ Pertama kita harus mengakui dulu kalau kita manusia ini rakus mbak, “ begitu bilangnya saat saya bilang pengen belajar ilmu hipnoterapi, tema buku yang ia tuliskan itu.
            “ Ada hal-hal yang kita cukup tahu seperlunya saja, lalu fokuskan pada satu ada beberapa hal yang memang passion kita. Aku juga sedang belajar mbak, mengontrol diri sendiri. Karena merasa mampu, ada peluang, jadinya pengennya banyak, ini itu. Tapi ternyata ada hal yang memang kita butuhkan, ada yang tidak,” paparnya. Aih, makin bijaksana saja itu anak.
Umurnya lebih muda dari saya namun tempaan kehidupan yang pernah ia hadapi nampaknya mempercepat laju pertumbuhan dirinya. Saya masih ingat, dulu saat satu kos di Jogya sering berbincang tentang buku Gede Prama dan buku-buku spiritual lainnya. Dia hindu-saya muslim, dan perjalanan spriritual menurut saya universal bagi semua penganut agama.
Saya tercenung membaca kalimat-kalimatnya, pas banget dengan saya sekarang ini, random! Tadinya saya berpikir, berusahalah menjadi versi terbaik dari diri kita—mungkin hal itu masih benar, namun mungkin ada yang kurang pas interpretasi saya. Akhir-akhir ini saya semakin random dengan membiarkan diri saya menikmati dan menjalani apapun yang saya inginkan. Saya mendapati penemuan-penemuan baru lalu mengalirkan energi ke sana, mungkin karena terlalu banyak akhirnya menjadi random dan hasilnya kurang maksimal.
            “ Saya juga gitu mbak, maunya macam-macam, pengen belajar ini itu. Tapi malah hasilnya kurang maksimal. Mungkin mending fokus pada beberapa hal yang memang passion kita, lalu biarkan orang lain menjadi master di bidang lainnya,” tutur sahabat saya tadi.
Humm saya sih sebenarnya pengen banyak belajar ini itu bukan ingin menjadi master di bidang tertentu yang saya minati, tapi hanya karena saya menikmatinya saja. Namun, akhirnya energi terbagi bagi. Mungkin saatnya untuk memilah milah, dan  lebih terfokus.
Ingin tahu betapa randomnya pikiran-pikiran saya? Ahaha baiklah, memang secara naluriah manusia itu rakus, well pertama saya harus mengakui kalau saya rakus.
1. Saya sempat kepengen ikutan course Bach Flower Remedy System, karena pusatnya hanya di UK. Udah lihat-lihat info coursenya dan baca-baca informasinya. Saya tertarik di dunia self healing, sering baca-baca artikel dan videonya Reza Gunawan, bahkan sempat juga kepengen ikutan pelatihannya kalau sudah di Indonesia. Kenapa sih self healing? Karena tiap manusia sebenarnya sangat rentan terganggu kesehatan mental/jiwanya, dan self healing akan membantu manusia untuk meningkatkan kualitas kesehatan jiwanya, dan otomatis pula kesehatan raga. Well, saya sangat tertarik ilmu ini, mungkin kenapa saya tiba-tiba tertarik dengan buku sahabat saya tentang hipnoterapi karena memang secara naluriah saya tertarik dengan ilmu “begituan”. Ada yang mau bayarin saya course di sini? Ahaha
2. Ini juga mungkin absurb terdengar, saya suka memijat. Baru kemarin saya beli buku ilmu tentang massage untuk penyembuhan penyakit-penyakit ringan. Saya suka dan sering memijat tapi nggak tau ilmu-nya, seperti titik-titik tertentu yang berhubungan dengan chakra tertentu dan sebagainya. Saya hanya bisa merasakan kondisi bagian tubuh yang saya pijat, mana yang butuh pijatan lebih, mengalirkan energi ke situ  dan apa yang dirasakan oleh orang yang saya pijat. Kadang-kadang secara random saya juga pengen belajar lebih dalam lagi soal pemijatan, bukan karena saya pengen jadi tukang pijat professional ahah, tapi just for the sake of curiosity. Dengan begitu saya bisa memijat orang-orang tercinta saya dengan lebih baik, syukur-syukur bisa menyembuhkan penyakit penyakit ringan dengan pijatan saya. Tapi semakin saya baca, semakin keren ilmu sentuhan tangan ini..halaaah
3. Ada pula keinginan untuk berbisnis hihi, dan saya dari dulu pengen punya kedai kopi. Hanya orang tercinta dan sahabat-sahabat dekat saya yang kadang saya bincangi tentang hal ini. Dulu sih cuma pengen pengen-an, sekarang agak seriusan ahaha. Kenapa saya suka ide tentang kedai kopi? pertama tentu saja karena saya suka kopi. Kopi menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup saya. Kemudian,  karena saya suka pemandangan orang-orang yang bersama sambil minum, makan makanan ringan,  membaca, menulis ataupun mengobrol dengan sahabat atau orang-orang tercinta. Saya suka banget pemandangan seperti itu dan akhirnya ingin menciptakannya untuk orang lain. Apalagi saya juga suka banget masak, bisa tuh kedai kopi plus sajian makanan apa gituuu, plus saya juga suka crafting dan decorating, niatnya pengen bikin kedai kopi yang unik desainnya, cozy, enak buat nongkrong-nongkrong..bla..blaa…halaaah
4. Nulis jelaslah passion saya sejak dulu, tapi juga masih saya rasakan random, belum terlalu fokus untuk mengalirkan energi ke situ, mungkin karena kebanyakan maunya tadi itu ahah
5. Then saya suka modelling, fotografi, tadi udah disebut saya suka crafting, bikin-bikin pernak pernik seru-seruan dan ternyata super addicting banget, suka masak, suka dekorasi, eh plus sangat suka fashion. Pulang nanti pengen belajar menjahit dan menciptakan baju-baju yang lucu-lucu errrr. Belum lagi saya juga suka ikut komunitas kayak Indonesia mengajar, bantuin orang bikin perpus desa, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
Saya memang super random. Rakus banget..tapi saya suka, tadinya saya berpikir kalau semua itu mewarnai hidup saya, kenapa enggak? Saya ingin memaksimalkan potensi yang saya punya, begitu pikir saya.
Then, obrolan saya kemarin dengan sahabat saya itu mungkin sedikit mengingatkan saya untuk lebih fokus lagi, sehingga hasilnya juga lebih maksimal. Humm marilah belajar mencobanya..
Tapi setidaknya saya bersyukur, saya tahu apa yang saya suka, walaupun banyaak..terus akhirnya jadi random, daripada tidak punya kesukaan sama sekali ahaha. Ada yang punya pengalaman yang sama seperti sayakah? 

Salam
Glasgow, 12 March 2015


Thursday, 5 March 2015

Mahalnya Langit Biru di Skotlandia : Turnamen Foto Perjalanan Ronde 57 #Langit Biru


Langit Biru di Glenfinnan-Skotlandia


Bagi negeri yang didominasi langitnya yang gloomy, langit biru begitu mahal rasanya. Langit biru selalu memberikan rasa istimewa. Bahagia yang sederhana namun mahal harganya karena hadirnya langka.
Ketika langit biru hadir di langit Skotlandia, kebersyukuran nikmat Tuhan begitu terasa. 

Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto perjalanan ronde 57 : Langit Biru


 

Tuesday, 3 March 2015

How Living Abroad Changed Your life


York-2014


Kuliah atau tinggal di luar negeri masih menjadi keinginan banyak orang di Indonesia. Terbukti makin banyak saja mahasiswa dari berbagai daerah mengontak saya untuk sekedar bertanya-tanya tentang studi  ataupun cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja hal tersebut bagus menurut saya, pergilah ke luar cangkangmu selagi muda, berpetualanglah keliling dunia, kemanapun tempat yang ingin kau mau, belajarlah dari apapun. Belajar dari buku-buku, dosen, orang baru, apapun. Godai dirimu dengan perubahan-perubahan yang akan melesatkan pertumbuhan dirimu dengan kecepatan yang signifikan. Kenapa kadang-kadang kita harus berani meninggalkan zona nyaman? Mungkin karena perubahan dengan keluar dari zona nyaman memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk pertumbuhan diri dengan begitu cepat. Dan kesempatan dengan tinggal di luar negeri salah satunya pasti memberikan perubahan dalam hidup.
1. Berteman dengan adrenalin
Pergi dan tinggal di luar negeri dipastikan kamu akan lebih sering berteman dengan hormon adrenalin. Kejutan demi kejutan, perubahan demi perubahan akan menghampiri hidupmu. Terutama saat awal-awal penyesuaian dengan kehidupan barumu. Bahasa yang berbeda, orang-orang yang asing, dan mendapatimu sendirian untuk bisa survive. Hidup akan sedikit memaksamu untuk beradaptasi dengan segala macam yang baru untuk  hidupmu. Kondisi-kondisi yang berbeda inilah yang akan menempa dirimu dalam berbagai macam keadaan yang walaupun nampaknya menyulitkan namun justru hal-hal itulah yang akan melesatkan pertumbuhan dirimu. 
2. Membiasakan diri dengan bahasa, budaya dan komunitas yang berbeda
Dibenturkan dengan bahasa yang berbeda, mata uang yang berbeda, sistem transportasi, perbankan dan komunitas yang berbeda tentu saja membutuhkan energi tersendiri untuk menghadapinya. Dirimu akan terbiasa dengan perubahan dan perbedaan di sekitarmu. Tapi itu akan melatih daya adaptasimu terhadap lingkungan serta komunitas baru. Mungkin kau akan menemukan "rumah" baru pada lingkungan baru tempatmu tinggal, ataupun menemukan kebaikan-kebaikan orang-orang tak dikenal. Dan dengan terbentur dengan budaya yang berbeda, engkau juga akan belajar toleransi. Merasai pengalaman menjadi minoritas setelah hampir seluruh hidupmu menjadi mayoritas tentu saja akan menyisakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
3. Belajar mengenali diri sendiri
Dengan hidup di lingkungan yang serba berbeda, kamu juga akan belajar mengenali dirimu sendiri. Bagaimana kala dirimu dibentur-benturkan oleh kondisi yang ekstrim. Kau akan melihat dirimu sendiri lebih dalam. Kau jadi semakin mengenali karaktermu, kebiasaan-kebiasaanmu dan caramu mensikapi keadaan-keadaan. Kita mungkin lebih gampang mengenali orang lain dibanding mengenali diri kita sendiri. Nah, dengan kondisi ini kamu terasa akan lebih bisa mengenali dirimu sendiri. 
4. Belajar hal-hal baru
Selain materi keilmuan yang kamu dapat dari kuliah, kamu juga banyak belajar hal-hal baru. Ada kondisi yang memaksa atau mendorongmu untuk belajar hal-hal yang dulu tak terbayangkan. Memasak masakan yang dulu tinggal beli di Indonesia. Dulu kamu mungkin nggak pernah membayangkan membuat sendiri bakso, pempek, gudeg, sate padang dan masakan-masakan yang tinggal beli di Indonesia. Atau kamu bisa menemukan passion-passionmu yang lain. Suka fotografi, crafting atau mungkin hal-hal lainnya. 
4. Meluaskan wawasan dan cara pandang
Bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang budaya yang berbeda pasti akan meluaskan wawasan dan cara pandang. Ini salah satu manfaat yang sangat penting saya rasakan. Kamu nggak akan lagi melihat dunia atau hidup sebagai hitam dan putih. Kacamatamu melihat kehidupan juga akan meluas. Konsep-konsep hidup pun akan melentur, bukan berubah tapi berkembang. Pastinya banyak konsep-konsep hidup yang tidak sesuai dengan konsep yang kita anut. Di situlah integritas dirimu dipertaruhkan. Jadi seraplah yang baik, dan selective permiable-lah terhadap pemikiran-pemikiran baru. Kadang-kadang pertumbuhan inilah yang membuatmu menjadi pribadi yang baru. 
6. Melihat Indonesia dan orang-orang tercintamu dari jauh
Jauh dari tanah air dan orang-orang tercinta akan membuatmu lebih menghargai apa yang telah kamu miliki. Dengan merentangkan jarak sejenak, kamu akan merasa betapa istimewanya pertemuan, komunikasi dan kamu lebih mudah bersyukur. Melihat Indonesia dari jauh juga akan menebalkan nasionalisme dan keinginan untuk berkontribusi ketika pulang nanti. 

