Rabu, 09 Maret 2022

Cerita Tentang Dapur


The Kitchen is the heart of the home

Dapur ini menyimpan cerita tentang perjuangan, makanya saya membuat tulisan ini untuk sekedar mengenangnya. Mungkin sekaligus mengingatkan pada diri sendiri, hey...kamu itu masih mampu lho untuk mewujudkan apa-apa yang kamu inginkan.

Hanya saja mungkin perlu waktu..

Perlu waktu.

Dulu saya punya bayangan seperti apa dapur yang saya inginkan hehe, hobi berselancar di pinterest desain- desain dapur yang sungguh menarik hati, kemudian saya simpan di satu folder tersendiri. Walaupun pada saat itu, untuk mewujudkannya entah kapan. Terkadang suka atau tidak suka, banyak hal dalam hidup ternyata memerlukan kemampuan finansial yang cukup untuk menjadikan rencana-rencana untuk mewujud. Mungkin itulah penting mempunyai perencanaan keuangan ya.

Dan cerita tentang dapur ini bermula ketika saya “nekad” untuk merenovasi rumah. Awalnya masih ada sisa tanah di belakang rumah yang pada saat itu saya ingin memaksimalkan lahan agar rumah sedikit lebih luas. Dapur lama di rumah sangat sempit, mungkin sekitar 2 x 3 meter saja. Rumah ini saya beli dari orang yang awal membangunnya, jadi saya harus terima desain rumah apa adanya. Jadi proses renovasi lahan belakang (dan akhirnya merembet ke teras depan) adalah ruangan yang dari awal mendapat “sentuhan” desain ala ala saya hehe.

Proses renovasi dimulai pada akhir tahun 2019, dengan pikiran yang “sangat polos” waktu itu.

“Kan hanya nambah ruangan saja, kasih sekat sekat,’cukuplah uang tabungan,” begitu pikir saya. Makanya saya nekad manggil tukang untuk merenovasi. Tapi begitu saya minta kalkulasi perkiraan biaya renovasinya, senyum saya langsung kecut haha…di depan tukangnya saya masih berlagak sok cool, tapi dalam hati terkaget kaget juga.

Dari biaya kalkulasi perkiraan pak tukang itu, saya paling hanya punya tabungan 1/3 nya saja waktu itu. Ya ampun, saya memang clueless soal bangun atau renovasi rumah. Apalagi bapak sudah tidak ada, alhasil tidak ada “laki-laki” yang bisa diminta pertimbangan atau bisa ditanya tanya. Jadinya pernekadan terjadilah hehe.

Metamorfosis dapur

Jadi dapur ini memang menyimpan cerita perjuangan banyak hal. Setiap sisi bercerita tentang beberapa projek penelitian yang saya garap agar ada pemasukan lebih, ada insentif publikasi dari institusi, dan kerjaan sabet sana sini hehe. Dapur yang saya pilih sendiri desain dan materialnya, sampai granit dan motif dinding dapurnya. Saya masih ingat harus membawa keramik dinding dapur dengan sepeda motor, karena nanggung pas mau di go-car kan. Beberapa kali harus ke gudang stok granit, mengambil granit yang saya beli, dan nampak krik krik di antara para laki-laki di gudang granit tersebut.

            “ Suaminya lagi kemana mbak?” tanya pegawai di gudang stok granit waktu itu. Mungkin dilihatnya aneh, perempuan “nyasar” ke gudang stok granit.

Suaminya belum direncanakan mas! Wkwkwk..eh enggak gitu lah jawabnya. Saya hanya menjawab dengan senyuman saja. Waktu itu saya belum menikah.

Dapur ini pada prosesnya memerlukan waktu untuk sedikit demi sedikit mewujud seperti bayangan saya. Dari akhir Tahun 2019 dan renovasi selesai sekitar Bulan Agustus 2020, masih seadanya. Kemudian proses demi proses akhirnya di awal Tahun 2022 saya bisa memandangi dapur versi “yang saya mau” sejak dulu. Ada kepuasan di situ, ada rasa pencapaian terselip di antaranya.


“ih, cuma dapur gitu aja kok”
 mungkin ada yang berpikir begitu, haa ya biarkan karena memang dapurnya ya hanya gitu aja kok hihi.

Tapi cerita di baliknya, yang membuat saya ingin mengenang dengan menuliskannya.

Pergantian waktu malam nanti, usia saya bertambah lagi. Terkadang dengan makin “matangnya” usia (makin tua maksudnya buuu), terkadang kita jadi semakin kecil hati untuk mempunyai mimpi ataupun rencana-rencana. Apakah karena jadi semakin mudah merasa lelah ya? Entahlah.

Energi pun seringkali terasa berbeda dibanding kala usia masih lebih muda. Saya saat ini juga seorang ibu, yang terkadang sering dihinggapi beraneka macam rasa dan beraneka peran yang harus dijalani.

Tapi cerita tentang dapur ini, setidaknya mengingatkan pada saya bahwa perjuangan dan kerja keras (dan sedikit cerdas mungkin hehe), memang tidak selalu memastikan bahwa semua mau kita akan terwujud. Ternyata bukan itu.

Tapi lebih pada kebanggaan pada dirimu sendiri, bahwa kamu bersungguh-sungguh pada semua apa yang kamu upayakan.  Mungkin memang manusia dicukupkan untuk berupaya ranah itu, karena soal hasil ada tangan-tangan Tuhan yang tak perlu kita ragukan. Tak perlu kita risaukan. Iya kan?

Sekian cerita saya soal dapur yang membuat tulisan saya ngelantur hehe,

Salam


Latest
Next Post

0 Comments: