Tuesday, 7 July 2015

Ramadan Keempat

Kue sagu keju ciptaan saya semalam sambil nunggu subuh

Ini tahun keempat saya menjalani bulan puasa di Glasgow, UK. Ah, lama juga ya saya sudah tinggal di sini. Sudah berasa rumah, sudah berasa negeri sendiri. Dan Ramadan keempat ini pun berjalan lancar, salah satunya karena telah terbiasa dengan ritmenya. Ya, ritme jadwal puasa yang istimewa, 19 jam lebih lamanya.
Ketika artikel di beberapa media yang menampilkan artikel tentang pengalaman saya berpuasa selama 19 jam di UK, banyak yang berkomentar “lama sekali yaaa” bla bla blaaa..
Padahal nyatanya, tidaklah seberat itu. Biasa saja. Walaupun tetap saja berat, berat badanpun sudah turun beberapa kg. Tapi semuanya berjalan dengan lancar. Sama ketika saya dulu membayangkan musim dingin dan salju. Sebelum ke sini, kebayang apakah bisa bertahan dengan suhu yang minus-minus. Nyatanya ketika dijalani ya baik-baik saja, tidak sedingin yang saya kira. Entahlah, mungkin tubuh ciptaan Tuhan ini memang punya daya adaptasi yang sungguh luar biasa.
 Ramadan sudah berjalan sampai lewat di pertengahan. Ah tak terasa. Mungkin karena bulan Ramadan ini sibuknya luar biasa *sampai jarang posting blog yaa..aih kangen.
Sibuk jualan di bazar setiap sabtu di Edinburgh, bahkan minggu lalu dua kali (kamis di Glasgow, sabtu di Edinburgh). Pegel-pegelnya luar biasa ternyata. Hectic persiapannya, masaknya, jualan ke luar kota dengan geret-geret koper plus beres-beresnya habis jualan. Aih, tapi pengalaman yang luar biasa. Apalagi saya juga sedang dikejar deadline submit thesis, jadinya agak pontang panting juga atur atur jadwalnya.
Tapi Alhamdulillah, walaupun tidak sebanyak untungnya kayak di Pasar Hari Glasgow (karena pengunjung bazar di Edinburgh tidak sebanyak di Glasgow) tapi seneng ada penghasilan rutin tiap minggu selama Ramadan. Sangat lumayan untuk bertahan hidup di Glasgow.
Nikmati saja sih segala aktivitas di bulan Ramadan ini. Pagi ke lab sampai sore, lalu pulang ke flat, istirahat ataupun kalau ada jadwal bikin tempe berarti harus mengurusi kedelai kedelai. Atau kalau ada pesanan kue kering ya dikerjain. Tapi kalau free tentu saja memanfaatkan waktu untuk tidur agar nanti nggak ngantuk pas menunggu subuh. Karena biasanya dari maghrib sampai sahur harus tetap terjaga. Maghrib sekarang jam 22-an, sedangkan imsak jam 2.30an. dengan jeda yang pendek itu bisa bablas kalau tidur.
Pernah ditanya, kangen keluarga nggak? Iya pastilah. Bulan Ramadan dan lebaran itu identik dengan kumpul-kumpul dengan keluarga. Dan tahun ini kembali lagi harus berpuasa dan berlebaran di negeri orang. Sudah lebaran ke-empat lho nggak di rumah ehehe. Saya bersyukur orangtua punya keikhlasan  untuk memberikan kebebasan pada saya untuk memilih jalan hidup seperti yang saya inginkan. Pastilah tidak mudah untuk jauh-jauh dengan anak-anaknya *halaaah terharu.
Rindu tanah air? Ah tidak juga, entah mengapa. Hanya ingin menikmati kesempatan yang masih ada untuk menikmati kekinian sebaik-baiknya. Itu saja
Selamat berpuasa.

Salam
Glasgow, 7 Juli 2015


2 comments:

Arian Sahidi said...

yakin nggak rindu tanah air? *ditimbuk...

selamat menjalankan ibadah puasa, ya, meski kudu 19 jam. semoga ramadhan tahun depan sudah bisa ramadhan bareng suami, doain saya juga sudah bisa ramadhan bareng istri *malahcurhat haha

Siwi Mars said...

heheh rindu tanah airnya lagi ilang entah kemana :D
sama-sama, selamat beribadah puasa. amin..amin, terimakasih doanya, doaku juga semoga rencana pernikahanmu lancar jadi bisa bareng istri ramadan tahun depan :)

Post a Comment