Pengalaman tinggal di luar negeri adalah salah satu lajur dari perjalanan hidupmu. Kamu tidak pernah tahu kapan akan bisa mengulang kembali. Perlu dingat, tinggal sebagai insider dengan jalan-jalan sebagai traveller di luar negeri itu sangat berbeda lho. Maka, manfaatkan kesempatan tinggal di luar negeri untuk melesatkan pertumbuhan dirimu sebaik baik-nya. Tuhan memberimu kesempatan yang istimewa.

Salam dari Glasgow yang masih bersalju saat musim semi seharusnya datang
 

Sunday, 1 March 2015

My “Life-Changing” Books




Entah mengapa tiba-tiba ingin menuliskan buku-buku yang datang dalam hidup saya dan terasa mengubah atau memberikan konsep baru dalam pemikiran saya. Saya selalu berpikir bahwa buku-buku yang kita baca adalah “buku-buku yang kita pilih” untuk kita baca. Artinya, kita memilih buku-buku tertentu dari sekian banyak buku yang ada. Dan kau tahu kan apa yang paling dipengaruhi oleh buku yang kita baca? Pikiran kita. Karena itulah kita sering mendengar bahwa perubahan dalam hidup salah satunya juga ditentukan oleh buku-buku apa yang kita baca.
Saya kadang-kadang rancu menyebut, bahwa kita “memilih” buku itu, atau buku itu memang sengaja datang dalam hidup kita. Karena saya sering mengalami kebetulan (well, kesengajaan Tuhan) ada buku-buku yang saya merasa bahwa : “ buku ini memang datang agar saya tahu akan sesuatu”. Biasanya saat seperti itu sangat terasa pada saat saya sedang bertanya pada Tuhan. Bagi yang sering membacai blog saya, pasti sering mendapati saya bertanya pada Tuhan. Saya sering mempertanyakan kejadian, apa yang Tuhan maksudkan, ataupun banyak hal-hal lainnya. Saya sering melakukan itu agar tidak menjalani hidup dengan “tertidur”-if you know what I mean.
Nah ini dia buku-buku yang banyak mengubah hidup saya itu :
1. The Alchemist (Paulo Coelho)
Saya langsung menyebutkan buku di daftar nomer satu mungkin berdasarkan bahwa buku ini merupakan awal saya memiliki “awareness” lebih terhadap hidup. Bahwa hidup bukan hanya untuk dijalani namun juga dimaknai. Saya pertama kali membaca buku ini Tahun 2008 lalu di Perugia, Italia. Buku ini datang pada saat saya mempertanyakan pada Tuhan," buat sih kerja keras, jatuh bangun untuk meraih impian-impian kita?" Saat itu saya berhasil mewujudkan impian saya untuk menjejakkan kaki di Italia, impian yang saya genggam sejak jaman kuliah S1. I just want to be there before I die. Jaman kuliahan dulu, nggak pernah lho bermimpi mau nikah sama siapa? Mau tinggal dimana? Mau kerja jadi apa? Bla bla bla.. ahhaha well kalau Tuhan rada “pending” urusan menikah ya fair enough lah. Saya-nya yang terlambat berpikir soal itu ahaha *malah curhat ahaha.
Kembali ke The Alchemist, sebenarnya buku ini sangat sederhana. Bercerita tentang si penggembala domba yang mencari harta karun (impiannya). Buku itu seperti langsung menjawab pertanyaan saya pada Tuhan, kenapa kita harus punya keberanian untuk mewujudkan impian-impian kita. Dan salah satu quote favorit dan sangat terkenal dalam buku itu adalah :
            “ Bila kita menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan bersatu padu untuk membantumu untuk mewujudkannya”
Kalau kalian punya impian, dan suatu saat tercapai. Kalian bisa membuktikan betapa benarnya kutipan tersebut. Hidup terasa begitu ajaib. Dan kamu akan merasaTuhan benar benar “hadir” dalam hidupmu.

2. Life Lessons : Membuat Impian Jadi Kenyataan Kisah-kisah Nyata Menggugah dan 7 Petunjuk Menuju Hidup Penuh Kebahagiaan (Jack Canfield)
Wuih judulnya yah ahaha baru ngeh juga kalau judulnya rada-rada “lebay”. Tapi dari buku yang saya baca tahun 2010 ini, saya pertama kali mengenal hukum tarik menarik (Law of Attraction) dan lumayan amazed dengan hukum ini. Mungkin sebelumnya saya sudah secara tidak sadar menjalankannya namun tidak paham bahwa tengah melakukan hukum Law of Attraction ini. Inti dari hulum LOA ini adalah :
“ kemiripan menarik kemiripan, dengan kata lain kemanapun perhatian kita pergi, ke sanalah energi mengalir, dan kita menarik lebih banyak dari hal itu ke dalam hidup kita”
Artinya pikiran kita adalah magnet luar biasa yang akan menarik sesuatu dengan apa yang kita pikirkan. Itulah mengapa pikiran positif akan mendatangkan lebih banyak hal positif yang hadir dalam hidup ini, sedangkan pikiran negatif seperti kecemasan, ketakutan, cemburu, iri, dengki juga akan mendatangkan hal-hal negatif juga.
Intinya, apapun yang kita pikirkan atau inginkan itulah yang kita “tarik” untuk datang dalam hidup kita.
Dan secara kebetulan (sekali lagi kesengajaan Tuhan) ternyata saya bertemu dengan partner saya  itu persis setelah saya membaca buku ini, pada bulan yang sama. *baru ngeh juga setelah nulis postingan ini ehehe. Harusnya saya ketemu buku ini lebih awal ya jadi bisa bertemu dengan partner saya ini lebih awal pula *halaah ahaha.

3. The Secret (Rhonda Byrne)
Buku dan konsep “The Secret” ini datang hampir bersamaan dengan buku di atas. Secara konsepnya pun hampir sama yakni Law of Attraction. Dari buku ini selain tentang hukum LOA, saya juga belajar tentang keberlimpahan, bagaimana semesta menyediakan keberlimpahan yang cukup untuk semua orang. Ada dalam satu series the secret, saya belajar tentang kebersyukuran. Buku yang bagus untuk hidup yang lebih positif.

4. The Celestine Prophecy (James Redfield)
Buku ini merupakan hadiah dari sahabat baik saya. Tuh kan, memang kadang-kadang ada buku yang datang dengan sengaja kok dalam hidup kita. Saat saya tanya ke sahabat saya, kenapa sih memilih buku ini untuk diberikan pada saya?
            “ Karena kayaknya kamu bakalan suka buku itu,” begitu jawaban sahabat saya waktu itu.
Awalnya saya belum menyentuh buku itu beberapa saat, awalnya masih aneh buku apaan sih ini-gitu pikir saya. Saya ingat waktu itu saya membaca buku itu tahun 2012, saat saya pulang ke Indonesia untuk penelitian lapangan. Buku ini tentang pencarian 9 kunci spiritual yang ada pada manuskrip kuno di Peru. Dari 9 kunci spiritual tersebut yang paling ngena bagi saya saat itu adalah soal ketergantungan energi. Bahwa terkadang manusia mengalami ketergantungan energi pada orang-orang tercinta, misalnya saja pada saya kala itu adalah pasangan. Kala dia ada, kala kontak baik ataupun kala hubungan baik, energi yang dihasilkan kadang-kadang luar biasa, namun bila kondisi yang sebaliknya terjadi, energi saya bisa susut demikian drastisnya. Saya pikir bukan hanya saya yang pernah mengalami hal tersebut. Mungkin orang lain bisa mengalami ketergantungan energi ini pada hal lainnya, pada pekerjaan (ngeh kan kenapa orang bisa workaholic) dan sebagainya. Intinya sih, kita harus utuh dulu sebelum berbagi keutuhan dengan orang lain. Kita harus penuh dulu sebelum berbagi kepenuhan dengan orang lain. Itu sih konsep yang saya temukan di buku itu yang yang lumayan life-changing pada saya. Yang walaupun pratiknya kadang-kadang masih harus belajar terus ahaha ;p

