Selasa, 02 April 2013

Bahagiaku




Iseng sebenarnya saya menjelajahi lagi folder-folder foto saya beberapa tahun lalu. Terkadang gambar bisa menceritakan peristiwa dengan begitu pintarnya. Sekaligus kenangan terbawa serta. Saya bukan sedang ingin ber-mellow ria mengenang masa lalu. Saya tak sengaja menemukan video lama yang terselip di antara folder foto-foto tersebut. Saat saya putar video tersebut, mata saya terbelalak, seakan baru kali pertama melihat video tersebut.
Siapa perempuan itu? Dengan muka polos, berkerudung sederhana berwarna merah bata, malu-malu, pipi semerah dadu? Sayakah?
Saya hampir tak bisa mempercayai diri saya sendiri. Perempuan polos itu, saya. Benar-benar saya. Tapi ada satu hal yang tak bisa disembunyikan. Saya tidak bisa mengelabui siapapun bahwa mata saya hampir tak sanggup lagi menampung kebahagiaan. Binar itu, sinar itu, berkali-kali saya putar ulang video itu. Memastikan bahwa saya pernah sebahagia itu.

Beberapa jenis kebahagiaan tak bisa diulang, hanya bisa dikenang (Fadh Djibran)

Gambar yang bergerak ternyata membuat kita tak bisa menyembunyikan apapun. Mimik muka, kegugupan, pipi merona, celotehan, langkah kaki, ataupun tingkah malu-malu. Sebuah foto terkadang hanya sebuah gambar mati yang bercerita saat kamera ditekan tombol klik. Mungkin kadang dengan senyum yang dipaksakan, atau memang senyum yang benar-benar senyuman. Tapi gambar hidup ternyata mampu bercerita lebih banyak.
Dan kali ini bercerita tentang kebahagiaan.
Kadang bahagia dalam hidup bisa berupa penaklukan-penaklukan, bahwa apa yang kita inginkan akhirnya ada dalam genggaman. Kadang bisa anugerah berupa hal-hal indah yang terjadi dalam hidup. Atau kadang bahagia bisa berupa kebersamaan dengan orang-orang tercinta.
Atau pula, bahagia bisa sesederhana kesyukuran kita masih diberi sehat dan hidup yang baik. Menghirupi udara segar, menikmati rinai hujan, masih bisa menikmati sinar matahari, atau hal-hal yang kita anggap biasa, namun sebenarnya penuh hal yang perlu kita syukuri.
Tapi jenis bahagia yang saya tangkap dalam video beberapa menit itu membuat saya tersenyum. Saya seharusnya teramat bersyukur diberi anugerah berupa kebahagiaan seperti itu. Sederhana. Tuhan selalu maha baik.  Dia pernah menganugerahi saya kebahagiaan semanis itu. Kebahagiaan yang bukan penaklukan, bukan kemenangan, bukan sesuatu yang jatuh bangun untuk saya dapatkan. Tapi sejenis bahagia yang mengada. Mengada begitu saja. Tanpa perlu saya tarik, tanpa perlu pura-pura, atau reka-reka. Sejenis bahagia yang begitu sederhana. Ia hanya membuncahi hati saya dengan kebahagiaan yang terpancar dari mata saya. Bahagia ada, hanya cukup dengan menjadi diri saya sendiri. Dengan cinta yang mengada di hati saya. Bahagia. Saya benar-benar bahagia.

Yang menjadikan bahagiaku, belum tentu juga menjadikan bahagia bagimu, atau bagi kalian. Begitupun pula sebaliknya. To feel happiness, there’s no universal recipe. Define our own happiness.

3 Maret 2013.
Tulisan bulan lalu, dan karena beberapa alasan baru “bisa” saya posting.  Selamat berbahagia semuanya. Tuhan berkati kita semua dalam cinta dan kasihNya yang selalu berlebih.

Previous Post
Next Post

0 Comments: