Wednesday, 13 January 2016

Glasgow is (Still) my home

 
River cylde-Glasgow. Foto Koleksi Pribadi



Megabus menuju London yang saya tumpangi sudah jauh bergerak meninggalkan Buchanan Bus Station, Glasgow semenjak pukul 10.45 malam tadi. Kali ini terasa lebih berat dibandingkan saat pergi ke Belanda akhir Desember lalu. Mungkin karena kali ini saya sudah merasa waktu untuk tinggal di Glasgow sudah semakin sedikit. Sudah sedikit terasa ada sesak dan ngilu itu. Ah, ya Glasgow adalah rumah yang selalu memberi saya rasa pulang. 

Lebih dari empat tahun hidup di kota ini menjadikan kota ini menjadi salah satu bagian dalam hidup saya. Kau pernah mempunyai keterikatan tertentu pada suatu tempat? Seperti apa yang pernah dan masih saya rasakan pada Jogya. Dan ternyata saya tidak sendirian. Saya termangu saat membacai blognya Timo di posting yang berjudul Taize isnt my home di link ini

Saya nemu blog ini saat dulu mencari informasi mengenai Glasgow. Dulu dia pernah menjadi relawan di Glasgow. Nah ternyata dia juga mengalami gagal move on pada Taize, sebuah kota kecil di Paris. Butuh waktu tujuh tahun lamanya untuk dia bisa “move on” dari Taize. Ah, tujuh tahun tentu saja waktu yang cukup lama. Akankah saya juga akan mengalami hal yang sama dengan Glasgow? Entahlah.  

Kadang kadang untuk hidup dalam “kekinian” juga membutuhkan latihan dan kesungguhan. Ada tarikan tarikan pikiran yang selalu saja bisa mengombang ambingkan upaya untuk to live in the present. Tapi Glasgow bukan masa lalu, belum menjadi masa lalu. Nantinya ia akan menjadi kekinian yang berbeda, karena saya tidak lagi hidup di sana. Jadi PR yang harus saya taklukkan nantinya adalah bukan menghilangkan ataupun melupakan Glasgow dari hidup saya. Tentu saja bukan demikian. Namun lebih pada menghindari perasaan semacam “ Andai aku masih di Glasgow, pasti aku lebih bahagia”-ataupun sejenis pemikiran yang serupa lainnya.

Karena hal tersebut berarti menolak perubahan yang terjadi dan tidak bisa menikmati hidup dengan kekinian. Hidup kembali di tanah air dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sepertinya tidak susah ya?hahah..yakin?jangan jangan nantinya akan banyak lahir tulisan nostalgia wkwkk. Sudahlah, bukankah hal yang paling nyata dalam hidup ini adalah hari ini, dan inilah yang harus kita hadapi.

Megabus sudah merapat di Victoria Coach Station. Hujan deras mengguyuri London dini hari menjelang pagi ini. Saya sudahi postingan ini, dengan sejumput rindu pada Glasgow.

-Dalam perjalanan Glasgow-London, 7 Januari 2016

 

4 comments:

nurma yunita said...

Sweet banget...
Akankah saya rasakan juga rasa itu?
Selamat menikmati hari istimewa di Glasgow Kak Siwi...

Siwi Mars said...

@Nurma Yunita..ehehe terimakasih sudah berkunjung. Iyaaah, menikmati sepenuh penuhnya waktu-waktu di Glasgow :)

The Places said...

Hi mbak siwi, salam kenal ya hehe :) boleh minta emailnya ga mbak? Aku mau nanya2 soal kuliah S2 di scotland, makasih sebelumnya :)

Siwi Mars said...

silahkan email ke : siwimars@gmail.com

Post a Comment