5. Conversation with God (Naele Donald Walsch)
Judul buku ini nampak menyembul di antara buku-buku lainnya yang dijual di sebuah charity shop di Glasgow, Conversation with God. Yah, sekali lagi saya bilang kadang-kadang ada buku-buku yang memang sengaja hadir dalam hidup kita pada saat yang tepat. The teacher comes when the student is ready. Begitulah saya bertemu dengan buku ini, beberapa minggu lalu dengan harga cuma 79pence (nggak ada 20 ribu lho). Saat itu saya memang sedang dalam lowest point, sesuai dengan postingan “mati” saya di blog ini juga. Ada banyak pertanyaan, protes dan apapun lah namanya pada Tuhan kala itu. Dan Tuhan ternyata sengaja mempertemukan saya dengan buku ini. Dia memberikan jawaban tidak terlalu lama ternyata. Dan hanya dua kali dudukan saya langsung menyelesaikan buku ini. Otak saya rasanya seperti spons yang menyerap dengan begitu cepat. Dan ada banyak momen momen yang saya harus berhenti sebentar karena “terantuk”konsep-konsep baru ataupun gabungan konsep lama yang saya yakini. Ada terlalu banyak hal yang saya dapatkan dari buku ini, salah satunya yang saya ingat, bahwa “pain terjadi karena perspektif kita pada suatu kejadian, kalau kita mengubah perspektif kita pada kejadian tersebut, sakit/pain akan serta merta hilang”. Bener juga sih konsepnya. Kemudian buku ini juga menekankan konsep bahwa manusia mempunya “power” untuk menciptakan apapun yang ia inginkan. Buku ini hampir meramu konsep-konsep yang saya temukan di buku-buku sebelumnya. Buku yang berisi percakapan antara manusia dengan Tuhan ini banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Cukup pas dengan saya yang memang suka usil bertanya tanya pada Tuhan. Salah satu inti yang ditekankan dalam buku ini adalah tentang mengingat kembali Who You Are. Konsep ini sangat cocok dengan konsep perjalanan ke dalam diri. Bagaimana pada akhirnya hidup adalah sejauh mana kita mengenali diri kita sendiri. 
Satu hal yang menarik adalah soal relationship-yang juga dibahas dalam buku itu.There’s no obligation in relationship, but opportunity- ini ngena banget sekaligus keren. Artinya dalam hubungan adalah kesempatan-kesempatan untuk menunjukan sisi terbaik dari diri kita. Hubungan bukan tentang apa yang kita dapatkan dari orang tercinta kita itu, tetapi apa yang bisa kita berikan pada orang tersebut dan saling mensupport untuk menjadikan masing-masing kita menjadi versi yang terbaik sesuai dengan karakternya sendiri-sendiri. Inilah yang disebut "flourish"-istilah yang menggambarkan tahapan lebih tinggi dari pada "happiness" yang menjadi salah satu tujuan utama dalam relationship. Happiness lebih kepada kondisi bahagia dalam pasangan, namun flourish lebih kepada bagaimana relationship itu mampu mendorong masing-masing individu tersebut untuk saling menunjukkan versi terbaik dari dirinya, dan otomatis relationship tersebut bukan hanya merupakan berkah pada keduanya namun juga memberikan impact positif untuk lingkungannya. Iyah, hubungan seharusnya bertujuan untuk mengenali diri kita sendiri, dan menunjukkan sisi terbaik kita dan membaginya dengan orang tercinta kita.  The most lovingly person is who self centered. Ini hampir sepaham dengan konsep di The Celestine Prophecy bahwa kita harus utuh dulu untuk berbagi keutuhan dengan orang lain. Saya sungguh beruntung bertemu dengan buku ini.
Itulah beberapa daftar life-changing books saya. Mungkin saya sebut demikian karena buku-buku ini datang dalam hidup saya saat saya sedang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya akan hidup. Saya ingin tetap terus membacai karya-karya banyak orang dan menemukan banyak keajaiban dan pembelajaran di sana.
Kalau kamu, apa life-changing booksmu?

Salam,
Glasgow, Hari pertama bulan Maret.